Satu Nama untuk Hari Ini
Oke.
Gue paling gak bisa kalau harus dikungkung, merasa terjerat oleh sesuatu yang
kurang gue suka. Saat ini gue butuh menyalurkan endorphin otak gue yang
membludak, membuat gue suka tiba-tiba tertawa keras, baik itu sedang diam
sendiri, maupun saat membaca buku diktat kuliah. Serius, itu malu-maluin.
Walau
terjerat oleh ujian dan harus sistem kebut semalam, mari berbahagia ria
sejenak. Ini penting buat gue. Orang masturbasi aja harus disalurkan biar gak
penyakitan, gak kanker prostat. Berarti kebahagiaan juga harus disalurkan,
walau hanya dalam bentuk tulisan.
Jadi
begini. Hari ini, otak gue sedang memprogram seseorang. Dia bukan orang yang
gue suka sih, tapi yang namanya masa depan, siapa yang tahu? Intinya, saat ini
belum ada rasa suka. Gue juga tahu orangnya seperti apa, jelek-buluknya seperti
apa. (peaceee… kalau lu baca ini, jangan marah! Haha…) makanya itu, belum ada
rasa suka. Dan… otak gue secara polosnya dan ngeyelnya gak mau menghapus memori
orang ini.
Namanyaaa…
ah, nanti saja. Bagi yang tahu, dari awal cerita pasti udah tahu!
Dia pakai
sweater biru donker buluk hari ini. Ketemu di bacang langsung bikin gue ngiler
sama indomi yang dia makan, yang beberapa menit kemudian berhasil mematahkan
keinginan gue untuk gak makan mie instan. Alhasil, gue menjuluki hari ini
sebagai hari mie se-ISTN, karena kawan-kawan gue (yang akrab) semuanya makan
mie.
Usai
makan, dia ngerokok, satu hal yang gue benci pake banget. Salah satu
kejelekannya adalah: melakukan tindakan yang merupakan keterbalikan dari yang
disuruh/disarankan orang lain. Gue dan Bajegh udah nyaranin dia gak merokok,
tapi tetep aja kepulan asap itu keluar dari mulutnya. Saking kesalnya, gue
berusaha merebut rokok itu dari tangannya.
Sayangnya,
rokok itu berhasil gue rebut saat tembakau yang tersisa hanya 0,5cm. Jadi, saat
merebutnya secara paksa, tangan gue merasakan panasnya ujung rokok itu. Huh,
untung tangan gue masih sehat! Begitu berhasil ambil, gue langsung menyiram
rokok itu dengan air. Horeeee!
Dari
situlah dia “menggila”. Saat di himpunan, dia joget-joget gak keruan,
menggoyangkan pantatnya di depan muka Bajegh, yang justru membuat gue ketawa
ngakak dengan variasi goyangannya. Berasa melihat sinchan secara live, tapi tanpa goyangan setengah
pantat.
Itu baru
satu, tapi ketawa begitu udah bikin gue cukup capek…
***
Menjelang
siang, Bajegh mengajak anak-anak untuk menemaninya mencari bahan kimia yang
harus dia ganti karena kesalahannya sewaktu praktek. Gue yang hasratnya tiba-tiba
muncul, ingin ikut jalan-jalan. Berhubung gue gak bakat dalam mengendarai motor
(dan gak niat belajar), gue harus bersusah payah mencari siapa yang bisa gue
tebengin.
Jujur
ya… gue lagi suka banget sama motor satria. Keren, ramping, dan enak banget pas
dibonceng. Karena alasan itulah, gue berusaha mencari tebengan sama orang yang
memiliki motor satria. Huwahahaha…
Sebenarnya
ada dua pilihan, sih… ada Gusti dan “dia”. Berhubung gue kemarin diboncengin
sama Gusti dan merasa kurang nyaman dengan joknya yang menurun dan licin, gue
berusaha membujuk “dia”.
“Ayolah
ceeel, ikutan jalan, yuk!” gue tetap memasang muka melas, walau dia memasang
muka gak mau.
“Ah,
buat apa sih? Mau ke mana?”
“Bantuin
Bajegh nyari bahan kimia.”
“Ah,
gak ada bensin gue!”
“Gue
bayarin deeeh!” ini benar-benar senjata terakhir yang gue punya. Hiks, kalau
sampai gak mempan juga, gue bertekad untuk pulang aja dan gak mau di kampus
lebih lama lagi.
“Ah,
nggak ah!”
“Ayolah
ceel, serius, gue yang bayarin bensin lu. Ceban cukup, kan?” ketahuan banget
bujukannya gak ikhlas. Masa cuma isi bensin ceban? Hahaha…
“Gak,
gak usah. Gue ada uang bensin, kok. Tadi cuma bohong doang.” Walau begitu, pas
gue menarik-narik tangannya, dia masih enggan untuk jalan. Tapi, gak berapa
lama kemudian…
Dia mengambil
tasnya. Horeee! :D
***
Rencana
jalan ini sebenarnya cuma menghilangkan penat, jalan-jalan refreshing karena ujian, dan gue lagi pengen banget bolos kuliah. Prinsip
gue, yang namanya ujian ya ujian, gak usah kuliah. Kayak gak ada hari lain aja,
sih!
Di tengah
jalan menuju parkiran, Bu dosen sedang berjalan menuju gedung farmasi. Haduh,
berabe ini mah! Ketangkap basah lagi mau membolos…
Si micel
langsung memberi kode “stttt! Stttt!” kepada kami yang masih ramai membicarakan
hal-hal remeh. Gue langsung diam, berusaha nunduk dan nyembunyiin muka sebisa
gue.
Saat
bertatapan sama bu dosen, semua diam. Lalu, secara tak disangka-sangka, Micel,
Uloh, dan David mengangkat tangannya, melalukan gerakan hormat. Gue langsung
ngakak pas melihat ibunya senyum-senyum, sambil berkata, “Ibu juga harus balas
hormat gitu?” sambil memperagakan hormat juga.
Setelah
bu dosen lewat, micel langsung tos sama kedua cowok itu.
“Kita
berhasil…” ujar micel sambil tersenyum. Ah, senyumnya itu…
Kami
bergerak menuju parkiran. Motor Micel memisah sendiri dari kawanan, beda
barisan. Gue yang memang mau nebeng sama Micel langsung mengekorinya. Micel
berhenti di sebuah motor yang gak gue kenali, tapi yang pasti gue bisa
memastikan kalau itu bukan satria.
Tak jauh
dari dia berdiri (udah masuk dan berdiri di samping motor), gue melihat satria
yang familiar. Awalnya merasa keren (warnanya hitam, dengan aksen orange yang
berupa tulisan dan tidak mendominasi) karena kecintaan gue dengan satria, tapi
begitu gue berbalik badan, gue menemukan hal lucu lainnya.
Micel
menatap gue sambil senyum-senyum –menuju tertawa–, ternyata menertawakan
dirinya sendiri yang salah mengenali letak motornya, dan berhenti bukan di
tempat motornya sedang bertengger saat ini. Awalnya, gue kira Micel sedang
melihat teman-teman lain yang sibuk mencari pinjaman helm, eh ternyata salah
tempat!
(pas
gue pulang dari kampus, gue cekikikan mengingat tampangnya yang polos. Walaupun
dia gak ngomong, tapi gue tahu dia malu karena salah berdiri. Ternyata gue
duluan yang mengenali motornya. XD padahal, kalau dia stay cool aja tanpa ketawa, gue juga gak bakalan tahu kalau dia
lagi salah mengenali motor, dari motor satria menjadi motor bebek).
Iya,
itu memang lucu buat gue, tapi setelah tiga kejadian itu, gue dikerjain
habis-habisan sama Micel.
***
Setelah
keluar dari parkiran, beberapa orang temen gue menarik uang di atm. Micel ikut
menarik sejumlah uang (ketahuan banget kan, ini anak tadi cuma jaim doang di
depan temannya, gak mau dibayarin bensin sama gue. Gue hargai kejantanan lu Cel,
yang gak mau nerima uang dari cewek. Cieeee…XD)
Padahal
gue serius mau bayarin bensin. Serius lho. Iya, tapi hasrat mau bayarin bensin
hanya hari ini. Besok pasti udah lenyap tak berbekas…
Micel
pernah ngeboncengin gue waktu gue ke Kober bareng Ena dan Pipeh. Dia masih
ingat larangan gue yang bilang “jangan di atas 40 km/jam. Bahkan, kalau bisa,
dibawah 30. Dan dia ngeyeeeeeeel banget! Nyetirnya dikedut-kedutin, memainkan
rem dan gas seenaknya, ngelak sana-sini, nyalip, dan uwoooooooh! Pokoknya jantung
gue berjumpalitan saat dia bawa motornya. Huhuhu…
Kenapa
gak kapok gue tabok, sih? Udah tahu kan, kalau tiap kali lu bawa gue seperti
itu, gue pasti nabok? Kan gue yang jadinya merasa bersalah… (pasang emot sedih yang
paling dasyat)
Enaknya
diboncengan Micel tuh begini: saat diajak ngobrol, dia nyahut. Gak diem aja di
atas motor, walau gue juga bukan orang yang senang bicara di atas motor. Terlebih
lagi, malah dia yang cerita di atas motor, bukan gue. Itulah yang enak, karena
gue kadang suka capek sendiri ketika berbicara di atas motor. Tapi pliiis,
kalau lagi di atas motor, bicaranya dikencangkan sedikit. Angin membawa habis
suaramu, Nak…
Selain
itu, gue yang memang doyan diboncengin sama si “satria”, lebih nyaman ketika
berada di atas motor Micel. Gue gak tahu deh, apakah jok motor itu juga bisa
berbeda atau gimana, tapi gue merasa nyaman walau duduknya hampir terkena besi
yang paling belakang bagian motor itu. Mungkin posisi duduk Micel yang enak,
karena dia duduknya agak belakang, menyisakan ruang yang sedikit untuk gue,
tapi dengan ada sebuah penghalang berupa tas yang dia pakai di punggungnya, membatasi
tubuh kami berdua. Tas ini berguna banget, apalagi ketika terjadi benturan.
(uhuk!) Si tas juga bisa menjadi sasaran gue saat refleks takut gue mencuat
keluar, yang biasanya doyan memegang pinggang orang ketika takut.
Usai
dikerjai habis-habisan sama Micel, gue balik ke kampus. Sempat nyesel juga
karena gak bawa helm, padahal kalau gue pakai helm, gue bisa lebih lama
diboncengin di atas satria. Huhuhu…
***
Tadinya
gue udah capek, terutama pikiran gue yang terkuras hanya gara-gara human error dan adu mulut dengan pak
satpam. Gue bukan tipe orang yang doyan adu mulut, apalagi melihat orang yang uratnya
keluar dan matanya melotot marah saat bicara. Hal itu malah memunculkan reaksi
benci. Gue udah mau pulang, tapi gue bertahan dengan merefreshkan otak dengan memainkan game LGR. Satu-satunya orang yang hp-nya boleh dipinjamin ke gue
adalah Uloh. Dia satu-satunya orang yang ngizinin gue memainkan LGR miliknya,
walau kalah sekalipun.
Saat
himpunan lagi mengadakan rapat, gue diam aja di luar. Malas ikut rapat. Si Micel
yang muncul dari dalam ruangan, melepaskan sweater biru donker buluk miliknya,
yang menampilkan kesan formal keren karena kemeja di balik sweater terlihat.
Nurul langsung berteriak, “Cel, lu jadi gantengan setelah lepas sweater!”
Setelah
puas main LGR, gue jajan sebentar, menyeruput minuman kesukaan gue, es teh manis.
Micel naik ke bacang.
“Cel,
kok dipake lagi sweaternya? Kan gantengan gak pake,” gue bicara seperti itu.
tapi berhubung sifat Micel memang konsisten, yang selalu melawan arus, dia
malah cuek dan tetap memakai sweaternya.
“Eh,
lu maunya ama siapa? Micel apa Gusti??” Pipeh nyerocos gak keruan.
“Oh,
lu mau sama gue?” si Micel langsung menatap gue, berusaha memastikan (gue tahu
apa yang ada di kepalanya) bahwa dia itu banyak yang suka. Gue gak menjawab,
karena di hati gue memang masih ada satu nama yang belum bisa gue singkirkan
dari kepala gue. (Oemjiiiiii! Hari ini dia yang gue suka mengganti AVA-nya lho!
Seger banget jadinyaaaa! Gue sampai ngetweet “ada yang lebih seger dari es teh manis”
itu karena fotonya yang biasanya cuma gambar abstrak, kini memakai fotonya
sendiri. Suegeeeeer! XD)
Micel
lalu duduk di samping gue, nyempil di antara gue dan Pipeh.
“Eh,
lu sengaja banget sih, deket-deketin nci! Apa yang Gusti mau, lu juga ikutan
mau!”
Euhm,
gue klarifikasi sebentar. Si Pipeh ini emang doyan banget nyerocos. Dan yang
sejak tadi dia omongin itu hoax semua. Gusti gak suka sama gue. Dia cuma senang
membully gue. Hiks! Tapi ucapan dia
di atas, kalau mau ditelisik dari sudut pandang Micel, rasanya… gue yang
nyesek. Mereka, Gusti dan Micel, (setahu gue) sempat bertengkar karena
seleranya terlalu mirip, sampai apapun yang mereka punya itu seakan kembar.
Setelah
mengucapkan itu, Micel kabur. Pergi. Hilang.
***
Udah,
sekian aja cerita gue. Tadinya sih, niatnya cuma 2 halaman karena gue mesti
belajar buat ujian besok. Kenapa malah jadi curhat panjang lebar seperti ini??
Depok, 30 Oktober 2014
