Entah keisengan apa yang membuat
gue lanjut menulis lagi. Tadinya ingin menghujat soal ospek, ah
tapi sudahlah. Orang-orang di negeri ini memang suka diospek dan mengospek,
jadilah turun temurun dilaksanakan dan sangat sulit untuk dihilangkan
karena sudah mengakar. Tapi sedikit membahas tentang itu, gue sebenarnya
kasihan sama orangtua yang anaknya diospek. Bayangin, demi memenuhi permintaan
senior, orangtua yang bersusah payah. Gak dapet pun tetap diambekin sama si
anak, karena takut dijahatin sama senior. Ah, tapi sudahlah~
Yang ingin gue bahas hari ini
tentang suatu fenomena yang mengganjal di pikiran gue, dan ingin banget
menuliskannya dalam blog. Ini soal… “Para Pekerja di Bawah Umur”.
Biar judulnya kerenan dikit gitu,
padahal maksudnya cuma… hihihi! Nanti aja, penjelasannya ada di bawah kok. :D
Fenomena ini kan udah sering kita
lihat sendiri, gak mungkin ada yang belum pernah lihat. Sering kan, lihat
anak-anak yang kerjanya ngamen di angkot-angkot, minta-minta alias ngemis, ojek
payung, sampai jasa cuci mobil yang cuma gesek-gesekin spons gak jelas ke badan
angkot ditambah secuil sabun colek biar keliatan busanya pas hujan. Ada yang
belum pernah lihat? Kelewatan! Gak pernah keluar rumah, ya? Haha…
Kadang pernah gak sih, kepikiran?
Kenapa mereka gak di rumah aja gitu, jadi anak-anak selayaknya yang sekolah di
pagi hari, tidur siang, bermain di sore hari, dan malamnya belajar? Pasti masih
ada kan, yang kepikiran begini, “Ini maknya jahat banget, beraninya
mengeksploitasi anak sendiri biar dapet keuntungan, biar maknya gak usah kerja?”
hayoo jujur…
Ada satu sisi, memang, anak
dieksploitasi oleh mak-mak tega. Itu terlihat ketika ada oknum pengemis yang
mengemis dengan membawa anak. Tapi ingat, gak segelintir pengemis itu MENYEWA
anak orang lain! (tapi memang, jahat juga ya, mak dari anak yang rela
menyewakan anaknya biar jadi pengemis?)
Para pekerja di bawah umur juga
memiliki beberapa alasan kenapa mereka mau melakukan pekerjaannya. Kalau dipikir
secara logika, mungkin ada anak-anak yang ingin nambah uang jajan makanya jadi
tukang ojek payung (tapi ini pikiran gue, karena biasanya anak-anak ojek payung
bajunya masih lebih rapi dibanding pengemis maupun pengamen). Bisa juga
mereka senang bermain hujan, sehingga sekalian aja buat dapetin uang. Tapi itu
pemikiran gue ya, gue sendiri gak yakin apakah anak-anak itu pikirannya seperti
itu atau tidak.
Tapi satu hal yang pasti, waktu
gue kerja dulu di apotek, ada seorang anak yang selalu menukar receh logaman,
tanpa mengamen di apotek kami. Tentu saja receh seperti itu kami butuhkan,
karena memang kekurangan receh. Suatu waktu, store manager (SM) gue
yang kepo bertanya sama anak itu.
“Dek, kamu ngamen, ya?” tanya si
SM.
“Iya, Mbak…” jawab si pengamen
cilik.
“Papa Mama kamu mana? Kok kamu
yang nyari uang?”
“Mama kerja sampai malam, (entah
kenapa gue lupa, dia gak bahas bapaknya) jadi aku nyari uang dengan ngamen.”
“Emangnya kamu gak sekolah?”
keponya si Mbak SM masih terus berlanjut.
“Aku sekolah pagi, setelah pulang
sekolah, aku ganti baju sebentar, lalu lanjut ngamen sampai malam. Biasanya ngamen
sampai jam Sembilan malam baru aku pulang.”
“Kenapa harus ngamen, dek? Emang Mamanya
gak ngasih uang?”
“Mama dapet uangnya sedikit,
Mbak. Aku ngamen biar bantu-bantu Mama juga.”
Sekian percakapan yang gue inget.
Intinya, dia bukan dieksploitasi oleh ibunya, melainkan tidak ada pilihan lain
untuk mendapatkan uang agar bisa membantu keuangan di keluarganya. Bayangin aja,
anak SD aja bisa kepikiran buat ngamen supaya bisa bantu-bantu ibunya, biar gak
pusing kekurangan uang. Mungkin juga dia pernah merasakan “panggilan” dari
sekolahnya karena nunggak SPP.
Yang gue gak habis pikir, banyak
anak-anak yang seperti itu. lalu, apakah pantas anak-anak itu bekerja,
sementara ada undang-undang yang menyatakan bahwa tidak boleh mempekerjakan
anak di bawah umur? Lalu, apa peran pemerintah untuk mengatasi masalah ini
sendiri?
Kalaupun mereka “dipaksa” untuk
tetap bersekolah saja dan tidak diperbolehkan untuk kerja, apakah sekolah
mereka ada gunanya? Pertanyaan gue, adakah kerjaan yang mencakup seperti ini, “Kapan
perjanjian Linggar Jati dilaksanakan? Di mana?” atau “perbatasan sebelah
selatan dari Indonesia adalah…”
Andai ya, andai… mereka tetap
lanjut sekolah tanpa mengamen. Mereka tetap kekurangan uang, yang kemungkinan
akan membuat putus sekolah, sehingga pendidikan mereka juga akan stop sampai di
situ. Tak lulus SD, mau jadi apa? kalau udah umur dewasa, udah boleh ngamen
lagi gitu?
Siklus tak bisa dihentikan. Kamu dan
kamu, tak bisa menghentikan siklus itu sendiri agar bisa mempengaruhi kehidupan
orang lain. Kamu, apa yang bisa kamu lakukan ketika kamu yang bertugas
mengamankan anak-anak itu agar tidak ngamen lagi di jalanan? Bisakah kamu
menjamin pendidikannya dengan menyetop pemasukan yang ia hasilkan? Kamu, yang
melarangnya menghasilkan uang, bisakah kamu menjamin masa depannya agar bisa
lebih baik dari sekarang apabila berhasil menghentikan pekerjaan remehnya ini
(di pandanganmu)?
Menurut gue yaaaa, lagi-lagi ini
menurut gue. Kalau misalkan gak diperbolehkan kerja di umur segitu, seenggaknya
didiklah mereka agar memiliki suatu kompetensi di usia dini. kalau bisa, gratis. Maksud gue, bukan
dengan pengajaran umum seperti geografi atau sejarah yang bahkan gak dipakai di
bidang farmasi (ini contoh saja), tapi berilah mereka sebuah keterampilan dalam
menghadapi dunia kerja nanti.
Nahloh, kalian pasti menganggap
gue juga eksploitasi anak-anak dengan mengajarkan mereka seperti itu di usia
dini?
Coba pikirkan. Mengajarkan sesuatu
itu tidaklah instan. Berbeda dengan ngamen atau ojek payung yang bisa
bermodalkan suara dan payung lalu bisa mencari uang, bukan maksudnya hal itu.
maksud gue di sini, ada sekolah yang bukan sekolah umum, tapi sekolah yang bisa
mereka bisa bekerja di usia dini. Anggaplah mereka membantu kerja di toko
kelontong mengikat gula, merapikan barang-barang dan mengerjakan sesuatu yang
sesuai dengan kemampuan. Atau kalau misalkan anak desa, bisa diajarkan untuk
bercocok tanam di ladang/kebun. Anak-anak senang kok, melakukan petualangan. Karena
gue anak petani, dulunya gue senang banget ikut bapak dan emak gue ke ladang.
pake sok-sok'an mau macul segala, padahal tinggi gue dan pacul sama, dengan
hasil akhir kaki gue yang kena pacul. Hahaha! (pas berdarah, gue injak dengan
kaki sebelahnya lagi, padahal kotor kena tanah. Gak berani bilang, takut gak
dibolehin macul lagi. Sampe rumah cuma minta hansaplast sambil jujur. XD)
Ada juga teman gue, usia SMP udah
jadi loper koran. Bermodalkan sepeda, tiap pagi dia mengantar koran ke
rumah-rumah. Dengan usahanya itu, hasil yang ia dapatkan bisa membiayainya
sekolah sampai lulus SMP.
Yang paling gampang itu ajarin
berniaga sejak kecil. Anak-anak lumayan jago lho dapet simpati, apalagi kalau
pintar berjualan, setidaknya bisa jualan di sekolahnya. Coba deh kalian lihat
kembali ke masa lalu (buat yang udah tua), pasti ada aja kan, teman kalian yang
jualan pas lagi masa sekolah? Entah itu jualan pulsa, jualan coklat, atau
sekadar memenuhi tugas kewirausahaan yang mewajibkan berjualan.
Sekolah menengah di Finlandia aja
nih, udah mau menerapkan sistem pendidikan yang mencakup penerapan sehari-hari
atau di bidang kerja di tahun 2020 nanti. Seakan-akan mereka sedang menyiapkan
tenaga kerja dari usia dini, agar pada waktunya siap untuk bekerja. Negara kita sendiri ada yang seperti itu di SMK. Gue
sambungin lagi ya, andai anak-anak tadi yang gue bahas di atas ternyata gak
bisa sampai SMK, mau jadi apa dia?
Maka, berbahagialah kalian yang menjadi anak-anak normal, tanpa harus memikirkan masalah keuangan keluarganya di usia dini. Gue juga beruntung walau dulu sempat terhimpit masalah itu, tapi gak sampai ngamen (karena dulu gak pernah lihat ada anak SD yang ngamen di Pontianak) dan tetap bersekolah, orangtua gue yang bekerja membanting tulang. Karena itu, gue yang sekarang udah menjelang skripsi, berharap bisa secepatnya menyelesaikan studi gue dan gantian gue yang nyari uang buat orangtua.
Puyeng ya, mikirin masalah orang.
Masalah sendiri aja gak dikelarin. Sekali lagi, itu semua hanya pemikiran gue aja, uneg-uneg gak jelas. Udah ah, cau…
bye byeeee… :D