Monday, November 24, 2014

Nilai Tinggi Membuatku Sedih, Kakak...



Buat kalian semua, siapapun dan di manapun, jangan menaruh penilaian tinggi pada seseorang hanya karena “info” dari orang lain. Ada baiknya, kita mengenal sendiri seseorang itu, dan kita nilai sendiri. Dengan begitu, kita tidak akan kecewa hanya karena menilai seseorang terlalu jauh di atas kemampuannya.
Nah, buat kamu memang kecewa, kalau ternyata kamu telah mengidolakannya karena saran dari orang lain, eh ternyata dia cuma orang biasa. *aku juga orang biasa koook. XD* ketika kecewa, kamu bisa saja marah, kesal, atau menyesal karena telah mengidolakannya.
Lalu pernah gak sih, kamu memikirkan perasaan idolamu itu?
Aku sendiri mencoba memikirkan pihak lain tersebut.
Karena manusia itu tidak sempurna, dan istilahnya, bakat orang juga mungkin sama (hanya saja tingkat kelihaiannya berbeda), jadi kamu mungkin menganggap, “ya ampuuun, gue nyesel ngidolain si A! ternyata si B lebih baik dalam hal ini!”
Coba bayangkan kamu di posisi si A.
Sakitnya tuuuuh…
XD
Pertama: dirimu dibandingin. Percayalah, tiap orang memang gak sama, tapi yang namanya bakat itu banyak kesamaan, dan seperti yang barusan kubilang, tingkat kelihaiannya saja yang berbeda dan jenis bakat satu orang ke orang yang lain tidak mungkin sama semua (apalagi tingkat kelihaiannya). Misal, si A jago nyanyi, menggambar, masak, nyuci, ngepel, nyapu (bakat mak-mak), si B… anggaplah sama. Eh tapi ternyata pas disaingin di Indonesian idol, si B yang menang juara 2. Si A cuma juara 3. Dari situ aja hadiahnya udah beda.
Aku sebenarnya pengen bahas apa toh?
Intinya, ketika ingin menjudge orang, jangan sampai terlalu tinggi, maupun terlalu meremehkan. Jangan menilai orang dari sudut pandang orang lain, karena sudut pandangmu sendiri tak akan sama dengan orang lain. Gitu aja.
Dari tadi aku belum bahas perasaan si A yang ternyata disanjung-sanjung, eh tahunya Cuma orang biasa, kan?
Gini.
Aku pernah ngalamin itu. cieee… jadi pas mau tes PTN, hampir semua orang menganggap aku bisa lulus (amsyong, benar-benar menaruh patokan yang terlalu tinggi!). alasannya PTN itu dekat dengan rumah, tapi sayangnya, mereka tidak tahu bahwa untuk masuk PTN itu, aku harus mengalahkan beribu pesaing. Mereka semua menganggapnya gampang untuk masuk situ. Aduhai~ (iya, yang beranggapan gitu mak-mak, karena anak muda tahu sendiri standar PTN di Indonesia).
Lalu mereka hanya bisa bilang, “Lho, kok gak lulus?”
Aduhai~ sakitnya tuuuh….
PTS di Jogja aja aku gak lulus, lho. Hiks….
Pasti sedih ketika kita sendiri tidak bisa mencapai ekspektasi orang lain, walau sebenarnya itu juga tujuan kita. Di satu sisi mimpi yang tak tercapai, di sisi lain image yang jatuh. Dua kali lipat ketiban duren busuk, bolongnya di tengah punggung. (apa sih?) berdarah-darah. Sedihnya dobel, apalagi ada yang merasa kehilangan fans. Aduhai~
Aku pernah merasa sangat lelah untuk menjawab pertanyaan “kenapa gak lulus” itu, hingga aku sendiri selalu berpikir untuk membalas dendam Perguruan tinggi yang gak mau nerima aku itu dengan cara yang menyakitkan. (hadeeeh, bahasanya…) caranya bisa dengan membuktikan kemampuan diri sendiri.
“Gue boleh aja dari kampus swasta jelek, tapi skill maupun otak gue gak kalah sama kalian kalau diberi kesempatan yang sama. Gue boleh aja satu tempat kerja dengan kalian, tapi gue bakal buktiin kalau gue lebih unggul.”
Selalu seperti itu. Terkesan sombong, ya?
Tapi aku sendiri benar-benar berusaha untuk itu. sempat ciut juga ketika penakes itu didominasi oleh kakak-kakak dari PTN (bahkan udah pada S2!), sedangkan yang dari PTS cuma sedikit. Tapi ternyata, yang masuk 4 besar penakes itu sendiri 2 dari PTS, 2 dari PTN, padahal kalau dihitung, 14 peserta yang dari PTN, dari jumlah 20 orang.
Ini apa sih?
Cuma curhat gak jelas kayaknya. Abaikan saja.
Cuma karena mau nulis di twitter berasa nyepam, jadilah nyampah di blog. Maklumin aja yaaaa… XD

Depok, 25 November 2014

Sunday, November 23, 2014

Maukah Kamu Menjadi Milikku?



Jika kamu bisa menjawabku, tolong, berikan aku jawaban. Aku butuh kepastian.
“Hei, maukah kamu menjadi milikku?”
Kamu hanya menatapku dengan pandangan hampa, seakan tak mengerti ucapanku.
Sudah tiga hari ini, duniaku berpaling padamu. Pusat dunia seakan ada pada dirimu.
Kamu berjalan menjauh, lalu duduk di kursi lain. Dirimu kembali pada kesibukan dan mengabaikan pertanyaanku. huh, jual mahal sekali! tapi aku tak akan menyerah!
“Hei…”
Dirimu masih berkutat pada kegiatan yang seakan tak ingin kau tinggalkan. Menoleh padaku saja tidak. Tersenyum pun… ah, kurasa, senyummu sangat mahal dan tak ada yang pernah melihat senyummu. Senyum yang kuyakin bisa menggetarkan hatiku.
“Plis, jangan nyuekin aku. Aku janji deh, kalau kamu mau hidup bersamaku, aku akan membahagiakanmu!”
Bahkan, untuk menjawabku pun rasanya hanya buang-buang waktu saja. Itulah dirimu.
***
Kita bertemu kembali di taman yang sama. Aku tahu, kamu ada ke taman ini. Tak terlalu sulit untuk menemukanmu, karena tempat kesukaanmu adalah di bawah pohon rindang, tempat yang cocok untukmu bergelung dan beristirahat.
“Hai, sudah dipikirkan belum? Apa kamu mau jadi milikku?”


*cerita mini ini diikutkan dalam tantangan #FFOrangKedua @KampusFiksi 
Depok, 23 November 2014

Tuesday, November 18, 2014

Sebuah Perjalanan Alay

Ketika dihadapkan pada kenyataan, bahwa orang yang kita suka tidak menyukai kita, apa yang terpikirkan olehmu?
Pasti bilangnya gini deh, “Gak adil! Gue udah berdarah-darah menyukai dia, berusaha meraih cintanya, menarik perhatiannya, menjadi seperti apa yang dia mau, tapi tetap saja dia gak mau nengok ke gue. Melirik sedikit pun nggak! Dunia ini gak adil!”
Lalu, pernah gak sih, kalian berada dalam posisi sedang disukai oleh orang lain, tapi kalian tidak mau dengannya?
Apa yang akan kalian katakan?
“Ih, stalker! Jijik!”
Fine, itu amat sangat adil, bukan?
***
Gue lagi mau cerita tentang perjalanan cinta yang udah gue alami sejak masih TK.
Hebat ya, TK aja udah cinta-cintaan?
Kata mama gue, cowok itu adalah seorang yang mendapat ciuman pertama gue (pliiis, ini cuma di pipi!). Cowok ini baik banget, setia jadi sahabat gue. Namanya Andrew.
Dan kalian tahu? Cowok ini sudah tiada ketika SMP.
Gue yang beda SMP dengannya (dia SMP di Pontianak, sedangkan gue sudah pindah ke Depok) gak pernah dapat kabar bahwa dia sudah meninggalkan gue secepat ini. Gue dapat kabar itu ketika ngekost di kosan Victor. Awalnya dia kaget ketika gue bernostalgia menyebut nama teman-teman cowok, tiba-tiba gue menyebut namanya. Dia langsung bilang, “alaaaaaah, gue kaget lo ngomong begitu. Dia sudah gak ada, tahu!”
“Ah, becanda kan, lo?” itu refleks pertama yang keluar dari mulut gue.
Vic lalu menceritakan alasan kenapa dia meninggal. Hanya singkat saja, lalu Vic kabur dan bilang ingin mandi. Usai itu, gue juga ikut mandi (pliiiis, di kamar mandi yang berbeda!), dan menangis sejadi-jadinya.
Hiks~
Setelah beranjak dari TK, hati gue tertambat ke Vic. Itu jaman SD kelas 5-6. Satu-satunya cowok yang sukses membuat gue mengatakan cinta, walaupun dia menolak karena dia sendiri memiliki wanita yang dia sukai. Gue tahu hal itu, hanya saja ingin menyampaikannya sebelum gue terbang ke Depok…
Lalu ada si A. cowok ini sekarang udah nikah.
Lalu si M, yang saat ini tidak ada kabarnya. Si A dan si M ini tahu kalau gue suka dengannya ketika salah satu teman gue yang sepertinya memiliki kemampuan untuk membaca perasaan orang, menyampaikannya secara jelas. (si A di kelas, dan si M di lapangan sekolah. Keren, kan?)
Lalu ada si D, yang sifat awalnya maniiiiis banget. Cowok ini lebih muda dari gue (sepertinya dari awal gue suka, semua yang sudah disebutkan di atas adalah orang-orang yang lebih muda dari gue). Sempat suka selama beberapa tahun (gak hanya si D, tapi si A dan M membutuhkan waktu beberapa tahun juga untuk move on. :D), tapi akhirnya gue berhasil melepaskan rasa suka itu karena ilfeel sama dia!
Alasannya?
Dia lebih membela ceweknya yang ganjen, kecentilan, dan sok kaya, dibandingkan gue yang cuma seorang sahabatnya…
Mantan gak usah disebutlah ya. :P
Usai lepas dari mantan, rasa cinta gue berhenti setidaknya dua tahun. Gak ada cowok yang gue sukai, tapi akhirnya kecantol juga sama cowok yang lagi-lagi lebih muda. Namanya Lico. Cowok asal Palembang ini gantengnyaaaa… ampun-ampunan deh! Penyuka pecel lele (gue pernah dengar desas-desus, katanya setiap malam menu makannya selalu itu), yang saat itu membuat gue geli karena gue belum pernah memakan lele.
Rasa suka ke Lico gak bertahan lama, karena setelah itu kami berpisah jarak. Dia di binus, dan gue tetap kuliah di kampus saat ini. Kita bertemu di sebuah tempat les.
Naaaah… setelah Lico, rasa suka gue kembali gak ada. Sempat merasa hampa, karena taka da rasa yang berbunga-bunga. Padahal, juju raja, selama ini rasa yang selalu gue terima adalah kebalikannya. Kebayang kan, dari nama-nama yang disebut di atas, gak ada yang menjadi pacar gue? Ya sudahlah.
Usai dari itu, di kehidupan kampus, taka da juga yang gue suka. Sampai suatu saat, di semester tiga, gue mendapat kesempatan menjadi panitia dalam sebuah seminar internasional.
Di sanalah, gue bertemu kak Doni (sejak saat inilah, gue mulai suka dengan cowok yang lebih tua. Gak ada lagi yang namanya berondong). Awalnya cuma bilang ke diri sendiri, “mumpung cuma dua hari, puas-puasin aja lihat dia. Setelah itu, lu gak bakal ketemu lagi. Jadi puaskan hasrat lu ke cowok ganteng itu.”
Dan gue kena tulahnya. Cuma karena mengizinkan diri memuaskan hasrat yang sudah lama tak muncul, hati gue ngelunjak. Sejak saat itu, selama tiga bulan lamanya, gue harus patah hati karena tak bisa bertemu dengannya (padahal satu kampus, tapi beda jurusan dan beda kelas. Dia kelas karyawan, gue kelas regular).
Eh, salah ding. Masih ada si F saat semester satu. Tapi itu gak lama. Gak terlalu melekat di dalam hati gue.
Naaaah… ada alasan kenapa gue bisa move on dari Kak Doni secepat itu. itu karena gue suka sama kak Syukri. Aiiih, setelah ini, panggil saja dia dengan Kak S. masih belum sanggup terlalu jujur…
Sama Kak S itu sempat suka, tapi karena teman gue juga suka, gue menahan diri. Awalnya bisa suka karena gue ini seorang cewek stalker yang mengerikan. Gue bisa mencari info tentang si dia tanpa harus pintar komputer. Tinggal mengaduk-aduk socmed aja gue udah bisa menebak seperti apa orangnya. Dari situ berawal, dari situ pula pupus. Kak S itu sombong! Dia gak merespon permintaan pertemanan gue di fb. Hih! Dari situ, gue benci banget sama dia.
Tak lama berselang, gue suka lagi sama dia. Alasannya?
Gue sedang berada di ruang komputer. Tanpa mengira itu dia, gue tetap melanjutkan bermain di komputer kampus itu. merasa ada yang melihat, gue pun menoleh.
Dia tersenyum manis banget, dan matanya langsung menghujam tepat, nancap di hati gue. Aiiiih… sejak saat itu, gue suka kembali Kak S. selama 7 bulan lamanya (bayi premature kaliiii).
Alasan gue move on? Gue menemukan cowok yang lebih sreg di hati gue.
Oke, stop. Halaman ini gak boleh untuk dia, bahkan menyebutkan satu huruf pun dosa di halaman ini. (halah!)
Tapi, satu hal yang pasti, gue harus move on kembali, lalu mencari cinta yang lain lagi. Begitu berat menitipkan hati ke seseorang nun jauh di mata kayaknya kak Doni yang sulitnya minta ampun untuk bertemu. Setidaknya, pliiiis banget, ada seorang yang bisa membuat gue suka untuk saat ini biar cepat move on. Kalau gak ada alasan jelek dari orang itu, bakalan susah move onnya! Pun, kalau ingin mencoba mencabik hati gue dengan cara kasar sekalipun (misalkan menampilkan kemesraan di depan gue, atau nyuekin gue), otak gue biasanya selalu menorerir hal itu. (emang dasar otak sialan!)
Sebenarnya galau itu capek ya, capek banget. Ketika jatuh cinta, gue menjadi orang yang berbeda, seolah gue menjelma menjadi gadis lemah lembut (sayangnya bukan tingkahnya, tapi hatinya yang lemah) sapa seperti menstruasi hari pertama. Aduhaaai, sedap nian ya rasa ini?
Selera gue tinggi. Tingginya itu bahkan di atas level gue. Untuk menurunkannya itu susah, makanya sampai saat ini gue sulit untuk move on. Pernah gue mencoba untuk menurunkan standar dengan menyukai si dedek L (sebagai cara untuk move on dari kak S), dengan jlebnya ada yang bilang, “jauh banget. Lu banting harga banget, gak percaya gue kalau lu suka sama cowok itu.”
(sabar ya dek, malah kamu yang dihina…)
Pas gue tanya alasannya, mereka cuma bilang gini, “ya aneh aja. Lu lihat aja Kak S, gantengnya minta ampun. Ini?”
Perkataannya jahat banget yah. XD
Tapi sekaligus jleb buat gue. Gue kira bakalan bilang, “dia gak selevel sama lu”, eh tahunya cuma ngomong begitu. Ah, sudahlah….
Okelah, sip. Sudah menunaikan janji untuk menuliskan nama Kak S, padahal dia belum lulus. Ya, dia sudah tahu kalau gue suka dengannya. Kejadiannya selalu sama: orang-orang di sekitar gue yang memberitahukan hal itu padanya.
Nasiiiib, nasiiiib.
*lanjut cari cowok buat move on*
Depok, 18 November 2014

Monday, November 17, 2014

ingus yang mengalir tiada henti



Hari ini gue gelisah. Banget. Gak tahu alasannya apa, tapi benar-benar gelisah resah dan semua "ah ah" dicampur aduk menjadi satu. Mungkin campur aduk karena menonton film berjudul Source Code yang menegangkan (gak kebayang kan, sebuah bom meledak di wajah kita, dan itu gak cuma sekali, tapi berulang kali, karena si tokoh utamanya harus menyelamatkan orang-orang itu dari bom). Mungkin juga karena jurnal praktek analisis farmasi yang benar-benar masih kosong melompong padahal sudah jam 10 malam. Mungkin… ah, banyak kemungkinan. Dan gue menyalahkan semuanya hari ini. (termasuk cafein. Sabar yaaaa. XD)
Sebenarnya, hari ini, orang yang gue suka ulang tahun. Yap, 18 November. Gue udah siapin ucapan ultah dari jam 23.16 (ampe hapal kan, tuh!), tapi sengaja ngirimnya 10 menit setelah 00.00 supaya gak keliatan napsu banget mau ngucapin. Plis, jangan bilang apa-apa lagi, move on itu susah lho. Apalagi buat pisces seperti gue, yang galau dan move on nya gak tentu. XD
Kepikiran mau ngirim voice note, tapi yang ada bukannya romantis, nanti kakaknya malah ketawa. Jelas banget suara gue itu amat sangat imut, bahkan beberapa orang selalu menertawakan suara gue (apalagi di telepon. ada juga yang bilang suara gue makin mirip sinchan). Makanya gue gak pede buat ngucapin. Apalagi, lewat suara, ada rasa yang bisa tersalurkan. Pfffft….
Sempat kepikiran juga mau ngirimin suara seruling yang melantunkan lagu happy birthday. Tapi tetap saja, ada yang pernah melukai hati gue dengan bilang kalau gue anak desa karena memainkan seruling. (anggap aja dia sirik *cara menghibur hati yang gak mempan*)
Maka dari itu, hanya ucapan saja. Dengan banyak ekor lele boongan. Fix.
***
Awalnya, gue kira ini termasuk salah satu kegelisahan gue. Tapi setelah ngucapin, tetap ada yang mengganjal. Gue masih mencari penyebabnya, tapi gak tahu. Pernah gak sih, kalian mengalami perasaan ini?
Puncaknya gue cuma bisa menahan tangis… (sampai saat gue menuliskan ini, masih gue tahan dan itu rasanya nyesek banget. Alasan gue menahan sesuatu yang terus mendobrak pertahanan kantung mata gue adalah: mama belum tidur. Ish, biasanya juga jam segini udah tidur!)
Kebayang gak sih, cowok yang lu suka malah pos begini? *lalu mengalir deras*
“Gue bikin perjanjian dengan semesta (saat ini ayam berkokok, btw), kalau gue gak ada fungsinya lagi, matiin aja di umur 25. Tolong aminkan.”
*lap ingus sebelum laptop rusak*
Gue emang tahu, ada sebuah akhir ketika memulai sebuah awal. Gue juga sering melatih hati gue untuk gak terlalu menyembah seseorang, terlalu ngefans, terlalu suka, dengan memberitahu bahwa ada saatnya mereka pergi. Gue bahkan pernah ngebayangin idola gue meninggal, dan jadilah termehek-mehek di situ.
Tapi tapi tapi… ini belum move on toh, mas…
Dengan adanya kalimat di atas, langsung “jleb!” dan pertahanan gue runtuh. Gelisah gue langsung menjelma menjadi buliran ingus. (biar tambah jijik deh lu!)
Oke, tulisan ini gue tutup dengan kalimat pamungkas.
“Jatuh cinta itu bikin capek ya.”

Depok, 18 November 2014