Wednesday, December 11, 2013
mf pulv dtd no 10
11시 12분 13초사람 Ngelupain 어렵다 . 항상 내 머리 또는 무언가 에 뭔가 문제 가 있는지 , 그렇게 하고 있습니다. 경우, 기존 어쨌든 관계 때문에 문제가되지 않습니다 . 그것?이 시간 , 내 마음 에 무슨 일이 일어나고 있는지 했다. 첫 번째 에서 ,눈은 항상 심지어 하루 , 내 인생에 와서 귀여운 소년 승 기대 된다. 가능한 한 많이 , 나는 항상 귀여운 소년 과 눈 접촉 ( 나는 그녀 kaliiii 와 의미 눈을 ... ) 줄일 수 있습니다. 지난 달 , 정확하게 11월 19일에서 20일까지 2013 년 에 , 내 눈은 너무 멀리 . 처음에는 그냥 약 2 일 , gapapalaaah 을 궁금해했다. 결과적으로 나는 갇힌욕망을 충족하기 위해 내 눈 은 매우 높은 아니지만 매우 잘 생긴 귀여운 남자 를 응시 할 수 있습니다.문제 는 여기서 그치지 않는다. 세 번째 , 나는 지난 밤에 그 사람 을 mimpiin . 이제까지 그 날 이후 다시 볼 수 있지만, 여전히 내 기억 에서 벗어날 수 없다 조금 거기에 부족 하지 않습니다 사람과 그를 mimpiin 작성 하지 마십시오. 나는 사람이 meneruuuus 을 유지 처럼 비난 해야했다 무슨 문제 질문 , ?정말 피곤 , 심각하게 ... 지금까지 볼 수 없습니다. 페이스 북은 존재하지 않습니다. 트위터 전무 . 가인 은 그를 알고있는 내 친구입니다. 그를 deket 에 대한 방법은 없습니다 . 지금까지 나는 아직도 그 그늘 계속 왜 ? 진심으로 (다시) , 심지어 나 에 대해 생각 하지 생각하고 사람들을 위해 케이프 . 케이프 하트 , 마음 케이프 ...나는 그러나 나는 그것의 이름을 잊고 있다 , 매우 하시기 바랍니다 해요 . 외형 잊어 버려. 쓸모없는 , 오른쪽, 지속적으로 그녀 pikirin 인가?
Sunday, December 8, 2013
The Soul's Thief
Erz,
si malaikat pencabut nyawa telah bersiap dengan bilah melengkung di tangannya. Ia
tengah membuntuti seorang wanita cantik bernama Raina. Menunggu. Itulah tugasnya.
Erz
akan menunggu saat di mana Raina akan mengalami jalan ajal –itu yang sering diistilahkan
oleh para malaikat pencabut nyawa ketika makhluk fana yang sebentar lagi akan
mati– lalu mengambil jiwanya dengan bilah melengkungnya itu. Tragis. Mungkin itu
yang bisa kudeskripsikan mengenai Erz, musuh bebuyutanku.
Aku adalah
makhluk dari ketiadaan. Aku tidaklah fana, tapi juga tidak memiliki jiwa. Aku hanya
seperti robot yang menjalankan misi untuk organisasi yang menaungi. Namaku Zac.
Aku adalah pencuri jiwa manusia. Keren, kan?
Aku selalu
beraksi ketika para malaikat maut itu berhasil menarik jiwa manusia fana, namun
belum sempat mengirimkannya ke pengadilan keabadian. Sebelum mereka
mengirimnya, aku harus mencuri jiwa itu. Jiwa itu adalah makanan untukku,
sebuah bahan bakar agar aku bisa tetap melaksanakan tugasku yang semestinya.
Ckiiiiit!
Sebuah
mobil yang tidak sempat mengerem tepat waktu berhasil mementalkan tubuh Raina
hingga ia terbang sejauh tiga meter, dan jatuh dengan kepala duluan. Benturan itu
menyebabkan tubuh Raina kejang-kejang, dan Erz langsung melaksanakan tugasnya. Ia
mengayunkan bilah melengkungnya ke leher Raina yang tak sadarkan diri. Tak ada
darah yang terciprat maupun kulit yang robek dari ayunan bilah itu, namun jiwa
Raina telah berhasil dicabut dari tubuh fananya.
Aku segera
mengepakkan sepasang sayapku yang berwarna hitam melintasi langit temaram,
dengan secepat kilat menyambar jiwa itu sebelum ujung tongkat dari Erz berhasil
menyentuh kepala Raina. Aku menyeret jiwa Raina menjauh dari Erz, membuat Erz
mematung dan tercengang dengan tindakanku itu. Sebagai sentuhan terakhir,
kusentuhkan jariku ke telinga Erz, membuatnya jatuh berdebum ke tanah seakan
tubuhnya memiliki bobot. Mematung. Itulah yang kulakukan kepada Erz.
“Ah,
kau membawaku ke mana? Apakah kau menyelamatkanku?” tanya Raina dengan suaranya
yang merdu. Tatapannya membuatku lemas, rasanya aku yang tersedot oleh
tatapannya. Tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini!
Haram
hukumnya jika aku tidak segera memakan jiwanya. Sesuatu yang buruk akan terjadi
padaku jika aku justru jatuh cinta pada santapanku. Aku tidak boleh terhanyut
seperti ini.
“Terima
kasih sudah menyelamatkanku dari pria berjubah tadi. Walaupun ia ganteng
sekali, tapi ia menyeramkan untukku. Ia seperti… malaikat pencabut nyawa.”
Raina mulai berceloteh. Semakin mendengar suaranya, semakin layu pula
kekuatanku dan hasratku untuk memakannya. Astaga, suaranya seperti candu
untukku. Candu yang begitu memabukkan.
“Kau
siapa?” tanya Raina lagi. “Apakah kau akan menolongku? Aku rasa seperti sudah
mati, tapi aku belum masuk ke surga ataupun neraka, kan? Bisakah kau
mengembalikanku ke tubuhku yang semula?”
Tidak.
Justru itu hukum yang paling tak bisa kulanggar walau aku ini seorang
pemberontak. Musnah. Harga itu yang harus kubayar jika kukembalikan tubuh
Raina.
Kutatap
Raina kembali, dan Raina menatapku dengan pandangan memohon. Aku sudah
benar-benar gila rupanya, seluruh tubuhku seakan tertarik oleh perkataannya,
dan kini tubuhku telah bergerak ke tempat kami kabur tadi. Entah apa yang
terjadi, tapi aku benar-benat tak bisa menolaknya.
Kami
sampai di tempat tubuh Raina tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah. Dengan
mudahnya aku mengembalikan jiwa Raina, dan sekejab saja tubuh Raina mulai
menggelepar kembali seperti sebelum diambil oleh Erz tadi. Erz telah berdiri di
sampingku, tersenyum bangga dengan hasil yang seakan-akan telah menjadi
rencananya.
“Bagaimana
rasanya? Kau sudah siap menjalani kemusnahanmu?” suara Erz penuh kemenangan.
“Apa?”
“Jangan
dikira kami bisa memaafkan pembelot sepertimu, Zac… alasanmu menjadi
pembelotlah yang juga menjadi alasanmu untuk musnah. Bagaimana, kau sudah
mengetahui kehebatanku? Selamanya, baik kau menjadi makhluk ketiadaan, maupun
masa lalumu ketika menjadi malaikat maut, tidak akan pernah bisa menyaingi
kehebatanku.”
“Jadi…
ini semua adalah ulahmu?” tanyaku tak percaya. Erz tertawa sambil mengangguk.
Siaaal!
Tubuhku
mulai menguap, sama seperti ketika pertama kali aku menyelamatkan seorang gadis
yang telah kucabut nyawanya dan kukembalikan nyawanya ke tubuhnya. Perbedaan yang
mencolok di sini adalah: saat itu, aku berubah menjadi sekarang ini. Saat ini,
aku tidak akan bisa mewujud lagi menjadi apapun. Aku akan musnah!
Tawa
kemenangan terus dikumandangkan Erz menjelang kemusnahkanku. Aku hanya bisa
menerima konsekuensi yang telah kuperbuat. Kebodohan yang sama membuatku dua
kali terjebak dalam masalah besar, dan ketidaktaatanku pada peraturan membuatku
harus keluar dari pekerjaanku sebagai malaikat maut dan sekarang aku harus
musnah. Apakah nasibku memang harus sesial ini?
Oooh,
andai saja aku bisa memutar ulang waktuku.
Andai
saja aku bisa kembali ke waktu di mana aku mengembalikan jiwa gadis yang telah
kucabut. Aku tidak akan menjadi pencuri jiwa seperti ini untuk tetap bertahan
dalam wujud seperti ini. Tidak mencuri berarti tidak makan. Tidak makan juga
berarti musnah. Aku benci siklusku ini!
Plop!
Kesadaranku
hilang seluruhnya. Tubuhku, sayapku, dan juga pikiranku telah lenyap
seluruhnya.
Depok, 8 Desember 2013, 19.56
Kang Bong Ja
Alkisah
di sebuah gubuk, tinggallah seorang wanita yang cantik jelita bernama Kang Bong
Ja. Ia sebatang kara.
Setiap
hari Bong ja pergi ke sebuah padang
rumput untuk menggembalakan binatang-binatang kesayangannya. Jumlahnya cukup
banyak, hampir mencapai sepuluh ekor.
Karena
Bong ja sangat cantik, seorang peri baik hati sangat sayang kepadanya. Ia tidak
ingin Bong ja salah mendapatkan jodoh, sehingga ia menggunakan sihirnya untuk
menyihir binatang-binatang Bong ja. Barang siapa yang dapat melihat wujud asli
dari binatang peliharaan Bong ja, maka orang itulah yang akan menjadi suami
Bong Ja.
Suatu
hari saat Bong ja menggembalakan binatang-binatang itu, tiba- tiba lewatlah
sebuah kereta kerajaan yang amat mewah. Lalu turunlah seorang pria yang
parasnya rupawan. Pria itu sangat tertarik pada kecantikan Bong ja.
“Ada keperluan apa tuan?”
tanya Bong ja kepada pria itu.
“Izinkanlah
aku untuk memperkenalkan diri. Namaku Kim Hyung Joon. Aku ingin mencari seorang
permaisuri untuk menemaniku seumur hidupku. Sebab umurku sudah 28 tahun, aku
harus segera mencari seorang permaisuri… Maukah kau menjadi permaisuriku?”
tanya Hyung Joon.
“Maaf
tuan… tapi bahkan saya saja baru bertemu anda satu menit yang lalu. Bagaimana
saya bisa tahu bahwa anda adalah jodoh yang tepat untukku?” tanya Bong ja.
“Kita
Bisa menikah terlebih dahulu. Setelah itu tumbuhlah rasa cinta untuk kita
berdua… tetapi perlu kukatakan, bahwa aku sudah jatuh cinta pada pandangan
pertama kepadamu…”
Bong
ja berpikir keras. Akhirnya ia ingat dengan apa yang telah dilakukan perinya.
“Wahai
tuan, apakah anda melihat binatang-binatang di sana itu? Bisakah kau sebutkan apa nama
binatang itu?” tanya Bong ja.
“Tentu
saja! Apa kau meragukan penglihatanku? Penglihatanku masih sangat bagus! Tapi
apakah kura-kura itu adalah binatang peliharaanmu?” tanya Hyung joon.
Bong
ja tersenyum. “Tuan, kita tidak bisa menikah…” kata Bong ja.
Hyung
joon terus membujuknya. Sampai akhirnya ia menyerah dan pergi melanjutkan
pencarian terhadap permaisurinya.
Tak
disangka, kejadian itu dilihat oleh Kyu jong, seorang lelaki yang sangat culun
dengan rambut berbelah tengah dan berkacamata botol susu. Kyu jong adalah
tetangga Bong ja yang baru saja pindah beberapa hari yang lalu.
“Bong
ja!” teriak Kyu jong.
“Ada apa?” tanya Bong ja.
“Kenapa
kau menolak lamaran dari orang serupawan Hyung joon?” padahal ini adalah
kesempatanmu untuk hidup bahagia…”
“Aku
tidak akan bisa hidup bahagia apabila bukan dengan orang yang ditakdirkan hidup
bersamaku…” jawab Bong ja. Kyu jong bingung dengan jawaban Bong ja. Bagaimana
Bong ja bisa berkata dengan yakin bahwa Hyung joon bukanlah seorang yang
ditakdirkan untuknya?
Esoknya,
Bong ja pergi ke sebuah sungai untuk mengambil air. Ia teriak dengan sangat
kencang, sehingga Kyu jong berlari hingga jatuh terguling-guling. Walaupun
kakinya berdarah, ia terus berusaha menghampiri Bong ja.
“Ada apa? Kenapa kau
berteriak?” tanya Kyu jong kepada Bong ja.
“Kyyyyyyaaaaaaaaaa!!!!!!!”
teriak Bong ja lagi.
“Aduh,
jangan teriak terus… aku tidak mengerti apa yang kau teriakkan…”
“ta-ta-tadi…
a-aku… meli-hat ada yang mengapung di sungai… se-seorang pria!” kata Bong ja
terbata-bata.
“Mana?
Ayo cepat kita tolong!” kata Kyu jong.
“Tidak,
kau yang harus ditolong terlebih dahulu. Kakimu berdarah!”
“Kau
ini… orang itu bisa mati kedinginan! Ini menjelang musim dingin dan orang itu
mengapung di sungai! Dan bagaimana kalau ia tidak bernapas dan akhirnya
meninggal?” kata Kyu jong tegas.
“Tidak
apa-apa. Ia mengapung dengan muka menghadap ke langit. Lagi pula kulihat ia
menggunakan jaket yang tebal. Dan lagi di ujung sana kita masih dapat menolongnya karena ia
bisa tersangkut di jembatan itu.” Kata Bong ja.
Mereka
masih terus memperdebatkan siapa yang akan ditolong duluan. Kyu jong yang tak
mau mengalah dan ingin menolong pria
yang mengapung di sungai itu, sedangkan Bong ja yang egois ingin menolong Kyu
jong terlebih dahulu. Mereka terus memperdebatkan perdebatan mereka tanpa
memikirkan korban yang sudah tersangkut di jembatan (sesuai dugaan Bong ja) dan
kedinginan (sesuai dugaan Kyu jong. Tentu saja korban itu tidak akan hangat
dengan jaket yang ia pakai sebab jaket itu juga telah basah dan membuatnya akan
bertambah dingin. Dengan kata lain, pendapat Bong ja sudah salah).
Pada
akhirnya perdebatan Dimenangkan Bong ja. Ia membalut luka dari Kyu jong.
Setelah itu, ia bersama Kyu jong menolong korban yang mengapung di sungai itu.
“Wah,
ia tidak bernapas! Bagaimana ini?” tanya Bong ja.
“Beri
saja ia napas buatan…” kata Kyu jong.
“Ya
sudah, aku akan melakukannya.” Bong ja bersiap dan menarik napas, tetapi…
Kyu
jong menyambar sebuah bambu disampingnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut
korban itu. Ia meniupkan udara ke korban itu melewati bambu itu.
Tak
berapa lama kemudian, Korban itu terbatuk-batuk. Akhirnya ia bernapas!
Ia
kemudian di bawa ke rumah Kyu jong, sebab Kyu jong tidak ingin ada seorang
lelaki tinggal di rumah Bong ja. Setelah itu mereka mencari seorang tabib untuk
menyembuhkan Korban tadi.
Tabib
telah didatangkan. Tabib itu bernama Park Jung min. tabib itu segera memeriksa
korban itu. Tabib itu juga terpesona kepada Bong ja, sehingga ia mengerahkan
seluruh kehebatannya untuk menolong korban itu. Tetapi sesaat kemudian ia
berteriak dan langsung pergi dengan berkata seperti ini, “Aku tidak mau mengobatinya!
Jauh-jauh dariku!”
Kyu
jong segera berlari menyusul tabib itu. Ia membujuk tabib itu untuk tetap
mengobati korban itu. Namun
Tabib Park
tetap tidak mau mengobatinya.
“Tuan
Tabib, tolonglah kami. Kudengar kau adalah Tabib Park,
Tabib paling hebat di seluruh jagad raya ini dan mempunyai charisma yang begitu
menawan. Tapi kenapa kau bahkan tidak mau menolong orang itu?” tanya Kyu jong.
“Tentu
saja aku tidak mau! Selain pingsan dan kedinginan, orang ini juga menderita Flu
babi karena kedinginan! Aku tidak ingin tertular olehnya!” tabib itu lalu pergi
meninggalkan Kyu jong sendiri. Dengan terpaksa, ia mencari tabib lain. Akhirnya
ia menemukan seorang tabib bernama Heo young saeng.
Setelah
sampai, Tabib Heo segera mengobati korban itu. Untuk menyembuhkan korban itu,
Kyu jong dan Bong ja disuruh untuk menjauh dari korban itu agar tidak ikut
terjangkit oleh virus Flu babi. Setelah beberapa hari dirawat oleh Tabib Heo,
korban itu akhirnya sembuh.
“Perkenalkan,
namaku Kim hyun joong. Terima kasih karena kalian telah mencarikanku tabib yang
sangat sabar dalam merawatku dan mau mengerti diriku…” kata Hyun joong.
“Sama-sama.
Bukankah kau seharusnya berterima kasih pada Tabib Heo? Sebab dia mau merawatmu
hingga sembuh…” kata Bong ja.
“Terima
kasih Tabib Heo… kau telah bersedia merawatku tanpa takut akan tertular
olehku…” kata Hyun joong.
“Sebenarnya…
hehehe…” Tabib Heo tersenyum malu-malu. Lesung pipinya langsung terbentuk di
kedua belah pipinya saat ia tersenyum. Sebenarnya ia mau merawat Hyun joong
karena ia bisa bertemu Bong ja setiap hari dan makan masakan dari Bong ja,
yaitu kare yang sangat lezat! Ya, Tabib Heo sangat suka kare buatan Bong ja.
Akhirnya
Bong ja dan Kyu jong dapat mendengarkan kisah kejadian kenapa Hyun joong sampai
terjatuh dan mengapung di sungai.
“Begini
ceritanya… suatu hari saat aku sedang mencari bahan untuk membuat xiao long bao, tiba tiba saja saat aku
akan mengambil jamur yang akan kujadikan isi dari xiao long bao itu, tanganku memegang sesuatu yang sangat ku benci!
Seekor kecoa! Tanpa kusadari aku hampir terjatuh ke sungai,
Dan tiba tiba saja seekor lebah
menyengatku! Aku takut terhadap lebah, dan aku disengat. Itu sebabnya aku tak
sadarkan diri dan jatuh ke sungai…” cerita Hyun joong.
“Dan
tiba-tiba aku sadar. Aku berada di punggung ikan Hiu! Dan setelah itu aku
pingsan lagi.” Kata Hyun joong.
Kyu
jong bergidik, karena ia juga takut terhadap ikan hiu. Tetapi Bong ja dan Tabib
Heo tertawa terpingkal-pingkal. Mereka berpikir, bagaimana Hyun joong dapat
berada di punggung ikan hiu? Mana ada ikan hiu yang dengan baik hati ingin
menolong manusia? Yang pasti, hiu itu akan memakan Hyun joong.dan selain itu,
bagaimana bisa seekor ikan hiu dapat berada di sungai? Bong ja dan Tabib Heo
menarik kesimpulan bahwa Hyun joong berhalusinasi. Ia tersangkut di jembatan
dan ia mengira jembatan itu adalah ikan hiu.
Setelah
sehat, Hyun joong, Kyu jong, Tabib Heo, dan Bong ja makan bersama di rumah Bong
ja. Ia membuatkan sup dan perkedel.
Waktu
tak berselang lama, tetapi baru saja Tabib Heo memakan perkedel, ia langsung
kejang-kejang. Kyu jong panik, lalu ia memanggil tabib Park
lagi.
Tabib Park
memperlihatkan charismanya di depan Bong ja sebagai seorang tabib. Ia bekerja
cekatan dan menyembuhkan Tabib Heo.
“Tabib Park,
apa yang terjadi pada Tabib Heo?” tanya Bong ja.
“Sepertinya
ia alergi makanan. Apa yang ia makan?” tanya Tabib Park
dengan memperlihatkan wibawanya.
“Tadi
kami makan malam dengan sup wortel dan perkedel kentang…” jawab Bong ja.
“Oh…
ia alergi kentang.” Kata
Tabib Park
dengan yakin.
“Kenapa
anda bisa seyakin itu?” tanya Kyu jong.
Dengan
nada sinis dan cara bicaranya yang berbeda ketika ia sedang berbicara dengan
Bong ja, ia menjawab dengan seenaknya, “Tentu saja! Wortel itu adalah makanan
kesukaanku! Makanan terenak di dunia!”
Kyu
jong tertawa keras. Ia baru mengerti, ia menemukan tabib yang amatiran dan
seenaknya terhadap pasiennya. Yang anehnya, kenapa ia bisa dibilang tabib
terhebat di seluruh jagad raya ini?
Akhirnya
Tabib Heo sadarkan diri. Ia bercerita bahwa ia alergi dengan Kentang. Ia benci
kentang.
“Tuh
kan, apa
kataku. Ternyata ia benar-benar alergi kentang!” kata Tabib Park
dengan wajah penuh kemenangan yang sengaja diperlihatkan kepada Kyu jong. Kyu
jong hanya bergumam, “itu hanya kebetulan…”
Hari
sudah malam. Maka penuhlah rumah Kyu jong karena makin bertambah saja penghuni
rumahnya. Ia bukannya tidak mau memberikan tumpangan, hanya saja orang yang ia
beri tumpangan adalah saingan cintanya. Ia juga mencintai Bong ja, hanya saja
ia sadar akan parasnya yang tidak serupawan Hyun joong.
Esok
paginya, saingan Kyu jong bertambah satu lagi. Ternyata itu adalah Hyung joon,
yang waktu itu pernah melamar Bong ja. Hyung joon berkata bahwa ia tidak menemukan wanita yang
membuat hatinya bergetar selain Bong ja.
“Bong
ja… aku mencintaimu… kumohon, jadilah istriku…” kata Hyung joon.
Tabib Park
tak mau kalah. Ia berkata, “Bong ja, kau menikah saja denganku… aku pasti akan
membahagiakanmu! Sebagai persembahan, aku membawakanmu sekeranjang wortel!”
Tabib
Heo berkata, “Aku memang tak seperti mereka yang dapat memberikanmu apa saja
yang kau mau, tapi aku hanya bisa memberimu obat dan menyembuhkanmu saat kau
sakit…”
“Tak
kusangka aku juga bisa jatuh cinta padamu…” kata Hyun joong dengan muka merah
padam. Ia memang orang yang dingin. Ia susah untuk mengatakan hal-hal yang
romantis.
Kyu
jong tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengaku kalah. Empat pria yang rupawan bersaing mendapatkan
cinta Bong ja. Siapa yang akan mendapatkannya? Yang pasti bukan diriku yang
jelek di hadapan dia ini… pikir Kyu jong.
Bong
ja akhirnya tak tahan lagi. Ia pergi ke sebuah padang rumput dan menunjukkan
Binatang-binatang kesayangannya itu.
“Jika
kalian dapat memberitahuku binatang apa itu dengan benar, maka ialah yang akan
menjadi suamiku!” kata Bong ja sambil menunjuk binatang kesayangannya itu.
“Sudah
kubilang, penglihatanku tak mungkin salah… itu kan kura-kura…” kata Hyung joon.
Semua
tertawa.
“Bagaimana
mungkin kau bisa bilang penglihatanmu bagus, padahal kuda sebesar itu kau
bilang kura-kura? Hahaha!” kata tabib Park.
Tabib
Heo semakin tertawa. “Sudahlah…kalian harus memeriksakan mata padaku.
Berang-berang saja bisa kalian sebut kuda dan kura-kura? Ckckck…”
Hyun
joong tak dapat lagi menahan tawanya. Ia sampai terguling-guling saking
lucunya.
“Kurasa
matamu juga harus diperiksa matanya, Tabib Heo… Anjing saja kau bilang
berang-berang? Hahahahahaha!!”
Bong
ja kecewa dengan jawaban semua itu. Sedangkan Kyu jong heran dengan semua
jawaban keempat pria itu.
“Bong
ja, apa yang kau lakukan terhadap gorilamu itu sehingga mereka melihat gorila
itu sebagai sesuatu yang lain?” tanya Kyu jong.
Bong
ja tertawa terpingkal-pingkal.
“Kau
bilang itu apa?” tanya Bong ja untuk memastikan.
“I-i-itu…
gorilla kan?”
tanya Kyu jong tidak yakin.
Akhirnya
peri yang menjaga Bong ja datang dan memberikan selamat terhadap Bong ja, sebab
ia sudah menemukan jodohnya. Ia kemudian memusnahkan sihir yang terdapat di
binatang kesayangan Bong ja, dan semua yang melihat binatang itu terpanah.
Bagaimana mungkin kuda, kura-kura, berang-berang dan anjing dapat berubah
menjadi gorila dalam sekejap?
Ternyata
Kyu jong adalah jodoh Bong ja. Bong ja menjelaskan kepada keempat pria yang
lain bahwa ia memilih Kyu jong sebagai suaminya.
“Aku
tidak terima! Pria jelek seperti dia menjadi suami Bong ja yang cantik itu?”
teriak Hyun joong, Hyung joon, Tabib Heo, dan Tabib Park
bersamaan.
Bong
ja sedih dengan perkataan mereka. Peri pun tak bisa tinggal diam. Ia menyihir
Kyu jong menjadi dirinya yang sebenarnya. Sebenarnya Kyu jong adalah seorang
pangeran yang sedang menyamar untuk mencari pendamping hidupnya. Dan sebenarnya
Kyu jong adalah seorang pangeran yang tampan. Bong ja dan keempat pria lain tak
bisa berkata apa-apa.
Keempat
pria lain pulang ketempat masing-masing. Akhirnya Bong ja dan Kyu jong menikah.
Mereka hidup bahagia selamanya…
Tidak,
hidup mereka belum bisa dibilang bahagia. Sebab Kyu jong membawa Bong ja hidup
di istana. Dan apa yang ada di istana?
Ternyata
kim Hyung joon adalah adik dari kim Kyu jong. Dan Kim hyun Joong adalah kakak
dari Kim Kyu jong. Selain itu, Tabib Heo dan Tabib Park
adalah tabib istana. Awalnya mereka semua tidak mengenal Kyu jong saat berada
di rumah Bong ja karena Kyu jong menyamar. Tapi tentu saja Kyu jong mengenal
mereka semua.
Itu
artinya, hidup Kyu jong masih akan melewati banyak cobaan karena banyaknya
saingan dalam satu istana itu. Dan tentu saja keempat pria lain tetap berusaha
mendapatkan cintanya Bong ja walaupun diantaranya adalah saudara Kyu jong. Wah,
bersabarlah Kyu jong…
~selesai~
Saturday, November 30, 2013
seminar part 1
Seminar
Part 1
Ini
cerita ketika aku menjadi panitia di salah satu seminar internasional. Awalnya,
aku hanya iseng saja ketika mendaftar menjadi salah satu bagian dari acara itu,
cuma ingin “eksis” saja di sebuah kepanitiaan, tanpa tahu apa yang akan terjadi
setelahnya. Tentu saja aku tidak menyesal telah mengikuti acara itu, justru…
salah satu bagian hatiku merasa sedih ketika acara itu selesai.
Walau
hanya dua hari, aku cukup mengantongi cerita indah, memalukan, dan juga sedih
di hari itu.
Selasa, 19 November 2013
Segala
macam sudah siap. Datang pun on time.
Tapi ada sesuatu yang salah. Mana yang lain? Hari pun masih gelap, bahkan sang
penguasa siang pun masih ingin bersantai ria di peraduannya. Kutatap ponselku
dan melihat angka 05.00 tertera jelas, menandakan bahwa aku tidak telat.
Yang
lebih mengesankan lagi, ketika akhirnya beberapa orang sudah muncul, perutku
mulai melilit. Rasa dingin yang menyelimutiku mulai menggetarkan seluruh
perutku hingga menyebabkan peristaltik usus, menandakan bahwa sudah saatnya
sistem ekskresiku mulai bekerja. Aku segera mencari toilet, namun toilet-toilet
bagus masih terkunci!
Alhasil…
aku tak punya pilihan lain. Aku harus menyelesaikan proses biologi yang terjadi
dalam tubuhku itu secara instan. Semakin lama waktu semakin bergulir, sang
surya pun sudah mulai bekerja. Aku berjalan cepat menuju toilet pilihan
terakhir, toilet dengan aroma yang kurang mengenakkan hidung serta dengan pintu
yang selalu membuatku was-was.
“Gis,
lu jaga di luar ya! Gue risih kalau ada yang di dekat gue kalau lagi ‘itu’,”
teriakku pada Gista. Setelah dibujuk dengan beberapa kalimat melas, ia pun
akhirnya menyingkir dari depan pintu toilet dan memaklumi kerisihanku itu.
Namun, tak lama setelah itu…
Tiga
orang masuk ke toilet, yang kontan membuat perutku tak mau berkontraksi. Sakit
sih, sebenarnya… tapi gengsiku lebih tinggi dibanding rasa sakit perutku itu.
Aku langsung keluar tanpa suara, sambil membawa perut (ya iyalah, emang bisa
dilepas?) yang masih melilit.
Masih
dalam pencarian toilet, setelah sepuluh menit mencari, akhirnya kembali ke
toilet tadi. Beruntung tiga orang yang ‘berdandan’ tadi sudah pergi! Fiuh!
Dengan lancar, aku segera menyelesaikan misiku itu. Belum juga selesai, aku
sudah ditelepon oleh salah seorang temanku yang juga menjadi panitia acara
seminar itu. Tanpa mengangkat teleponnya, aku sudah tahu bahwa ia membawa pesan
bahwa mobil akan segera berangkat.
Nada
dering berhenti. Kini gantian Gista yang ditelepon (Gista masih setia
menemaniku. Dasar teman baik hati… ). Aku buru-buru keluar dari toilet dan
segera berlari menuju mobil jemputan panitia. Malu rasanya, padahal aku sudah
sampai di tempat janjian tepat waktu, tapi malah aku yang membuat telat
semuanya karena perutku yang manja. Uuuh!
Tapi
masih saja beruntung namanya, sebab… jika aku tidak segera melepaskannya… maka
aku akan tersiksa selama beberapa jam di dalam mobil, karena AC mobil itu
dingin dan pastinya akan menambah kontraksi perutku itu! Fiuuuh…
Pagi
yang cerah dengan problem yang memalukan. :(
Subscribe to:
Posts (Atom)