Tuesday, November 18, 2014

Sebuah Perjalanan Alay

Ketika dihadapkan pada kenyataan, bahwa orang yang kita suka tidak menyukai kita, apa yang terpikirkan olehmu?
Pasti bilangnya gini deh, “Gak adil! Gue udah berdarah-darah menyukai dia, berusaha meraih cintanya, menarik perhatiannya, menjadi seperti apa yang dia mau, tapi tetap saja dia gak mau nengok ke gue. Melirik sedikit pun nggak! Dunia ini gak adil!”
Lalu, pernah gak sih, kalian berada dalam posisi sedang disukai oleh orang lain, tapi kalian tidak mau dengannya?
Apa yang akan kalian katakan?
“Ih, stalker! Jijik!”
Fine, itu amat sangat adil, bukan?
***
Gue lagi mau cerita tentang perjalanan cinta yang udah gue alami sejak masih TK.
Hebat ya, TK aja udah cinta-cintaan?
Kata mama gue, cowok itu adalah seorang yang mendapat ciuman pertama gue (pliiis, ini cuma di pipi!). Cowok ini baik banget, setia jadi sahabat gue. Namanya Andrew.
Dan kalian tahu? Cowok ini sudah tiada ketika SMP.
Gue yang beda SMP dengannya (dia SMP di Pontianak, sedangkan gue sudah pindah ke Depok) gak pernah dapat kabar bahwa dia sudah meninggalkan gue secepat ini. Gue dapat kabar itu ketika ngekost di kosan Victor. Awalnya dia kaget ketika gue bernostalgia menyebut nama teman-teman cowok, tiba-tiba gue menyebut namanya. Dia langsung bilang, “alaaaaaah, gue kaget lo ngomong begitu. Dia sudah gak ada, tahu!”
“Ah, becanda kan, lo?” itu refleks pertama yang keluar dari mulut gue.
Vic lalu menceritakan alasan kenapa dia meninggal. Hanya singkat saja, lalu Vic kabur dan bilang ingin mandi. Usai itu, gue juga ikut mandi (pliiiis, di kamar mandi yang berbeda!), dan menangis sejadi-jadinya.
Hiks~
Setelah beranjak dari TK, hati gue tertambat ke Vic. Itu jaman SD kelas 5-6. Satu-satunya cowok yang sukses membuat gue mengatakan cinta, walaupun dia menolak karena dia sendiri memiliki wanita yang dia sukai. Gue tahu hal itu, hanya saja ingin menyampaikannya sebelum gue terbang ke Depok…
Lalu ada si A. cowok ini sekarang udah nikah.
Lalu si M, yang saat ini tidak ada kabarnya. Si A dan si M ini tahu kalau gue suka dengannya ketika salah satu teman gue yang sepertinya memiliki kemampuan untuk membaca perasaan orang, menyampaikannya secara jelas. (si A di kelas, dan si M di lapangan sekolah. Keren, kan?)
Lalu ada si D, yang sifat awalnya maniiiiis banget. Cowok ini lebih muda dari gue (sepertinya dari awal gue suka, semua yang sudah disebutkan di atas adalah orang-orang yang lebih muda dari gue). Sempat suka selama beberapa tahun (gak hanya si D, tapi si A dan M membutuhkan waktu beberapa tahun juga untuk move on. :D), tapi akhirnya gue berhasil melepaskan rasa suka itu karena ilfeel sama dia!
Alasannya?
Dia lebih membela ceweknya yang ganjen, kecentilan, dan sok kaya, dibandingkan gue yang cuma seorang sahabatnya…
Mantan gak usah disebutlah ya. :P
Usai lepas dari mantan, rasa cinta gue berhenti setidaknya dua tahun. Gak ada cowok yang gue sukai, tapi akhirnya kecantol juga sama cowok yang lagi-lagi lebih muda. Namanya Lico. Cowok asal Palembang ini gantengnyaaaa… ampun-ampunan deh! Penyuka pecel lele (gue pernah dengar desas-desus, katanya setiap malam menu makannya selalu itu), yang saat itu membuat gue geli karena gue belum pernah memakan lele.
Rasa suka ke Lico gak bertahan lama, karena setelah itu kami berpisah jarak. Dia di binus, dan gue tetap kuliah di kampus saat ini. Kita bertemu di sebuah tempat les.
Naaaah… setelah Lico, rasa suka gue kembali gak ada. Sempat merasa hampa, karena taka da rasa yang berbunga-bunga. Padahal, juju raja, selama ini rasa yang selalu gue terima adalah kebalikannya. Kebayang kan, dari nama-nama yang disebut di atas, gak ada yang menjadi pacar gue? Ya sudahlah.
Usai dari itu, di kehidupan kampus, taka da juga yang gue suka. Sampai suatu saat, di semester tiga, gue mendapat kesempatan menjadi panitia dalam sebuah seminar internasional.
Di sanalah, gue bertemu kak Doni (sejak saat inilah, gue mulai suka dengan cowok yang lebih tua. Gak ada lagi yang namanya berondong). Awalnya cuma bilang ke diri sendiri, “mumpung cuma dua hari, puas-puasin aja lihat dia. Setelah itu, lu gak bakal ketemu lagi. Jadi puaskan hasrat lu ke cowok ganteng itu.”
Dan gue kena tulahnya. Cuma karena mengizinkan diri memuaskan hasrat yang sudah lama tak muncul, hati gue ngelunjak. Sejak saat itu, selama tiga bulan lamanya, gue harus patah hati karena tak bisa bertemu dengannya (padahal satu kampus, tapi beda jurusan dan beda kelas. Dia kelas karyawan, gue kelas regular).
Eh, salah ding. Masih ada si F saat semester satu. Tapi itu gak lama. Gak terlalu melekat di dalam hati gue.
Naaaah… ada alasan kenapa gue bisa move on dari Kak Doni secepat itu. itu karena gue suka sama kak Syukri. Aiiih, setelah ini, panggil saja dia dengan Kak S. masih belum sanggup terlalu jujur…
Sama Kak S itu sempat suka, tapi karena teman gue juga suka, gue menahan diri. Awalnya bisa suka karena gue ini seorang cewek stalker yang mengerikan. Gue bisa mencari info tentang si dia tanpa harus pintar komputer. Tinggal mengaduk-aduk socmed aja gue udah bisa menebak seperti apa orangnya. Dari situ berawal, dari situ pula pupus. Kak S itu sombong! Dia gak merespon permintaan pertemanan gue di fb. Hih! Dari situ, gue benci banget sama dia.
Tak lama berselang, gue suka lagi sama dia. Alasannya?
Gue sedang berada di ruang komputer. Tanpa mengira itu dia, gue tetap melanjutkan bermain di komputer kampus itu. merasa ada yang melihat, gue pun menoleh.
Dia tersenyum manis banget, dan matanya langsung menghujam tepat, nancap di hati gue. Aiiiih… sejak saat itu, gue suka kembali Kak S. selama 7 bulan lamanya (bayi premature kaliiii).
Alasan gue move on? Gue menemukan cowok yang lebih sreg di hati gue.
Oke, stop. Halaman ini gak boleh untuk dia, bahkan menyebutkan satu huruf pun dosa di halaman ini. (halah!)
Tapi, satu hal yang pasti, gue harus move on kembali, lalu mencari cinta yang lain lagi. Begitu berat menitipkan hati ke seseorang nun jauh di mata kayaknya kak Doni yang sulitnya minta ampun untuk bertemu. Setidaknya, pliiiis banget, ada seorang yang bisa membuat gue suka untuk saat ini biar cepat move on. Kalau gak ada alasan jelek dari orang itu, bakalan susah move onnya! Pun, kalau ingin mencoba mencabik hati gue dengan cara kasar sekalipun (misalkan menampilkan kemesraan di depan gue, atau nyuekin gue), otak gue biasanya selalu menorerir hal itu. (emang dasar otak sialan!)
Sebenarnya galau itu capek ya, capek banget. Ketika jatuh cinta, gue menjadi orang yang berbeda, seolah gue menjelma menjadi gadis lemah lembut (sayangnya bukan tingkahnya, tapi hatinya yang lemah) sapa seperti menstruasi hari pertama. Aduhaaai, sedap nian ya rasa ini?
Selera gue tinggi. Tingginya itu bahkan di atas level gue. Untuk menurunkannya itu susah, makanya sampai saat ini gue sulit untuk move on. Pernah gue mencoba untuk menurunkan standar dengan menyukai si dedek L (sebagai cara untuk move on dari kak S), dengan jlebnya ada yang bilang, “jauh banget. Lu banting harga banget, gak percaya gue kalau lu suka sama cowok itu.”
(sabar ya dek, malah kamu yang dihina…)
Pas gue tanya alasannya, mereka cuma bilang gini, “ya aneh aja. Lu lihat aja Kak S, gantengnya minta ampun. Ini?”
Perkataannya jahat banget yah. XD
Tapi sekaligus jleb buat gue. Gue kira bakalan bilang, “dia gak selevel sama lu”, eh tahunya cuma ngomong begitu. Ah, sudahlah….
Okelah, sip. Sudah menunaikan janji untuk menuliskan nama Kak S, padahal dia belum lulus. Ya, dia sudah tahu kalau gue suka dengannya. Kejadiannya selalu sama: orang-orang di sekitar gue yang memberitahukan hal itu padanya.
Nasiiiib, nasiiiib.
*lanjut cari cowok buat move on*
Depok, 18 November 2014

No comments:

Post a Comment