Saturday, August 1, 2015

Pekerja di Bawah Umur



Entah keisengan apa yang membuat gue lanjut menulis lagi. Tadinya ingin menghujat soal ospek, ah tapi sudahlah. Orang-orang di negeri ini memang suka diospek dan mengospek, jadilah turun temurun dilaksanakan dan sangat sulit untuk dihilangkan karena sudah mengakar. Tapi sedikit membahas tentang itu, gue sebenarnya kasihan sama orangtua yang anaknya diospek. Bayangin, demi memenuhi permintaan senior, orangtua yang bersusah payah. Gak dapet pun tetap diambekin sama si anak, karena takut dijahatin sama senior. Ah, tapi sudahlah~
Yang ingin gue bahas hari ini tentang suatu fenomena yang mengganjal di pikiran gue, dan ingin banget menuliskannya dalam blog. Ini soal… “Para Pekerja di Bawah Umur”.
Biar judulnya kerenan dikit gitu, padahal maksudnya cuma… hihihi! Nanti aja, penjelasannya ada di bawah kok. :D
Fenomena ini kan udah sering kita lihat sendiri, gak mungkin ada yang belum pernah lihat. Sering kan, lihat anak-anak yang kerjanya ngamen di angkot-angkot, minta-minta alias ngemis, ojek payung, sampai jasa cuci mobil yang cuma gesek-gesekin spons gak jelas ke badan angkot ditambah secuil sabun colek biar keliatan busanya pas hujan. Ada yang belum pernah lihat? Kelewatan! Gak pernah keluar rumah, ya? Haha…
Kadang pernah gak sih, kepikiran? Kenapa mereka gak di rumah aja gitu, jadi anak-anak selayaknya yang sekolah di pagi hari, tidur siang, bermain di sore hari, dan malamnya belajar? Pasti masih ada kan, yang kepikiran begini, “Ini maknya jahat banget, beraninya mengeksploitasi anak sendiri biar dapet keuntungan, biar maknya gak usah kerja?” hayoo jujur…
Ada satu sisi, memang, anak dieksploitasi oleh mak-mak tega. Itu terlihat ketika ada oknum pengemis yang mengemis dengan membawa anak. Tapi ingat, gak segelintir pengemis itu MENYEWA anak orang lain! (tapi memang, jahat juga ya, mak dari anak yang rela menyewakan anaknya biar jadi pengemis?)
Para pekerja di bawah umur juga memiliki beberapa alasan kenapa mereka mau melakukan pekerjaannya. Kalau dipikir secara logika, mungkin ada anak-anak yang ingin nambah uang jajan makanya jadi tukang ojek payung (tapi ini pikiran gue, karena biasanya anak-anak ojek payung bajunya masih lebih rapi dibanding pengemis maupun pengamen). Bisa juga mereka senang bermain hujan, sehingga sekalian aja buat dapetin uang. Tapi itu pemikiran gue ya, gue sendiri gak yakin apakah anak-anak itu pikirannya seperti itu atau tidak.
Tapi satu hal yang pasti, waktu gue kerja dulu di apotek, ada seorang anak yang selalu menukar receh logaman, tanpa mengamen di apotek kami. Tentu saja receh seperti itu kami butuhkan, karena memang kekurangan receh. Suatu waktu, store manager (SM) gue yang kepo bertanya sama anak itu.
“Dek, kamu ngamen, ya?” tanya si SM.
“Iya, Mbak…” jawab si pengamen cilik.
“Papa Mama kamu mana? Kok kamu yang nyari uang?”
“Mama kerja sampai malam, (entah kenapa gue lupa, dia gak bahas bapaknya) jadi aku nyari uang dengan ngamen.”
“Emangnya kamu gak sekolah?” keponya si Mbak SM masih terus berlanjut.
“Aku sekolah pagi, setelah pulang sekolah, aku ganti baju sebentar, lalu lanjut ngamen sampai malam. Biasanya ngamen sampai jam Sembilan malam baru aku pulang.”
“Kenapa harus ngamen, dek? Emang Mamanya gak ngasih uang?”
“Mama dapet uangnya sedikit, Mbak. Aku ngamen biar bantu-bantu Mama juga.”
Sekian percakapan yang gue inget. Intinya, dia bukan dieksploitasi oleh ibunya, melainkan tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan uang agar bisa membantu keuangan di keluarganya. Bayangin aja, anak SD aja bisa kepikiran buat ngamen supaya bisa bantu-bantu ibunya, biar gak pusing kekurangan uang. Mungkin juga dia pernah merasakan “panggilan” dari sekolahnya karena nunggak SPP.
Yang gue gak habis pikir, banyak anak-anak yang seperti itu. lalu, apakah pantas anak-anak itu bekerja, sementara ada undang-undang yang menyatakan bahwa tidak boleh mempekerjakan anak di bawah umur? Lalu, apa peran pemerintah untuk mengatasi masalah ini sendiri?
Kalaupun mereka “dipaksa” untuk tetap bersekolah saja dan tidak diperbolehkan untuk kerja, apakah sekolah mereka ada gunanya? Pertanyaan gue, adakah kerjaan yang mencakup seperti ini, “Kapan perjanjian Linggar Jati dilaksanakan? Di mana?” atau “perbatasan sebelah selatan dari Indonesia adalah…”
Andai ya, andai… mereka tetap lanjut sekolah tanpa mengamen. Mereka tetap kekurangan uang, yang kemungkinan akan membuat putus sekolah, sehingga pendidikan mereka juga akan stop sampai di situ. Tak lulus SD, mau jadi apa? kalau udah umur dewasa, udah boleh ngamen lagi gitu?
Siklus tak bisa dihentikan. Kamu dan kamu, tak bisa menghentikan siklus itu sendiri agar bisa mempengaruhi kehidupan orang lain. Kamu, apa yang bisa kamu lakukan ketika kamu yang bertugas mengamankan anak-anak itu agar tidak ngamen lagi di jalanan? Bisakah kamu menjamin pendidikannya dengan menyetop pemasukan yang ia hasilkan? Kamu, yang melarangnya menghasilkan uang, bisakah kamu menjamin masa depannya agar bisa lebih baik dari sekarang apabila berhasil menghentikan pekerjaan remehnya ini (di pandanganmu)?
Menurut gue yaaaa, lagi-lagi ini menurut gue. Kalau misalkan gak diperbolehkan kerja di umur segitu, seenggaknya didiklah mereka agar memiliki suatu kompetensi di usia dini. kalau bisa, gratis. Maksud gue, bukan dengan pengajaran umum seperti geografi atau sejarah yang bahkan gak dipakai di bidang farmasi (ini contoh saja), tapi berilah mereka sebuah keterampilan dalam menghadapi dunia kerja nanti.
Nahloh, kalian pasti menganggap gue juga eksploitasi anak-anak dengan mengajarkan mereka seperti itu di usia dini?
Coba pikirkan. Mengajarkan sesuatu itu tidaklah instan. Berbeda dengan ngamen atau ojek payung yang bisa bermodalkan suara dan payung lalu bisa mencari uang, bukan maksudnya hal itu. maksud gue di sini, ada sekolah yang bukan sekolah umum, tapi sekolah yang bisa mereka bisa bekerja di usia dini. Anggaplah mereka membantu kerja di toko kelontong mengikat gula, merapikan barang-barang dan mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan. Atau kalau misalkan anak desa, bisa diajarkan untuk bercocok tanam di ladang/kebun. Anak-anak senang kok, melakukan petualangan. Karena gue anak petani, dulunya gue senang banget ikut bapak dan emak gue ke ladang. pake sok-sok'an mau macul segala, padahal tinggi gue dan pacul sama, dengan hasil akhir kaki gue yang kena pacul. Hahaha! (pas berdarah, gue injak dengan kaki sebelahnya lagi, padahal kotor kena tanah. Gak berani bilang, takut gak dibolehin macul lagi. Sampe rumah cuma minta hansaplast sambil jujur. XD)
Ada juga teman gue, usia SMP udah jadi loper koran. Bermodalkan sepeda, tiap pagi dia mengantar koran ke rumah-rumah. Dengan usahanya itu, hasil yang ia dapatkan bisa membiayainya sekolah sampai lulus SMP.
Yang paling gampang itu ajarin berniaga sejak kecil. Anak-anak lumayan jago lho dapet simpati, apalagi kalau pintar berjualan, setidaknya bisa jualan di sekolahnya. Coba deh kalian lihat kembali ke masa lalu (buat yang udah tua), pasti ada aja kan, teman kalian yang jualan pas lagi masa sekolah? Entah itu jualan pulsa, jualan coklat, atau sekadar memenuhi tugas kewirausahaan yang mewajibkan berjualan.
Sekolah menengah di Finlandia aja nih, udah mau menerapkan sistem pendidikan yang mencakup penerapan sehari-hari atau di bidang kerja di tahun 2020 nanti. Seakan-akan mereka sedang menyiapkan tenaga kerja dari usia dini, agar pada waktunya siap untuk bekerja. Negara kita sendiri ada yang seperti itu di SMK. Gue sambungin lagi ya, andai anak-anak tadi yang gue bahas di atas ternyata gak bisa sampai SMK, mau jadi apa dia?
Maka, berbahagialah kalian yang menjadi anak-anak normal, tanpa harus memikirkan masalah keuangan keluarganya di usia dini. Gue juga beruntung walau dulu sempat terhimpit masalah itu, tapi gak sampai ngamen (karena dulu gak pernah lihat ada anak SD yang ngamen di Pontianak) dan tetap bersekolah, orangtua gue yang bekerja membanting tulang. Karena itu, gue yang sekarang udah menjelang skripsi, berharap bisa secepatnya menyelesaikan studi gue dan gantian gue yang nyari uang buat orangtua.
Puyeng ya, mikirin masalah orang. Masalah sendiri aja gak dikelarin. Sekali lagi, itu semua hanya pemikiran gue aja, uneg-uneg gak jelas. Udah ah, cau… bye byeeee… :D