Thursday, October 30, 2014

Curhat yang Gak Urgent



Satu Nama untuk Hari Ini
Oke. Gue paling gak bisa kalau harus dikungkung, merasa terjerat oleh sesuatu yang kurang gue suka. Saat ini gue butuh menyalurkan endorphin otak gue yang membludak, membuat gue suka tiba-tiba tertawa keras, baik itu sedang diam sendiri, maupun saat membaca buku diktat kuliah. Serius, itu malu-maluin.
Walau terjerat oleh ujian dan harus sistem kebut semalam, mari berbahagia ria sejenak. Ini penting buat gue. Orang masturbasi aja harus disalurkan biar gak penyakitan, gak kanker prostat. Berarti kebahagiaan juga harus disalurkan, walau hanya dalam bentuk tulisan.
Jadi begini. Hari ini, otak gue sedang memprogram seseorang. Dia bukan orang yang gue suka sih, tapi yang namanya masa depan, siapa yang tahu? Intinya, saat ini belum ada rasa suka. Gue juga tahu orangnya seperti apa, jelek-buluknya seperti apa. (peaceee… kalau lu baca ini, jangan marah! Haha…) makanya itu, belum ada rasa suka. Dan… otak gue secara polosnya dan ngeyelnya gak mau menghapus memori orang ini.
Namanyaaa… ah, nanti saja. Bagi yang tahu, dari awal cerita pasti udah tahu!
Dia pakai sweater biru donker buluk hari ini. Ketemu di bacang langsung bikin gue ngiler sama indomi yang dia makan, yang beberapa menit kemudian berhasil mematahkan keinginan gue untuk gak makan mie instan. Alhasil, gue menjuluki hari ini sebagai hari mie se-ISTN, karena kawan-kawan gue (yang akrab) semuanya makan mie.
Usai makan, dia ngerokok, satu hal yang gue benci pake banget. Salah satu kejelekannya adalah: melakukan tindakan yang merupakan keterbalikan dari yang disuruh/disarankan orang lain. Gue dan Bajegh udah nyaranin dia gak merokok, tapi tetep aja kepulan asap itu keluar dari mulutnya. Saking kesalnya, gue berusaha merebut rokok itu dari tangannya.
Sayangnya, rokok itu berhasil gue rebut saat tembakau yang tersisa hanya 0,5cm. Jadi, saat merebutnya secara paksa, tangan gue merasakan panasnya ujung rokok itu. Huh, untung tangan gue masih sehat! Begitu berhasil ambil, gue langsung menyiram rokok itu dengan air. Horeeee!
Dari situlah dia “menggila”. Saat di himpunan, dia joget-joget gak keruan, menggoyangkan pantatnya di depan muka Bajegh, yang justru membuat gue ketawa ngakak dengan variasi goyangannya. Berasa melihat sinchan secara live, tapi tanpa goyangan setengah pantat.
Itu baru satu, tapi ketawa begitu udah bikin gue cukup capek…
***
Menjelang siang, Bajegh mengajak anak-anak untuk menemaninya mencari bahan kimia yang harus dia ganti karena kesalahannya sewaktu praktek. Gue yang hasratnya tiba-tiba muncul, ingin ikut jalan-jalan. Berhubung gue gak bakat dalam mengendarai motor (dan gak niat belajar), gue harus bersusah payah mencari siapa yang bisa gue tebengin.
Jujur ya… gue lagi suka banget sama motor satria. Keren, ramping, dan enak banget pas dibonceng. Karena alasan itulah, gue berusaha mencari tebengan sama orang yang memiliki motor satria. Huwahahaha…
Sebenarnya ada dua pilihan, sih… ada Gusti dan “dia”. Berhubung gue kemarin diboncengin sama Gusti dan merasa kurang nyaman dengan joknya yang menurun dan licin, gue berusaha membujuk “dia”.
“Ayolah ceeel, ikutan jalan, yuk!” gue tetap memasang muka melas, walau dia memasang muka gak mau.
“Ah, buat apa sih? Mau ke mana?”
“Bantuin Bajegh nyari bahan kimia.”
“Ah, gak ada bensin gue!”
“Gue bayarin deeeh!” ini benar-benar senjata terakhir yang gue punya. Hiks, kalau sampai gak mempan juga, gue bertekad untuk pulang aja dan gak mau di kampus lebih lama lagi.
“Ah, nggak ah!”
“Ayolah ceel, serius, gue yang bayarin bensin lu. Ceban cukup, kan?” ketahuan banget bujukannya gak ikhlas. Masa cuma isi bensin ceban? Hahaha…
“Gak, gak usah. Gue ada uang bensin, kok. Tadi cuma bohong doang.” Walau begitu, pas gue menarik-narik tangannya, dia masih enggan untuk jalan. Tapi, gak berapa lama kemudian…
Dia mengambil tasnya. Horeee! :D
***
Rencana jalan ini sebenarnya cuma menghilangkan penat, jalan-jalan refreshing karena ujian, dan gue lagi pengen banget bolos kuliah. Prinsip gue, yang namanya ujian ya ujian, gak usah kuliah. Kayak gak ada hari lain aja, sih!
Di tengah jalan menuju parkiran, Bu dosen sedang berjalan menuju gedung farmasi. Haduh, berabe ini mah! Ketangkap basah lagi mau membolos…
Si micel langsung memberi kode “stttt! Stttt!” kepada kami yang masih ramai membicarakan hal-hal remeh. Gue langsung diam, berusaha nunduk dan nyembunyiin muka sebisa gue.
Saat bertatapan sama bu dosen, semua diam. Lalu, secara tak disangka-sangka, Micel, Uloh, dan David mengangkat tangannya, melalukan gerakan hormat. Gue langsung ngakak pas melihat ibunya senyum-senyum, sambil berkata, “Ibu juga harus balas hormat gitu?” sambil memperagakan hormat juga.
Setelah bu dosen lewat, micel langsung tos sama kedua cowok itu.
“Kita berhasil…” ujar micel sambil tersenyum. Ah, senyumnya itu…
Kami bergerak menuju parkiran. Motor Micel memisah sendiri dari kawanan, beda barisan. Gue yang memang mau nebeng sama Micel langsung mengekorinya. Micel berhenti di sebuah motor yang gak gue kenali, tapi yang pasti gue bisa memastikan kalau itu bukan satria.
Tak jauh dari dia berdiri (udah masuk dan berdiri di samping motor), gue melihat satria yang familiar. Awalnya merasa keren (warnanya hitam, dengan aksen orange yang berupa tulisan dan tidak mendominasi) karena kecintaan gue dengan satria, tapi begitu gue berbalik badan, gue menemukan hal lucu lainnya.
Micel menatap gue sambil senyum-senyum –menuju tertawa–, ternyata menertawakan dirinya sendiri yang salah mengenali letak motornya, dan berhenti bukan di tempat motornya sedang bertengger saat ini. Awalnya, gue kira Micel sedang melihat teman-teman lain yang sibuk mencari pinjaman helm, eh ternyata salah tempat!
(pas gue pulang dari kampus, gue cekikikan mengingat tampangnya yang polos. Walaupun dia gak ngomong, tapi gue tahu dia malu karena salah berdiri. Ternyata gue duluan yang mengenali motornya. XD padahal, kalau dia stay cool aja tanpa ketawa, gue juga gak bakalan tahu kalau dia lagi salah mengenali motor, dari motor satria menjadi motor bebek).
Iya, itu memang lucu buat gue, tapi setelah tiga kejadian itu, gue dikerjain habis-habisan sama Micel.
***
Setelah keluar dari parkiran, beberapa orang temen gue menarik uang di atm. Micel ikut menarik sejumlah uang (ketahuan banget kan, ini anak tadi cuma jaim doang di depan temannya, gak mau dibayarin bensin sama gue. Gue hargai kejantanan lu Cel, yang gak mau nerima uang dari cewek. Cieeee…XD)
Padahal gue serius mau bayarin bensin. Serius lho. Iya, tapi hasrat mau bayarin bensin hanya hari ini. Besok pasti udah lenyap tak berbekas…
Micel pernah ngeboncengin gue waktu gue ke Kober bareng Ena dan Pipeh. Dia masih ingat larangan gue yang bilang “jangan di atas 40 km/jam. Bahkan, kalau bisa, dibawah 30. Dan dia ngeyeeeeeeel banget! Nyetirnya dikedut-kedutin, memainkan rem dan gas seenaknya, ngelak sana-sini, nyalip, dan uwoooooooh! Pokoknya jantung gue berjumpalitan saat dia bawa motornya. Huhuhu…
Kenapa gak kapok gue tabok, sih? Udah tahu kan, kalau tiap kali lu bawa gue seperti itu, gue pasti nabok? Kan gue yang jadinya merasa bersalah… (pasang emot sedih yang paling dasyat)
Enaknya diboncengan Micel tuh begini: saat diajak ngobrol, dia nyahut. Gak diem aja di atas motor, walau gue juga bukan orang yang senang bicara di atas motor. Terlebih lagi, malah dia yang cerita di atas motor, bukan gue. Itulah yang enak, karena gue kadang suka capek sendiri ketika berbicara di atas motor. Tapi pliiis, kalau lagi di atas motor, bicaranya dikencangkan sedikit. Angin membawa habis suaramu, Nak…
Selain itu, gue yang memang doyan diboncengin sama si “satria”, lebih nyaman ketika berada di atas motor Micel. Gue gak tahu deh, apakah jok motor itu juga bisa berbeda atau gimana, tapi gue merasa nyaman walau duduknya hampir terkena besi yang paling belakang bagian motor itu. Mungkin posisi duduk Micel yang enak, karena dia duduknya agak belakang, menyisakan ruang yang sedikit untuk gue, tapi dengan ada sebuah penghalang berupa tas yang dia pakai di punggungnya, membatasi tubuh kami berdua. Tas ini berguna banget, apalagi ketika terjadi benturan. (uhuk!) Si tas juga bisa menjadi sasaran gue saat refleks takut gue mencuat keluar, yang biasanya doyan memegang pinggang orang ketika takut.
Usai dikerjai habis-habisan sama Micel, gue balik ke kampus. Sempat nyesel juga karena gak bawa helm, padahal kalau gue pakai helm, gue bisa lebih lama diboncengin di atas satria. Huhuhu…
***
Tadinya gue udah capek, terutama pikiran gue yang terkuras hanya gara-gara human error dan adu mulut dengan pak satpam. Gue bukan tipe orang yang doyan adu mulut, apalagi melihat orang yang uratnya keluar dan matanya melotot marah saat bicara. Hal itu malah memunculkan reaksi benci. Gue udah mau pulang, tapi gue bertahan dengan merefreshkan otak dengan memainkan game LGR. Satu-satunya orang yang hp-nya boleh dipinjamin ke gue adalah Uloh. Dia satu-satunya orang yang ngizinin gue memainkan LGR miliknya, walau kalah sekalipun.
Saat himpunan lagi mengadakan rapat, gue diam aja di luar. Malas ikut rapat. Si Micel yang muncul dari dalam ruangan, melepaskan sweater biru donker buluk miliknya, yang menampilkan kesan formal keren karena kemeja di balik sweater terlihat. Nurul langsung berteriak, “Cel, lu jadi gantengan setelah lepas sweater!”
Setelah puas main LGR, gue jajan sebentar, menyeruput minuman kesukaan gue, es teh manis. Micel naik ke bacang.
“Cel, kok dipake lagi sweaternya? Kan gantengan gak pake,” gue bicara seperti itu. tapi berhubung sifat Micel memang konsisten, yang selalu melawan arus, dia malah cuek dan tetap memakai sweaternya.
“Eh, lu maunya ama siapa? Micel apa Gusti??” Pipeh nyerocos gak keruan.
“Oh, lu mau sama gue?” si Micel langsung menatap gue, berusaha memastikan (gue tahu apa yang ada di kepalanya) bahwa dia itu banyak yang suka. Gue gak menjawab, karena di hati gue memang masih ada satu nama yang belum bisa gue singkirkan dari kepala gue. (Oemjiiiiii! Hari ini dia yang gue suka mengganti AVA-nya lho! Seger banget jadinyaaaa! Gue sampai ngetweet “ada yang lebih seger dari es teh manis” itu karena fotonya yang biasanya cuma gambar abstrak, kini memakai fotonya sendiri. Suegeeeeer! XD)
Micel lalu duduk di samping gue, nyempil di antara gue dan Pipeh.
“Eh, lu sengaja banget sih, deket-deketin nci! Apa yang Gusti mau, lu juga ikutan mau!”
Euhm, gue klarifikasi sebentar. Si Pipeh ini emang doyan banget nyerocos. Dan yang sejak tadi dia omongin itu hoax semua. Gusti gak suka sama gue. Dia cuma senang membully gue. Hiks! Tapi ucapan dia di atas, kalau mau ditelisik dari sudut pandang Micel, rasanya… gue yang nyesek. Mereka, Gusti dan Micel, (setahu gue) sempat bertengkar karena seleranya terlalu mirip, sampai apapun yang mereka punya itu seakan kembar.
Setelah mengucapkan itu, Micel kabur. Pergi. Hilang.
***
Udah, sekian aja cerita gue. Tadinya sih, niatnya cuma 2 halaman karena gue mesti belajar buat ujian besok. Kenapa malah jadi curhat panjang lebar seperti ini??

Depok, 30 Oktober 2014

Sunday, October 19, 2014

#KampusFiksi9


Part 2, Curhatan yang Tak Ada Habisnya
 
Oke, gue bakal lanjutin cerita tentang kampus fiksi ini.


Di hari pertama, gue lumayan banyak ketemu dengan orang-orang yang cukup pendiam alias kalem. Biasanya, kalau gue ketemu sekelompok orang, gue yang bakal diam aja, membaca gerak-gerik sekitar gue dan menilai kapan gue boleh ngomong, kapan gue jaim. Nah, teman-teman di kampus fiksi ini pada kalem semua, dan muncul keheningan yang dasyat ketika gue nggak membuka obrolan. Jujur aja, gue jarang ketemu dengan situasi seperti ini, yang membuat gue terheran-heran. Jadi di kalangan penulis itu… sehening ini?
Maka dari itu, gue berusaha untuk mengajak ngobrol, walau memang susah untuk membuka duluan. Haha…
Saat gue sampai di asrama, di situ sudah ada beberapa orang. Seingat gue, ada Iit (ini mbak woles yang super woles tapi doyan sama cerita pembunuhan. Entahlah, mungkin di otaknya sedang ada kemelut setting pembunuhan yang super ribet untuk ceritanya, makanya lebih sering diam dan woles). Ada lagi Zulfa, yang langsung heboh ketika ketemu soulmate-nya (entah soulmate ketemu di mana), namanya Ovit. Duo ini punya dunianya sendiri karena memang sudah saling kenal sebelum ketemu di kampus fiksi ini.
Selain itu, ada Mbak Nifa yang lembut, mojang Bandung. Ada lagi anak yang super jaim, namanya Mei. Dia… gue lupa asalnya, pokoknya masih sekitar Jogja. Dia anak kelas tiga SMA yang punya niat untuk melanjutkan kuliahnya di universitas negeri, dan punya niat belajar. Sayangnya, fasilitas kurang mendukungnya. Gue miris pas denger dia bilang bahwa butuh perjuangan untuk mencapai toko buku terdekat, karena jaraknya jauh. Dia sampai minta gue kirimin buku kalau gue ada (sayangnya, gue anak IPA, dan dia anak IPS. Otomatis gue gak punya bukunya). Kalaupun gue mau beliin, gue gak bisa kirim ke rumahnya. Alamatnya aja gak ada!
Lanjut…
Eh, coba ngacung, ada yang belum gue sebut? Seingat gue, yang sudah ada di asrama pukul empat cuma segini. Bener, gak?
Ada lagi deng. Para cowok, seperti mas Panji dan Nico, tapi berhubung gue ngobrolnya di kamar cewek, jadi gak banyak tahu tentang dua cowok ini karena gue gak ngobrol di luar bareng. Masih jaim!
Awalnya, gue kira yang ikut kampus fiksi ini cuma sedikit, ya segitu aja. Sampai jam 7 malam, baru ada 13 orang yang datang. Dalam hati gue berteriak, “Heeeeeei, serius nih, cuma segini? Aduuuh, gue gak rela kalau tujuh kursi harus hangus gitu aja! Alasan pertama: satu angkatan kampus fiksi sedikit itu rasanya sedih. Artinya temen angkatan gue cuma dikit, dong? Alasan kedua: betapa susahnya mendapatkan satu bangku kampus fiksi reguler. Banyak di luar sana, orang-orang yang hanya bisa menadahi ilernya ketika melihat kampus fiksi reguler sedang dilangsungkan. Dan loooo, malah menyia-nyiakan bangku itu? tujuh lagi!”
Eh, ternyata esok paginya sudah 19 orang. Dua orang meng-cancel acara ini karena ada alasan tersendiri. Duh, malunya. Ternyata memang lengkap. Haha… setelah gue pikir-pikir, gue memang tidur cepat, sekitar setengah sepuluh sudah teler. Padahal gue ini manusia nocturnal yang biasanya tidur jam 2, tapi di saat begini malah tidur terlalu cepat. Di saat gue sudah tidur itulah, peserta lain yang rumahnya memang dekat sudah berdatangan. Maka dari itu, keesokan paginya, kursi sudah lengkap.
***
Gue bakal ngelewati cerita gue yang galau ketika makan malam, memilih antara burung puyuh atau lele sebagai lauk (yang dua-duanya memang gak pernah gue temukan sebagai lauk di piring gue), walau akhirnya gue memilih lele (dan gue gak nyesel, karena lauk hari selanjutnya juga ada lele. Dengan begitu, gue gak menambah daftar nama hewan yang sudah gue pernah gue makan).
Gue lanjut ke acaranya aja langsung.
Pagi-pagi, hal yang sudah gue duga terjadi. Antrian kamar mandi. Berhubung semua ceweknya muslim, maka dengan senang hati gue menambah jam tidur gue, yang tadinya mau bangun jam 5, gue geser ke jam 6. Kenapa? Karena gue yakin, mereka bakalan salat subuh sekaligus mandi. Benar saja, saat jam 6, setidaknya antrian kamar mandi mulai melonggar bila dibandingkan jam 5.
Setelah makan pagi, semua berkumpul di ruang pelatihan. Setiap bangku sudah diisi dengan nama peserta, dan gue kebagian bangku 3 terdepan di sebelah kiri.
MC, alias Mas Wahyu yang mukanya lucu, yang katanya mirip Gading Marten (menurut gue sih nggak, karena Mas Wahyu itu sipit banget), membuka acara. Lalu ada penyematan peserta, dan setelah itu Mbak Rina Lubis masuk untuk memberikan tantangan menulis serta persyaratannya. Dengan tema “Jodoh Pasti Bertemu”, kami diharuskan membuat sebuah cerpen di jam yang telah ditentukan selama 3 jam.
Di saat Mbak Rina meminta perkenalan para peserta kampus fiksi dengan menyebutkan nama, tujuan mengikuti kampus fiksi, serta ide cerita yang ingin digarap, saat itulah dia masuk.
Oke, gue gak bakal sungkan lagi untuk jujur di sini. Toh, kemungkinan besar dia gak bakal baca ini, kan? :p
Dia masuk dengan menenteng kamera. Saat itu, dia memakai kaos merah di bagian dalam (kaos ‘gadis 360 hari yang lalu’), dipadu dengan baju hitam lengan panjang, seragam para panitia kampus fiksi. Dengan santainya, dia gak mengancingkan baju hitam itu, memperlihatkan baju merah di dalamnya.
Tiga kesalahan yang dia lakukan saat itu: menggabungkan dua warna yang menurut gue keren saat berpakaian (merah dengan hitam), menggulung lengan baju hitamnya hingga ke siku, menampilkan keindahan tangannya (sudah gue bilang, kan? Cowok yang tangannya cantik, entah sadar atau tidak, pasti menggulung lengan bajunya hingga ke siku). Ketiga: dia bawa kamera, alat yang menambah kekerenan seseorang.
Dan saat itulah, mata gue selalu mencari sosoknya, setiap mendengar suara pintu yang terbuka, berharap dia ada di ruangan yang sama dengan gue.
Nah, tahu dong, siapa yang gue maksud? Ya, dia satu-satunya cowok yang gue panggil “kakak” di kampus fiksi kemarin. Dia alumnus kampus fiksi satu, dan setiap ada angkatan kampus fiksi yang baru, pasti ada dia. Ini fotonya. XD






Ups, cukup curhatnya. Lanjuuuut…
Sumpah, gue tegang banget pas perkenalan! Harusnya sih gue termasuk abjad barisan terakhir, tapi karena dibalik, jadilah gue sebagai orang ketiga dalam perkenalan! Zulfa (Zulfa Ulinnuha Tritita) sebagai orang pertama, Zahra (Zahratul Wahdati) sebagai orang kedua. Mereka memaparkan ide mereka dengan sangat lancar! Apalagi Zahra yang idenya “gila banget”, seolah sudah mateng banget di otaknya. Sedangkan gue?
“Eeeuhm, ide ceritaku tentang santa gitu, deh… genre ceritanya fantasi. Karena aku suka fantasi, makanya aku ingin menuliskan cerita tentang santa. Soal alurnya… ya intinya tentang santa, deh!”
Jawaban macam apa itu? (-___-“)
Gue sudah punya feeling, bakal ditanyain ide cerita yang kira-kira nantinya ingin di-bimbingan online-kan. Saat di kereta, gue sudah berusaha untuk memunculkan ide, tapi memang dasarnya lagi buntu, dan si ide gak mau keluar ketika perjalanan di kereta yang menghabiskan waktu 9 jam (ini benar-benar wasting time banget. Nyari ide gak bisa, tidur juga gak bisa!). alhasil gue malu sendiri dengan jawaban gue.
Setelah gue, ada Mbak Siti Rinzhani Ghusty Pertiwi, a.k.a Mbak Ririn. Dia juga cukup lancar memaparkan idenya. Lalu ada Bang Joe, yang nama lengkapnya Saur Tumpu Johanes Gurning, disusul Bang Panji Pratama dan Ovit (novita). Eh, ini berita yang dibawakan komentator sepak bola ya, dioper begitu dan diceritakan begitu singkat? Ah, sudahlah. Mempercepat durasi…
 Ini dia barisan Kiri... minus ovit sih...

Begitu selesai barisan kiri, kini barisan tengah. Ada Nikodemus Niko, Nifa Hanifa, Naafi Nur Rohma, serta Meilia Mulyaningrum yang berbagi cerita tentang idenya. Berlanjut lagi ke barisan kanan, dimulai oleh Mbak Lina (Marlina Permata Sari), dan… stop.  Gue bakal cerita tentang orang selanjutnya.
Alasan gue pengen cerita tentang orang ini adalah… dia punya kesamaan dengan gue, walaupun berbeda. Namanya Mahfud. Dia satu-satunya orang selain gue yang meletakkan peminatan pada sesosok “cinta” bernama fantasi. Keren, ya?


Tuh, liat aja fotonya Mas Mahfud. Bacaannya aja beraaaaat. XD

Dia memang sama dengan gue, sama-sama suka fantasi, sama-sama pernah ikut fikfan Diva. Tapi yang berbeda adalah… dia sudah punya buku, hasil dari kemenangannya di fikfan Diva yang berjudul Bara Aksa Dewa. Sedangkan gue? Gue masuk 30 besar aja nggak! Itulah yang membedakan.
Sudah, sudah… jangan membully gue. Dia emang bikin gue jealous.
Saat itu gue mengira kalau cuma ada dia yang ikut fikfan diva di kampus fiksi Sembilan ini, di ruangan ini. Eeeeeeeh, ternyata… ada lagi satu pemenang fikfan Diva dalam ruangan ini! Dan orang itu adalah orang yang gue suka. Ah, makin ciutlah gue. *eh, bener kan? Soalnya dia pakai nama pena.*
Jujur aja, ya… walau gue jealous, tapi gue emang belum tahu ceritanya seperti apa. Gue sering melihat akun twitter @Divapress01 yang sering menampilkan sinopsis cerita, terutama buku baru. Sayangnya, entah karena gue gak baca atau gimana, atau mungkin gue lupa. Satu-satunya pemenang fikfan Diva yang ceritanya membuat gue ngiler alias pengen baca walaupun takut adalah yang judulnya Bloody River (ini novel karangan Kakak). Dari judulnya sudah memikat, sinopsisnya juga sudah menggugah gue untuk membacanya. Tapi… ya itu tadi, berhubung itu thriller, gue belum menyelesaikan buku itu hingga sekarang.
Maaf ya, Mas Mahfud… nanti akan gue cari dan baca novelmu itu. Bara Aksa Dewa, kan? ;D kalau Bloody River sih, udah punya. Cuma masih takut untuk membacanya. XD
Nah, lanjut lagi. Setelah Mas Mahfud berbagi tentang idenya yang juga berkutat dalam fantasi, kini saatnya Laras (Laras Wahyuningrum) yang memperkenalkan diri. Gue baru tahu, ternyata dia juga dari kampus fiksi sepuluh yang maju ke kampus fiksi Sembilan, sama kayak gue. :D
Selanjutnya ada Kiki (Kiki Permata Sari), yang entah ada hubungan apa, nama belakangnya sama dengan Mbak Lina. Usai memperkenalkan diri, mic dioper ke Caca (Inna Riescananda). Cewek yang satu ini hobi berkata “Kenapaaaa”, dengan nada yang sama persis dengan iklan biskuat yang diucapkan oleh anak kecil kepo itu.
Naaaah, setelah Caca, gantian Iit yang memaparkan ide dan cerita yang dia suka. Dari sinilah, semua orang tahu kalau mbak woles ini begitu doyan dengan cerita pembunuhan seperti karya Agatha Christie. Kalau kata Nico, “Iiiih, serem bangeeeeet!”
Setelah Iit, dua perkenalan terakhir dilanjutkan oleh Ain (Ainun Nisa Nadhifah) dan Mbak Agustin (Agustin Wahyuningsih).
Usai perkenalan diri, (hosh, hosh… *lap keringat*) dilanjutkan dengan materi teknik kepenulisan oleh Pak Edi.
Naaaaaah, sampai sini masih belum masuk materi, lho? Hahaha… kebanyakan curhat membuat gue pusing menyusunnya. Inti cerita di sini masih membahas tentang sobat-sobat gue yang kalem tapi membekas di hati, belum sampai ke materi.
Audience: Teruuuus, materinya kapaaaan?
Me: Kapan-kapan aja, ya.
Audience: Kenapaaaa? *bertanya ala caca*
Me: Mau ngerjain tugas dulu. Hehehe… :D
Audience: Terus, si dia itu siapaaaa? Yang kamu suka itu?
Me: iiih, kepo! Ya udah deh, gue kasih tahu. Inisialnya Kak Reza. :P


Depok, 19 Oktober 2014

Thursday, October 2, 2014

#KampusFiksi9



Part One: Awal dari Segala Permulaan

Perjuangan banget buat bisa ikut kampus fiksi. Gimana nggak? Teman gue yang istilahnya udah terjun lama di dunia kepenulisan aja masih gak lolos waktu seleksi tahap pertama. Lha, gue?
Intinya, teman gue yang satu itu pernah ditolak. Lalu dibuka lagi seleksi kedua, dan gue nekat mengirimkan karya gue yang… benar-benar jauh dari genre yang gue bisa.
Dari genre yang gue suka, fantasi, diwajibkan untuk mengirimkan romance (gak boleh fantasi). Uuuh, keluar dari zona nyaman.
***
November 2013
Gue akhirnya mengajak teman gue untuk mengirimkan cerpen, dan dengan sok bijak gue bilang padanya bahwa kali ini ada kemungkinan lolos, mungkin waktu itu kurang beruntung. Dia jawab oke, dan dari motivasi itulah, gue harus loloooos! Gue gak mau ditinggal sama teman gue, dan kita harus bersama-sama!
Lalu, dengan semangat pantang menyerah, gue ajak lagi satu teman gue. Dia jawab oke. Fix, gue punya dua teman yang bisa gue ajak untuk ikut kampus fiksi.
***
“Kak Aaaaaaay, aku udah kirim cerpenku, lho! Sesuai dengan saran Kakak, aku pakai cerpenku yang judulnya Anemogami. Kakak udah kirim, belum?” tanyaku dengan semangat ‘45. Ya iyalah, secara gue akhirnya bisa juga menyelesaikan tulisan berbau romance, terlepas itu bagus atau nggak!
“Aku gak ikut, Hani…”
Jleb!
“Kenapa, Kak?” asliiii, gue sedih banget pas dia jawab begitu. Karena dialah, gue berani untuk maju dan mengirimkan cerpen untuk seleksi kampus fiksi itu.
“Kita udah terlalu banyak mengikuti pelatihan, Hani… lebih baik langsung menulis. Aku juga udah terlalu jenuh mengikuti pelatihan menulis.”
Kalau rumput bisa bergoyang, mungkin inilah saat yang tepat. Gamang meliputi gue. Gue udah kirim, sedangkan dia malah bilang gak jadi ikut di saat sudah terkirim. Kakaaaaaak… :’(
Gue lanjut mengonfirmasi teman gue yang satu lagi, memastikan gue gak sendirian.
“Mbak udah kirim cerpen belum? Bentar lagi deadline, lho…”
“Aku kayaknya gak bisa ikut, Hani… kondisi nenekku gak memungkinkan untuk kutinggal…”
Dan aku langsung patah semangat mendengar kedua jawaban temanku itu.
***
Oke, gue gak perlu menjelaskan bagaimana detilnya rasa senang gue ketika melihat nama gue ada di barisan nomor 72 (masih ingat, lho!), di bawah nama Lidya Reny Chrisnawati, tercantum sebagai peserta kampus fiksi angkatan 10. Waktu itu hampir nangis di kampus, tapi untungnya berhasil gue redam menjadi berkaca-kaca doang. Gak sia-sia, gue berhasil juga mendapatkan salah satu bangku kampus fiksi itu…
Dengan berbagai alasan (kemungkinan bulan November ada sosfar, acara ospek jurusan farmasi, bentrok dengan kampus fiksi angkatan 10), gue meminta untuk maju angkatan, menjadi angkatan 9. Begitu dikonfirmasi bahwa gue bisa ikut angkatan 9, gue langsung menyiapkan tiket menuju Jogja.
***
September 2014
Kereta Fajar Utama Yogya sudah mulai mendekati stasiun akhir. Gue was-was, merasa gak enak dengan Mas Kiky, driver yang akan menjemput gue di stasiun. Pasalnya, gue udah mengaretkan jam pertemuan, dari yang tadinya 15.12 (waktu inilah yang tercantum di tiket sebagai waktu tiba kereta) menjadi 15.30. Tapi tetap saja, 15.46 baru sampai di stasiun Yogyakarta!
Lebih parahnya lagi, perut gue gak mau diajak kompromi. Perut yang hanya gue isi dengan sarapan pada pukul 9 pagi itu kini meronta-ronta, meminta diisi ulang. Huft, dari awal, gue sengaja gak mau pesan menu makanan di kereta untuk makan siang… Selain harganya mahal, rasanya jauh dari gambar yang ditampilkan. Maka dari itu, gue bermaksud mencari warteg sekitar stasiun jika ada sisa waktu janjian. Nyatanya? Waktu janjian aja sudah ngaret 16 menit!
Sesampainya di stasiun, hasrat untuk memenuhi permintaan si lambung lebih besar, membuat gue mengulur waktu lagi untuk ketemu Mas Kiky. Huwaaah, maafin gue, Mas Kiky!
Gak ada warteg. Penjual makanan berat pun gak ada, yang ada cuma semacam gorengan (kalau gak salah lihat) sama roti rasa kopi, me too-nya si boy. Gue pilih si boy tiruan itu sebagai pengganjal perut, dan menghabiskannya di dekat pintu keluar dari stasiun sambil menghadap peta Yogyakarta.
Setelah habis, gue baru sms Mas Kiky, sebagai konfirmasi bahwa gue udah sampai di stasiun. Gak lama setelah itu, Mas Kiky langsung menelepon gue.
“Kamu di mana? Aku ada di pusat informasi nih, memakai baju merah tulisan “blablabla yang lalu” (gak kedengaran sama gue, teleponnya kresek-kresek dan ada suara berisik dari latar tempat gue berdiri, jadi cuma kedengaran ‘yang lalu’nya aja. XD Tapi gue tahu maksudnya, karena ada sebuah buku terbitan divapress dengan judul itu, sayangnya gue gak ingat judul lengkapnya).”
“Oh… iya, Mas. Oke.”
Dengan modal nekat dan sok tahu, gue cari yang namanya Mas Kiky. Pusat informasi? Ya ampun… dari tadi gue makan roti sambil berdiri di samping pusat informasi, brooo! Malu pisan ini, kalau sampai ketahuan laper banget. XD
Saat melihat ada lelaki berbaju merah sedang celingukan, gue langsung lihat bajunya. “Gadis 360 hari yang lalu”. Aaaaah, lelaki inilah yang gue cari. Betapa dipermudahkannya gue bertemu dengan Mas Kiky… :D
Begitu kenalan, gue langsung diajak ke mobil. Sesampainya di mobil, udah ada gadis berambut pendek yang duduk di bangku depan, yang begitu supel. Namanya Zulfa, dari Pangkalan. Gue duduk di bangku tengah yang cukup luas (karena belum ada orang).
“Kita nunggu satu orang lagi, ya,” kata Mas Kiky. “Nungguin Reza. Kenal, kan?”
Gue angguk aja, padahal gak kenal. XD Pernah dengar namanya, Reza Nufa, panjangnya Reza Nurul Fajri. Tapi… gak follow akun twitternya, takut dibilang SKSD. XD
“Lho, tadi aku kayaknya liat Mas Reza lewat,” jawab Zulfa dengan tampang yang sedikit bingung. Ekspresinya waktu itu kocak deh, soalnya dia rada gak yakin dengan yang dia lihat. Ngomongnya slow motion pula! Padahal Mas Kiky kan harus segera menemukannya. XD
Mas Kiky langsung turun dari mobil, sementara itu gue mulai deg-degan. Gimana kalau dia itu... alumni Kampus fiksi yang terkenal itu? *uhuk*
Maksud gue, kan Kak Reza Nufa yang itu dapat predikat alumni terfavorit saat kampus fiksi emas beberapa waktu lalu...
Nah, balik lagi ke persoalan. Terus gue mesti ngomong apa? udah begitu, otomatis Kak Reza ini bakal duduk di kursi samping gue, gak mungkin duduk di pangkuan Zulfa, kan? Aaargh, kepala rasanya langsung berantem dengan pikirannya sendiri!
Gak lama setelah itu, ada cowok yang gak terlalu kurus, tapi juga gak gemuk, berjalan melintasi depan mobil sambil melihat ke dalam. Gaya jalannya santai tapi pasti (menuju ke dalam mobil). Waaaah, gue langsung panik dan menggeser tubuh gue mentok ke pintu, malah terganjal tas Zulfa.
“Itu tasku…” kata Zulfa.
Gue yang masih mematung, bukannya ambil tasnya, malah nampilin senyum bego. Sementara itu, Kak Reza udah buka pintu mobil!
Eh, tunggu dulu. Ini bukan deg-deg-ser karena cinta, ya. Ini cuma karena gue grogi ketemu orang yang istilahnya memang bagian dari kampus fiksi sejak awal. Serius.
“Tasnya dipindahin ke bagasi aja…” Mas Kiky mengusulkan. Baru deh, setelah itu tangan gue mau bergerak. Aduhaaai, kenapa bisa se-oon ini ya, cuma karena melihat gayanya si Kakak?
Begitu gue udah mementokkan diri ke pintu, Kak Reza masuk, diiringi seorang cowok yang kalah tinggi dibandingkan Kak Reza. Walaaah, cowok yang satunya lagi gak gue lihat lho, tadi!
“Reza…” si Kakak menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangan. Gue balas menyambut tangannya dan menyebutkan nama gue, lalu kenalan dengan cowok yang satunya lagi, yang bernama Nico.
“Kamu naik kereta juga?” Kak Reza nanya lagi.
“Iya.”
“Dari mana?”
“Jakarta.”
“Jangan-jangan…” Kak Reza menunjuk ke stasiun, dengan maksud menunjukkan kereta yang baru saja sampai. “Fajar Utama?”
“Iya.”
Dari gelagatnya, gue bisa menebak bahwa kami satu kereta, lalu gue ketawa. Kami naik kereta yang sama tanpa tahu satu sama lain. Gue di gerbong tiga, sedangkan Kak Reza dan Nico mungkin di gerbong lain.
Percakapan setelah itu dipenuhi oleh Mas Kiky, Kak Reza, dan Zulfa. Gue dan Nico diam saja sambil menyimak percakapan mereka yang seru, sesekali cekikikan mendengar celotehan mereka. Ada satu celotehan mereka yang membuat gue senyum-senyum.
Kak Reza: “Wah, hari menyembelih besar-besaran sebentar lagi, ya?”
Mas Kiky: “Iya. Bentar lagi, nih.”
Kak Reza: “Semoga para kambing itu bisa masuk surga…” (dalam hati gue aminin. Gak lucu kalau misalnya ini cuma lawakan, dan gue malah mengaminkan dengan serius, padahal gue gak ngomong apa-apa lagi selain perkenalan tadi!)
Mas Kiky: “Iya, semoga masuk surga. Eh, bukankah mereka bisa masuk surga? Kan udah jadi hewan kurban?”
Kak Reza: “Hmmm, belum tentu. Kambing masih banyak dosanya, lho. Pup di depan rumah orang dan buat orang kesal, dan sebagainya. Nah, beda lagi kalau lele.”
Sambil mendengarkan celotehan mereka, mata gue terpaku ke satu tempat. Tangannya Kak Reza.
Aduhai, tangannya itu cantik banget! Kurus tapi terkesan kuat. Jari-jarinya juga panjang, yang membuat gue cemburu berat karena jari tangan gue yang bantat. Tangan penulis, begitu julukan yang gue berikan.
Ah, intermezzo tadi dilupakan saja. Lanjutkan dengan percakapan mereka.
Mas Kiky: “Kenapa sama lele?”
Kak Reza: “Kalau lele sih dijamin masuk surga. Coba, apa dosanya? Gak ada. Makan aja dari tahi, lho! Hidup juga bisa di lumpur, gak ngerepotin orang.”
Dan gue berhasil cekikikan mendengar percakapan itu, tentang perdebatan lele dan kambing yang masuk surga. Sambil ngobrol, Mas Kiky memberitahukan bahwa ada satu orang lagi yang harus dijemput.
Namanya Panji. Clue yang diberikan Mas Panji agak rancu, menyebabkan mobil kami berputar-putar mencari letak yang diberitahukan Mas Panji. Saking pusingnya, Mas Kiky pun berkata, “Mana sih, si Panji manusia millennium ini?”
Dan gue cuma bisa tertawa melihat betapa pusingnya Mas Kiky yang harus menjemput para peserta. Setelah berputar-putar selama setengah jam, akhirnya ketemu dengan Mas Panji. Horeeeee! Asrama, cepatlah tiba! Perut gue udah keroncongan lagi! Yeaaay… XD
***

Cerita selanjutnya bakal gue tulis ketika senggang, tentang sesampainya di asrama. :D
Depok, 02 Oktober 2014