Buat
kalian semua, siapapun dan di manapun, jangan menaruh penilaian tinggi pada
seseorang hanya karena “info” dari orang lain. Ada baiknya, kita mengenal
sendiri seseorang itu, dan kita nilai sendiri. Dengan begitu, kita tidak akan
kecewa hanya karena menilai seseorang terlalu jauh di atas kemampuannya.
Nah,
buat kamu memang kecewa, kalau ternyata kamu telah mengidolakannya karena saran
dari orang lain, eh ternyata dia cuma orang biasa. *aku juga orang biasa koook.
XD* ketika kecewa, kamu bisa saja marah, kesal, atau menyesal karena telah
mengidolakannya.
Lalu
pernah gak sih, kamu memikirkan perasaan idolamu itu?
Aku sendiri
mencoba memikirkan pihak lain tersebut.
Karena
manusia itu tidak sempurna, dan istilahnya, bakat orang juga mungkin sama
(hanya saja tingkat kelihaiannya berbeda), jadi kamu mungkin menganggap, “ya
ampuuun, gue nyesel ngidolain si A! ternyata si B lebih baik dalam hal ini!”
Coba
bayangkan kamu di posisi si A.
Sakitnya
tuuuuh…
XD
Pertama:
dirimu dibandingin. Percayalah, tiap orang memang gak sama, tapi yang namanya
bakat itu banyak kesamaan, dan seperti yang barusan kubilang, tingkat
kelihaiannya saja yang berbeda dan jenis bakat satu orang ke orang yang lain
tidak mungkin sama semua (apalagi tingkat kelihaiannya). Misal, si A jago
nyanyi, menggambar, masak, nyuci, ngepel, nyapu (bakat mak-mak), si B…
anggaplah sama. Eh tapi ternyata pas disaingin di Indonesian idol, si B yang
menang juara 2. Si A cuma juara 3. Dari situ aja hadiahnya udah beda.
Aku sebenarnya
pengen bahas apa toh?
Intinya,
ketika ingin menjudge orang, jangan sampai terlalu tinggi, maupun terlalu
meremehkan. Jangan menilai orang dari sudut pandang orang lain, karena sudut
pandangmu sendiri tak akan sama dengan orang lain. Gitu aja.
Dari
tadi aku belum bahas perasaan si A yang ternyata disanjung-sanjung, eh tahunya Cuma
orang biasa, kan?
Gini.
Aku pernah
ngalamin itu. cieee… jadi pas mau tes PTN, hampir semua orang menganggap aku
bisa lulus (amsyong, benar-benar menaruh patokan yang terlalu tinggi!).
alasannya PTN itu dekat dengan rumah, tapi sayangnya, mereka tidak tahu bahwa
untuk masuk PTN itu, aku harus mengalahkan beribu pesaing. Mereka semua
menganggapnya gampang untuk masuk situ. Aduhai~ (iya, yang beranggapan gitu
mak-mak, karena anak muda tahu sendiri standar PTN di Indonesia).
Lalu
mereka hanya bisa bilang, “Lho, kok gak lulus?”
Aduhai~
sakitnya tuuuh….
PTS
di Jogja aja aku gak lulus, lho. Hiks….
Pasti
sedih ketika kita sendiri tidak bisa mencapai ekspektasi orang lain, walau
sebenarnya itu juga tujuan kita. Di satu sisi mimpi yang tak tercapai, di sisi
lain image yang jatuh. Dua kali lipat ketiban duren busuk, bolongnya di tengah
punggung. (apa sih?) berdarah-darah. Sedihnya dobel, apalagi ada yang merasa
kehilangan fans. Aduhai~
Aku pernah
merasa sangat lelah untuk menjawab pertanyaan “kenapa gak lulus” itu, hingga
aku sendiri selalu berpikir untuk membalas dendam Perguruan tinggi yang gak mau
nerima aku itu dengan cara yang menyakitkan. (hadeeeh, bahasanya…) caranya bisa
dengan membuktikan kemampuan diri sendiri.
“Gue
boleh aja dari kampus swasta jelek, tapi skill maupun otak gue gak kalah sama
kalian kalau diberi kesempatan yang sama. Gue boleh aja satu tempat kerja
dengan kalian, tapi gue bakal buktiin kalau gue lebih unggul.”
Selalu
seperti itu. Terkesan sombong, ya?
Tapi
aku sendiri benar-benar berusaha untuk itu. sempat ciut juga ketika penakes itu
didominasi oleh kakak-kakak dari PTN (bahkan udah pada S2!), sedangkan yang
dari PTS cuma sedikit. Tapi ternyata, yang masuk 4 besar penakes itu sendiri 2
dari PTS, 2 dari PTN, padahal kalau dihitung, 14 peserta yang dari PTN, dari
jumlah 20 orang.
Ini apa
sih?
Cuma
curhat gak jelas kayaknya. Abaikan saja.
Cuma
karena mau nulis di twitter berasa nyepam, jadilah nyampah di blog. Maklumin aja
yaaaa… XD
Depok,
25 November 2014
No comments:
Post a Comment