Ketika
dihadapkan pada kenyataan, bahwa orang yang kita suka tidak menyukai kita, apa
yang terpikirkan olehmu?
Pasti
bilangnya gini deh, “Gak adil! Gue udah berdarah-darah menyukai dia, berusaha
meraih cintanya, menarik perhatiannya, menjadi seperti apa yang dia mau, tapi
tetap saja dia gak mau nengok ke gue. Melirik sedikit pun nggak! Dunia ini gak adil!”
Lalu,
pernah gak sih, kalian berada dalam posisi sedang disukai oleh orang lain, tapi
kalian tidak mau dengannya?
Apa
yang akan kalian katakan?
“Ih,
stalker! Jijik!”
Fine, itu amat sangat adil, bukan?
***
Gue
lagi mau cerita tentang perjalanan cinta yang udah gue alami sejak masih TK.
Hebat
ya, TK aja udah cinta-cintaan?
Kata
mama gue, cowok itu adalah seorang yang mendapat ciuman pertama gue (pliiis,
ini cuma di pipi!). Cowok ini baik banget, setia jadi sahabat gue. Namanya Andrew.
Dan
kalian tahu? Cowok ini sudah tiada ketika SMP.
Gue
yang beda SMP dengannya (dia SMP di Pontianak, sedangkan gue sudah pindah ke
Depok) gak pernah dapat kabar bahwa dia sudah meninggalkan gue secepat ini. Gue
dapat kabar itu ketika ngekost di kosan Victor. Awalnya dia kaget ketika gue
bernostalgia menyebut nama teman-teman cowok, tiba-tiba gue menyebut namanya. Dia
langsung bilang, “alaaaaaah, gue kaget lo ngomong begitu. Dia sudah gak ada,
tahu!”
“Ah,
becanda kan, lo?” itu refleks pertama yang keluar dari mulut gue.
Vic
lalu menceritakan alasan kenapa dia meninggal. Hanya singkat saja, lalu Vic
kabur dan bilang ingin mandi. Usai itu, gue juga ikut mandi (pliiiis, di kamar
mandi yang berbeda!), dan menangis sejadi-jadinya.
Hiks~
Setelah
beranjak dari TK, hati gue tertambat ke Vic. Itu jaman SD kelas 5-6. Satu-satunya
cowok yang sukses membuat gue mengatakan cinta, walaupun dia menolak karena dia
sendiri memiliki wanita yang dia sukai. Gue tahu hal itu, hanya saja ingin
menyampaikannya sebelum gue terbang ke Depok…
Lalu
ada si A. cowok ini sekarang udah nikah.
Lalu
si M, yang saat ini tidak ada kabarnya. Si A dan si M ini tahu kalau gue suka
dengannya ketika salah satu teman gue yang sepertinya memiliki kemampuan untuk
membaca perasaan orang, menyampaikannya secara jelas. (si A di kelas, dan si M
di lapangan sekolah. Keren, kan?)
Lalu
ada si D, yang sifat awalnya maniiiiis banget. Cowok ini lebih muda dari gue
(sepertinya dari awal gue suka, semua yang sudah disebutkan di atas adalah
orang-orang yang lebih muda dari gue). Sempat suka selama beberapa tahun (gak
hanya si D, tapi si A dan M membutuhkan waktu beberapa tahun juga untuk move
on. :D), tapi akhirnya gue berhasil melepaskan rasa suka itu karena ilfeel sama
dia!
Alasannya?
Dia
lebih membela ceweknya yang ganjen, kecentilan, dan sok kaya, dibandingkan gue
yang cuma seorang sahabatnya…
Mantan
gak usah disebutlah ya. :P
Usai
lepas dari mantan, rasa cinta gue berhenti setidaknya dua tahun. Gak ada cowok
yang gue sukai, tapi akhirnya kecantol juga sama cowok yang lagi-lagi lebih
muda. Namanya Lico. Cowok asal Palembang ini gantengnyaaaa… ampun-ampunan deh! Penyuka
pecel lele (gue pernah dengar desas-desus, katanya setiap malam menu makannya
selalu itu), yang saat itu membuat gue geli karena gue belum pernah memakan
lele.
Rasa
suka ke Lico gak bertahan lama, karena setelah itu kami berpisah jarak. Dia di
binus, dan gue tetap kuliah di kampus saat ini. Kita bertemu di sebuah tempat
les.
Naaaah…
setelah Lico, rasa suka gue kembali gak ada. Sempat merasa hampa, karena taka
da rasa yang berbunga-bunga. Padahal, juju raja, selama ini rasa yang selalu
gue terima adalah kebalikannya. Kebayang kan, dari nama-nama yang disebut di
atas, gak ada yang menjadi pacar gue? Ya sudahlah.
Usai
dari itu, di kehidupan kampus, taka da juga yang gue suka. Sampai suatu saat,
di semester tiga, gue mendapat kesempatan menjadi panitia dalam sebuah seminar
internasional.
Di
sanalah, gue bertemu kak Doni (sejak saat inilah, gue mulai suka dengan cowok
yang lebih tua. Gak ada lagi yang namanya berondong). Awalnya cuma bilang ke
diri sendiri, “mumpung cuma dua hari, puas-puasin aja lihat dia. Setelah itu,
lu gak bakal ketemu lagi. Jadi puaskan hasrat lu ke cowok ganteng itu.”
Dan
gue kena tulahnya. Cuma karena mengizinkan diri memuaskan hasrat yang sudah
lama tak muncul, hati gue ngelunjak. Sejak saat itu, selama tiga bulan lamanya,
gue harus patah hati karena tak bisa bertemu dengannya (padahal satu kampus,
tapi beda jurusan dan beda kelas. Dia kelas karyawan, gue kelas regular).
Eh,
salah ding. Masih ada si F saat semester satu. Tapi itu gak lama. Gak terlalu
melekat di dalam hati gue.
Naaaah…
ada alasan kenapa gue bisa move on dari Kak Doni secepat itu. itu karena gue
suka sama kak Syukri. Aiiih, setelah ini, panggil saja dia dengan Kak S. masih
belum sanggup terlalu jujur…
Sama
Kak S itu sempat suka, tapi karena teman gue juga suka, gue menahan diri. Awalnya
bisa suka karena gue ini seorang cewek stalker yang mengerikan. Gue bisa
mencari info tentang si dia tanpa harus pintar komputer. Tinggal mengaduk-aduk
socmed aja gue udah bisa menebak seperti apa orangnya. Dari situ berawal, dari
situ pula pupus. Kak S itu sombong! Dia gak merespon permintaan pertemanan gue
di fb. Hih! Dari situ, gue benci banget sama dia.
Tak
lama berselang, gue suka lagi sama dia. Alasannya?
Gue
sedang berada di ruang komputer. Tanpa mengira itu dia, gue tetap melanjutkan
bermain di komputer kampus itu. merasa ada yang melihat, gue pun menoleh.
Dia
tersenyum manis banget, dan matanya langsung menghujam tepat, nancap di hati
gue. Aiiiih… sejak saat itu, gue suka kembali Kak S. selama 7 bulan lamanya
(bayi premature kaliiii).
Alasan
gue move on? Gue menemukan cowok yang lebih sreg di hati gue.
Oke,
stop. Halaman ini gak boleh untuk dia, bahkan menyebutkan satu huruf pun dosa
di halaman ini. (halah!)
Tapi,
satu hal yang pasti, gue harus move on kembali, lalu mencari cinta yang lain
lagi. Begitu berat menitipkan hati ke seseorang nun jauh di mata kayaknya kak
Doni yang sulitnya minta ampun untuk bertemu. Setidaknya, pliiiis banget, ada
seorang yang bisa membuat gue suka untuk saat ini biar cepat move on. Kalau gak
ada alasan jelek dari orang itu, bakalan susah move onnya! Pun, kalau ingin
mencoba mencabik hati gue dengan cara kasar sekalipun (misalkan menampilkan
kemesraan di depan gue, atau nyuekin gue), otak gue biasanya selalu menorerir
hal itu. (emang dasar otak sialan!)
Sebenarnya
galau itu capek ya, capek banget. Ketika jatuh cinta, gue menjadi orang yang
berbeda, seolah gue menjelma menjadi gadis lemah lembut (sayangnya bukan
tingkahnya, tapi hatinya yang lemah) sapa seperti menstruasi hari pertama. Aduhaaai,
sedap nian ya rasa ini?
Selera
gue tinggi. Tingginya itu bahkan di atas level gue. Untuk menurunkannya itu
susah, makanya sampai saat ini gue sulit untuk move on. Pernah gue mencoba
untuk menurunkan standar dengan menyukai si dedek L (sebagai cara untuk move on
dari kak S), dengan jlebnya ada yang bilang, “jauh banget. Lu banting harga
banget, gak percaya gue kalau lu suka sama cowok itu.”
(sabar
ya dek, malah kamu yang dihina…)
Pas
gue tanya alasannya, mereka cuma bilang gini, “ya aneh aja. Lu lihat aja Kak S,
gantengnya minta ampun. Ini?”
Perkataannya
jahat banget yah. XD
Tapi
sekaligus jleb buat gue. Gue kira bakalan bilang, “dia gak selevel sama lu”, eh
tahunya cuma ngomong begitu. Ah, sudahlah….
Okelah,
sip. Sudah menunaikan janji untuk menuliskan nama Kak S, padahal dia belum
lulus. Ya, dia sudah tahu kalau gue suka dengannya. Kejadiannya selalu sama:
orang-orang di sekitar gue yang memberitahukan hal itu padanya.
Nasiiiib,
nasiiiib.
*lanjut
cari cowok buat move on*
Depok, 18 November 2014
No comments:
Post a Comment