Tuesday, June 3, 2014

Cerpen



Mantra Pengiriman
“Kunci! Segel dia, jangan sampai lepas!” teriakku memberikan instruksi untuk menyegel siluman serigala itu. siluman serigala itu terus meronta dan berusaha membebaskan diri dari jeratan mantra dan gulungan kitab doa yang berusaha menyegelnya, membuat pasukan timku kelelahan.
“Tapi sulit untuk membuatnya jinak, Liorra!”
“Jangan menyerah! Jangan sampai ia lepas kembali ke Desa Lotharix dan membuat onar, serta memangsa penduduk desa!”
Peluh bercucuran, tanganku juga mulai gemetar tak tertahankan selama menahan serangan dan gertakan siluman tersebut. Mantra-mantra berbentuk seperti rantai yang telah menempel di tubuh siluman itu mulai bergetar, dan lama kelamaan rantai mantra itu satu-persatu melepaskan diri dari ikatannya. Siluman itu terlalu kuat.
Craaashh!
Bagian kaki depan siluman itu terlepas dari segel mantra dan berhasil melukai seluruh tubuh bagian kiriku dalam satu kali tebasan. Darah mengucur deras dari tempat sabetan itu dan membuatku mual, terlebih karena aku yang tak tahan dengan bau darah.
“Liorra!” Sands mulai berlari ke arahku, berusaha menangkapku sebelum tubuhku limbung memeluk tanah.
Kepalaku mulai terasa berat, seluruh pemandangan yang tertangkap oleh mataku mulai gamang. Penglihatanku tak bisa kufokuskan, dan terus bergerak menari-nari dalam kepalaku.
“Teruskan… penyegelannya,” ujarku, masih berusaha mengontrol diriku untuk bisa fokus dan turut serta dalam penyegelan ini.
“Tak ada cara lain selain mantra mematikan itu, Liorra!”
Sands benar. Tak ada cara lain.
Kukumpulkan tenaga yang tersisa, lalu memunculkan gulungan mantra lain yang berada dalam ranselku dan menggumamkan mantra selagi gulungan itu menari-nari di udara. Gulungan itu memang sedikit goyah saat berada di udara, namun masih bisa untuk menyegel siluman itu.
“Liorra, bukan maksudku menyuruhmu melakukan mantra ‘pengiriman’ itu! aku bisa melakukannya!” Sands berusaha mencegahku.
Tanpa mengucapkan balasan perkataannya, aku menggeleng lemah sambil terus mengucapkan mantra.
Tubuhku melayang di udara beserta dengan siluman itu. Portal menuju dimensi lain sudah terbuka, dan satu kata terakhir siap mengirimkan kami ke dimensi lain.
Θέση!

Dimensi Lain
Gelap. Tak ada satu cahaya pun yang menerangi tempat ini. Aku tahu, jika aku melakukan mantra pengiriman itu, aku juga akan ikut tersegel di dalamnya, menemani makhluk yang disegel. Oooh, malangnya aku.
Tidak, tidak… jika dilihat dari segi penilaian penduduk desa, tentu saja aku dianggap pahlawan yang mati di medan perang. Bagaimana tidak? Aku sudah menyegel sumber keonaran Desa Lotharix, lalu mati saat bertugas.
Tidak akan ada yang bersimpati padaku saat aku masih mengemban titel “φρουρά” yang berarti penjaga, yang bertugas menjaga kedamaian desa. Aku adalah penjaga yang ditugaskan untuk menjaga keamanan Desa Lotharix, desa dengan seribu satu masalah yang menghinggapinya.
Jika kuteliti lagi, tak heran bila Desa Lotharix dinamakan seperti itu. aku bahkan sering sekali harus mengorbankan waktu tidurku dan semua kegiatan bersantaiku hanya untuk mengatasi masalah yang ada di Desa Lotharix. Sands, teman masa kecilku yang mengajakku bertugas ke sini, sempat menyesal karena banyak masalah yang harus diatasi. Mau bagaimana lagi, kami penjaga level tinggi hanya diberi pilihan “desa seribu satu masalah” atau “desa seribu dua masalah” (Logarid), yang aku yakin tugasnya akan lebih berat dari Desa Lotharix ini.
Jika ditanya apa yang sedang kulakukan saat ini, mungkin… merenung dan menghabiskan waktuku hingga aku sendiri akan lemah dan mati dengan sendirinya. Dimensi ini menyerap kekuatan siluman, namun tidak untuk penyegel. Aku juga tidak bisa mengeluarkan diriku sendiri dari dimensi ini.
Tiba-tiba saja, ada setitik harapan… ah, bukan! Setitik cahaya dalam kegelapan mutlak!
Aku segera berlari menghampiri cahaya itu, mencari tahu apa yang ada di dalam cahaya tersebut. Semakin mendekat, semakin terdengar suara Sands yang memanggil-manggil diriku, walau awalnya hanya suara samar.
wuuuussh!
Aku melewati cahaya itu, menyaksikan Sands yang segera menutup dimensi lain yang dibukanya. Begitu melihatku, ia segera memelukku.
Aku lega bisa menyelamatkan orang yang kusayangi, begitu bisik Sands di telingaku.

Wednesday, December 11, 2013

mf pulv dtd no 10

11시 12분 13초사람 Ngelupain 어렵다 . 항상 내 머리 또는 무언가 에 뭔가 문제 가 있는지 , 그렇게 하고 있습니다. 경우, 기존 어쨌든 관계 때문에 문제가되지 않습니다 . 그것?이 시간 , 내 마음 에 무슨 일이 일어나고 있는지 했다. 첫 번째 에서 ,눈은 항상 심지어 하루 , 내 인생에 와서 귀여운 소년 승 기대 된다. 가능한 한 많이 , 나는 항상 귀여운 소년 과 눈 접촉 ( 나는 그녀 kaliiii 와 의미 눈을 ... ) 줄일 수 있습니다. 지난 달 , 정확하게 11월 19일에서 20일까지 2013 년 에 , 내 눈은 너무 멀리 . 처음에는 그냥 약 2 일 , gapapalaaah 을 궁금해했다. 결과적으로 나는 갇힌욕망을 충족하기 위해 내 눈 은 매우 높은 아니지만 매우 잘 생긴 귀여운 남자 를 응시 할 수 있습니다.문제 는 여기서 그치지 않는다. 세 번째 , 나는 지난 밤에 그 사람 을 mimpiin . 이제까지 그 날 이후 다시 볼 수 있지만, 여전히 내 기억 에서 벗어날 수 없다 조금 거기에 부족 하지 않습니다 사람과 그를 mimpiin 작성 하지 마십시오. 나는 사람이 meneruuuus 을 유지 처럼 비난 해야했다 무슨 문제 질문 , ?정말 피곤 , 심각하게 ... 지금까지 볼 수 없습니다. 페이스 북은 존재하지 않습니다. 트위터 전무 . 가인 은 그를 알고있는 내 친구입니다. 그를 deket 에 대한 방법은 없습니다 . 지금까지 나는 아직도 그 그늘 계속 왜 ? 진심으로 (다시) , 심지어 나 에 대해 생각 하지 생각하고 사람들을 위해 케이프 . 케이프 하트 , 마음 케이프 ...나는 그러나 나는 그것의 이름을 잊고 있다 , 매우 하시기 바랍니다 해요 . 외형 잊어 버려. 쓸모없는 , 오른쪽, 지속적으로 그녀 pikirin 인가?

Sunday, December 8, 2013

The Soul's Thief



Erz, si malaikat pencabut nyawa telah bersiap dengan bilah melengkung di tangannya. Ia tengah membuntuti seorang wanita cantik bernama Raina. Menunggu. Itulah tugasnya.
Erz akan menunggu saat di mana Raina akan mengalami jalan ajal –itu yang sering diistilahkan oleh para malaikat pencabut nyawa ketika makhluk fana yang sebentar lagi akan mati– lalu mengambil jiwanya dengan bilah melengkungnya itu. Tragis. Mungkin itu yang bisa kudeskripsikan mengenai Erz, musuh bebuyutanku.
Aku adalah makhluk dari ketiadaan. Aku tidaklah fana, tapi juga tidak memiliki jiwa. Aku hanya seperti robot yang menjalankan misi untuk organisasi yang menaungi. Namaku Zac. Aku adalah pencuri jiwa manusia. Keren, kan?
Aku selalu beraksi ketika para malaikat maut itu berhasil menarik jiwa manusia fana, namun belum sempat mengirimkannya ke pengadilan keabadian. Sebelum mereka mengirimnya, aku harus mencuri jiwa itu. Jiwa itu adalah makanan untukku, sebuah bahan bakar agar aku bisa tetap melaksanakan tugasku yang semestinya.
Ckiiiiit!
Sebuah mobil yang tidak sempat mengerem tepat waktu berhasil mementalkan tubuh Raina hingga ia terbang sejauh tiga meter, dan jatuh dengan kepala duluan. Benturan itu menyebabkan tubuh Raina kejang-kejang, dan Erz langsung melaksanakan tugasnya. Ia mengayunkan bilah melengkungnya ke leher Raina yang tak sadarkan diri. Tak ada darah yang terciprat maupun kulit yang robek dari ayunan bilah itu, namun jiwa Raina telah berhasil dicabut dari tubuh fananya.
Aku segera mengepakkan sepasang sayapku yang berwarna hitam melintasi langit temaram, dengan secepat kilat menyambar jiwa itu sebelum ujung tongkat dari Erz berhasil menyentuh kepala Raina. Aku menyeret jiwa Raina menjauh dari Erz, membuat Erz mematung dan tercengang dengan tindakanku itu. Sebagai sentuhan terakhir, kusentuhkan jariku ke telinga Erz, membuatnya jatuh berdebum ke tanah seakan tubuhnya memiliki bobot. Mematung. Itulah yang kulakukan kepada Erz.
“Ah, kau membawaku ke mana? Apakah kau menyelamatkanku?” tanya Raina dengan suaranya yang merdu. Tatapannya membuatku lemas, rasanya aku yang tersedot oleh tatapannya. Tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini!
Haram hukumnya jika aku tidak segera memakan jiwanya. Sesuatu yang buruk akan terjadi padaku jika aku justru jatuh cinta pada santapanku. Aku tidak boleh terhanyut seperti ini.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku dari pria berjubah tadi. Walaupun ia ganteng sekali, tapi ia menyeramkan untukku. Ia seperti… malaikat pencabut nyawa.” Raina mulai berceloteh. Semakin mendengar suaranya, semakin layu pula kekuatanku dan hasratku untuk memakannya. Astaga, suaranya seperti candu untukku. Candu yang begitu memabukkan.
“Kau siapa?” tanya Raina lagi. “Apakah kau akan menolongku? Aku rasa seperti sudah mati, tapi aku belum masuk ke surga ataupun neraka, kan? Bisakah kau mengembalikanku ke tubuhku yang semula?”
Tidak. Justru itu hukum yang paling tak bisa kulanggar walau aku ini seorang pemberontak. Musnah. Harga itu yang harus kubayar jika kukembalikan tubuh Raina.
Kutatap Raina kembali, dan Raina menatapku dengan pandangan memohon. Aku sudah benar-benar gila rupanya, seluruh tubuhku seakan tertarik oleh perkataannya, dan kini tubuhku telah bergerak ke tempat kami kabur tadi. Entah apa yang terjadi, tapi aku benar-benat tak bisa menolaknya.
Kami sampai di tempat tubuh Raina tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah. Dengan mudahnya aku mengembalikan jiwa Raina, dan sekejab saja tubuh Raina mulai menggelepar kembali seperti sebelum diambil oleh Erz tadi. Erz telah berdiri di sampingku, tersenyum bangga dengan hasil yang seakan-akan telah menjadi rencananya.
“Bagaimana rasanya? Kau sudah siap menjalani kemusnahanmu?” suara Erz penuh kemenangan.
“Apa?”
“Jangan dikira kami bisa memaafkan pembelot sepertimu, Zac… alasanmu menjadi pembelotlah yang juga menjadi alasanmu untuk musnah. Bagaimana, kau sudah mengetahui kehebatanku? Selamanya, baik kau menjadi makhluk ketiadaan, maupun masa lalumu ketika menjadi malaikat maut, tidak akan pernah bisa menyaingi kehebatanku.”
“Jadi… ini semua adalah ulahmu?” tanyaku tak percaya. Erz tertawa sambil mengangguk.
Siaaal!
Tubuhku mulai menguap, sama seperti ketika pertama kali aku menyelamatkan seorang gadis yang telah kucabut nyawanya dan kukembalikan nyawanya ke tubuhnya. Perbedaan yang mencolok di sini adalah: saat itu, aku berubah menjadi sekarang ini. Saat ini, aku tidak akan bisa mewujud lagi menjadi apapun. Aku akan musnah!
Tawa kemenangan terus dikumandangkan Erz menjelang kemusnahkanku. Aku hanya bisa menerima konsekuensi yang telah kuperbuat. Kebodohan yang sama membuatku dua kali terjebak dalam masalah besar, dan ketidaktaatanku pada peraturan membuatku harus keluar dari pekerjaanku sebagai malaikat maut dan sekarang aku harus musnah. Apakah nasibku memang harus sesial ini?
Oooh, andai saja aku bisa memutar ulang waktuku.
Andai saja aku bisa kembali ke waktu di mana aku mengembalikan jiwa gadis yang telah kucabut. Aku tidak akan menjadi pencuri jiwa seperti ini untuk tetap bertahan dalam wujud seperti ini. Tidak mencuri berarti tidak makan. Tidak makan juga berarti musnah. Aku benci siklusku ini!
Plop!
Kesadaranku hilang seluruhnya. Tubuhku, sayapku, dan juga pikiranku telah lenyap seluruhnya.

Depok, 8 Desember 2013, 19.56

Kang Bong Ja



          Alkisah di sebuah gubuk, tinggallah seorang wanita yang cantik jelita bernama Kang Bong Ja. Ia sebatang kara.
          Setiap hari Bong ja pergi ke sebuah padang rumput untuk menggembalakan binatang-binatang kesayangannya. Jumlahnya cukup banyak, hampir mencapai sepuluh ekor.
          Karena Bong ja sangat cantik, seorang peri baik hati sangat sayang kepadanya. Ia tidak ingin Bong ja salah mendapatkan jodoh, sehingga ia menggunakan sihirnya untuk menyihir binatang-binatang Bong ja. Barang siapa yang dapat melihat wujud asli dari binatang peliharaan Bong ja, maka orang itulah yang akan menjadi suami Bong Ja.
          Suatu hari saat Bong ja menggembalakan binatang-binatang itu, tiba- tiba lewatlah sebuah kereta kerajaan yang amat mewah. Lalu turunlah seorang pria yang parasnya rupawan. Pria itu sangat tertarik pada kecantikan Bong ja.
          “Ada keperluan apa tuan?” tanya Bong ja kepada pria itu.
          “Izinkanlah aku untuk memperkenalkan diri. Namaku Kim Hyung Joon. Aku ingin mencari seorang permaisuri untuk menemaniku seumur hidupku. Sebab umurku sudah 28 tahun, aku harus segera mencari seorang permaisuri… Maukah kau menjadi permaisuriku?” tanya Hyung Joon.
          “Maaf tuan… tapi bahkan saya saja baru bertemu anda satu menit yang lalu. Bagaimana saya bisa tahu bahwa anda adalah jodoh yang tepat untukku?” tanya Bong ja.
          “Kita Bisa menikah terlebih dahulu. Setelah itu tumbuhlah rasa cinta untuk kita berdua… tetapi perlu kukatakan, bahwa aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu…”
          Bong ja berpikir keras. Akhirnya ia ingat dengan apa yang telah dilakukan perinya.
          “Wahai tuan, apakah anda melihat binatang-binatang di sana itu? Bisakah kau sebutkan apa nama binatang  itu?” tanya Bong ja.
          “Tentu saja! Apa kau meragukan penglihatanku? Penglihatanku masih sangat bagus! Tapi apakah kura-kura itu adalah binatang peliharaanmu?” tanya Hyung joon.
          Bong ja tersenyum. “Tuan, kita tidak bisa menikah…” kata Bong ja.
          Hyung joon terus membujuknya. Sampai akhirnya ia menyerah dan pergi melanjutkan pencarian terhadap permaisurinya.
          Tak disangka, kejadian itu dilihat oleh Kyu jong, seorang lelaki yang sangat culun dengan rambut berbelah tengah dan berkacamata botol susu. Kyu jong adalah tetangga Bong ja yang baru saja pindah beberapa hari yang lalu.
          “Bong ja!” teriak Kyu jong.
          “Ada apa?” tanya Bong ja.
          “Kenapa kau menolak lamaran dari orang serupawan Hyung joon?” padahal ini adalah kesempatanmu untuk hidup bahagia…”
          “Aku tidak akan bisa hidup bahagia apabila bukan dengan orang yang ditakdirkan hidup bersamaku…” jawab Bong ja. Kyu jong bingung dengan jawaban Bong ja. Bagaimana Bong ja bisa berkata dengan yakin bahwa Hyung joon bukanlah seorang yang ditakdirkan untuknya?
          Esoknya, Bong ja pergi ke sebuah sungai untuk mengambil air. Ia teriak dengan sangat kencang, sehingga Kyu jong berlari hingga jatuh terguling-guling. Walaupun kakinya berdarah, ia terus berusaha menghampiri Bong ja.
          “Ada apa? Kenapa kau berteriak?” tanya Kyu jong kepada Bong ja.
          “Kyyyyyyaaaaaaaaaa!!!!!!!” teriak Bong ja lagi.
          “Aduh, jangan teriak terus… aku tidak mengerti apa yang kau teriakkan…”
          “ta-ta-tadi… a-aku… meli-hat ada yang mengapung di sungai… se-seorang pria!” kata Bong ja terbata-bata.
          “Mana? Ayo cepat kita tolong!” kata Kyu jong.
          “Tidak, kau yang harus ditolong terlebih dahulu. Kakimu berdarah!”
          “Kau ini… orang itu bisa mati kedinginan! Ini menjelang musim dingin dan orang itu mengapung di sungai! Dan bagaimana kalau ia tidak bernapas dan akhirnya meninggal?” kata Kyu jong tegas.
          “Tidak apa-apa. Ia mengapung dengan muka menghadap ke langit. Lagi pula kulihat ia menggunakan jaket yang tebal. Dan lagi di ujung sana kita masih dapat menolongnya karena ia bisa tersangkut di jembatan itu.” Kata Bong ja.
          Mereka masih terus memperdebatkan siapa yang akan ditolong duluan. Kyu jong yang tak mau mengalah  dan ingin menolong pria yang mengapung di sungai itu, sedangkan Bong ja yang egois ingin menolong Kyu jong terlebih dahulu. Mereka terus memperdebatkan perdebatan mereka tanpa memikirkan korban yang sudah tersangkut di jembatan (sesuai dugaan Bong ja) dan kedinginan (sesuai dugaan Kyu jong. Tentu saja korban itu tidak akan hangat dengan jaket yang ia pakai sebab jaket itu juga telah basah dan membuatnya akan bertambah dingin. Dengan kata lain, pendapat Bong ja sudah salah).
          Pada akhirnya perdebatan Dimenangkan Bong ja. Ia membalut luka dari Kyu jong. Setelah itu, ia bersama Kyu jong menolong korban yang mengapung di sungai itu.
          “Wah, ia tidak bernapas! Bagaimana ini?” tanya Bong ja.
          “Beri saja ia napas buatan…” kata Kyu jong.
          “Ya sudah, aku akan melakukannya.” Bong ja bersiap dan menarik napas, tetapi…
          Kyu jong menyambar sebuah bambu disampingnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut korban itu. Ia meniupkan udara ke korban itu melewati bambu itu.
          Tak berapa lama kemudian, Korban itu terbatuk-batuk. Akhirnya ia bernapas!
          Ia kemudian di bawa ke rumah Kyu jong, sebab Kyu jong tidak ingin ada seorang lelaki tinggal di rumah Bong ja. Setelah itu mereka mencari seorang tabib untuk menyembuhkan Korban tadi.
          Tabib telah didatangkan. Tabib itu bernama Park Jung min. tabib itu segera memeriksa korban itu. Tabib itu juga terpesona kepada Bong ja, sehingga ia mengerahkan seluruh kehebatannya untuk menolong korban itu. Tetapi sesaat kemudian ia berteriak dan langsung pergi dengan berkata seperti ini, “Aku tidak mau mengobatinya! Jauh-jauh dariku!”
          Kyu jong segera berlari menyusul tabib itu. Ia membujuk tabib itu untuk tetap mengobati korban itu. Namun Tabib Park tetap tidak mau mengobatinya.
          “Tuan Tabib, tolonglah kami. Kudengar kau adalah Tabib Park, Tabib paling hebat di seluruh jagad raya ini dan mempunyai charisma yang begitu menawan. Tapi kenapa kau bahkan tidak mau menolong orang itu?” tanya Kyu jong.
          “Tentu saja aku tidak mau! Selain pingsan dan kedinginan, orang ini juga menderita Flu babi karena kedinginan! Aku tidak ingin tertular olehnya!” tabib itu lalu pergi meninggalkan Kyu jong sendiri. Dengan terpaksa, ia mencari tabib lain. Akhirnya ia menemukan seorang tabib bernama Heo young saeng.
          Setelah sampai, Tabib Heo segera mengobati korban itu. Untuk menyembuhkan korban itu, Kyu jong dan Bong ja disuruh untuk menjauh dari korban itu agar tidak ikut terjangkit oleh virus Flu babi. Setelah beberapa hari dirawat oleh Tabib Heo, korban itu akhirnya sembuh.
          “Perkenalkan, namaku Kim hyun joong. Terima kasih karena kalian telah mencarikanku tabib yang sangat sabar dalam merawatku dan mau mengerti diriku…” kata Hyun joong.
          “Sama-sama. Bukankah kau seharusnya berterima kasih pada Tabib Heo? Sebab dia mau merawatmu hingga sembuh…” kata Bong ja.
          “Terima kasih Tabib Heo… kau telah bersedia merawatku tanpa takut akan tertular olehku…” kata Hyun joong.
          “Sebenarnya… hehehe…” Tabib Heo tersenyum malu-malu. Lesung pipinya langsung terbentuk di kedua belah pipinya saat ia tersenyum. Sebenarnya ia mau merawat Hyun joong karena ia bisa bertemu Bong ja setiap hari dan makan masakan dari Bong ja, yaitu kare yang sangat lezat! Ya, Tabib Heo sangat suka kare buatan Bong ja.
          Akhirnya Bong ja dan Kyu jong dapat mendengarkan kisah kejadian kenapa Hyun joong sampai terjatuh dan mengapung di sungai.
          “Begini ceritanya… suatu hari saat aku sedang mencari bahan untuk membuat xiao long bao, tiba tiba saja saat aku akan mengambil jamur yang akan kujadikan isi dari xiao long bao itu, tanganku memegang sesuatu yang sangat ku benci! Seekor kecoa! Tanpa kusadari aku hampir terjatuh ke sungai,
Dan tiba tiba saja seekor lebah menyengatku! Aku takut terhadap lebah, dan aku disengat. Itu sebabnya aku tak sadarkan diri dan jatuh ke sungai…” cerita Hyun joong.
          “Dan tiba-tiba aku sadar. Aku berada di punggung ikan Hiu! Dan setelah itu aku pingsan lagi.” Kata Hyun joong.
          Kyu jong bergidik, karena ia juga takut terhadap ikan hiu. Tetapi Bong ja dan Tabib Heo tertawa terpingkal-pingkal. Mereka berpikir, bagaimana Hyun joong dapat berada di punggung ikan hiu? Mana ada ikan hiu yang dengan baik hati ingin menolong manusia? Yang pasti, hiu itu akan memakan Hyun joong.dan selain itu, bagaimana bisa seekor ikan hiu dapat berada di sungai? Bong ja dan Tabib Heo menarik kesimpulan bahwa Hyun joong berhalusinasi. Ia tersangkut di jembatan dan ia mengira jembatan itu adalah ikan hiu.
          Setelah sehat, Hyun joong, Kyu jong, Tabib Heo, dan Bong ja makan bersama di rumah Bong ja. Ia membuatkan sup dan perkedel.
          Waktu tak berselang lama, tetapi baru saja Tabib Heo memakan perkedel, ia langsung kejang-kejang. Kyu jong panik, lalu ia memanggil tabib Park lagi.
          Tabib Park memperlihatkan charismanya di depan Bong ja sebagai seorang tabib. Ia bekerja cekatan dan menyembuhkan Tabib Heo.
          “Tabib Park, apa yang terjadi pada Tabib Heo?” tanya Bong ja.
          “Sepertinya ia alergi makanan. Apa yang ia makan?” tanya Tabib Park dengan memperlihatkan wibawanya.
          “Tadi kami makan malam dengan sup wortel dan perkedel kentang…” jawab Bong ja.
          “Oh… ia alergi kentang.” Kata Tabib Park dengan yakin.
          “Kenapa anda bisa seyakin itu?” tanya Kyu jong.
          Dengan nada sinis dan cara bicaranya yang berbeda ketika ia sedang berbicara dengan Bong ja, ia menjawab dengan seenaknya, “Tentu saja! Wortel itu adalah makanan kesukaanku! Makanan terenak di dunia!”
          Kyu jong tertawa keras. Ia baru mengerti, ia menemukan tabib yang amatiran dan seenaknya terhadap pasiennya. Yang anehnya, kenapa ia bisa dibilang tabib terhebat di seluruh jagad raya ini?
          Akhirnya Tabib Heo sadarkan diri. Ia bercerita bahwa ia alergi dengan Kentang. Ia benci kentang.
          “Tuh kan, apa kataku. Ternyata ia benar-benar alergi kentang!” kata Tabib Park dengan wajah penuh kemenangan yang sengaja diperlihatkan kepada Kyu jong. Kyu jong hanya bergumam, “itu hanya kebetulan…”
          Hari sudah malam. Maka penuhlah rumah Kyu jong karena makin bertambah saja penghuni rumahnya. Ia bukannya tidak mau memberikan tumpangan, hanya saja orang yang ia beri tumpangan adalah saingan cintanya. Ia juga mencintai Bong ja, hanya saja ia sadar akan parasnya yang tidak serupawan Hyun joong.
          Esok paginya, saingan Kyu jong bertambah satu lagi. Ternyata itu adalah Hyung joon, yang waktu itu pernah melamar Bong ja. Hyung joon  berkata bahwa ia tidak menemukan wanita yang membuat hatinya bergetar selain Bong ja.
          “Bong ja… aku mencintaimu… kumohon, jadilah istriku…” kata Hyung joon.
          Tabib Park tak mau kalah. Ia berkata, “Bong ja, kau menikah saja denganku… aku pasti akan membahagiakanmu! Sebagai persembahan, aku membawakanmu sekeranjang wortel!”
          Tabib Heo berkata, “Aku memang tak seperti mereka yang dapat memberikanmu apa saja yang kau mau, tapi aku hanya bisa memberimu obat dan menyembuhkanmu saat kau sakit…”
          “Tak kusangka aku juga bisa jatuh cinta padamu…” kata Hyun joong dengan muka merah padam. Ia memang orang yang dingin. Ia susah untuk mengatakan hal-hal yang romantis.
          Kyu jong tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengaku kalah. Empat pria yang rupawan bersaing mendapatkan cinta Bong ja. Siapa yang akan mendapatkannya? Yang pasti bukan diriku yang jelek di hadapan dia ini… pikir Kyu jong.
          Bong ja akhirnya tak tahan lagi. Ia pergi ke sebuah padang rumput dan menunjukkan Binatang-binatang kesayangannya itu.
          “Jika kalian dapat memberitahuku binatang apa itu dengan benar, maka ialah yang akan menjadi suamiku!” kata Bong ja sambil menunjuk binatang kesayangannya itu.
          “Sudah kubilang, penglihatanku tak mungkin salah… itu kan kura-kura…” kata Hyung joon.
          Semua tertawa.
          “Bagaimana mungkin kau bisa bilang penglihatanmu bagus, padahal kuda sebesar itu kau bilang kura-kura? Hahaha!” kata tabib Park.
          Tabib Heo semakin tertawa. “Sudahlah…kalian harus memeriksakan mata padaku. Berang-berang saja bisa kalian sebut kuda dan kura-kura? Ckckck…”
          Hyun joong tak dapat lagi menahan tawanya. Ia sampai terguling-guling saking lucunya.
          “Kurasa matamu juga harus diperiksa matanya, Tabib Heo… Anjing saja kau bilang berang-berang? Hahahahahaha!!”
          Bong ja kecewa dengan jawaban semua itu. Sedangkan Kyu jong heran dengan semua jawaban keempat pria itu.
          “Bong ja, apa yang kau lakukan terhadap gorilamu itu sehingga mereka melihat gorila itu sebagai sesuatu yang lain?” tanya Kyu jong.
          Bong ja tertawa terpingkal-pingkal.
          “Kau bilang itu apa?” tanya Bong ja untuk memastikan.
          “I-i-itu… gorilla kan?” tanya Kyu jong tidak yakin.
          Akhirnya peri yang menjaga Bong ja datang dan memberikan selamat terhadap Bong ja, sebab ia sudah menemukan jodohnya. Ia kemudian memusnahkan sihir yang terdapat di binatang kesayangan Bong ja, dan semua yang melihat binatang itu terpanah. Bagaimana mungkin kuda, kura-kura, berang-berang dan anjing dapat berubah menjadi gorila dalam sekejap?
          Ternyata Kyu jong adalah jodoh Bong ja. Bong ja menjelaskan kepada keempat pria yang lain bahwa ia memilih Kyu jong sebagai suaminya.
          “Aku tidak terima! Pria jelek seperti dia menjadi suami Bong ja yang cantik itu?” teriak Hyun joong, Hyung joon, Tabib Heo, dan Tabib Park bersamaan.
          Bong ja sedih dengan perkataan mereka. Peri pun tak bisa tinggal diam. Ia menyihir Kyu jong menjadi dirinya yang sebenarnya. Sebenarnya Kyu jong adalah seorang pangeran yang sedang menyamar untuk mencari pendamping hidupnya. Dan sebenarnya Kyu jong adalah seorang pangeran yang tampan. Bong ja dan keempat pria lain tak bisa berkata apa-apa.
          Keempat pria lain pulang ketempat masing-masing. Akhirnya Bong ja dan Kyu jong menikah. Mereka hidup bahagia selamanya…


          Tidak, hidup mereka belum bisa dibilang bahagia. Sebab Kyu jong membawa Bong ja hidup di istana. Dan apa yang ada di istana?
          Ternyata kim Hyung joon adalah adik dari kim Kyu jong. Dan Kim hyun Joong adalah kakak dari Kim Kyu jong. Selain itu, Tabib Heo dan Tabib Park adalah tabib istana. Awalnya mereka semua tidak mengenal Kyu jong saat berada di rumah Bong ja karena Kyu jong menyamar. Tapi tentu saja Kyu jong mengenal mereka semua.
          Itu artinya, hidup Kyu jong masih akan melewati banyak cobaan karena banyaknya saingan dalam satu istana itu. Dan tentu saja keempat pria lain tetap berusaha mendapatkan cintanya Bong ja walaupun diantaranya adalah saudara Kyu jong. Wah, bersabarlah Kyu jong…


~selesai~