Tuesday, October 25, 2016

Cara mengaktifkan m-banking BCA



Untuk pelanggan BCA, sebenarnya tidak perlu repot lag mengantri di CSO untuk menanyakan cara pembuatan m-banking. Di sini saya berbagi cara mengaktifkan m-banking, seperti yang diinformasikan oleh CSO bank BCA saat saya menanyakan cara pengaktifan m-banking.
Tidak perlu pusing saat mengaktifkannya. Tapi yang perlu diingat oleh pembac sekalian, ada beberapa syarat untuk bisa mengaktifkan m-banking di ponsel anda. Berikut adalah syaratnya:

  1. Nomor yang digunakan harus berada di sim Satu
  2. Nomor tersebut harus memiliki paket data internet.
  3. Nomor tersebut berisi pulsa.


Nah, saat pembaca hendak membuat m-banking, sebisa mungkin menggunakan paket data sendiri. Saya sudah mencobanya menggunakan wifi, tapi entah tidak mau terima atau memang prosesnya lama, pembuatan m-banking jadi terhambat alias lemot dan tidak mau ke langkah selanjutnya. Saat mencoba memakai paket data sendiri, prosesnya sangat cepat. :D

Nah, langsung aja yuk, masuk ke cara mengaktifkan m-bankingnya. :D
1.    Download aplikasi “BCA Mobile” dari playstore.
2.    Open aplikasi tersebut, kemudian klik “m-BCA”.
3.    Scroll ke bawah, pilih “accept”.
4.   Masukkan 16 digit nomor yang ada pada kartu atm, kemudian klik ok.
5.    Setelah itu akan muncul permintaan pengiriman pesan sms ke nomor ponsel. Bila setuju, klik ok.
6.   Selanjutnya akan masuk ke halaman yang meminta kode akses 6 digit. Ini merupakan semacam “ID” untuk masuk ke dalam menu “m-BCA”. Kode akses ini terdiri dari kombinasi huruf dan angka, dan tidak boleh lupa agar tetap bisa masuk ke menu “m-BCA”.
7.    Kemudian klik ok setelah konfirmasi ulang kode akses.
8.   Muncul halaman pilihan send atau close, pilih send, kemudian muncul kotak yang meminta pin atm. Masukkan pin atm, klik ok.

Wednesday, March 2, 2016

Sakurasou, Bunga Harapan di antara Sejuta Rintangan



Yosh! Udah lama gak nulis lagi, dan sekarang saatnya gue menulis apa yang ingin ditulis. :D Kali ini, untuk mengisi blog gue yang udah kebanyakan sarang laba-labanya dan lumutan pula, gue menulis hal yang gak penting. Muehehe… XD
Gak semua orang punya pemikiran yang sama, punya kesibukan yang sama. Apa yang gue anggap penting, belum tentu orang lain menganggapnya sama. Bahkan, ada saja orang yang menganggapnya cuma sampah. Fiuh! Tapi gak usah heran, yang namanya kehidupan memang begitu kan, gak heran ada pepatah yang berbunyi, “memakan atau dimakan” atau sejenisnyalah. *gak nyambung*
Intinya, kalau menurut kalian gak penting, ya gak usah dibaca. Wkwkwk…
Dari judulnya juga udah ketahuan, gue cuma mau mereview anime Sakurasou No Pet Na Kanojo. Sebenarnya gue mau aja mereviewnya di path, tapi sepertinya akan mengganggu penghuni path yang lebih sering update moment, foto, lokasi, film, lagu, bahkan sampe jam bobo diupdate segala (gunanya apa ya? Untuk memberikan informasi kepada stalker bahwa jam tidur kita lebih dari 10 jam artinya kebo, kurang dari 6 jam artinya strong??). Gue bilang ganggu karena gak jarang yang mengkritik gue, “nulis path kok panjang banget!” lha, si path aja gak masalah soal karakter kok, beda sama twitter. Kalo gue nulis panjang di twitter silakan deh komen.
Sekalinya nulis di twitter, pake banyak status, dibilangnya spam. Hadeeeeh, dunia…. XD
Maka dari itu, gue memutuskan buat nulis tentang sakurasou di sini. Walaupun dikit, (kalau udah nulis di blog, yang dikit pun kadang jadi panjang. tuh, buktinya di atas ada basa-basinya dulu kan) gue tetep mau memajang itu di blog gue. Alasannya? Manusia tahu bahwa di blog itu gak mungkin cuma nulis satu kalimat kayak twitter. Kalau mau baca, silakan, kalau nggak, tinggal dilewatin. Gak bakal ada juga yang komen kepanjangan atau kependekan.
Gue suka sama anime sakurasou. Berawal dari iseng minta film buat mengisi waktu yang melelahkan menunggu dospem yang tak kunjung bertemu, gue minta anime naruto ke salah satu junior gue di kampus, mian. Sampai suatu saat, anime naruto yang beratus-ratus episode itu gue lahap sampai habis dan kehabisan sesuatu buat mengisi waktu, gue minta anime lain. Dan… diberilah sakurasou.
Jujur aja, gue sebenarnya agak merasa risih awalnya untuk meng-update di path kalau gue lagi nonton sakurasou (bahkan sampai sekarang gak gue update di path bahwa gue nonton sakurasou). Alasannya? Ada hentainya. Hihihi…
Tapi gue tekankan di sini, cuma episode awal-awalnya aja yang sedikit hentai. Dan dari situ pun dikemas sedemikian rupa sehingga yang hentai seperti itu bisa menjadi bahan tertawaan, bukan menjadi bahan pikiran jorok semata. Dan jujur aja, reaksi si tokoh utama, Sorata, yang bikin gue terpingkal-pingkal dengan tingkah dan suaranya yang lucu, berhasil membuat gue suka dengan anime ini. :3
Anime ini menceritakan kisah anak sekolah yang tinggal di sebuah asrama bernama sakurasou. Sakurasou ini sendiri seperti tempat kos campuran yang super heboh, dengan keberagaman penghuni di dalamnya. Ada yang introvert banget (Ryuunosuke), ada yang berbakat banget dalam anime (Misaki) tapi sifatnya “gila” banget dan childish banget, ada pula yang playboy banget (Jin), dan yang paling normal adalah si tokoh utama, Sorata. Gak lama setelah itu, ada pendatang baru, yaitu Mashiro dan Nanami. Ada juga gurunya, si Chihiro sensei yang masih menjomblo sebagai pengawas Sakurasou.
Semakin ke pertengahan, ceritanya bukan lagi cuma cerita haha-hihi yang mengangkat tema hentai untuk menggelitik pembaca, tapi juga mengaduk-aduk perasaan pembaca dengan roman percintaan mereka yang complicated. Bukan itu yang menarik buat gue sebenarnya, walaupun percintaannya Ryuunosuke yang paling gue suka. Wkwkwk… Bagian ending mereka yang berusaha mati-matian mempertahankan sakurasou, bagian di mana mereka mengejar mimpi mereka sebagai seorang individu dengan persaingan dunia yang tinggi, itu yang menarik buat gue.
Ada satu kalimat yang paling gue ingat: Sakurasou adalah Sakurasou. (ho-oh, yang gue ingat cuma kalimat gampang itu doang. Gak modal banget ya? *nangis di pojokan*) intinya, sakurasou bisa disebut sebagai sakurasou karena adanya orang-orang yang tinggal di sakurasou itu, yang membuat suasana kekeluargaan mereka tercipta. Dan yang bisa gue simpulkan, bukan sebuah tempat yang bisa membuat dan membentuk kita menjadi individu yang berbeda, yang mau berubah. Diri kita sendirilah yang bisa membuat, membentuk, dan memutuskan akan menjadi apa diri kita di tempat itu.
Dengan kata lain, bukan tempat yang mempengaruhi kita, tapi kita yang mempengaruhi diri kita sendiri dan menentukan, “akan menjadi apa kita di tempat itu?”
Dari ucapan “Sakurasou adalah Sakurasou” itulah, Sorata juga menekankan bahwa gak ada gunanya mempertahankan sakurasou jika salah satu anggota sakurasou tidak ada. Dengan kata lain, sakurasou bukan lagi sakurasou ketika salah seorang penghuninya harus pergi dan berkorban untuk mempertahankan sakurasou. Satu bagian telah hilang.
Selain keberadaan mereka yang ada di sakurasou, yang menarik buat gue adalah ketika mereka semua yang berusaha mati-matian menggapai cita-cita mereka. Nanami yang harus bekerja demi bisa membiayai sekolahnya sendiri, Sorata yang berusaha menjadi pembuat game… dan mereka harus merasakan jatuh bangun saat menjalani proses menuju cita-cita mereka. Dalam menggapai cita-cita itu, ada banyak hambatan, salah satunya tergilas oleh orang lain yang lebih berbakat ketimbang mereka. Gak heran kok, dunia ini menyimpan banyak orang berbakat, dan ada saat di mana orang biasa merasa patah semangat ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka kalah dengan orang-orang yang berbakat. Rasa iri pun muncul, sedih, kecewa, marah, semua campur aduk. Hancur.
Dari yang gue tangkap di sini, gue gak memungkiri bahwa memang banyak manusia yang dianugerahi bakat yang tak jarang membuat iri orang lain yang hanya bermodalkan “minat”. Akan tetapi, anime ini sendiri mengajarkan bahwa orang yang berbakat aja berusaha loh, masa lo yang cuma bermodalkan minat bisa sesantai itu? *serasa dicambuk, kan?*
Nah loh. Tadi bilangnya mau nulis dikit, kok jadi panjang, ya? Huft…
Di anime ini memang gak mengajarkan gimana caranya bersaing dengan orang berbakat… wkwkwk… penonton mesti mencari tahu sendiri jalannya, dan disuguhi cerita tentang masa muda yang tetap harus menjaga spiritnya dalam berjuang menggapai cita-cita. Kan udah dikasih clue di atas, tinggal dibaca lagi. XD
Udah dulu deh ngocehnya, kucing gue si Ouni udah berisik minta makan. Good night, dan keep our spirit for fighting! :D
*Lanjut skripsian*

ps: judulnya cuma buatan iseng gue, pengen terlihat keren gituuu, bukan bagian dari judul aslinya. wkwkwk... XD

Depok, 3 Maret 2016, ditemani seekor kucing iseng bernama Ouni

Saturday, August 1, 2015

Pekerja di Bawah Umur



Entah keisengan apa yang membuat gue lanjut menulis lagi. Tadinya ingin menghujat soal ospek, ah tapi sudahlah. Orang-orang di negeri ini memang suka diospek dan mengospek, jadilah turun temurun dilaksanakan dan sangat sulit untuk dihilangkan karena sudah mengakar. Tapi sedikit membahas tentang itu, gue sebenarnya kasihan sama orangtua yang anaknya diospek. Bayangin, demi memenuhi permintaan senior, orangtua yang bersusah payah. Gak dapet pun tetap diambekin sama si anak, karena takut dijahatin sama senior. Ah, tapi sudahlah~
Yang ingin gue bahas hari ini tentang suatu fenomena yang mengganjal di pikiran gue, dan ingin banget menuliskannya dalam blog. Ini soal… “Para Pekerja di Bawah Umur”.
Biar judulnya kerenan dikit gitu, padahal maksudnya cuma… hihihi! Nanti aja, penjelasannya ada di bawah kok. :D
Fenomena ini kan udah sering kita lihat sendiri, gak mungkin ada yang belum pernah lihat. Sering kan, lihat anak-anak yang kerjanya ngamen di angkot-angkot, minta-minta alias ngemis, ojek payung, sampai jasa cuci mobil yang cuma gesek-gesekin spons gak jelas ke badan angkot ditambah secuil sabun colek biar keliatan busanya pas hujan. Ada yang belum pernah lihat? Kelewatan! Gak pernah keluar rumah, ya? Haha…
Kadang pernah gak sih, kepikiran? Kenapa mereka gak di rumah aja gitu, jadi anak-anak selayaknya yang sekolah di pagi hari, tidur siang, bermain di sore hari, dan malamnya belajar? Pasti masih ada kan, yang kepikiran begini, “Ini maknya jahat banget, beraninya mengeksploitasi anak sendiri biar dapet keuntungan, biar maknya gak usah kerja?” hayoo jujur…
Ada satu sisi, memang, anak dieksploitasi oleh mak-mak tega. Itu terlihat ketika ada oknum pengemis yang mengemis dengan membawa anak. Tapi ingat, gak segelintir pengemis itu MENYEWA anak orang lain! (tapi memang, jahat juga ya, mak dari anak yang rela menyewakan anaknya biar jadi pengemis?)
Para pekerja di bawah umur juga memiliki beberapa alasan kenapa mereka mau melakukan pekerjaannya. Kalau dipikir secara logika, mungkin ada anak-anak yang ingin nambah uang jajan makanya jadi tukang ojek payung (tapi ini pikiran gue, karena biasanya anak-anak ojek payung bajunya masih lebih rapi dibanding pengemis maupun pengamen). Bisa juga mereka senang bermain hujan, sehingga sekalian aja buat dapetin uang. Tapi itu pemikiran gue ya, gue sendiri gak yakin apakah anak-anak itu pikirannya seperti itu atau tidak.
Tapi satu hal yang pasti, waktu gue kerja dulu di apotek, ada seorang anak yang selalu menukar receh logaman, tanpa mengamen di apotek kami. Tentu saja receh seperti itu kami butuhkan, karena memang kekurangan receh. Suatu waktu, store manager (SM) gue yang kepo bertanya sama anak itu.
“Dek, kamu ngamen, ya?” tanya si SM.
“Iya, Mbak…” jawab si pengamen cilik.
“Papa Mama kamu mana? Kok kamu yang nyari uang?”
“Mama kerja sampai malam, (entah kenapa gue lupa, dia gak bahas bapaknya) jadi aku nyari uang dengan ngamen.”
“Emangnya kamu gak sekolah?” keponya si Mbak SM masih terus berlanjut.
“Aku sekolah pagi, setelah pulang sekolah, aku ganti baju sebentar, lalu lanjut ngamen sampai malam. Biasanya ngamen sampai jam Sembilan malam baru aku pulang.”
“Kenapa harus ngamen, dek? Emang Mamanya gak ngasih uang?”
“Mama dapet uangnya sedikit, Mbak. Aku ngamen biar bantu-bantu Mama juga.”
Sekian percakapan yang gue inget. Intinya, dia bukan dieksploitasi oleh ibunya, melainkan tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan uang agar bisa membantu keuangan di keluarganya. Bayangin aja, anak SD aja bisa kepikiran buat ngamen supaya bisa bantu-bantu ibunya, biar gak pusing kekurangan uang. Mungkin juga dia pernah merasakan “panggilan” dari sekolahnya karena nunggak SPP.
Yang gue gak habis pikir, banyak anak-anak yang seperti itu. lalu, apakah pantas anak-anak itu bekerja, sementara ada undang-undang yang menyatakan bahwa tidak boleh mempekerjakan anak di bawah umur? Lalu, apa peran pemerintah untuk mengatasi masalah ini sendiri?
Kalaupun mereka “dipaksa” untuk tetap bersekolah saja dan tidak diperbolehkan untuk kerja, apakah sekolah mereka ada gunanya? Pertanyaan gue, adakah kerjaan yang mencakup seperti ini, “Kapan perjanjian Linggar Jati dilaksanakan? Di mana?” atau “perbatasan sebelah selatan dari Indonesia adalah…”
Andai ya, andai… mereka tetap lanjut sekolah tanpa mengamen. Mereka tetap kekurangan uang, yang kemungkinan akan membuat putus sekolah, sehingga pendidikan mereka juga akan stop sampai di situ. Tak lulus SD, mau jadi apa? kalau udah umur dewasa, udah boleh ngamen lagi gitu?
Siklus tak bisa dihentikan. Kamu dan kamu, tak bisa menghentikan siklus itu sendiri agar bisa mempengaruhi kehidupan orang lain. Kamu, apa yang bisa kamu lakukan ketika kamu yang bertugas mengamankan anak-anak itu agar tidak ngamen lagi di jalanan? Bisakah kamu menjamin pendidikannya dengan menyetop pemasukan yang ia hasilkan? Kamu, yang melarangnya menghasilkan uang, bisakah kamu menjamin masa depannya agar bisa lebih baik dari sekarang apabila berhasil menghentikan pekerjaan remehnya ini (di pandanganmu)?
Menurut gue yaaaa, lagi-lagi ini menurut gue. Kalau misalkan gak diperbolehkan kerja di umur segitu, seenggaknya didiklah mereka agar memiliki suatu kompetensi di usia dini. kalau bisa, gratis. Maksud gue, bukan dengan pengajaran umum seperti geografi atau sejarah yang bahkan gak dipakai di bidang farmasi (ini contoh saja), tapi berilah mereka sebuah keterampilan dalam menghadapi dunia kerja nanti.
Nahloh, kalian pasti menganggap gue juga eksploitasi anak-anak dengan mengajarkan mereka seperti itu di usia dini?
Coba pikirkan. Mengajarkan sesuatu itu tidaklah instan. Berbeda dengan ngamen atau ojek payung yang bisa bermodalkan suara dan payung lalu bisa mencari uang, bukan maksudnya hal itu. maksud gue di sini, ada sekolah yang bukan sekolah umum, tapi sekolah yang bisa mereka bisa bekerja di usia dini. Anggaplah mereka membantu kerja di toko kelontong mengikat gula, merapikan barang-barang dan mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan. Atau kalau misalkan anak desa, bisa diajarkan untuk bercocok tanam di ladang/kebun. Anak-anak senang kok, melakukan petualangan. Karena gue anak petani, dulunya gue senang banget ikut bapak dan emak gue ke ladang. pake sok-sok'an mau macul segala, padahal tinggi gue dan pacul sama, dengan hasil akhir kaki gue yang kena pacul. Hahaha! (pas berdarah, gue injak dengan kaki sebelahnya lagi, padahal kotor kena tanah. Gak berani bilang, takut gak dibolehin macul lagi. Sampe rumah cuma minta hansaplast sambil jujur. XD)
Ada juga teman gue, usia SMP udah jadi loper koran. Bermodalkan sepeda, tiap pagi dia mengantar koran ke rumah-rumah. Dengan usahanya itu, hasil yang ia dapatkan bisa membiayainya sekolah sampai lulus SMP.
Yang paling gampang itu ajarin berniaga sejak kecil. Anak-anak lumayan jago lho dapet simpati, apalagi kalau pintar berjualan, setidaknya bisa jualan di sekolahnya. Coba deh kalian lihat kembali ke masa lalu (buat yang udah tua), pasti ada aja kan, teman kalian yang jualan pas lagi masa sekolah? Entah itu jualan pulsa, jualan coklat, atau sekadar memenuhi tugas kewirausahaan yang mewajibkan berjualan.
Sekolah menengah di Finlandia aja nih, udah mau menerapkan sistem pendidikan yang mencakup penerapan sehari-hari atau di bidang kerja di tahun 2020 nanti. Seakan-akan mereka sedang menyiapkan tenaga kerja dari usia dini, agar pada waktunya siap untuk bekerja. Negara kita sendiri ada yang seperti itu di SMK. Gue sambungin lagi ya, andai anak-anak tadi yang gue bahas di atas ternyata gak bisa sampai SMK, mau jadi apa dia?
Maka, berbahagialah kalian yang menjadi anak-anak normal, tanpa harus memikirkan masalah keuangan keluarganya di usia dini. Gue juga beruntung walau dulu sempat terhimpit masalah itu, tapi gak sampai ngamen (karena dulu gak pernah lihat ada anak SD yang ngamen di Pontianak) dan tetap bersekolah, orangtua gue yang bekerja membanting tulang. Karena itu, gue yang sekarang udah menjelang skripsi, berharap bisa secepatnya menyelesaikan studi gue dan gantian gue yang nyari uang buat orangtua.
Puyeng ya, mikirin masalah orang. Masalah sendiri aja gak dikelarin. Sekali lagi, itu semua hanya pemikiran gue aja, uneg-uneg gak jelas. Udah ah, cau… bye byeeee… :D

Sunday, December 7, 2014

Ocehan Tentang Sosfar



Kali ini, gue bakal cerita tentang acara sosfar yang diadakan pada tanggal 28, 29, dan 30 November 2014 lalu. Sosfar sendiri merupakan kependekan dari sosialisasi farmasi, semacam orientasi jurusan farmasi di kampus gue.
Gue gak bakal cerita tentang rapat-rapat persiapan menuju acara (karena semua itu rempong dan gue emang tipikal orang yang gak suka rapat, lebih doyan terjun langsung di hari H). yang bakal gue ceritain di sini adalah pas hari H.

28 November 2014, pagi, hari ketika persiapan keberangkatan
Awalnya, gue memilih untuk naik di hari ini karena mengira bakal ada kuliah jam 8 pagi. Gue udah terlalu banyak absen untuk mata kuliah yang satu itu, padahal itu mata kuliah semester tujuh. Daripada naik di malam jumat dan harus bolos, gue memilih untuk naik bareng peserta.
Eeeeeh, ternyata semua mata kuliah libur, termasuk mata kuliah semester tujuh itu. kirain yang diliburin cuma mata kuliah semester lima. -___-“
Gue datang jam setengah delapan, mengira akan ramai karena pra registrasi peserta tertulis jam segitu. Tapi yang namanya orang Indonesia, jam karet sudah menjadi makanan sehari-hari. Alhasil, di kampus cuma ada anak-anak yang persiapan naik ke Citeko pada pagi hari. Hafiuh!
Untungnya ada si Bajegh yang datang pagi. Jadilah gue ngebolang bareng dia mencari jas hujan sesudah mengisi perut, yang ternyata cuma menghabiskan kalori karena gak nemu satupun jas hujan. *pukpuukin diri sendiri*
Usai merasakan cape setelah berjalan lumayan jauh, kami mampir ke perpus. Pengunjung perpus yang pertama adalah Kak Ken (nama samaran). Bajegh langsung masuk tanpa mengisi buku tamu, dan gue ngejek dia, “weh, gak usah terpesona gitu kali ngeliat dia, sampai gak ngisi buku tamu.”
Bajegh ketawa malu, menunggu gue yang sedang mengisi buku tamu. Tak lama setelah itu dia tertawa, dan membalikkan perkataan gue, “Gak usah terpesona gitu kali liat Kak Ken, sampai ngisi buku tamu aja masih yang kemarin, bukan yang hari ini.”
Aaaazzz… serius deh, gak ngeh kalau ternyata pengisian buku tamu ada di halaman selanjutnya. Padahal Kak Ken itu kakak pujaan hati Pipeh, tapi malah kami yang terhipnotis.
Lebih tak disangka lagi, setengah jam setelah itu, pengunjung perpus yang tak disangka-sangka muncul. Kesegarannya mengalihkan duniaku. (lebay!)
Kak S, dengan santainya berjalan menuju Kak Ken, lalu berbincang-bincang dengannya. Mereka membahas tentang sosfar, dan informasi yang gue dapat adalah… mereka akan datang sosfar! Horeeeee!
***
Masih di hari yang sama, gue yang masuk divisi perlengkapan masih saja merasa sebagai seorang yang tolol, magabut, dan segala macam julukan untuk seorang pengangguran lainnya. Helooooo, divisi perlengkapan biasanya sibuk, gue? Gue malah gak tahu harus ngapain!
Alhasil, selagi panitia lain sibuk berseliweran di sekitar peserta maupun di himpunan untuk mengurus kesibukannya sendiri, gue bengong. Tapi tak lama setelah itu, gue menemukan pekerjaan yang membuat gue bahagia tak terkira. Walau ini bukan acara yang menghasilkan uang atau memberikan gaji buat gue, gue bukan orang yang doyan nampang nama lalu gak usah kerja. Gue orang yang harus membuktikan ke atasan bahwa gue adalah seorang yang berguna, bukan berguna di permainan adu mulut bacot segala macam, tapi berguna dan menampilkan hasil. Gue… gue mulai mengangkat aqua gelas dari himpunan menuju tronton! Yeeaaaay!
*asli, itu cukup bikin gue encok, tapi gue tahan aja karena gue cewek strong!*
Semenjak itu, pekerjaan gue mulai bertambah. Gue sibuk mencari kayu bakar, mengangkat kayu ke tronton, menyiapkan perlengkapan untuk sosfar dan menaikkannya di tronton. Cukup menguras tenaga juga, tapi yang pasti gue senang. Gue senang banget, karena gue gak cuma nampang nama dan nampang eksis di kepanitiaan.
Di saat gue udah mulai cape, muncullah bacot dari seorang teman gue di grup watsap. Ia mempermasalahkan soal ayam. Percaya deh, 9,8 dari 10 orang akan menganggap lo sebagai orang banyak bacot yang gak bisa ngerjain sendiri tugas itu.
Lebay ya? Biarin. Gue gak ikut evaluasi sih.
Di saat orang lain membahas tentang persiapan, baik itu memanggil anggotanya untuk briefing, atau mencari perlengkapan yang belum terpenuhi, ia sibuk sendiri mencari orang untuk bekerja mengurusi ayam. Ayam, ayam, dan ayam. Puncak kerewelannya terlihat ketika ia berkata seperti ini, “yaudahlah ya, kalau ayamnya gak mau dijemput, gak usah dibawa aja ya.”
Gue yakin, kalau ayam-ayam itu masih hidup, orang yang menulis itu di watsap udah pasti dipatok sampai botak, lalu si ayam akan naik ke tronton sendiri tanpa harus dijemput. Anggap saja seperti itu.
Gue gak mau nyebut nama, tapi yang pasti lo sadar kalau yang gue maksud adalah lo, kan? Gue cuma mau kasih tahu aja, di saat seperti itu, semua panitia sibuk, gak cuma yang ngurusin ayam. Gue sendiri sampai harus gotong ini itu, sampai menahan malu buat diliatin peserta karena bawa-bawa sapu dan pel ke tronton, seakan ada Hermione sedang lewat membawa sapu terbang ingin ikut pertandingan quidditch. Tapi gue senang, karena gue ada kerjaan. Bukan dengan mengeluh sambil berkata, “weh! Kalau sapunya gak dijemput dan dibawa ke tronton, yawdahlah ya gak usah diharepin kerjanya di Citeko!”
Atau saat kayu bakar (dan itu anak perlengkapan yang ngurus), apa gue harus bilang, “Yawdahlah ya kayu bakarnya gak usah dibawa sekalian karena dia ngambek gak dijemput, nanti buat api unggunnya bakar aja salah satu ruangan di vila yang kita sewa aja.”?
Sudah, lupakan. Tanpa gue umbar semua itu, banyak kok yang sadar keegoisan lo.
Lanjut.
Peserta mulai memasuki tronton. Gue dan Bajegh sepakat untuk gak satu tronton sama dia, atau sebisa mungkin gak di tronton panitia. Gue sendiri lebih senang di tronton peserta. Selain bisa memantau peserta, kita juga bisa lebih leluasa tanpa harus mendengar ocehan ayam.
Sungguh, ocehan tentang ayam itu sempat membuat gue eneg sama ayam.
Sesampainya di vila, gue sebagai divisi perlengkapan lagi-lagi harus mengurusi si kayu bakar. *setelah gue pikir-pikir, kenapa gak gue bilang aja seperti yang di atas ya, biar gak perlu repot gitu? Haha!* gue dan Bajegh meminjam motor ketua panitia untuk mengangkut beberapa barang. Kayu bakar menjadi penumpang pertama kami.
Di tengah jalan, gue bertemu si “ayam”. Dia gak bosan-bosannya mengingatkan kami untuk mengurusi ayam. Helooooo, gak liat nih, gue megang apa? mau coba jadi sate ayam ya, lo??? *sambil menunjuk kayu bakar yang bisa dijadikan tusukan sate ayam jumbo*
Dan untungnya, ada anak cowok yang sudah membawakan ayamnya. Huft, syukurlah…
Perjalanan kayu bakar selesai, lalu kami kembali dan mengangkat beberapa barang. Gue bawa HT, sebuah tas ransel yang ada di punggung (bukan tas gue), dan dua dus aqua gelas di pangkuan. Ketemu lagi dengan si ayam, lalu dia berkata, “bawain tas gue dooong!” seakan matanya terkena glukoma mata stadium akhir tanpa bisa melihat barang bawaan kami.
Dan saat gue berjalan ke atas (yang ini jalan kaki, karena tronton sudah turun di depan gang vila, jadi gak perlu naik motor lagi), bertemu lagi dengan si ayam. “Nci, harusnya tadi lo bawain tas gue.” Dia berkata begitu, dan gue menahan hasrat untuk menjadikannya sate ayam bumbu kecap…
***
Sisa hari itu gue pakai dengan menggotong barang-barang. Divisi perlengkapan memang harus strong, walau gue ini MASIH cewek. Fisik gue juga gak kuat-kuat amat, tapi gue bersyukur memiliki seorang koordinator yang pengertian banget bahwa kodrat gue MASIH cewek (dan tak ada niat untuk mengubah gender). Koor gue berusaha menyelesaikan apa yang bisa diselesaikannya sendiri tanpa harus menyuruh orang seperti babu. Intinya, divisi perlengkapan kami sendiri memang divisi yang HARUSNYA lebih mementingkan KERJA dibanding BACOTAN. Dan kenyataannya, memang seperti itu.
Gue senaaaang banget, gak salah memilih divisi. Walau lelah, gue bisa bilang bahwa gue bahagia memiliki koor yang bekerja menampakkan hasil, bukan yang hanya menyuruh-nyuruh saja, seperti yang akan gue ceritakan setelah ini.
***
Malamnya, gue kelaparan. Tentu saja, berapa banyak makanan yang masuk pun terasa hilang karena kerja yang menguras tenaga. Gue masih saja mengangkat ini itu dan berkeliling, mencari kesibukan maupun koordinator yang susaaaaaah banget buat ditemukan. (jelas kan, perbedaannya?) Bajegh yang juga sudah kelaparan karena kerja kerasnya pergi ke ruang konsumsi untuk mengisi perut (dia divisi acara, tukang gerak dalam sosfar, bukan tukang babu seperti gue. Hafiuh! Gue nyebut babu bukan dari anggapan gue, tapi dilihat dari sisi orang yang menyuruh gue membawakan tasnya itu).
Satu tampah dengan nasi yang sedikit, dilahap bersama oleh 8 orang. Pastinya kelaparan, kan? Saat akan minta nambah, koor konsumsi dengan muka jutek berkata, “kalau nambah, bayar!”
Dan Bajegh yang masih kelaparan dan mulai naik pitam, mengeluarkan uang seratus ribuan. “Gue bayar nih, serius! Tambah sekarang!”
“Yang boleh ditambah nasinya doang,” si koor konsumsi masih berbicara seperti itu, dan membuat Bajegh makin naik pitam. Gue, Pipeh dan Winda berusaha meredamnya, memberikan pukpuukan yang sepertinya tiada hasil. Dari situlah, gue dan Winda sepakat untuk membeli makanan di luar.
Begitu selesai membeli pecel lele, gue kembali dan mendapat ejekan dari seseorang.
“Lo divisi perlengkapan, ya? Yang sabar ya, lo dicap jelek tuh, diomongin.”
Hah? Sama siapa?
Dan gue gak tahu, karena ada sesuatu yang terjadi di saat gue keluar membeli makan. LCD di ruang acara gak mau nyala, dan gak ada anak divisi perlengkapan. Ternyata dicap jelek oleh dosen dan tim acara (tapi tim acara alias Bajegh sendiri berkelit, berkata bahwa mereka hanya bilang bahwa LCD mati dan gak ada orang, itu saja). Gue sih biasa aja, apalagi LCD sudah menyala dan kembali berjalan, walau gue sadar itu keteledoran yang gue sebabkan karena keluar membeli makanan. Tapi, kembali lagi. Salah siapa sampai kami harus membeli makan di luar?
Saat gue ke ruangan konsumsi membawa si lele untuk kahim yang sedang sakit, koor konsumsi melotot.
“Ini dibeli dari luar?”
“Iya.”
“Siapa yang beli? Kenapa harus beli di luar sementara masih ada makanan di sini?”
“Winda. Coba aja sonoh, tanya dia sendiri.”
Gue yang menjawab itu merasa sedikit bersalah sama Winda, karena menjadikannya kambing hitam di saat ia tidak ada. Maaf, Windaaaa… tapi masa iya sih, si koor mau marah-marah di depan orang sakit dan menarik lele itu dari si sakit? Dia mau membunuh anak orang? Pake berani nanya segala lagi, “kenapa beli di luar padahal ada makanan”.
Oke, lupakan yang rese-rese.
Gue dan Winda membawa si lele ke depan ruangan acara, melahapnya bersama dengan panitia lain yang sedang berjaga di depan ruangan itu. awalnya, si Bajegh yang lapar merasa kesal karena tidak ada yang mau membantunya menghabiskan si lele dan nasi uduk, tapi tiba-tiba saja meja itu sudah dipenuhi oleh 5 orang, termasuk gue. Ketahuan kan, kita kelaperan banget walau sudah dapat makanan?
Lele itu pun habis, tinggal tulang belulang yang kalau ditanam mungkin bisa menjadi ayam esok paginya.
Usai itu, gue bercengkerama dengan anak-anak panitia yang sedang berjaga di depan ruangan. Gue menyuruh Dian, Gusti dan Akuf untuk tidur, melihat tampang mereka yang sudah kucel banget dengan kantong mata yang menghitam. Mereka para cowok yang naik di malam jumat (kecuali akuf), dan gue yakin mereka cape banget. Dian yang masih berusaha tersenyum lemah masih menolak, hingga gue tarik kedua tangannya untuk beranjak dari kursi, supaya mereka berjalan menuju ruang istirahat. Ketika Dian sudah berjalan, di saat itulah Gusti dan Akuf ikut. Akhirnya… biarlah yang berjaga cewek-cewek strong dulu, usai itu, gantian.
Nah, di saat para cowok sudah tidur, giliran cewek-cewek bergosip. Bajegh berkata, “Wah, siapa yang ngirimin pulsa sepuluh ribu, nih?”
Lalu si Winda menjawab, “iya nih, udah jam 10. Kasihan anak-anak pesertanya belum istirahat…”
Dan gue, Bajegh, dan Rebbeca tertawa ngakak.
Lalu si Bajegh bertanya, “Lo denger kan, apa yang gue bilang barusan?”
“Gue klarifikasi dulu deh,” gue menjawab, “Yang gue denger tadi, lo bilang kalau whatsaap harganya sepuluh ribu. Benar gak?”
Lalu Bajegh tertawa lagi, bersama si Beca dan Winda.
Bajegh kemudian memastikan pendengaran dari orang di sebelahnya, Beca.
“Yang gue dengar malah kalian lagi ngomongin Bu Emil.”
Maka pecahlah malam itu, diiringi suara tawa yang tertahan. Ya iyalah, di depan ruangan peserta gitu, masa ketawa keras? Ternyata cewek-cewek strong ini pun sudah mulai kehilangan fokus… XD
Malam itu dilewatkan dengan evaluasi tim konsumsi yang hanya dihadiri oleh koordinatornya, sehingga ia bisa berbicara seenak jidat. Anggotanya sendiri tak dibangunkan. Gue yang mengikuti rapat evaluasi itu sambil terkantuk-kantuk, dan bersyukur ketika rapat itu selesai juga.
Begitu selesai, barang-barang gue yang tadinya ada di kamar bawah, gue pindahkan ke atas, ke kamar cowok. Kamar cewek yang di bawah penuh sesak, dan dimonopoli oleh gadis-gadis. Ngerti kan, bedanya kamar cowok dan cewek di saat acara dan di saat kamar biasanya?
Oke. Gue jelasin.
Kamar cewek, di saat biasa, kemungkinan bersih karena cewek lebih rajin membersihkan kamar. Tapi, di saat acara, kamar itu menjadi sarang pergumulan, sarang tidur-tiduran, sarang… cewek. Pokoke kamar itu justru terlihat penuh sesak, entah karena barang-barang yang bertebaran di sana sini, maupun penghuni yang ada di dalam kamarnya (ada kok yang tiap gue masuk kamar selalu ada dia di dalamnya. Padahal gue ke kamar Cuma pas buat tidur aja).
Nah, kalau kamar cowok?
Kamar cowok, pas keadaan biasa, kemungkinan berantakan banget. Nah, pas acara bersiiiiiih banget. Kosong melompong. Penghuninya berkeliaran di acara, jarang menemukan satu makhluk cowok pun di dalam kamar. Serius deh, ketemunya pas mereka udah kayak orang mati aja, tepar gitu. Kalau di kamar cewek, masih kemungkinan bertemu sama gerombolan cewek yang bergosip di atas kasur, sambil melahap camilan.
Maka dari itu, selepas evaluasi, kamar cowok yang terdiri dari 4 kasur, tiga telah terisi dan bahkan ada yang langsung tidur. Gue, Winda dan Pipeh tidur di satu kasur paling pojok.
***
29 November, hari yang cukup melelahkan
Terbangun karena dibangunin, padahal baru tidur dua jam itu rasanya… hafiuh banget. Jam 4 pagi udah dibangunin, padahal gue sendiri baru tidur jam setengah 3. Merem meleklah jadinya.
Di hari ini, gue gak terlalu memusingkan hal lain, tapi lebih fokus ke diri gue sendiri yang masih belum mau melek. Pipeh dan Gusti yang sudah melek menjadi instruktur olahraga di jam 6, menampilkan kegokilan mereka yang… absurd. Yang gak gue sangka, si Gusti yang biasanya cuek malah ikut terjun ke dalam kegilaan itu. haahaaa!
Usai olahraga, gue masih ngantuk, dan izin untuk tidur. Tapi sampai di atas kasur masih saja gak bisa tidur. Setelah guling-gulingan hampir setengah jam, gue kembali ke lapangan. Dan… gue bertugas berkeliling, mencari apa yang bisa gue kerjakan. Di sana sini terlihat beberapa panitia yang bergosip, kadang gue nimbrung, kadang gue pergi. Pokoknya, di jam 2, gue balik ke kamar (dan benar-benar gak ada orang), di saat itulah gue tidur.
Gue tidur selama satu jam, dan itu benar-benar lumayan banget buat menyegarkan badan. Begitu bangun… segala pegal langsung terasa! Huwaaaaah…
Gue yang gak dapat jatah makan siang (karena terlewat), lanjut mengerjakan segala sesuatu untuk menyiapkan perlengkapan untuk persiapan malam inagurasi. Para cowok di divisi perlengkapan mulai menyiapkan lampu sorot dan segala macamnya, mengangkut kayu bakar ke tengah lapangan dan gue membantu sekenanya, sampai membuat garis batas dari tali semuanya kami lakukan.
Gue lupa karena sebab apa gitu, Gusti ngambek dan jutek sama gue. Gue nyuruh dia untuk melakukan sesuatu, tapi dia gak mau. Gue jambak dia (sepertinya rambut merupakan hal sensitif buat dia), yang membuat dia langsung marah besar. Gue langsung merasa bersalah, apalagi terlihat beberapa teman yang mendukung dia dan menghibur agar dia tak marah lagi (padahal itu cewek).
Gue melakukan itu karena gue kasihan sama teman cewek gue di divisi perlengkapan, Winda dan Pipeh. Mereka sudah terlihat cape, apalagi gue yakin mereka wanita tulen. Disuruh bolak balik di kawasan vila seluas itu sambil membawa ini itu tentu membuat fisik mereka terkuras habis, begitu pula gue.
Di saat itu, gue merasa menyesal banget sebenarnya. Gue mau minta maaf ke dia, tapi gengsi. Gue bingung mau minta maaf dari mana, sampai akhirnya gue berusaha cuek-cuekan padahal gue gak mau sampai hal itu terjadi.
Sampai malam pun dia masih memasang tampang jutek. Huh!
Malamnya, divisi perlengkapan sibuk bukan main. Persiapan mencari alternative lain juga dilakukan karena hujan turun semaunya. Alhasil, kami mencari ruangan yang bisa dipakai dan mulai menggelar karpet dan terpal. Di saat bersamaan, kami bertemu dengan divisi konsumsi yang sedang mengantar makanan ke para peserta. Iseng gue nanya, “Gimana, cape?”
“Iya nih. Ngap.”
Kehabisan napas, ya?
Untung kami divisi perlengkapan banyak persediaan oksigen dalam paru. Anak divisi perlengkapan yang kadang merangkap menjadi pengantar makanan (gue sering melakukan itu) gak bakalan merasa ngap Cuma karena sekali perjalanan. Kami berusaha menahan ngap itu. kebayang gak sih, nyari perlengkapan ke sana kemari, nganterin makanan, ini itu yang gak bisa gue sebutin satu persatu, bisa gak dibandingkan dengan sekali perjalanan itu?
Sudah. Gak usah emosi. Gue cuma kasihan sama Winda yang sampai kakinya bengkak karena tiga hari bolak-balik di vila seluas itu, kadang masih membantu divisi lain. Kakinya merah (entah, mungkin biru) karena membeli gas (bahkan yang membeli gas pun dia lho, dan memangku dua gas di pahanya).
Tapi gue senang banget ketika ada yang menawarkan diri, “Kak Stef, kalau divisi perlengkapan ada yang bisa dibantu, bilang aja, ya…”
Gue merasa terharu dengan tawaran ini, walau hanya satu orang yang menawarkan. Hiks! XD
Dia divisi pubdok, dan akan gue sebut namanya: Tamara. Dia anak yang baik, ya?
Tapi di sisi lain, ada yang memarahi s divisi pubdok, menganggap mereka tak bekerja dan berleha-leha  di bagian acara, sementara di bagian konsumsi sudah diambang kematian (plis, bilang kalau gue lebay!). Si ayam, seksi ribet, mulai ngoceh-ngoceh kembali dan memarahi anak-anak yang berada di atas.
“Kalau kalian bisa santai-santai di sini, mending bantuin di bagian konsumsi!”
Sudahlah. Gue Cuma gak tega sama Tamara yang membawa nama divisi pubdok. Dia sedang pegang kamera lho, pas nawarin bantuan ke gue…
Plis, anak baik semacam dia gak boleh dijahatin, kan?
Hati gue panas, tapi gue udah lemes. Mau gak mau, gue Cuma diam aja, apalagi si ayam membahas itu di depan peserta. Entah ke mana otaknya saat itu. maka dari itu, gue tahan.
Yuk ah, lanjut ke cerita lain. Skip-skip aja.
Acara malam inagurasi selesai jam 12.30, lalu semua panitia menyebar. Tim acara enak, begitu selesai bisa langsung tidur di kamarnya yang dekat dengan posko darurat malam inagurasi (yang gue bilang harus pontang-panting nyari alternatif supaya gak kena hujan itu lho). Panitia lain? Gak tahu deh. Pokoknya gue ke posko konsumsi bareng Winda, Pipeh, dan Bege(dimas). Sebenarnya semua sudah ngantuk, tapi terjadi keributan yang sudah selayaknya terjadi di acara selevel sosfar. Ada yang ribut-ribut, dan panitia cowok benar-benar harus turun tangan semua menanganinya. Cowok di farmasi itu terbatas lho, jangan mengira sebanyak jumlah anak cowok di jurusan teknik, ya!
Di posko konsumsi, gak ada yang berani kembali ke ruangan karena saat itu alumni sudah banyak, terlebih karena ada keributan. Gue sendiri gak berani ke atas. Tapi tiba-tiba aja anak keamanan, Nadhil, bilang bahwa kami harus tidur.
“Kalian tidur aja, sift-siftan. Jadi pas kami butuh istirahat, gentian kalian yang bekerja.”
Gue langsung bangunin bege yang lagi tidur di meja.
“Ge, balik ke kamar yok. Tidur.”
Memang beruntung banget deh ada si Bege. Dia anak konsumsi yang murtad pindah ke perlengkapan (karena gak tahan dengan polemik dalam rumah tangga konsumsi). Tapi gue bersyukur. Dengan begitu, anak perlengkapan bertambah satu, yeaaah!
Gue bersyukur lagi, (setelah mendegar cerita dari orang lain), bahwa saat itu yang tidur jam 1 ya kami ini yang berjalan menuju ruangan. Selebihnya, beberapa panitia terjebak dalam posko konsumsi sampai jam 3, belum tidur sampai waktu itu karena tak berani kembali ke ruangan.
***
30 November 2014, Grabak grubuk di jam 3

Berhubung sudah terhitung sebagai tanggai 30, maka gue masukin ke bagian judul yang lain.
Di jam 3 pagi, pergantian sift mulai terasa.
“Weh, bangun dong! Gantian jaga! Gue belum tidur nih!”
Hmmm.
Dan terjadi pembangunan massal, dari anak-anak yang tidur nyenyak di atas kasur oleh anak-anak yang selesai berjaga dari keributan. Mereka lelah, dan gue bisa tahu itu dari suara mereka.
Gue yang masih setengah sadar, mendengar dan menyimak percakapan mereka. Yang tidur masih belum mau bangun (gue dengar dari anaknya seusai acara, bahwa salah satu yang tidur itu baru saja menempelkan badannya ke kasur setelah tidur gak nyenyak di lantai, eeeeeh malah udah dibangunin). Stok ruangan berkurang karena kedatangan para alumni yang cukup banyak, dan beberapa dari mereka harus tidur di lantai. Duuuh, sedih mendengarnya.
Tapi, yang wajib gue kasih jempol adalah…
Para cowok itu gak membangunkan cewek-cewek, termasuk gue dan dua teman gue lain yang tidur di kamar cowok. Mereka sibuk membangunkan cowok yang tidur (entah itu baru tidur ataupun yang sudah tidur beberapa jam). Huwaaaah, mereka cowok yang…. Good boy banget! :D
Dan… gue kembali tidur setelah pergumulan itu.
Jam 4. Alarm bunyi, tapi gue biarkan. Mata gue gak bisa diajak kompromi, alhasil gue kembali tidur sampai jam 6.
Gusti yang sudah bangun, mulai membangunkan anak cewek di kamar cowok (ya ngertilah, maksudnya gue, Winda, dan Pipeh). Awalnya, gue kira dia cuma iseng (dan sampai sekarang masih mengira dia iseng), soalnya dia Cuma memanggil dalam suara bisikan. “Weh, bangun weeeh.”
Tapi, dia membisikkannya dari jarak jauh (gak di kuping gue) dan berkali-kali. Seakan itu mantra yang menjampi-jampi gue, gue bangun. Dipanggilan pertama, gue masih mengira dia memanggil yang lain dan masih terasa hawa jam 4. Saat gue melek, gue langsung sadar kalau sudah pagi, dan dia masih membisikkan kalimat itu. Saat dilihat lagi…
Jam 6!!!
Gue langsung heboh dan membangunkan dua sobat gue yang lain yang masih belum melek, tanpa sadar memikirkan mereka masih butuh tidur atau tidak. Namanya juga baru bangun, yang gue lakukan masih setengah sadar. XD
Si Arum, koor gue, mulai membangunkan anak cowok lagi. Dia belum tidur, meminta giliran tidur.
“Weh, lo lama banget tidurnya! Gantian dong!” sambil menggoyangkan tubuh cowok yang masih tidur. Kasihan banget, dia gak digubris.
“Noh, yang lama tidurnya yang sipit itu tuh!” Gusti menimpali, sambil menyindir gue. Iiiiih, kesel bercampur geli pokoknya, disindir gitu tapi memang benar sih. XD
Gue cuma bisa ketawa, lalu segera mandi. Dalam hati gue cukup senang, si Gusti sudah gak marah lagi sama gue. Tuh, buktinya udah bisa ngecengin gue, kan? :D
***
Perasaan gue mau ngebahas koor konsumsi, tapi kenapa sampai halaman 20 masih belum ada dia, ya?
Pending dulu.
Di hari ini, yang paling berkesan adalah perjalanan peserta menuju pos-pos. tapi yang paling berkesan buat gue: Kak S yang segeeeeeeer banget terlihat dalam cakupan mata gue yang sipit ini. Hah! XD
Awalnya gue galau mau ke pos mana, panitia atau himpunan. Kalau masuk pos himpunan, berasa harus formal banget karena di situ terdapat kumpulan orang cerdas (menurut pandangan gue), padahal sebenarnya tidak. Yang mendominasi cuma ketua himpunan. Sedangkan di pos panitia, panitia yang mengisinya kurang akrab dengan gue, dan terlihat kumpulan anak-anak kurang eksis di himpunan (ya iyalah, yang eksis di himpunan kan di pos himpunan!). gue bolak-balik selama beberapa saat, bingung mau ke mana, yang akhirnya menjatuhkan keputusan ke pos himpunan karena ada yang ingin gue sampaikan sebagai pengurus himpunan. Gue memberikan tugas ke salah satu anak dalam tiap kelompok untuk menyampaikan ke seluruh anggotanya untuk membuat sebuah mading bertemakan sosfar.
Awalnya Cuma mau begitu, tapi tanduk devil gue keluar.
Gue mulai perpeloncoan.
XD
Gue mulai menginterogasi anak-anak satu persatu, mencari sasaran empuk, dengan pertanyaan yang sama: kenapa gak pernah main ke himpunan?
Padahal, juju raja, gue juga termasuk orang yang gak pernah main ke himpunan sampai gue menjabat sebagai divisi keilmiahan. Maaf ya, adek-adek yang udah gue takutin… X(
Dan gue paling menyesal, bahkan sampai saat ini, ketika ada seorang anak yang usai gue tanyai dan gue tekanin agar sering-sering main ke himpunan, dia malah pingsan! Huwaaaaaaah!!!!
Asli, gue panik dalam hati dan cuma bisa lemes begitu melihat anak itu digotong pergi…
Usai perjalanan k epos-pos, divisi perlengkapan kembali sibuk menyiapkan konsumsi (cukup aneh ya, kedengarannya?). tapi gak cuma kami, hampir semua panitia sibuk di acara pamungkas ini.
Saat Pipeh menyendoki sop ke dalam mangkuk, koor konsumsi datang dengan wajah masam.
“Eh tolong ya, yang gak kerja, ke atas dong, bawain barang-barang dari atas!”
Dan dia menyuruh tanpa memberikan contoh. Dia baru saja datang dari atas, tanpa membawa satu helai rambut pun di sela-sela jarinya.
-__-“
Tak hanya itu, bahkan PJ pun disuruh-suruh olehnya. Yang sdabar ya, Nak…
Lalu soal makanan…
Gue gak mau komentarin ayam yang bikin gue eneg hanya karena menyebut ayam, soalnya gak gue makan ayamnya. Sialnya, lauk hari itu hanya ayam, mau gak mau gue cuma makan sop dan nasi putih. Kerupuk sudah diserbu habis, sambel juga, yang tersisa hanya remah-remah ayam di atas nasi (yang herannya bisa hampir habis juga). Ayam dalam sop pun gak gue makan. Sudah gue bilang, gue udah eneg sama ayam.
Tapi gue masih ingat banget, seninnya gue udah makan pecel ayam. Pokoknya bukan ayam yang dibuat anak konsumsi.
Maka, setelah itu, acara selesai. Dan gue gak ikut rapat evaluasi karena diusir dengan alasan “regulasi”. Gue yang punya gengsi tinggi dan doyan ngambek tentu saja pulang dan mementingkan LGR gue. Iya doooong? :D
Maka dari itu, gue evaluasi sedikit di sini:
1.     Saat kalian anggota yang tidak memiliki pekerjaan apapun, sebaiknya segera menawarkan diri untuk membantu divisi yang terlihat rempong. Walau dasarnya rempong, tapi kalian mungkin bisa dapat pahala dari kerempongan itu.
2.    Buat orang macam si ayam dan si koor konsumsi yang doyan menyuruh orang, plis, orang-orang macam kalian lebih baik gak usah ikut acara lagi, atau lebih baik sembunyikan diri kalian dalam kamar serapat mungkin. Malu deh, kalian hanya cuap-cuap apalagi marah-marah depan peserta.
3.    Buat orang-orang macam si ayam dan si koor, kalian harusnya sadar, bahwa bekerja lebih baik daripada bacot gak jelas. Selain menghemat tenaga untuk pekerjaan lain, image kalian juga gak hancur dan gak bakal deh dicap sebagai anak banyak omong banyak bacot doang.
4.   Buat anak-anak yang sudah bekerja keras tapi dicap sebagai orang yang gak kerja karena mata si bacot gak ngeliat kalian, yang sabar aja ya. Kalian bisa bantu di divisi lain yang lebih menghargai tenaga kalian. XD
5.    Buat orang-orang banyak bacot, plis banget, kataraknya dibuang jauh-jauh deh. Lihat sekeliling dan jangan terlalu mikirin bahwa divisi kalian itu lebih berat disbanding divisi lain. Gue sempat berpikir untuk menciptakan alat yang bisa mengukur tingkat kelelahan seseorang dan tingkat kerempongan seseorang dalam bekerja versus bacot lho, buat nyaingin kebacotan kalian.
6.    Lalu, buat orang-orang atas, termasuk si pengambil keputusan atau yang punya wewenang mengutus divisi ini ke divisi itu, dalam hal ini yang gue bicarakan adalah ketua. Sebagai seorang ketua, harus bisa membedakan mana yang bermuka dua, mana yang gak mau kerja, mana yang sudah mengeluarkan tenaga ekstra, dan mana yang hanya mengeluarkan bacotan gak berguna. Itu penting. Terlebih, seorang ketua harus bisa mendengar dari dua sisi, baik itu sisi yang menzolimi maupun sisi yang terzolimi. Kalau bisa, mendengar dari pihak penonton juga, yang lebih objektif dalam menentukan mana benar dan mana yang salah. Jangan pernah menjudge orang dari satu omongan.
7.    Buat yang sedang galau mencari divisi yang cocok, kalian lihat dari koordinator kalian. Gue sempat ditawari untuk masuk ke divisi konsumsi, tapi gue tolak dan gue masuk ke divisi perlengkapan. Dan… gue gak menyesal untuk itu. Gue senang keputusan gue tepat, walau harus mengorbankan dua celana gue karena robek saat acara. Hiks! Di satu sisi, gue senang karena gue berguna untuk acara gue itu, dan di sisi lain gue gak bakal ngebatin seperti yang dialami oleh anak-anak tim konsumsi karena memiliki koor segila itu.
8.    Lalu, buat para calon panitia… rasakanlah apa yang akan dialami saat menjadi panitia. Kawan bisa menjadi lawan, sobat menjadi musuh karena perbedaan sifat. Yang harus diketahui, kalian harus bisa meredam emosi, apapun itu. kalian harus bisa mengatasi keegoisan kalian. Bagi yang masih egosi, ingatlah, bahwa teman-teman kalian butuh bantuan kalian, bukan keegoisan kalian.
9.    Redam keegoisan, karena acara ini memiliki satu tujuan. Sukses!

Udah ah, udah 27 halaman. Syok deh, menulis ini aja harus sampai sebanyak ini. XD
Tapi yang pasti di acaranya ini, gue dapat banyak pengalaman berharga. Gue bisa tahu siapa aja dan bagaimana sifatnya ketika menangani suatu acara. Seandainya gue diharuskan memegang acara lagi, yang gue pastikan adalah gue memilih dengan benar siapa coordinator gue, karena gue bukan tipe orang yang doyan disuruh-suruh, melainkan sadar mana saja yang harus gue jalankan, walau masih banyak kesalahan yang gue perbuat.
Sekian dulu deh tulisan gue ini, niatnya sih yang fun-fun aja yang mau gue tulis, tapi gue ini bukan tipe orang yang bisa berbohong. :D

Depok, 7 Desember 2014