Tuesday, June 16, 2020

Serdadu Kumbang, Secercah Angan yang Tak Dapat Diucapkan


#UlasFilmKemdikbud

Serdadu Kumbang, film yang disutradarai oleh Ari Sihasale ini menyajikan sepenggal cuplikan kehidupan anak desa di sebuah daerah bernama Mantar, kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Film ini menceritakan tentang Amek, yang digambarkan tidak memiliki cita-cita (ia menggelengkan kepala saat guru menanyakan cita-citanya). Namun, bukannya tidak memiliki impian. Ia punya, hanya saja terlampau besar, jauh tak terjangkau dengan keterbatasan yang ia miliki. Cita-citanya seperti angan belaka dan hanya akan mengundang tawa dari teman-temannya bila ia menyuarakan hal tersebut. Karena itulah, ia memilih untuk bungkam.
Meski begitu, dari awal kita sudah disuguhkan betapa Amek sangat mencintai angannya itu. Terlihat dari tontonan televisi yang selalu membuat ia dimarahi ibunya. Hal kecil yang menjadi petunjuk ini begitu menggelitik saya. ‘anak sekecil ini, tontonannya berita? Ia bahkan tahu harga cabai sedang tinggi!’ di segmen lain ditampilkan, ia memiliki sebuah bilik di hutan yang bila dilihat sepintas akan seperti televisi, dengan Amek sebagai sentral dari acara berita yang sedang ia bawakan.
Hingga suatu waktu, sebuah insiden terjadi. Dari sini kita diajarkan bahwa meski ada sebuah kesedihan, kita tetap harus meneruskan hidup. Dari insiden tersebut, hidup Amek berubah secara tidak langsung. Pada saat penurunan botol-botol yang digantungkan di pohon cita-cita, bu guru tertegun saat menemukan botol milik Minun, hingga ia memutuskan melakukan sesuatu, yang setidaknya dapat mewujudkan cita-cita yang tertulis dalam botol tersebut. Dan, hal inilah yang menjadi titik penentu dan pendobrak keterbatasan yang dimiliki oleh Amek.
Dari sisi penceritaan tersebut, tayangan ini begitu bagus untuk menjadi tontonan keluarga. Dari sudut pandang anak-anak, film ini mengajarkan bahwa meski memiliki keterbatasan, namun bukan berarti cita-cita itu akan menjadi suatu yang mustahil. Dari sudut pandang orangtua, terlihat bahwa ibu Amek dengan kesibukannya berjualan, tidak memahami apa yang menjadi kecintaan Amek selama ini, dan justru memarahi Amek yang selalu menonton siaran berita tersebut. Hal ini menjelaskan, sekecil apapun hal yang terabaikan di dalam diri anak, bisa menjadi sebuah hal yang berharga bila bisa menyadari dan memaksimalkannya.
Selain amanat cerita yang diselipkan dengan begitu apik dan mengalir, film ini juga menyuguhkan keindahan lokalitas yang masih sangat asri. Dari rumah-rumah penduduk yang berbeda dengan rumah perkotaan, pemandangan dermaga, rumah apung serta kapal nelayan, hingga pemandangan bagaikan desa di atas awan ditampilkan dengan apik sebagai pelengkap film ini. Tak hanya unsur keindahan, isu sosial juga disisipkan di dalamnya, seperti keadaan pendidikan di desa yang masih jauh tertinggal hingga banyaknya siswa yang tidak lulus ujian nasional, guru-guru yang masih menggunakan kekerasan sebagai bentuk pendisiplinan murid di sekolah, serta para orangtua murid yang juga masih mendatangi ‘orang pintar’ di desa demi menjadi anaknya lulus di ujian nasional. Pemaparan anak-anak desa yang masih jauh dari gadget sehingga interaksi sosial lebih terasa dengan menampilkan keseruan bermain bersama teman seperti balapan kuda, pun bisa memberikan gambaran bahwa bermain di padang ilalang lebih menyenangkan ketimbang bermain gadget.
Selain yang telah disebutkan di atas, unsur humor juga ada di dalamnya. Secuil humor yang tersisipkan menambah film ini dapat dijadikan pilihan dalam menghabiskan waktu bersama keluarga.