Friday, December 25, 2020

Lokalitas dalam Sepenggal Kalimat “Kapan Kawin?”

     “Kalau kamu itu kapal perang, sirene tanda bahaya sudah berbunyi. Kapan kawin? Tunggu kapalmu ditorpedo Jepang?” beruntungnya, kalimat ini diucapkan oleh Ibu Dinda dalam film Kapan Kawin?, bukan oleh Ibu saya. Jika Ibu Dinda menyatakan kalimat frontal pada Dinda, Ibu saya menggunakan cara halus dengan mengirimkan foto bayi lucu tanpa caption apa pun via whatsApp. Sama tujuan, berbeda metode.

    Dua kata pamungkas itu memang sering ditanyakan oleh orang sekitar kita, terutama di momen-momen tertentu seperti lebaran maupun momen pertemuan dengan kenalan yang sudah lama tidak berjumpa. Kapan Kawin? yang saya tonton di bioskop ini menyuguhkan cerita unik tentang Dinda yang sudah berusia 33 tahun namun belum juga menemukan jodoh. Dinda yang sukses berkarir di kota besar pun sulit untuk menjawab pertanyaan orang tuanya perihal jodoh, hingga terpaksa menyewa aktor untuk dikenalkan sebagai pasangan di hari ulang tahun pernikahan orang tua Dinda.

    Dinda yang diperankan oleh Adinia Wirasti dan Reza Rahadian sebagai Rio dibawakan dengan sangat apik, disertai dengan dialog-dialog segar nan lucu yang menggelitik tawa. Intonasi dari pemeran juga menambah kelucuan film dengan genre komedi romantis ini. Selain adegan komedi yang cukup ditonjolkan, film ini memiliki nilai plus dengan mengimplementasikan unsur lokalitas yang mengambil setting Yogyakarta. Namun, sejujurnya saat menonton film ini, saya berharap latar tempat yang dibawakan bisa lebih memanjakan penontonnya. Sebut saja, ketika adegan Rio yang sedang latihan dan duduk di bebatuan sungai. Adegan tersebut diambil dengan menampilkan Dinda yang menuruni tangga dan langsung sampai di jembatan. Dalam pikiran saya, andai saja pengambilan gambar yang ditampilkan bisa lebih dari itu, misalnya Dinda yang berjalan sedikit lebih lama dan pengambilan gambar bisa lebih menyeluruh, tentu akan lebih bagus. Ada pula adegan pada saat Dinda kesal dan diajak jalan-jalan oleh Rio, itu pun hanya menampilkan beberapa gerai penjual dan papan jalan Malioboro, tidak terlalu mendetail dalam menampilkan visual yang penonton harapkan.

    Di sisi lain, lokalitas tidak hanya menyangkut latar tempat, namun budaya dari kota itu sendiri lebih menjadi concern bagi para penikmat film. Sayangnya, hal itu masih kurang ditonjolkan. Saya belum melihat adanya budaya Yogyakarta yang disisipkan selain beberapa latar tempat dan penggalan bahasa daerah yang muncul. Seandainya bisa menampilkan pertunjukan alat musik seperti gamelan di acara ulang tahun pernikahan orang tua Dinda, tentu menjadi hal yang menarik untuk disaksikan. Dengan begitu, film ini bisa menjadi media promosi destinasi pariwisata dengan menampilkan lokalitas yang lebih ditonjolkan lagi.

    Sebagai penutup dari ulasan ini, saya tertarik dengan kalimat yang disampaikan oleh Rio pada Dinda. “Senang yang kamu kasih ke mereka itu seperti cek kosong. Kalau mau ngasih duit, punya duit dulu. kalau mau bikin senang orang, kamu dulu yang senang.” Dengan ekspektasi orang tua Dinda yang cukup tinggi, apa pun akan dilakukan oleh Dinda untuk bisa menyenangkan hati orang tuanya, meski itu membuat Dinda mengesampingkan perasaannya dan terpaksa berbohong. Pilu rasanya ketika orang tuanya bahkan tidak tahu bahwa makanan kesukaan Dinda adalah kepiting, hanya karena Dinda lebih mementingkan kebahagiaan orang lain. Satu scene kecil yang mengajarkan kepada kita untuk “jangan lupa bahagia”. Membahagiakan orang tentu sangat diperbolehkan. Tapi jangan lupa, kita juga diperkenankan untuk bahagia. :D

 

#ulasfilmkemdikbud

 

Tuesday, June 16, 2020

Serdadu Kumbang, Secercah Angan yang Tak Dapat Diucapkan


#UlasFilmKemdikbud

Serdadu Kumbang, film yang disutradarai oleh Ari Sihasale ini menyajikan sepenggal cuplikan kehidupan anak desa di sebuah daerah bernama Mantar, kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Film ini menceritakan tentang Amek, yang digambarkan tidak memiliki cita-cita (ia menggelengkan kepala saat guru menanyakan cita-citanya). Namun, bukannya tidak memiliki impian. Ia punya, hanya saja terlampau besar, jauh tak terjangkau dengan keterbatasan yang ia miliki. Cita-citanya seperti angan belaka dan hanya akan mengundang tawa dari teman-temannya bila ia menyuarakan hal tersebut. Karena itulah, ia memilih untuk bungkam.
Meski begitu, dari awal kita sudah disuguhkan betapa Amek sangat mencintai angannya itu. Terlihat dari tontonan televisi yang selalu membuat ia dimarahi ibunya. Hal kecil yang menjadi petunjuk ini begitu menggelitik saya. ‘anak sekecil ini, tontonannya berita? Ia bahkan tahu harga cabai sedang tinggi!’ di segmen lain ditampilkan, ia memiliki sebuah bilik di hutan yang bila dilihat sepintas akan seperti televisi, dengan Amek sebagai sentral dari acara berita yang sedang ia bawakan.
Hingga suatu waktu, sebuah insiden terjadi. Dari sini kita diajarkan bahwa meski ada sebuah kesedihan, kita tetap harus meneruskan hidup. Dari insiden tersebut, hidup Amek berubah secara tidak langsung. Pada saat penurunan botol-botol yang digantungkan di pohon cita-cita, bu guru tertegun saat menemukan botol milik Minun, hingga ia memutuskan melakukan sesuatu, yang setidaknya dapat mewujudkan cita-cita yang tertulis dalam botol tersebut. Dan, hal inilah yang menjadi titik penentu dan pendobrak keterbatasan yang dimiliki oleh Amek.
Dari sisi penceritaan tersebut, tayangan ini begitu bagus untuk menjadi tontonan keluarga. Dari sudut pandang anak-anak, film ini mengajarkan bahwa meski memiliki keterbatasan, namun bukan berarti cita-cita itu akan menjadi suatu yang mustahil. Dari sudut pandang orangtua, terlihat bahwa ibu Amek dengan kesibukannya berjualan, tidak memahami apa yang menjadi kecintaan Amek selama ini, dan justru memarahi Amek yang selalu menonton siaran berita tersebut. Hal ini menjelaskan, sekecil apapun hal yang terabaikan di dalam diri anak, bisa menjadi sebuah hal yang berharga bila bisa menyadari dan memaksimalkannya.
Selain amanat cerita yang diselipkan dengan begitu apik dan mengalir, film ini juga menyuguhkan keindahan lokalitas yang masih sangat asri. Dari rumah-rumah penduduk yang berbeda dengan rumah perkotaan, pemandangan dermaga, rumah apung serta kapal nelayan, hingga pemandangan bagaikan desa di atas awan ditampilkan dengan apik sebagai pelengkap film ini. Tak hanya unsur keindahan, isu sosial juga disisipkan di dalamnya, seperti keadaan pendidikan di desa yang masih jauh tertinggal hingga banyaknya siswa yang tidak lulus ujian nasional, guru-guru yang masih menggunakan kekerasan sebagai bentuk pendisiplinan murid di sekolah, serta para orangtua murid yang juga masih mendatangi ‘orang pintar’ di desa demi menjadi anaknya lulus di ujian nasional. Pemaparan anak-anak desa yang masih jauh dari gadget sehingga interaksi sosial lebih terasa dengan menampilkan keseruan bermain bersama teman seperti balapan kuda, pun bisa memberikan gambaran bahwa bermain di padang ilalang lebih menyenangkan ketimbang bermain gadget.
Selain yang telah disebutkan di atas, unsur humor juga ada di dalamnya. Secuil humor yang tersisipkan menambah film ini dapat dijadikan pilihan dalam menghabiskan waktu bersama keluarga.