#UlasFilmKemdikbud
Serdadu Kumbang, film yang
disutradarai oleh Ari Sihasale ini menyajikan sepenggal cuplikan kehidupan anak
desa di sebuah daerah bernama Mantar, kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara
Barat. Film ini menceritakan tentang Amek, yang digambarkan tidak memiliki
cita-cita (ia menggelengkan kepala saat guru menanyakan cita-citanya). Namun,
bukannya tidak memiliki impian. Ia punya, hanya saja terlampau besar, jauh tak
terjangkau dengan keterbatasan yang ia miliki. Cita-citanya seperti angan
belaka dan hanya akan mengundang tawa dari teman-temannya bila ia menyuarakan
hal tersebut. Karena itulah, ia memilih untuk bungkam.
Meski begitu, dari awal kita
sudah disuguhkan betapa Amek sangat mencintai angannya itu. Terlihat dari
tontonan televisi yang selalu membuat ia dimarahi ibunya. Hal kecil yang
menjadi petunjuk ini begitu menggelitik saya. ‘anak sekecil ini, tontonannya
berita? Ia bahkan tahu harga cabai sedang tinggi!’ di segmen lain ditampilkan,
ia memiliki sebuah bilik di hutan yang bila dilihat sepintas akan seperti
televisi, dengan Amek sebagai sentral dari acara berita yang sedang ia bawakan.
Hingga suatu waktu, sebuah
insiden terjadi. Dari sini kita diajarkan bahwa meski ada sebuah kesedihan,
kita tetap harus meneruskan hidup. Dari insiden tersebut, hidup Amek berubah secara
tidak langsung. Pada saat penurunan botol-botol yang digantungkan di pohon
cita-cita, bu guru tertegun saat menemukan botol milik Minun, hingga ia
memutuskan melakukan sesuatu, yang setidaknya dapat mewujudkan cita-cita yang
tertulis dalam botol tersebut. Dan, hal inilah yang menjadi titik penentu dan
pendobrak keterbatasan yang dimiliki oleh Amek.
Dari sisi penceritaan tersebut,
tayangan ini begitu bagus untuk menjadi tontonan keluarga. Dari sudut pandang
anak-anak, film ini mengajarkan bahwa meski memiliki keterbatasan, namun bukan
berarti cita-cita itu akan menjadi suatu yang mustahil. Dari sudut pandang
orangtua, terlihat bahwa ibu Amek dengan kesibukannya berjualan, tidak memahami
apa yang menjadi kecintaan Amek selama ini, dan justru memarahi Amek yang
selalu menonton siaran berita tersebut. Hal ini menjelaskan, sekecil apapun hal
yang terabaikan di dalam diri anak, bisa menjadi sebuah hal yang berharga bila
bisa menyadari dan memaksimalkannya.
Selain amanat cerita yang
diselipkan dengan begitu apik dan mengalir, film ini juga menyuguhkan keindahan
lokalitas yang masih sangat asri. Dari rumah-rumah penduduk yang berbeda dengan
rumah perkotaan, pemandangan dermaga, rumah apung serta kapal nelayan, hingga
pemandangan bagaikan desa di atas awan ditampilkan dengan apik sebagai pelengkap
film ini. Tak hanya unsur keindahan, isu sosial juga disisipkan di dalamnya,
seperti keadaan pendidikan di desa yang masih jauh tertinggal hingga banyaknya
siswa yang tidak lulus ujian nasional, guru-guru yang masih menggunakan
kekerasan sebagai bentuk pendisiplinan murid di sekolah, serta para orangtua
murid yang juga masih mendatangi ‘orang pintar’ di desa demi menjadi anaknya lulus
di ujian nasional. Pemaparan anak-anak desa yang masih jauh dari gadget
sehingga interaksi sosial lebih terasa dengan menampilkan keseruan bermain
bersama teman seperti balapan kuda, pun bisa memberikan gambaran bahwa bermain
di padang ilalang lebih menyenangkan ketimbang bermain gadget.
Selain yang telah disebutkan di
atas, unsur humor juga ada di dalamnya. Secuil humor yang tersisipkan menambah
film ini dapat dijadikan pilihan dalam menghabiskan waktu bersama keluarga.

No comments:
Post a Comment