Kali
ini, gue bakal cerita tentang acara sosfar yang diadakan pada tanggal 28, 29,
dan 30 November 2014 lalu. Sosfar sendiri merupakan kependekan dari sosialisasi
farmasi, semacam orientasi jurusan farmasi di kampus gue.
Gue
gak bakal cerita tentang rapat-rapat persiapan menuju acara (karena semua itu
rempong dan gue emang tipikal orang yang gak suka rapat, lebih doyan terjun
langsung di hari H). yang bakal gue ceritain di sini adalah pas hari H.
28
November 2014, pagi, hari ketika persiapan keberangkatan
Awalnya,
gue memilih untuk naik di hari ini karena mengira bakal ada kuliah jam 8 pagi.
Gue udah terlalu banyak absen untuk mata kuliah yang satu itu, padahal itu mata
kuliah semester tujuh. Daripada naik di malam jumat dan harus bolos, gue
memilih untuk naik bareng peserta.
Eeeeeh,
ternyata semua mata kuliah libur, termasuk mata kuliah semester tujuh itu.
kirain yang diliburin cuma mata kuliah semester lima. -___-“
Gue
datang jam setengah delapan, mengira akan ramai karena pra registrasi peserta
tertulis jam segitu. Tapi yang namanya orang Indonesia, jam karet sudah menjadi
makanan sehari-hari. Alhasil, di kampus cuma ada anak-anak yang persiapan naik
ke Citeko pada pagi hari. Hafiuh!
Untungnya
ada si Bajegh yang datang pagi. Jadilah gue ngebolang bareng dia mencari jas
hujan sesudah mengisi perut, yang ternyata cuma menghabiskan kalori karena gak
nemu satupun jas hujan. *pukpuukin diri sendiri*
Usai
merasakan cape setelah berjalan lumayan jauh, kami mampir ke perpus. Pengunjung
perpus yang pertama adalah Kak Ken (nama samaran). Bajegh langsung masuk tanpa
mengisi buku tamu, dan gue ngejek dia, “weh, gak usah terpesona gitu kali
ngeliat dia, sampai gak ngisi buku tamu.”
Bajegh
ketawa malu, menunggu gue yang sedang mengisi buku tamu. Tak lama setelah itu
dia tertawa, dan membalikkan perkataan gue, “Gak usah terpesona gitu kali liat
Kak Ken, sampai ngisi buku tamu aja masih yang kemarin, bukan yang hari ini.”
Aaaazzz…
serius deh, gak ngeh kalau ternyata pengisian buku tamu ada di halaman
selanjutnya. Padahal Kak Ken itu kakak pujaan hati Pipeh, tapi malah kami yang
terhipnotis.
Lebih
tak disangka lagi, setengah jam setelah itu, pengunjung perpus yang tak
disangka-sangka muncul. Kesegarannya mengalihkan duniaku. (lebay!)
Kak
S, dengan santainya berjalan menuju Kak Ken, lalu berbincang-bincang dengannya.
Mereka membahas tentang sosfar, dan informasi yang gue dapat adalah… mereka
akan datang sosfar! Horeeeee!
***
Masih
di hari yang sama, gue yang masuk divisi perlengkapan masih saja merasa sebagai
seorang yang tolol, magabut, dan segala macam julukan untuk seorang
pengangguran lainnya. Helooooo, divisi perlengkapan biasanya sibuk, gue? Gue
malah gak tahu harus ngapain!
Alhasil,
selagi panitia lain sibuk berseliweran di sekitar peserta maupun di himpunan
untuk mengurus kesibukannya sendiri, gue bengong. Tapi tak lama setelah itu,
gue menemukan pekerjaan yang membuat gue bahagia tak terkira. Walau ini bukan
acara yang menghasilkan uang atau memberikan gaji buat gue, gue bukan orang
yang doyan nampang nama lalu gak usah kerja. Gue orang yang harus membuktikan
ke atasan bahwa gue adalah seorang yang berguna, bukan berguna di permainan adu
mulut bacot segala macam, tapi berguna dan menampilkan hasil. Gue… gue mulai
mengangkat aqua gelas dari himpunan menuju tronton! Yeeaaaay!
*asli,
itu cukup bikin gue encok, tapi gue tahan aja karena gue cewek strong!*
Semenjak
itu, pekerjaan gue mulai bertambah. Gue sibuk mencari kayu bakar, mengangkat
kayu ke tronton, menyiapkan perlengkapan untuk sosfar dan menaikkannya di
tronton. Cukup menguras tenaga juga, tapi yang pasti gue senang. Gue senang
banget, karena gue gak cuma nampang nama dan nampang eksis di kepanitiaan.
Di
saat gue udah mulai cape, muncullah bacot dari seorang teman gue di grup
watsap. Ia mempermasalahkan soal ayam. Percaya deh, 9,8 dari 10 orang akan
menganggap lo sebagai orang banyak bacot yang gak bisa ngerjain sendiri tugas
itu.
Lebay
ya? Biarin. Gue gak ikut evaluasi sih.
Di
saat orang lain membahas tentang persiapan, baik itu memanggil anggotanya untuk
briefing, atau mencari perlengkapan yang belum terpenuhi, ia sibuk sendiri
mencari orang untuk bekerja mengurusi ayam. Ayam, ayam, dan ayam. Puncak
kerewelannya terlihat ketika ia berkata seperti ini, “yaudahlah ya, kalau
ayamnya gak mau dijemput, gak usah dibawa aja ya.”
Gue
yakin, kalau ayam-ayam itu masih hidup, orang yang menulis itu di watsap udah
pasti dipatok sampai botak, lalu si ayam akan naik ke tronton sendiri tanpa
harus dijemput. Anggap saja seperti itu.
Gue
gak mau nyebut nama, tapi yang pasti lo sadar kalau yang gue maksud adalah lo,
kan? Gue cuma mau kasih tahu aja, di saat seperti itu, semua panitia sibuk, gak
cuma yang ngurusin ayam. Gue sendiri sampai harus gotong ini itu, sampai
menahan malu buat diliatin peserta karena bawa-bawa sapu dan pel ke tronton,
seakan ada Hermione sedang lewat membawa sapu terbang ingin ikut pertandingan
quidditch. Tapi gue senang, karena gue ada kerjaan. Bukan dengan mengeluh
sambil berkata, “weh! Kalau sapunya gak dijemput dan dibawa ke tronton,
yawdahlah ya gak usah diharepin kerjanya di Citeko!”
Atau
saat kayu bakar (dan itu anak perlengkapan yang ngurus), apa gue harus bilang,
“Yawdahlah ya kayu bakarnya gak usah dibawa sekalian karena dia ngambek gak
dijemput, nanti buat api unggunnya bakar aja salah satu ruangan di vila yang
kita sewa aja.”?
Sudah,
lupakan. Tanpa gue umbar semua itu, banyak kok yang sadar keegoisan lo.
Lanjut.
Peserta
mulai memasuki tronton. Gue dan Bajegh sepakat untuk gak satu tronton sama dia,
atau sebisa mungkin gak di tronton panitia. Gue sendiri lebih senang di tronton
peserta. Selain bisa memantau peserta, kita juga bisa lebih leluasa tanpa harus
mendengar ocehan ayam.
Sungguh,
ocehan tentang ayam itu sempat membuat gue eneg sama ayam.
Sesampainya
di vila, gue sebagai divisi perlengkapan lagi-lagi harus mengurusi si kayu
bakar. *setelah gue pikir-pikir, kenapa gak gue bilang aja seperti yang di atas
ya, biar gak perlu repot gitu? Haha!* gue dan Bajegh meminjam motor ketua
panitia untuk mengangkut beberapa barang. Kayu bakar menjadi penumpang pertama kami.
Di
tengah jalan, gue bertemu si “ayam”. Dia gak bosan-bosannya mengingatkan kami
untuk mengurusi ayam. Helooooo, gak liat nih, gue megang apa? mau coba jadi
sate ayam ya, lo??? *sambil menunjuk kayu bakar yang bisa dijadikan tusukan sate
ayam jumbo*
Dan
untungnya, ada anak cowok yang sudah membawakan ayamnya. Huft, syukurlah…
Perjalanan
kayu bakar selesai, lalu kami kembali dan mengangkat beberapa barang. Gue bawa
HT, sebuah tas ransel yang ada di punggung (bukan tas gue), dan dua dus aqua
gelas di pangkuan. Ketemu lagi dengan si ayam, lalu dia berkata, “bawain tas
gue dooong!” seakan matanya terkena glukoma mata stadium akhir tanpa bisa
melihat barang bawaan kami.
Dan
saat gue berjalan ke atas (yang ini jalan kaki, karena tronton sudah turun di
depan gang vila, jadi gak perlu naik motor lagi), bertemu lagi dengan si ayam.
“Nci, harusnya tadi lo bawain tas gue.” Dia berkata begitu, dan gue menahan
hasrat untuk menjadikannya sate ayam bumbu kecap…
***
Sisa
hari itu gue pakai dengan menggotong barang-barang. Divisi perlengkapan memang
harus strong, walau gue ini MASIH cewek. Fisik gue juga gak kuat-kuat amat,
tapi gue bersyukur memiliki seorang koordinator yang pengertian banget bahwa
kodrat gue MASIH cewek (dan tak ada niat untuk mengubah gender). Koor gue
berusaha menyelesaikan apa yang bisa diselesaikannya sendiri tanpa harus
menyuruh orang seperti babu. Intinya, divisi perlengkapan kami sendiri memang
divisi yang HARUSNYA lebih mementingkan KERJA dibanding BACOTAN. Dan
kenyataannya, memang seperti itu.
Gue
senaaaang banget, gak salah memilih divisi. Walau lelah, gue bisa bilang bahwa
gue bahagia memiliki koor yang bekerja menampakkan hasil, bukan yang hanya
menyuruh-nyuruh saja, seperti yang akan gue ceritakan setelah ini.
***
Malamnya,
gue kelaparan. Tentu saja, berapa banyak makanan yang masuk pun terasa hilang
karena kerja yang menguras tenaga. Gue masih saja mengangkat ini itu dan
berkeliling, mencari kesibukan maupun koordinator yang susaaaaaah banget buat
ditemukan. (jelas kan, perbedaannya?) Bajegh yang juga sudah kelaparan karena
kerja kerasnya pergi ke ruang konsumsi untuk mengisi perut (dia divisi acara,
tukang gerak dalam sosfar, bukan tukang babu seperti gue. Hafiuh! Gue nyebut
babu bukan dari anggapan gue, tapi dilihat dari sisi orang yang menyuruh gue
membawakan tasnya itu).
Satu
tampah dengan nasi yang sedikit, dilahap bersama oleh 8 orang. Pastinya
kelaparan, kan? Saat akan minta nambah, koor konsumsi dengan muka jutek
berkata, “kalau nambah, bayar!”
Dan
Bajegh yang masih kelaparan dan mulai naik pitam, mengeluarkan uang seratus
ribuan. “Gue bayar nih, serius! Tambah sekarang!”
“Yang
boleh ditambah nasinya doang,” si koor konsumsi masih berbicara seperti itu,
dan membuat Bajegh makin naik pitam. Gue, Pipeh dan Winda berusaha meredamnya,
memberikan pukpuukan yang sepertinya tiada hasil. Dari situlah, gue dan Winda
sepakat untuk membeli makanan di luar.
Begitu
selesai membeli pecel lele, gue kembali dan mendapat ejekan dari seseorang.
“Lo
divisi perlengkapan, ya? Yang sabar ya, lo dicap jelek tuh, diomongin.”
Hah?
Sama siapa?
Dan
gue gak tahu, karena ada sesuatu yang terjadi di saat gue keluar membeli makan.
LCD di ruang acara gak mau nyala, dan gak ada anak divisi perlengkapan.
Ternyata dicap jelek oleh dosen dan tim acara (tapi tim acara alias Bajegh
sendiri berkelit, berkata bahwa mereka hanya bilang bahwa LCD mati dan gak ada
orang, itu saja). Gue sih biasa aja, apalagi LCD sudah menyala dan kembali
berjalan, walau gue sadar itu keteledoran yang gue sebabkan karena keluar
membeli makanan. Tapi, kembali lagi. Salah siapa sampai kami harus membeli
makan di luar?
Saat
gue ke ruangan konsumsi membawa si lele untuk kahim yang sedang sakit, koor
konsumsi melotot.
“Ini
dibeli dari luar?”
“Iya.”
“Siapa
yang beli? Kenapa harus beli di luar sementara masih ada makanan di sini?”
“Winda.
Coba aja sonoh, tanya dia sendiri.”
Gue
yang menjawab itu merasa sedikit bersalah sama Winda, karena menjadikannya
kambing hitam di saat ia tidak ada. Maaf, Windaaaa… tapi masa iya sih, si koor
mau marah-marah di depan orang sakit dan menarik lele itu dari si sakit? Dia
mau membunuh anak orang? Pake berani nanya segala lagi, “kenapa beli di luar
padahal ada makanan”.
Oke,
lupakan yang rese-rese.
Gue
dan Winda membawa si lele ke depan ruangan acara, melahapnya bersama dengan panitia
lain yang sedang berjaga di depan ruangan itu. awalnya, si Bajegh yang lapar
merasa kesal karena tidak ada yang mau membantunya menghabiskan si lele dan
nasi uduk, tapi tiba-tiba saja meja itu sudah dipenuhi oleh 5 orang, termasuk
gue. Ketahuan kan, kita kelaperan banget walau sudah dapat makanan?
Lele
itu pun habis, tinggal tulang belulang yang kalau ditanam mungkin bisa menjadi
ayam esok paginya.
Usai
itu, gue bercengkerama dengan anak-anak panitia yang sedang berjaga di depan
ruangan. Gue menyuruh Dian, Gusti dan Akuf untuk tidur, melihat tampang mereka
yang sudah kucel banget dengan kantong mata yang menghitam. Mereka para cowok
yang naik di malam jumat (kecuali akuf), dan gue yakin mereka cape banget. Dian
yang masih berusaha tersenyum lemah masih menolak, hingga gue tarik kedua
tangannya untuk beranjak dari kursi, supaya mereka berjalan menuju ruang
istirahat. Ketika Dian sudah berjalan, di saat itulah Gusti dan Akuf ikut.
Akhirnya… biarlah yang berjaga cewek-cewek strong dulu, usai itu, gantian.
Nah,
di saat para cowok sudah tidur, giliran cewek-cewek bergosip. Bajegh berkata,
“Wah, siapa yang ngirimin pulsa sepuluh ribu, nih?”
Lalu
si Winda menjawab, “iya nih, udah jam 10. Kasihan anak-anak pesertanya belum
istirahat…”
Dan
gue, Bajegh, dan Rebbeca tertawa ngakak.
Lalu
si Bajegh bertanya, “Lo denger kan, apa yang gue bilang barusan?”
“Gue
klarifikasi dulu deh,” gue menjawab, “Yang gue denger tadi, lo bilang kalau
whatsaap harganya sepuluh ribu. Benar gak?”
Lalu
Bajegh tertawa lagi, bersama si Beca dan Winda.
Bajegh
kemudian memastikan pendengaran dari orang di sebelahnya, Beca.
“Yang
gue dengar malah kalian lagi ngomongin Bu Emil.”
Maka
pecahlah malam itu, diiringi suara tawa yang tertahan. Ya iyalah, di depan
ruangan peserta gitu, masa ketawa keras? Ternyata cewek-cewek strong ini pun
sudah mulai kehilangan fokus… XD
Malam
itu dilewatkan dengan evaluasi tim konsumsi yang hanya dihadiri oleh
koordinatornya, sehingga ia bisa berbicara seenak jidat. Anggotanya sendiri tak
dibangunkan. Gue yang mengikuti rapat evaluasi itu sambil terkantuk-kantuk, dan
bersyukur ketika rapat itu selesai juga.
Begitu
selesai, barang-barang gue yang tadinya ada di kamar bawah, gue pindahkan ke
atas, ke kamar cowok. Kamar cewek yang di bawah penuh sesak, dan dimonopoli oleh
gadis-gadis. Ngerti kan, bedanya kamar cowok dan cewek di saat acara dan di
saat kamar biasanya?
Oke.
Gue jelasin.
Kamar
cewek, di saat biasa, kemungkinan bersih karena cewek lebih rajin membersihkan
kamar. Tapi, di saat acara, kamar itu menjadi sarang pergumulan, sarang
tidur-tiduran, sarang… cewek. Pokoke kamar itu justru terlihat penuh sesak,
entah karena barang-barang yang bertebaran di sana sini, maupun penghuni yang
ada di dalam kamarnya (ada kok yang tiap gue masuk kamar selalu ada dia di
dalamnya. Padahal gue ke kamar Cuma pas buat tidur aja).
Nah,
kalau kamar cowok?
Kamar
cowok, pas keadaan biasa, kemungkinan berantakan banget. Nah, pas acara
bersiiiiiih banget. Kosong melompong. Penghuninya berkeliaran di acara, jarang
menemukan satu makhluk cowok pun di dalam kamar. Serius deh, ketemunya pas
mereka udah kayak orang mati aja, tepar gitu. Kalau di kamar cewek, masih
kemungkinan bertemu sama gerombolan cewek yang bergosip di atas kasur, sambil
melahap camilan.
Maka
dari itu, selepas evaluasi, kamar cowok yang terdiri dari 4 kasur, tiga telah
terisi dan bahkan ada yang langsung tidur. Gue, Winda dan Pipeh tidur di satu
kasur paling pojok.
***
29
November, hari yang cukup melelahkan
Terbangun
karena dibangunin, padahal baru tidur dua jam itu rasanya… hafiuh banget. Jam 4
pagi udah dibangunin, padahal gue sendiri baru tidur jam setengah 3. Merem
meleklah jadinya.
Di
hari ini, gue gak terlalu memusingkan hal lain, tapi lebih fokus ke diri gue
sendiri yang masih belum mau melek. Pipeh dan Gusti yang sudah melek menjadi
instruktur olahraga di jam 6, menampilkan kegokilan mereka yang… absurd. Yang
gak gue sangka, si Gusti yang biasanya cuek malah ikut terjun ke dalam kegilaan
itu. haahaaa!
Usai
olahraga, gue masih ngantuk, dan izin untuk tidur. Tapi sampai di atas kasur
masih saja gak bisa tidur. Setelah guling-gulingan hampir setengah jam, gue
kembali ke lapangan. Dan… gue bertugas berkeliling, mencari apa yang bisa gue
kerjakan. Di sana sini terlihat beberapa panitia yang bergosip, kadang gue
nimbrung, kadang gue pergi. Pokoknya, di jam 2, gue balik ke kamar (dan
benar-benar gak ada orang), di saat itulah gue tidur.
Gue
tidur selama satu jam, dan itu benar-benar lumayan banget buat menyegarkan
badan. Begitu bangun… segala pegal langsung terasa! Huwaaaaah…
Gue
yang gak dapat jatah makan siang (karena terlewat), lanjut mengerjakan segala
sesuatu untuk menyiapkan perlengkapan untuk persiapan malam inagurasi. Para
cowok di divisi perlengkapan mulai menyiapkan lampu sorot dan segala macamnya,
mengangkut kayu bakar ke tengah lapangan dan gue membantu sekenanya, sampai
membuat garis batas dari tali semuanya kami lakukan.
Gue
lupa karena sebab apa gitu, Gusti ngambek dan jutek sama gue. Gue nyuruh dia
untuk melakukan sesuatu, tapi dia gak mau. Gue jambak dia (sepertinya rambut
merupakan hal sensitif buat dia), yang membuat dia langsung marah besar. Gue
langsung merasa bersalah, apalagi terlihat beberapa teman yang mendukung dia
dan menghibur agar dia tak marah lagi (padahal itu cewek).
Gue
melakukan itu karena gue kasihan sama teman cewek gue di divisi perlengkapan,
Winda dan Pipeh. Mereka sudah terlihat cape, apalagi gue yakin mereka wanita
tulen. Disuruh bolak balik di kawasan vila seluas itu sambil membawa ini itu
tentu membuat fisik mereka terkuras habis, begitu pula gue.
Di saat
itu, gue merasa menyesal banget sebenarnya. Gue mau minta maaf ke dia, tapi
gengsi. Gue bingung mau minta maaf dari mana, sampai akhirnya gue berusaha
cuek-cuekan padahal gue gak mau sampai hal itu terjadi.
Sampai
malam pun dia masih memasang tampang jutek. Huh!
Malamnya,
divisi perlengkapan sibuk bukan main. Persiapan mencari alternative lain juga
dilakukan karena hujan turun semaunya. Alhasil, kami mencari ruangan yang bisa
dipakai dan mulai menggelar karpet dan terpal. Di saat bersamaan, kami bertemu
dengan divisi konsumsi yang sedang mengantar makanan ke para peserta. Iseng gue
nanya, “Gimana, cape?”
“Iya
nih. Ngap.”
Kehabisan
napas, ya?
Untung
kami divisi perlengkapan banyak persediaan oksigen dalam paru. Anak divisi
perlengkapan yang kadang merangkap menjadi pengantar makanan (gue sering
melakukan itu) gak bakalan merasa ngap Cuma karena sekali perjalanan. Kami
berusaha menahan ngap itu. kebayang gak sih, nyari perlengkapan ke sana kemari,
nganterin makanan, ini itu yang gak bisa gue sebutin satu persatu, bisa gak
dibandingkan dengan sekali perjalanan itu?
Sudah.
Gak usah emosi. Gue cuma kasihan sama Winda yang sampai kakinya bengkak karena
tiga hari bolak-balik di vila seluas itu, kadang masih membantu divisi lain. Kakinya
merah (entah, mungkin biru) karena membeli gas (bahkan yang membeli gas pun dia
lho, dan memangku dua gas di pahanya).
Tapi
gue senang banget ketika ada yang menawarkan diri, “Kak Stef, kalau divisi
perlengkapan ada yang bisa dibantu, bilang aja, ya…”
Gue merasa
terharu dengan tawaran ini, walau hanya satu orang yang menawarkan. Hiks! XD
Dia divisi
pubdok, dan akan gue sebut namanya: Tamara. Dia anak yang baik, ya?
Tapi
di sisi lain, ada yang memarahi s divisi pubdok, menganggap mereka tak bekerja
dan berleha-leha di bagian acara,
sementara di bagian konsumsi sudah diambang kematian (plis, bilang kalau gue
lebay!). Si ayam, seksi ribet, mulai ngoceh-ngoceh kembali dan memarahi
anak-anak yang berada di atas.
“Kalau
kalian bisa santai-santai di sini, mending bantuin di bagian konsumsi!”
Sudahlah.
Gue Cuma gak tega sama Tamara yang membawa nama divisi pubdok. Dia sedang
pegang kamera lho, pas nawarin bantuan ke gue…
Plis,
anak baik semacam dia gak boleh dijahatin, kan?
Hati
gue panas, tapi gue udah lemes. Mau gak mau, gue Cuma diam aja, apalagi si ayam
membahas itu di depan peserta. Entah ke mana otaknya saat itu. maka dari itu,
gue tahan.
Yuk ah,
lanjut ke cerita lain. Skip-skip aja.
Acara
malam inagurasi selesai jam 12.30, lalu semua panitia menyebar. Tim acara enak,
begitu selesai bisa langsung tidur di kamarnya yang dekat dengan posko darurat
malam inagurasi (yang gue bilang harus pontang-panting nyari alternatif supaya
gak kena hujan itu lho). Panitia lain? Gak tahu deh. Pokoknya gue ke posko
konsumsi bareng Winda, Pipeh, dan Bege(dimas). Sebenarnya semua sudah ngantuk,
tapi terjadi keributan yang sudah selayaknya terjadi di acara selevel sosfar. Ada
yang ribut-ribut, dan panitia cowok benar-benar harus turun tangan semua
menanganinya. Cowok di farmasi itu terbatas lho, jangan mengira sebanyak jumlah
anak cowok di jurusan teknik, ya!
Di posko
konsumsi, gak ada yang berani kembali ke ruangan karena saat itu alumni sudah
banyak, terlebih karena ada keributan. Gue sendiri gak berani ke atas. Tapi tiba-tiba
aja anak keamanan, Nadhil, bilang bahwa kami harus tidur.
“Kalian
tidur aja, sift-siftan. Jadi pas kami butuh istirahat, gentian kalian yang
bekerja.”
Gue langsung
bangunin bege yang lagi tidur di meja.
“Ge,
balik ke kamar yok. Tidur.”
Memang
beruntung banget deh ada si Bege. Dia anak konsumsi yang murtad pindah ke
perlengkapan (karena gak tahan dengan polemik dalam rumah tangga konsumsi). Tapi
gue bersyukur. Dengan begitu, anak perlengkapan bertambah satu, yeaaah!
Gue bersyukur
lagi, (setelah mendegar cerita dari orang lain), bahwa saat itu yang tidur jam
1 ya kami ini yang berjalan menuju ruangan. Selebihnya, beberapa panitia
terjebak dalam posko konsumsi sampai jam 3, belum tidur sampai waktu itu karena
tak berani kembali ke ruangan.
***
30 November 2014, Grabak grubuk di jam 3
Berhubung
sudah terhitung sebagai tanggai 30, maka gue masukin ke bagian judul yang lain.
Di jam
3 pagi, pergantian sift mulai terasa.
“Weh,
bangun dong! Gantian jaga! Gue belum tidur nih!”
Hmmm.
Dan terjadi
pembangunan massal, dari anak-anak yang tidur nyenyak di atas kasur oleh
anak-anak yang selesai berjaga dari keributan. Mereka lelah, dan gue bisa tahu
itu dari suara mereka.
Gue yang
masih setengah sadar, mendengar dan menyimak percakapan mereka. Yang tidur
masih belum mau bangun (gue dengar dari anaknya seusai acara, bahwa salah satu
yang tidur itu baru saja menempelkan badannya ke kasur setelah tidur gak
nyenyak di lantai, eeeeeh malah udah dibangunin). Stok ruangan berkurang karena
kedatangan para alumni yang cukup banyak, dan beberapa dari mereka harus tidur
di lantai. Duuuh, sedih mendengarnya.
Tapi,
yang wajib gue kasih jempol adalah…
Para
cowok itu gak membangunkan cewek-cewek, termasuk gue dan dua teman gue lain
yang tidur di kamar cowok. Mereka sibuk membangunkan cowok yang tidur (entah
itu baru tidur ataupun yang sudah tidur beberapa jam). Huwaaaah, mereka cowok
yang…. Good boy banget! :D
Dan…
gue kembali tidur setelah pergumulan itu.
Jam 4.
Alarm bunyi, tapi gue biarkan. Mata gue gak bisa diajak kompromi, alhasil gue
kembali tidur sampai jam 6.
Gusti
yang sudah bangun, mulai membangunkan anak cewek di kamar cowok (ya ngertilah,
maksudnya gue, Winda, dan Pipeh). Awalnya, gue kira dia cuma iseng (dan sampai
sekarang masih mengira dia iseng), soalnya dia Cuma memanggil dalam suara bisikan.
“Weh, bangun weeeh.”
Tapi,
dia membisikkannya dari jarak jauh (gak di kuping gue) dan berkali-kali. Seakan
itu mantra yang menjampi-jampi gue, gue bangun. Dipanggilan pertama, gue masih
mengira dia memanggil yang lain dan masih terasa hawa jam 4. Saat gue melek,
gue langsung sadar kalau sudah pagi, dan dia masih membisikkan kalimat itu. Saat
dilihat lagi…
Jam 6!!!
Gue langsung
heboh dan membangunkan dua sobat gue yang lain yang masih belum melek, tanpa
sadar memikirkan mereka masih butuh tidur atau tidak. Namanya juga baru bangun,
yang gue lakukan masih setengah sadar. XD
Si Arum,
koor gue, mulai membangunkan anak cowok lagi. Dia belum tidur, meminta giliran
tidur.
“Weh,
lo lama banget tidurnya! Gantian dong!” sambil menggoyangkan tubuh cowok yang masih
tidur. Kasihan banget, dia gak digubris.
“Noh,
yang lama tidurnya yang sipit itu tuh!” Gusti menimpali, sambil menyindir gue. Iiiiih,
kesel bercampur geli pokoknya, disindir gitu tapi memang benar sih. XD
Gue cuma
bisa ketawa, lalu segera mandi. Dalam hati gue cukup senang, si Gusti sudah gak
marah lagi sama gue. Tuh, buktinya udah bisa ngecengin gue, kan? :D
***
Perasaan
gue mau ngebahas koor konsumsi, tapi kenapa sampai halaman 20 masih belum ada
dia, ya?
Pending
dulu.
Di hari
ini, yang paling berkesan adalah perjalanan peserta menuju pos-pos. tapi yang
paling berkesan buat gue: Kak S yang segeeeeeeer banget terlihat dalam cakupan mata
gue yang sipit ini. Hah! XD
Awalnya
gue galau mau ke pos mana, panitia atau himpunan. Kalau masuk pos himpunan,
berasa harus formal banget karena di situ terdapat kumpulan orang cerdas
(menurut pandangan gue), padahal sebenarnya tidak. Yang mendominasi cuma ketua
himpunan. Sedangkan di pos panitia, panitia yang mengisinya kurang akrab dengan
gue, dan terlihat kumpulan anak-anak kurang eksis di himpunan (ya iyalah, yang
eksis di himpunan kan di pos himpunan!). gue bolak-balik selama beberapa saat,
bingung mau ke mana, yang akhirnya menjatuhkan keputusan ke pos himpunan karena
ada yang ingin gue sampaikan sebagai pengurus himpunan. Gue memberikan tugas ke
salah satu anak dalam tiap kelompok untuk menyampaikan ke seluruh anggotanya
untuk membuat sebuah mading bertemakan sosfar.
Awalnya
Cuma mau begitu, tapi tanduk devil gue keluar.
Gue mulai
perpeloncoan.
XD
Gue mulai
menginterogasi anak-anak satu persatu, mencari sasaran empuk, dengan pertanyaan
yang sama: kenapa gak pernah main ke himpunan?
Padahal,
juju raja, gue juga termasuk orang yang gak pernah main ke himpunan sampai gue
menjabat sebagai divisi keilmiahan. Maaf ya, adek-adek yang udah gue takutin…
X(
Dan gue
paling menyesal, bahkan sampai saat ini, ketika ada seorang anak yang usai gue
tanyai dan gue tekanin agar sering-sering main ke himpunan, dia malah pingsan! Huwaaaaaaah!!!!
Asli,
gue panik dalam hati dan cuma bisa lemes begitu melihat anak itu digotong pergi…
Usai
perjalanan k epos-pos, divisi perlengkapan kembali sibuk menyiapkan konsumsi
(cukup aneh ya, kedengarannya?). tapi gak cuma kami, hampir semua panitia sibuk
di acara pamungkas ini.
Saat
Pipeh menyendoki sop ke dalam mangkuk, koor konsumsi datang dengan wajah masam.
“Eh
tolong ya, yang gak kerja, ke atas dong, bawain barang-barang dari atas!”
Dan dia
menyuruh tanpa memberikan contoh. Dia baru saja datang dari atas, tanpa membawa
satu helai rambut pun di sela-sela jarinya.
-__-“
Tak hanya
itu, bahkan PJ pun disuruh-suruh olehnya. Yang sdabar ya, Nak…
Lalu
soal makanan…
Gue gak
mau komentarin ayam yang bikin gue eneg hanya karena menyebut ayam, soalnya gak
gue makan ayamnya. Sialnya, lauk hari itu hanya ayam, mau gak mau gue cuma makan
sop dan nasi putih. Kerupuk sudah diserbu habis, sambel juga, yang tersisa
hanya remah-remah ayam di atas nasi (yang herannya bisa hampir habis juga). Ayam
dalam sop pun gak gue makan. Sudah gue bilang, gue udah eneg sama ayam.
Tapi
gue masih ingat banget, seninnya gue udah makan pecel ayam. Pokoknya bukan ayam
yang dibuat anak konsumsi.
Maka,
setelah itu, acara selesai. Dan gue gak ikut rapat evaluasi karena diusir
dengan alasan “regulasi”. Gue yang punya gengsi tinggi dan doyan ngambek tentu
saja pulang dan mementingkan LGR gue. Iya doooong? :D
Maka
dari itu, gue evaluasi sedikit di sini:
1. Saat
kalian anggota yang tidak memiliki pekerjaan apapun, sebaiknya segera
menawarkan diri untuk membantu divisi yang terlihat rempong. Walau dasarnya
rempong, tapi kalian mungkin bisa dapat pahala dari kerempongan itu.
2. Buat
orang macam si ayam dan si koor konsumsi yang doyan menyuruh orang, plis,
orang-orang macam kalian lebih baik gak usah ikut acara lagi, atau lebih baik
sembunyikan diri kalian dalam kamar serapat mungkin. Malu deh, kalian hanya
cuap-cuap apalagi marah-marah depan peserta.
3. Buat
orang-orang macam si ayam dan si koor, kalian harusnya sadar, bahwa bekerja
lebih baik daripada bacot gak jelas. Selain menghemat tenaga untuk pekerjaan
lain, image kalian juga gak hancur dan gak bakal deh dicap sebagai anak banyak
omong banyak bacot doang.
4. Buat
anak-anak yang sudah bekerja keras tapi dicap sebagai orang yang gak kerja
karena mata si bacot gak ngeliat kalian, yang sabar aja ya. Kalian bisa bantu
di divisi lain yang lebih menghargai tenaga kalian. XD
5. Buat
orang-orang banyak bacot, plis banget, kataraknya dibuang jauh-jauh deh. Lihat sekeliling
dan jangan terlalu mikirin bahwa divisi kalian itu lebih berat disbanding divisi
lain. Gue sempat berpikir untuk menciptakan alat yang bisa mengukur tingkat
kelelahan seseorang dan tingkat kerempongan seseorang dalam bekerja versus
bacot lho, buat nyaingin kebacotan kalian.
6. Lalu,
buat orang-orang atas, termasuk si pengambil keputusan atau yang punya wewenang
mengutus divisi ini ke divisi itu, dalam hal ini yang gue bicarakan adalah
ketua. Sebagai seorang ketua, harus bisa membedakan mana yang bermuka dua, mana
yang gak mau kerja, mana yang sudah mengeluarkan tenaga ekstra, dan mana yang
hanya mengeluarkan bacotan gak berguna. Itu penting. Terlebih, seorang ketua
harus bisa mendengar dari dua sisi, baik itu sisi yang menzolimi maupun sisi
yang terzolimi. Kalau bisa, mendengar dari pihak penonton juga, yang lebih
objektif dalam menentukan mana benar dan mana yang salah. Jangan pernah
menjudge orang dari satu omongan.
7. Buat
yang sedang galau mencari divisi yang cocok, kalian lihat dari koordinator kalian.
Gue sempat ditawari untuk masuk ke divisi konsumsi, tapi gue tolak dan gue
masuk ke divisi perlengkapan. Dan… gue gak menyesal untuk itu. Gue senang
keputusan gue tepat, walau harus mengorbankan dua celana gue karena robek saat
acara. Hiks! Di satu sisi, gue senang karena gue berguna untuk acara gue itu,
dan di sisi lain gue gak bakal ngebatin seperti yang dialami oleh anak-anak tim
konsumsi karena memiliki koor segila itu.
8. Lalu,
buat para calon panitia… rasakanlah apa yang akan dialami saat menjadi panitia.
Kawan bisa menjadi lawan, sobat menjadi musuh karena perbedaan sifat. Yang harus
diketahui, kalian harus bisa meredam emosi, apapun itu. kalian harus bisa
mengatasi keegoisan kalian. Bagi yang masih egosi, ingatlah, bahwa teman-teman
kalian butuh bantuan kalian, bukan keegoisan kalian.
9. Redam
keegoisan, karena acara ini memiliki satu tujuan. Sukses!
Udah ah, udah 27 halaman. Syok deh,
menulis ini aja harus sampai sebanyak ini. XD
Tapi yang pasti di acaranya ini, gue
dapat banyak pengalaman berharga. Gue bisa tahu siapa aja dan bagaimana
sifatnya ketika menangani suatu acara. Seandainya gue diharuskan memegang acara
lagi, yang gue pastikan adalah gue memilih dengan benar siapa coordinator gue,
karena gue bukan tipe orang yang doyan disuruh-suruh, melainkan sadar mana saja
yang harus gue jalankan, walau masih banyak kesalahan yang gue perbuat.
Sekian dulu deh tulisan gue ini, niatnya
sih yang fun-fun aja yang mau gue tulis, tapi gue ini bukan tipe orang yang
bisa berbohong. :D
Depok, 7 Desember
2014
No comments:
Post a Comment