Jika
kamu bisa menjawabku, tolong, berikan aku jawaban. Aku butuh kepastian.
“Hei,
maukah kamu menjadi milikku?”
Kamu
hanya menatapku dengan pandangan hampa, seakan tak mengerti ucapanku.
Sudah
tiga hari ini, duniaku berpaling padamu. Pusat dunia seakan ada pada dirimu.
Kamu
berjalan menjauh, lalu duduk di kursi lain. Dirimu kembali pada kesibukan dan
mengabaikan pertanyaanku. huh, jual mahal sekali! tapi aku tak akan menyerah!
“Hei…”
Dirimu
masih berkutat pada kegiatan yang seakan tak ingin kau tinggalkan. Menoleh padaku
saja tidak. Tersenyum pun… ah, kurasa, senyummu sangat mahal dan tak ada yang
pernah melihat senyummu. Senyum yang kuyakin bisa menggetarkan hatiku.
“Plis,
jangan nyuekin aku. Aku janji deh, kalau kamu mau hidup bersamaku, aku akan
membahagiakanmu!”
Bahkan,
untuk menjawabku pun rasanya hanya buang-buang waktu saja. Itulah dirimu.
***
Kita
bertemu kembali di taman yang sama. Aku tahu, kamu ada ke taman ini. Tak terlalu
sulit untuk menemukanmu, karena tempat kesukaanmu adalah di bawah pohon
rindang, tempat yang cocok untukmu bergelung dan beristirahat.
“Hai,
sudah dipikirkan belum? Apa kamu mau jadi milikku?”
*cerita mini ini diikutkan dalam tantangan #FFOrangKedua @KampusFiksi
Depok, 23 November 2014

No comments:
Post a Comment