Sunday, December 7, 2014

Ocehan Tentang Sosfar



Kali ini, gue bakal cerita tentang acara sosfar yang diadakan pada tanggal 28, 29, dan 30 November 2014 lalu. Sosfar sendiri merupakan kependekan dari sosialisasi farmasi, semacam orientasi jurusan farmasi di kampus gue.
Gue gak bakal cerita tentang rapat-rapat persiapan menuju acara (karena semua itu rempong dan gue emang tipikal orang yang gak suka rapat, lebih doyan terjun langsung di hari H). yang bakal gue ceritain di sini adalah pas hari H.

28 November 2014, pagi, hari ketika persiapan keberangkatan
Awalnya, gue memilih untuk naik di hari ini karena mengira bakal ada kuliah jam 8 pagi. Gue udah terlalu banyak absen untuk mata kuliah yang satu itu, padahal itu mata kuliah semester tujuh. Daripada naik di malam jumat dan harus bolos, gue memilih untuk naik bareng peserta.
Eeeeeh, ternyata semua mata kuliah libur, termasuk mata kuliah semester tujuh itu. kirain yang diliburin cuma mata kuliah semester lima. -___-“
Gue datang jam setengah delapan, mengira akan ramai karena pra registrasi peserta tertulis jam segitu. Tapi yang namanya orang Indonesia, jam karet sudah menjadi makanan sehari-hari. Alhasil, di kampus cuma ada anak-anak yang persiapan naik ke Citeko pada pagi hari. Hafiuh!
Untungnya ada si Bajegh yang datang pagi. Jadilah gue ngebolang bareng dia mencari jas hujan sesudah mengisi perut, yang ternyata cuma menghabiskan kalori karena gak nemu satupun jas hujan. *pukpuukin diri sendiri*
Usai merasakan cape setelah berjalan lumayan jauh, kami mampir ke perpus. Pengunjung perpus yang pertama adalah Kak Ken (nama samaran). Bajegh langsung masuk tanpa mengisi buku tamu, dan gue ngejek dia, “weh, gak usah terpesona gitu kali ngeliat dia, sampai gak ngisi buku tamu.”
Bajegh ketawa malu, menunggu gue yang sedang mengisi buku tamu. Tak lama setelah itu dia tertawa, dan membalikkan perkataan gue, “Gak usah terpesona gitu kali liat Kak Ken, sampai ngisi buku tamu aja masih yang kemarin, bukan yang hari ini.”
Aaaazzz… serius deh, gak ngeh kalau ternyata pengisian buku tamu ada di halaman selanjutnya. Padahal Kak Ken itu kakak pujaan hati Pipeh, tapi malah kami yang terhipnotis.
Lebih tak disangka lagi, setengah jam setelah itu, pengunjung perpus yang tak disangka-sangka muncul. Kesegarannya mengalihkan duniaku. (lebay!)
Kak S, dengan santainya berjalan menuju Kak Ken, lalu berbincang-bincang dengannya. Mereka membahas tentang sosfar, dan informasi yang gue dapat adalah… mereka akan datang sosfar! Horeeeee!
***
Masih di hari yang sama, gue yang masuk divisi perlengkapan masih saja merasa sebagai seorang yang tolol, magabut, dan segala macam julukan untuk seorang pengangguran lainnya. Helooooo, divisi perlengkapan biasanya sibuk, gue? Gue malah gak tahu harus ngapain!
Alhasil, selagi panitia lain sibuk berseliweran di sekitar peserta maupun di himpunan untuk mengurus kesibukannya sendiri, gue bengong. Tapi tak lama setelah itu, gue menemukan pekerjaan yang membuat gue bahagia tak terkira. Walau ini bukan acara yang menghasilkan uang atau memberikan gaji buat gue, gue bukan orang yang doyan nampang nama lalu gak usah kerja. Gue orang yang harus membuktikan ke atasan bahwa gue adalah seorang yang berguna, bukan berguna di permainan adu mulut bacot segala macam, tapi berguna dan menampilkan hasil. Gue… gue mulai mengangkat aqua gelas dari himpunan menuju tronton! Yeeaaaay!
*asli, itu cukup bikin gue encok, tapi gue tahan aja karena gue cewek strong!*
Semenjak itu, pekerjaan gue mulai bertambah. Gue sibuk mencari kayu bakar, mengangkat kayu ke tronton, menyiapkan perlengkapan untuk sosfar dan menaikkannya di tronton. Cukup menguras tenaga juga, tapi yang pasti gue senang. Gue senang banget, karena gue gak cuma nampang nama dan nampang eksis di kepanitiaan.
Di saat gue udah mulai cape, muncullah bacot dari seorang teman gue di grup watsap. Ia mempermasalahkan soal ayam. Percaya deh, 9,8 dari 10 orang akan menganggap lo sebagai orang banyak bacot yang gak bisa ngerjain sendiri tugas itu.
Lebay ya? Biarin. Gue gak ikut evaluasi sih.
Di saat orang lain membahas tentang persiapan, baik itu memanggil anggotanya untuk briefing, atau mencari perlengkapan yang belum terpenuhi, ia sibuk sendiri mencari orang untuk bekerja mengurusi ayam. Ayam, ayam, dan ayam. Puncak kerewelannya terlihat ketika ia berkata seperti ini, “yaudahlah ya, kalau ayamnya gak mau dijemput, gak usah dibawa aja ya.”
Gue yakin, kalau ayam-ayam itu masih hidup, orang yang menulis itu di watsap udah pasti dipatok sampai botak, lalu si ayam akan naik ke tronton sendiri tanpa harus dijemput. Anggap saja seperti itu.
Gue gak mau nyebut nama, tapi yang pasti lo sadar kalau yang gue maksud adalah lo, kan? Gue cuma mau kasih tahu aja, di saat seperti itu, semua panitia sibuk, gak cuma yang ngurusin ayam. Gue sendiri sampai harus gotong ini itu, sampai menahan malu buat diliatin peserta karena bawa-bawa sapu dan pel ke tronton, seakan ada Hermione sedang lewat membawa sapu terbang ingin ikut pertandingan quidditch. Tapi gue senang, karena gue ada kerjaan. Bukan dengan mengeluh sambil berkata, “weh! Kalau sapunya gak dijemput dan dibawa ke tronton, yawdahlah ya gak usah diharepin kerjanya di Citeko!”
Atau saat kayu bakar (dan itu anak perlengkapan yang ngurus), apa gue harus bilang, “Yawdahlah ya kayu bakarnya gak usah dibawa sekalian karena dia ngambek gak dijemput, nanti buat api unggunnya bakar aja salah satu ruangan di vila yang kita sewa aja.”?
Sudah, lupakan. Tanpa gue umbar semua itu, banyak kok yang sadar keegoisan lo.
Lanjut.
Peserta mulai memasuki tronton. Gue dan Bajegh sepakat untuk gak satu tronton sama dia, atau sebisa mungkin gak di tronton panitia. Gue sendiri lebih senang di tronton peserta. Selain bisa memantau peserta, kita juga bisa lebih leluasa tanpa harus mendengar ocehan ayam.
Sungguh, ocehan tentang ayam itu sempat membuat gue eneg sama ayam.
Sesampainya di vila, gue sebagai divisi perlengkapan lagi-lagi harus mengurusi si kayu bakar. *setelah gue pikir-pikir, kenapa gak gue bilang aja seperti yang di atas ya, biar gak perlu repot gitu? Haha!* gue dan Bajegh meminjam motor ketua panitia untuk mengangkut beberapa barang. Kayu bakar menjadi penumpang pertama kami.
Di tengah jalan, gue bertemu si “ayam”. Dia gak bosan-bosannya mengingatkan kami untuk mengurusi ayam. Helooooo, gak liat nih, gue megang apa? mau coba jadi sate ayam ya, lo??? *sambil menunjuk kayu bakar yang bisa dijadikan tusukan sate ayam jumbo*
Dan untungnya, ada anak cowok yang sudah membawakan ayamnya. Huft, syukurlah…
Perjalanan kayu bakar selesai, lalu kami kembali dan mengangkat beberapa barang. Gue bawa HT, sebuah tas ransel yang ada di punggung (bukan tas gue), dan dua dus aqua gelas di pangkuan. Ketemu lagi dengan si ayam, lalu dia berkata, “bawain tas gue dooong!” seakan matanya terkena glukoma mata stadium akhir tanpa bisa melihat barang bawaan kami.
Dan saat gue berjalan ke atas (yang ini jalan kaki, karena tronton sudah turun di depan gang vila, jadi gak perlu naik motor lagi), bertemu lagi dengan si ayam. “Nci, harusnya tadi lo bawain tas gue.” Dia berkata begitu, dan gue menahan hasrat untuk menjadikannya sate ayam bumbu kecap…
***
Sisa hari itu gue pakai dengan menggotong barang-barang. Divisi perlengkapan memang harus strong, walau gue ini MASIH cewek. Fisik gue juga gak kuat-kuat amat, tapi gue bersyukur memiliki seorang koordinator yang pengertian banget bahwa kodrat gue MASIH cewek (dan tak ada niat untuk mengubah gender). Koor gue berusaha menyelesaikan apa yang bisa diselesaikannya sendiri tanpa harus menyuruh orang seperti babu. Intinya, divisi perlengkapan kami sendiri memang divisi yang HARUSNYA lebih mementingkan KERJA dibanding BACOTAN. Dan kenyataannya, memang seperti itu.
Gue senaaaang banget, gak salah memilih divisi. Walau lelah, gue bisa bilang bahwa gue bahagia memiliki koor yang bekerja menampakkan hasil, bukan yang hanya menyuruh-nyuruh saja, seperti yang akan gue ceritakan setelah ini.
***
Malamnya, gue kelaparan. Tentu saja, berapa banyak makanan yang masuk pun terasa hilang karena kerja yang menguras tenaga. Gue masih saja mengangkat ini itu dan berkeliling, mencari kesibukan maupun koordinator yang susaaaaaah banget buat ditemukan. (jelas kan, perbedaannya?) Bajegh yang juga sudah kelaparan karena kerja kerasnya pergi ke ruang konsumsi untuk mengisi perut (dia divisi acara, tukang gerak dalam sosfar, bukan tukang babu seperti gue. Hafiuh! Gue nyebut babu bukan dari anggapan gue, tapi dilihat dari sisi orang yang menyuruh gue membawakan tasnya itu).
Satu tampah dengan nasi yang sedikit, dilahap bersama oleh 8 orang. Pastinya kelaparan, kan? Saat akan minta nambah, koor konsumsi dengan muka jutek berkata, “kalau nambah, bayar!”
Dan Bajegh yang masih kelaparan dan mulai naik pitam, mengeluarkan uang seratus ribuan. “Gue bayar nih, serius! Tambah sekarang!”
“Yang boleh ditambah nasinya doang,” si koor konsumsi masih berbicara seperti itu, dan membuat Bajegh makin naik pitam. Gue, Pipeh dan Winda berusaha meredamnya, memberikan pukpuukan yang sepertinya tiada hasil. Dari situlah, gue dan Winda sepakat untuk membeli makanan di luar.
Begitu selesai membeli pecel lele, gue kembali dan mendapat ejekan dari seseorang.
“Lo divisi perlengkapan, ya? Yang sabar ya, lo dicap jelek tuh, diomongin.”
Hah? Sama siapa?
Dan gue gak tahu, karena ada sesuatu yang terjadi di saat gue keluar membeli makan. LCD di ruang acara gak mau nyala, dan gak ada anak divisi perlengkapan. Ternyata dicap jelek oleh dosen dan tim acara (tapi tim acara alias Bajegh sendiri berkelit, berkata bahwa mereka hanya bilang bahwa LCD mati dan gak ada orang, itu saja). Gue sih biasa aja, apalagi LCD sudah menyala dan kembali berjalan, walau gue sadar itu keteledoran yang gue sebabkan karena keluar membeli makanan. Tapi, kembali lagi. Salah siapa sampai kami harus membeli makan di luar?
Saat gue ke ruangan konsumsi membawa si lele untuk kahim yang sedang sakit, koor konsumsi melotot.
“Ini dibeli dari luar?”
“Iya.”
“Siapa yang beli? Kenapa harus beli di luar sementara masih ada makanan di sini?”
“Winda. Coba aja sonoh, tanya dia sendiri.”
Gue yang menjawab itu merasa sedikit bersalah sama Winda, karena menjadikannya kambing hitam di saat ia tidak ada. Maaf, Windaaaa… tapi masa iya sih, si koor mau marah-marah di depan orang sakit dan menarik lele itu dari si sakit? Dia mau membunuh anak orang? Pake berani nanya segala lagi, “kenapa beli di luar padahal ada makanan”.
Oke, lupakan yang rese-rese.
Gue dan Winda membawa si lele ke depan ruangan acara, melahapnya bersama dengan panitia lain yang sedang berjaga di depan ruangan itu. awalnya, si Bajegh yang lapar merasa kesal karena tidak ada yang mau membantunya menghabiskan si lele dan nasi uduk, tapi tiba-tiba saja meja itu sudah dipenuhi oleh 5 orang, termasuk gue. Ketahuan kan, kita kelaperan banget walau sudah dapat makanan?
Lele itu pun habis, tinggal tulang belulang yang kalau ditanam mungkin bisa menjadi ayam esok paginya.
Usai itu, gue bercengkerama dengan anak-anak panitia yang sedang berjaga di depan ruangan. Gue menyuruh Dian, Gusti dan Akuf untuk tidur, melihat tampang mereka yang sudah kucel banget dengan kantong mata yang menghitam. Mereka para cowok yang naik di malam jumat (kecuali akuf), dan gue yakin mereka cape banget. Dian yang masih berusaha tersenyum lemah masih menolak, hingga gue tarik kedua tangannya untuk beranjak dari kursi, supaya mereka berjalan menuju ruang istirahat. Ketika Dian sudah berjalan, di saat itulah Gusti dan Akuf ikut. Akhirnya… biarlah yang berjaga cewek-cewek strong dulu, usai itu, gantian.
Nah, di saat para cowok sudah tidur, giliran cewek-cewek bergosip. Bajegh berkata, “Wah, siapa yang ngirimin pulsa sepuluh ribu, nih?”
Lalu si Winda menjawab, “iya nih, udah jam 10. Kasihan anak-anak pesertanya belum istirahat…”
Dan gue, Bajegh, dan Rebbeca tertawa ngakak.
Lalu si Bajegh bertanya, “Lo denger kan, apa yang gue bilang barusan?”
“Gue klarifikasi dulu deh,” gue menjawab, “Yang gue denger tadi, lo bilang kalau whatsaap harganya sepuluh ribu. Benar gak?”
Lalu Bajegh tertawa lagi, bersama si Beca dan Winda.
Bajegh kemudian memastikan pendengaran dari orang di sebelahnya, Beca.
“Yang gue dengar malah kalian lagi ngomongin Bu Emil.”
Maka pecahlah malam itu, diiringi suara tawa yang tertahan. Ya iyalah, di depan ruangan peserta gitu, masa ketawa keras? Ternyata cewek-cewek strong ini pun sudah mulai kehilangan fokus… XD
Malam itu dilewatkan dengan evaluasi tim konsumsi yang hanya dihadiri oleh koordinatornya, sehingga ia bisa berbicara seenak jidat. Anggotanya sendiri tak dibangunkan. Gue yang mengikuti rapat evaluasi itu sambil terkantuk-kantuk, dan bersyukur ketika rapat itu selesai juga.
Begitu selesai, barang-barang gue yang tadinya ada di kamar bawah, gue pindahkan ke atas, ke kamar cowok. Kamar cewek yang di bawah penuh sesak, dan dimonopoli oleh gadis-gadis. Ngerti kan, bedanya kamar cowok dan cewek di saat acara dan di saat kamar biasanya?
Oke. Gue jelasin.
Kamar cewek, di saat biasa, kemungkinan bersih karena cewek lebih rajin membersihkan kamar. Tapi, di saat acara, kamar itu menjadi sarang pergumulan, sarang tidur-tiduran, sarang… cewek. Pokoke kamar itu justru terlihat penuh sesak, entah karena barang-barang yang bertebaran di sana sini, maupun penghuni yang ada di dalam kamarnya (ada kok yang tiap gue masuk kamar selalu ada dia di dalamnya. Padahal gue ke kamar Cuma pas buat tidur aja).
Nah, kalau kamar cowok?
Kamar cowok, pas keadaan biasa, kemungkinan berantakan banget. Nah, pas acara bersiiiiiih banget. Kosong melompong. Penghuninya berkeliaran di acara, jarang menemukan satu makhluk cowok pun di dalam kamar. Serius deh, ketemunya pas mereka udah kayak orang mati aja, tepar gitu. Kalau di kamar cewek, masih kemungkinan bertemu sama gerombolan cewek yang bergosip di atas kasur, sambil melahap camilan.
Maka dari itu, selepas evaluasi, kamar cowok yang terdiri dari 4 kasur, tiga telah terisi dan bahkan ada yang langsung tidur. Gue, Winda dan Pipeh tidur di satu kasur paling pojok.
***
29 November, hari yang cukup melelahkan
Terbangun karena dibangunin, padahal baru tidur dua jam itu rasanya… hafiuh banget. Jam 4 pagi udah dibangunin, padahal gue sendiri baru tidur jam setengah 3. Merem meleklah jadinya.
Di hari ini, gue gak terlalu memusingkan hal lain, tapi lebih fokus ke diri gue sendiri yang masih belum mau melek. Pipeh dan Gusti yang sudah melek menjadi instruktur olahraga di jam 6, menampilkan kegokilan mereka yang… absurd. Yang gak gue sangka, si Gusti yang biasanya cuek malah ikut terjun ke dalam kegilaan itu. haahaaa!
Usai olahraga, gue masih ngantuk, dan izin untuk tidur. Tapi sampai di atas kasur masih saja gak bisa tidur. Setelah guling-gulingan hampir setengah jam, gue kembali ke lapangan. Dan… gue bertugas berkeliling, mencari apa yang bisa gue kerjakan. Di sana sini terlihat beberapa panitia yang bergosip, kadang gue nimbrung, kadang gue pergi. Pokoknya, di jam 2, gue balik ke kamar (dan benar-benar gak ada orang), di saat itulah gue tidur.
Gue tidur selama satu jam, dan itu benar-benar lumayan banget buat menyegarkan badan. Begitu bangun… segala pegal langsung terasa! Huwaaaaah…
Gue yang gak dapat jatah makan siang (karena terlewat), lanjut mengerjakan segala sesuatu untuk menyiapkan perlengkapan untuk persiapan malam inagurasi. Para cowok di divisi perlengkapan mulai menyiapkan lampu sorot dan segala macamnya, mengangkut kayu bakar ke tengah lapangan dan gue membantu sekenanya, sampai membuat garis batas dari tali semuanya kami lakukan.
Gue lupa karena sebab apa gitu, Gusti ngambek dan jutek sama gue. Gue nyuruh dia untuk melakukan sesuatu, tapi dia gak mau. Gue jambak dia (sepertinya rambut merupakan hal sensitif buat dia), yang membuat dia langsung marah besar. Gue langsung merasa bersalah, apalagi terlihat beberapa teman yang mendukung dia dan menghibur agar dia tak marah lagi (padahal itu cewek).
Gue melakukan itu karena gue kasihan sama teman cewek gue di divisi perlengkapan, Winda dan Pipeh. Mereka sudah terlihat cape, apalagi gue yakin mereka wanita tulen. Disuruh bolak balik di kawasan vila seluas itu sambil membawa ini itu tentu membuat fisik mereka terkuras habis, begitu pula gue.
Di saat itu, gue merasa menyesal banget sebenarnya. Gue mau minta maaf ke dia, tapi gengsi. Gue bingung mau minta maaf dari mana, sampai akhirnya gue berusaha cuek-cuekan padahal gue gak mau sampai hal itu terjadi.
Sampai malam pun dia masih memasang tampang jutek. Huh!
Malamnya, divisi perlengkapan sibuk bukan main. Persiapan mencari alternative lain juga dilakukan karena hujan turun semaunya. Alhasil, kami mencari ruangan yang bisa dipakai dan mulai menggelar karpet dan terpal. Di saat bersamaan, kami bertemu dengan divisi konsumsi yang sedang mengantar makanan ke para peserta. Iseng gue nanya, “Gimana, cape?”
“Iya nih. Ngap.”
Kehabisan napas, ya?
Untung kami divisi perlengkapan banyak persediaan oksigen dalam paru. Anak divisi perlengkapan yang kadang merangkap menjadi pengantar makanan (gue sering melakukan itu) gak bakalan merasa ngap Cuma karena sekali perjalanan. Kami berusaha menahan ngap itu. kebayang gak sih, nyari perlengkapan ke sana kemari, nganterin makanan, ini itu yang gak bisa gue sebutin satu persatu, bisa gak dibandingkan dengan sekali perjalanan itu?
Sudah. Gak usah emosi. Gue cuma kasihan sama Winda yang sampai kakinya bengkak karena tiga hari bolak-balik di vila seluas itu, kadang masih membantu divisi lain. Kakinya merah (entah, mungkin biru) karena membeli gas (bahkan yang membeli gas pun dia lho, dan memangku dua gas di pahanya).
Tapi gue senang banget ketika ada yang menawarkan diri, “Kak Stef, kalau divisi perlengkapan ada yang bisa dibantu, bilang aja, ya…”
Gue merasa terharu dengan tawaran ini, walau hanya satu orang yang menawarkan. Hiks! XD
Dia divisi pubdok, dan akan gue sebut namanya: Tamara. Dia anak yang baik, ya?
Tapi di sisi lain, ada yang memarahi s divisi pubdok, menganggap mereka tak bekerja dan berleha-leha  di bagian acara, sementara di bagian konsumsi sudah diambang kematian (plis, bilang kalau gue lebay!). Si ayam, seksi ribet, mulai ngoceh-ngoceh kembali dan memarahi anak-anak yang berada di atas.
“Kalau kalian bisa santai-santai di sini, mending bantuin di bagian konsumsi!”
Sudahlah. Gue Cuma gak tega sama Tamara yang membawa nama divisi pubdok. Dia sedang pegang kamera lho, pas nawarin bantuan ke gue…
Plis, anak baik semacam dia gak boleh dijahatin, kan?
Hati gue panas, tapi gue udah lemes. Mau gak mau, gue Cuma diam aja, apalagi si ayam membahas itu di depan peserta. Entah ke mana otaknya saat itu. maka dari itu, gue tahan.
Yuk ah, lanjut ke cerita lain. Skip-skip aja.
Acara malam inagurasi selesai jam 12.30, lalu semua panitia menyebar. Tim acara enak, begitu selesai bisa langsung tidur di kamarnya yang dekat dengan posko darurat malam inagurasi (yang gue bilang harus pontang-panting nyari alternatif supaya gak kena hujan itu lho). Panitia lain? Gak tahu deh. Pokoknya gue ke posko konsumsi bareng Winda, Pipeh, dan Bege(dimas). Sebenarnya semua sudah ngantuk, tapi terjadi keributan yang sudah selayaknya terjadi di acara selevel sosfar. Ada yang ribut-ribut, dan panitia cowok benar-benar harus turun tangan semua menanganinya. Cowok di farmasi itu terbatas lho, jangan mengira sebanyak jumlah anak cowok di jurusan teknik, ya!
Di posko konsumsi, gak ada yang berani kembali ke ruangan karena saat itu alumni sudah banyak, terlebih karena ada keributan. Gue sendiri gak berani ke atas. Tapi tiba-tiba aja anak keamanan, Nadhil, bilang bahwa kami harus tidur.
“Kalian tidur aja, sift-siftan. Jadi pas kami butuh istirahat, gentian kalian yang bekerja.”
Gue langsung bangunin bege yang lagi tidur di meja.
“Ge, balik ke kamar yok. Tidur.”
Memang beruntung banget deh ada si Bege. Dia anak konsumsi yang murtad pindah ke perlengkapan (karena gak tahan dengan polemik dalam rumah tangga konsumsi). Tapi gue bersyukur. Dengan begitu, anak perlengkapan bertambah satu, yeaaah!
Gue bersyukur lagi, (setelah mendegar cerita dari orang lain), bahwa saat itu yang tidur jam 1 ya kami ini yang berjalan menuju ruangan. Selebihnya, beberapa panitia terjebak dalam posko konsumsi sampai jam 3, belum tidur sampai waktu itu karena tak berani kembali ke ruangan.
***
30 November 2014, Grabak grubuk di jam 3

Berhubung sudah terhitung sebagai tanggai 30, maka gue masukin ke bagian judul yang lain.
Di jam 3 pagi, pergantian sift mulai terasa.
“Weh, bangun dong! Gantian jaga! Gue belum tidur nih!”
Hmmm.
Dan terjadi pembangunan massal, dari anak-anak yang tidur nyenyak di atas kasur oleh anak-anak yang selesai berjaga dari keributan. Mereka lelah, dan gue bisa tahu itu dari suara mereka.
Gue yang masih setengah sadar, mendengar dan menyimak percakapan mereka. Yang tidur masih belum mau bangun (gue dengar dari anaknya seusai acara, bahwa salah satu yang tidur itu baru saja menempelkan badannya ke kasur setelah tidur gak nyenyak di lantai, eeeeeh malah udah dibangunin). Stok ruangan berkurang karena kedatangan para alumni yang cukup banyak, dan beberapa dari mereka harus tidur di lantai. Duuuh, sedih mendengarnya.
Tapi, yang wajib gue kasih jempol adalah…
Para cowok itu gak membangunkan cewek-cewek, termasuk gue dan dua teman gue lain yang tidur di kamar cowok. Mereka sibuk membangunkan cowok yang tidur (entah itu baru tidur ataupun yang sudah tidur beberapa jam). Huwaaaah, mereka cowok yang…. Good boy banget! :D
Dan… gue kembali tidur setelah pergumulan itu.
Jam 4. Alarm bunyi, tapi gue biarkan. Mata gue gak bisa diajak kompromi, alhasil gue kembali tidur sampai jam 6.
Gusti yang sudah bangun, mulai membangunkan anak cewek di kamar cowok (ya ngertilah, maksudnya gue, Winda, dan Pipeh). Awalnya, gue kira dia cuma iseng (dan sampai sekarang masih mengira dia iseng), soalnya dia Cuma memanggil dalam suara bisikan. “Weh, bangun weeeh.”
Tapi, dia membisikkannya dari jarak jauh (gak di kuping gue) dan berkali-kali. Seakan itu mantra yang menjampi-jampi gue, gue bangun. Dipanggilan pertama, gue masih mengira dia memanggil yang lain dan masih terasa hawa jam 4. Saat gue melek, gue langsung sadar kalau sudah pagi, dan dia masih membisikkan kalimat itu. Saat dilihat lagi…
Jam 6!!!
Gue langsung heboh dan membangunkan dua sobat gue yang lain yang masih belum melek, tanpa sadar memikirkan mereka masih butuh tidur atau tidak. Namanya juga baru bangun, yang gue lakukan masih setengah sadar. XD
Si Arum, koor gue, mulai membangunkan anak cowok lagi. Dia belum tidur, meminta giliran tidur.
“Weh, lo lama banget tidurnya! Gantian dong!” sambil menggoyangkan tubuh cowok yang masih tidur. Kasihan banget, dia gak digubris.
“Noh, yang lama tidurnya yang sipit itu tuh!” Gusti menimpali, sambil menyindir gue. Iiiiih, kesel bercampur geli pokoknya, disindir gitu tapi memang benar sih. XD
Gue cuma bisa ketawa, lalu segera mandi. Dalam hati gue cukup senang, si Gusti sudah gak marah lagi sama gue. Tuh, buktinya udah bisa ngecengin gue, kan? :D
***
Perasaan gue mau ngebahas koor konsumsi, tapi kenapa sampai halaman 20 masih belum ada dia, ya?
Pending dulu.
Di hari ini, yang paling berkesan adalah perjalanan peserta menuju pos-pos. tapi yang paling berkesan buat gue: Kak S yang segeeeeeeer banget terlihat dalam cakupan mata gue yang sipit ini. Hah! XD
Awalnya gue galau mau ke pos mana, panitia atau himpunan. Kalau masuk pos himpunan, berasa harus formal banget karena di situ terdapat kumpulan orang cerdas (menurut pandangan gue), padahal sebenarnya tidak. Yang mendominasi cuma ketua himpunan. Sedangkan di pos panitia, panitia yang mengisinya kurang akrab dengan gue, dan terlihat kumpulan anak-anak kurang eksis di himpunan (ya iyalah, yang eksis di himpunan kan di pos himpunan!). gue bolak-balik selama beberapa saat, bingung mau ke mana, yang akhirnya menjatuhkan keputusan ke pos himpunan karena ada yang ingin gue sampaikan sebagai pengurus himpunan. Gue memberikan tugas ke salah satu anak dalam tiap kelompok untuk menyampaikan ke seluruh anggotanya untuk membuat sebuah mading bertemakan sosfar.
Awalnya Cuma mau begitu, tapi tanduk devil gue keluar.
Gue mulai perpeloncoan.
XD
Gue mulai menginterogasi anak-anak satu persatu, mencari sasaran empuk, dengan pertanyaan yang sama: kenapa gak pernah main ke himpunan?
Padahal, juju raja, gue juga termasuk orang yang gak pernah main ke himpunan sampai gue menjabat sebagai divisi keilmiahan. Maaf ya, adek-adek yang udah gue takutin… X(
Dan gue paling menyesal, bahkan sampai saat ini, ketika ada seorang anak yang usai gue tanyai dan gue tekanin agar sering-sering main ke himpunan, dia malah pingsan! Huwaaaaaaah!!!!
Asli, gue panik dalam hati dan cuma bisa lemes begitu melihat anak itu digotong pergi…
Usai perjalanan k epos-pos, divisi perlengkapan kembali sibuk menyiapkan konsumsi (cukup aneh ya, kedengarannya?). tapi gak cuma kami, hampir semua panitia sibuk di acara pamungkas ini.
Saat Pipeh menyendoki sop ke dalam mangkuk, koor konsumsi datang dengan wajah masam.
“Eh tolong ya, yang gak kerja, ke atas dong, bawain barang-barang dari atas!”
Dan dia menyuruh tanpa memberikan contoh. Dia baru saja datang dari atas, tanpa membawa satu helai rambut pun di sela-sela jarinya.
-__-“
Tak hanya itu, bahkan PJ pun disuruh-suruh olehnya. Yang sdabar ya, Nak…
Lalu soal makanan…
Gue gak mau komentarin ayam yang bikin gue eneg hanya karena menyebut ayam, soalnya gak gue makan ayamnya. Sialnya, lauk hari itu hanya ayam, mau gak mau gue cuma makan sop dan nasi putih. Kerupuk sudah diserbu habis, sambel juga, yang tersisa hanya remah-remah ayam di atas nasi (yang herannya bisa hampir habis juga). Ayam dalam sop pun gak gue makan. Sudah gue bilang, gue udah eneg sama ayam.
Tapi gue masih ingat banget, seninnya gue udah makan pecel ayam. Pokoknya bukan ayam yang dibuat anak konsumsi.
Maka, setelah itu, acara selesai. Dan gue gak ikut rapat evaluasi karena diusir dengan alasan “regulasi”. Gue yang punya gengsi tinggi dan doyan ngambek tentu saja pulang dan mementingkan LGR gue. Iya doooong? :D
Maka dari itu, gue evaluasi sedikit di sini:
1.     Saat kalian anggota yang tidak memiliki pekerjaan apapun, sebaiknya segera menawarkan diri untuk membantu divisi yang terlihat rempong. Walau dasarnya rempong, tapi kalian mungkin bisa dapat pahala dari kerempongan itu.
2.    Buat orang macam si ayam dan si koor konsumsi yang doyan menyuruh orang, plis, orang-orang macam kalian lebih baik gak usah ikut acara lagi, atau lebih baik sembunyikan diri kalian dalam kamar serapat mungkin. Malu deh, kalian hanya cuap-cuap apalagi marah-marah depan peserta.
3.    Buat orang-orang macam si ayam dan si koor, kalian harusnya sadar, bahwa bekerja lebih baik daripada bacot gak jelas. Selain menghemat tenaga untuk pekerjaan lain, image kalian juga gak hancur dan gak bakal deh dicap sebagai anak banyak omong banyak bacot doang.
4.   Buat anak-anak yang sudah bekerja keras tapi dicap sebagai orang yang gak kerja karena mata si bacot gak ngeliat kalian, yang sabar aja ya. Kalian bisa bantu di divisi lain yang lebih menghargai tenaga kalian. XD
5.    Buat orang-orang banyak bacot, plis banget, kataraknya dibuang jauh-jauh deh. Lihat sekeliling dan jangan terlalu mikirin bahwa divisi kalian itu lebih berat disbanding divisi lain. Gue sempat berpikir untuk menciptakan alat yang bisa mengukur tingkat kelelahan seseorang dan tingkat kerempongan seseorang dalam bekerja versus bacot lho, buat nyaingin kebacotan kalian.
6.    Lalu, buat orang-orang atas, termasuk si pengambil keputusan atau yang punya wewenang mengutus divisi ini ke divisi itu, dalam hal ini yang gue bicarakan adalah ketua. Sebagai seorang ketua, harus bisa membedakan mana yang bermuka dua, mana yang gak mau kerja, mana yang sudah mengeluarkan tenaga ekstra, dan mana yang hanya mengeluarkan bacotan gak berguna. Itu penting. Terlebih, seorang ketua harus bisa mendengar dari dua sisi, baik itu sisi yang menzolimi maupun sisi yang terzolimi. Kalau bisa, mendengar dari pihak penonton juga, yang lebih objektif dalam menentukan mana benar dan mana yang salah. Jangan pernah menjudge orang dari satu omongan.
7.    Buat yang sedang galau mencari divisi yang cocok, kalian lihat dari koordinator kalian. Gue sempat ditawari untuk masuk ke divisi konsumsi, tapi gue tolak dan gue masuk ke divisi perlengkapan. Dan… gue gak menyesal untuk itu. Gue senang keputusan gue tepat, walau harus mengorbankan dua celana gue karena robek saat acara. Hiks! Di satu sisi, gue senang karena gue berguna untuk acara gue itu, dan di sisi lain gue gak bakal ngebatin seperti yang dialami oleh anak-anak tim konsumsi karena memiliki koor segila itu.
8.    Lalu, buat para calon panitia… rasakanlah apa yang akan dialami saat menjadi panitia. Kawan bisa menjadi lawan, sobat menjadi musuh karena perbedaan sifat. Yang harus diketahui, kalian harus bisa meredam emosi, apapun itu. kalian harus bisa mengatasi keegoisan kalian. Bagi yang masih egosi, ingatlah, bahwa teman-teman kalian butuh bantuan kalian, bukan keegoisan kalian.
9.    Redam keegoisan, karena acara ini memiliki satu tujuan. Sukses!

Udah ah, udah 27 halaman. Syok deh, menulis ini aja harus sampai sebanyak ini. XD
Tapi yang pasti di acaranya ini, gue dapat banyak pengalaman berharga. Gue bisa tahu siapa aja dan bagaimana sifatnya ketika menangani suatu acara. Seandainya gue diharuskan memegang acara lagi, yang gue pastikan adalah gue memilih dengan benar siapa coordinator gue, karena gue bukan tipe orang yang doyan disuruh-suruh, melainkan sadar mana saja yang harus gue jalankan, walau masih banyak kesalahan yang gue perbuat.
Sekian dulu deh tulisan gue ini, niatnya sih yang fun-fun aja yang mau gue tulis, tapi gue ini bukan tipe orang yang bisa berbohong. :D

Depok, 7 Desember 2014

No comments:

Post a Comment