Saturday, November 30, 2013

seminar part 1


Seminar Part 1
Ini cerita ketika aku menjadi panitia di salah satu seminar internasional. Awalnya, aku hanya iseng saja ketika mendaftar menjadi salah satu bagian dari acara itu, cuma ingin “eksis” saja di sebuah kepanitiaan, tanpa tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Tentu saja aku tidak menyesal telah mengikuti acara itu, justru… salah satu bagian hatiku merasa sedih ketika acara itu selesai.
Walau hanya dua hari, aku cukup mengantongi cerita indah, memalukan, dan juga sedih di hari itu.

Selasa, 19 November 2013
Segala macam sudah siap. Datang pun on time. Tapi ada sesuatu yang salah. Mana yang lain? Hari pun masih gelap, bahkan sang penguasa siang pun masih ingin bersantai ria di peraduannya. Kutatap ponselku dan melihat angka 05.00 tertera jelas, menandakan bahwa aku tidak telat.
Yang lebih mengesankan lagi, ketika akhirnya beberapa orang sudah muncul, perutku mulai melilit. Rasa dingin yang menyelimutiku mulai menggetarkan seluruh perutku hingga menyebabkan peristaltik usus, menandakan bahwa sudah saatnya sistem ekskresiku mulai bekerja. Aku segera mencari toilet, namun toilet-toilet bagus masih terkunci!
Alhasil… aku tak punya pilihan lain. Aku harus menyelesaikan proses biologi yang terjadi dalam tubuhku itu secara instan. Semakin lama waktu semakin bergulir, sang surya pun sudah mulai bekerja. Aku berjalan cepat menuju toilet pilihan terakhir, toilet dengan aroma yang kurang mengenakkan hidung serta dengan pintu yang selalu membuatku was-was.
“Gis, lu jaga di luar ya! Gue risih kalau ada yang di dekat gue kalau lagi ‘itu’,” teriakku pada Gista. Setelah dibujuk dengan beberapa kalimat melas, ia pun akhirnya menyingkir dari depan pintu toilet dan memaklumi kerisihanku itu. Namun, tak lama setelah itu…
Tiga orang masuk ke toilet, yang kontan membuat perutku tak mau berkontraksi. Sakit sih, sebenarnya… tapi gengsiku lebih tinggi dibanding rasa sakit perutku itu. Aku langsung keluar tanpa suara, sambil membawa perut (ya iyalah, emang bisa dilepas?) yang masih melilit.
Masih dalam pencarian toilet, setelah sepuluh menit mencari, akhirnya kembali ke toilet tadi. Beruntung tiga orang yang ‘berdandan’ tadi sudah pergi! Fiuh! Dengan lancar, aku segera menyelesaikan misiku itu. Belum juga selesai, aku sudah ditelepon oleh salah seorang temanku yang juga menjadi panitia acara seminar itu. Tanpa mengangkat teleponnya, aku sudah tahu bahwa ia membawa pesan bahwa mobil akan segera berangkat.
Nada dering berhenti. Kini gantian Gista yang ditelepon (Gista masih setia menemaniku. Dasar teman baik hati… ). Aku buru-buru keluar dari toilet dan segera berlari menuju mobil jemputan panitia. Malu rasanya, padahal aku sudah sampai di tempat janjian tepat waktu, tapi malah aku yang membuat telat semuanya karena perutku yang manja. Uuuh!
Tapi masih saja beruntung namanya, sebab… jika aku tidak segera melepaskannya… maka aku akan tersiksa selama beberapa jam di dalam mobil, karena AC mobil itu dingin dan pastinya akan menambah kontraksi perutku itu! Fiuuuh…
Pagi yang cerah dengan problem yang memalukan. :(