Alkisah
di sebuah gubuk, tinggallah seorang wanita yang cantik jelita bernama Kang Bong
Ja. Ia sebatang kara.
Setiap
hari Bong ja pergi ke sebuah padang
rumput untuk menggembalakan binatang-binatang kesayangannya. Jumlahnya cukup
banyak, hampir mencapai sepuluh ekor.
Karena
Bong ja sangat cantik, seorang peri baik hati sangat sayang kepadanya. Ia tidak
ingin Bong ja salah mendapatkan jodoh, sehingga ia menggunakan sihirnya untuk
menyihir binatang-binatang Bong ja. Barang siapa yang dapat melihat wujud asli
dari binatang peliharaan Bong ja, maka orang itulah yang akan menjadi suami
Bong Ja.
Suatu
hari saat Bong ja menggembalakan binatang-binatang itu, tiba- tiba lewatlah
sebuah kereta kerajaan yang amat mewah. Lalu turunlah seorang pria yang
parasnya rupawan. Pria itu sangat tertarik pada kecantikan Bong ja.
“Ada keperluan apa tuan?”
tanya Bong ja kepada pria itu.
“Izinkanlah
aku untuk memperkenalkan diri. Namaku Kim Hyung Joon. Aku ingin mencari seorang
permaisuri untuk menemaniku seumur hidupku. Sebab umurku sudah 28 tahun, aku
harus segera mencari seorang permaisuri… Maukah kau menjadi permaisuriku?”
tanya Hyung Joon.
“Maaf
tuan… tapi bahkan saya saja baru bertemu anda satu menit yang lalu. Bagaimana
saya bisa tahu bahwa anda adalah jodoh yang tepat untukku?” tanya Bong ja.
“Kita
Bisa menikah terlebih dahulu. Setelah itu tumbuhlah rasa cinta untuk kita
berdua… tetapi perlu kukatakan, bahwa aku sudah jatuh cinta pada pandangan
pertama kepadamu…”
Bong
ja berpikir keras. Akhirnya ia ingat dengan apa yang telah dilakukan perinya.
“Wahai
tuan, apakah anda melihat binatang-binatang di sana itu? Bisakah kau sebutkan apa nama
binatang itu?” tanya Bong ja.
“Tentu
saja! Apa kau meragukan penglihatanku? Penglihatanku masih sangat bagus! Tapi
apakah kura-kura itu adalah binatang peliharaanmu?” tanya Hyung joon.
Bong
ja tersenyum. “Tuan, kita tidak bisa menikah…” kata Bong ja.
Hyung
joon terus membujuknya. Sampai akhirnya ia menyerah dan pergi melanjutkan
pencarian terhadap permaisurinya.
Tak
disangka, kejadian itu dilihat oleh Kyu jong, seorang lelaki yang sangat culun
dengan rambut berbelah tengah dan berkacamata botol susu. Kyu jong adalah
tetangga Bong ja yang baru saja pindah beberapa hari yang lalu.
“Bong
ja!” teriak Kyu jong.
“Ada apa?” tanya Bong ja.
“Kenapa
kau menolak lamaran dari orang serupawan Hyung joon?” padahal ini adalah
kesempatanmu untuk hidup bahagia…”
“Aku
tidak akan bisa hidup bahagia apabila bukan dengan orang yang ditakdirkan hidup
bersamaku…” jawab Bong ja. Kyu jong bingung dengan jawaban Bong ja. Bagaimana
Bong ja bisa berkata dengan yakin bahwa Hyung joon bukanlah seorang yang
ditakdirkan untuknya?
Esoknya,
Bong ja pergi ke sebuah sungai untuk mengambil air. Ia teriak dengan sangat
kencang, sehingga Kyu jong berlari hingga jatuh terguling-guling. Walaupun
kakinya berdarah, ia terus berusaha menghampiri Bong ja.
“Ada apa? Kenapa kau
berteriak?” tanya Kyu jong kepada Bong ja.
“Kyyyyyyaaaaaaaaaa!!!!!!!”
teriak Bong ja lagi.
“Aduh,
jangan teriak terus… aku tidak mengerti apa yang kau teriakkan…”
“ta-ta-tadi…
a-aku… meli-hat ada yang mengapung di sungai… se-seorang pria!” kata Bong ja
terbata-bata.
“Mana?
Ayo cepat kita tolong!” kata Kyu jong.
“Tidak,
kau yang harus ditolong terlebih dahulu. Kakimu berdarah!”
“Kau
ini… orang itu bisa mati kedinginan! Ini menjelang musim dingin dan orang itu
mengapung di sungai! Dan bagaimana kalau ia tidak bernapas dan akhirnya
meninggal?” kata Kyu jong tegas.
“Tidak
apa-apa. Ia mengapung dengan muka menghadap ke langit. Lagi pula kulihat ia
menggunakan jaket yang tebal. Dan lagi di ujung sana kita masih dapat menolongnya karena ia
bisa tersangkut di jembatan itu.” Kata Bong ja.
Mereka
masih terus memperdebatkan siapa yang akan ditolong duluan. Kyu jong yang tak
mau mengalah dan ingin menolong pria
yang mengapung di sungai itu, sedangkan Bong ja yang egois ingin menolong Kyu
jong terlebih dahulu. Mereka terus memperdebatkan perdebatan mereka tanpa
memikirkan korban yang sudah tersangkut di jembatan (sesuai dugaan Bong ja) dan
kedinginan (sesuai dugaan Kyu jong. Tentu saja korban itu tidak akan hangat
dengan jaket yang ia pakai sebab jaket itu juga telah basah dan membuatnya akan
bertambah dingin. Dengan kata lain, pendapat Bong ja sudah salah).
Pada
akhirnya perdebatan Dimenangkan Bong ja. Ia membalut luka dari Kyu jong.
Setelah itu, ia bersama Kyu jong menolong korban yang mengapung di sungai itu.
“Wah,
ia tidak bernapas! Bagaimana ini?” tanya Bong ja.
“Beri
saja ia napas buatan…” kata Kyu jong.
“Ya
sudah, aku akan melakukannya.” Bong ja bersiap dan menarik napas, tetapi…
Kyu
jong menyambar sebuah bambu disampingnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut
korban itu. Ia meniupkan udara ke korban itu melewati bambu itu.
Tak
berapa lama kemudian, Korban itu terbatuk-batuk. Akhirnya ia bernapas!
Ia
kemudian di bawa ke rumah Kyu jong, sebab Kyu jong tidak ingin ada seorang
lelaki tinggal di rumah Bong ja. Setelah itu mereka mencari seorang tabib untuk
menyembuhkan Korban tadi.
Tabib
telah didatangkan. Tabib itu bernama Park Jung min. tabib itu segera memeriksa
korban itu. Tabib itu juga terpesona kepada Bong ja, sehingga ia mengerahkan
seluruh kehebatannya untuk menolong korban itu. Tetapi sesaat kemudian ia
berteriak dan langsung pergi dengan berkata seperti ini, “Aku tidak mau mengobatinya!
Jauh-jauh dariku!”
Kyu
jong segera berlari menyusul tabib itu. Ia membujuk tabib itu untuk tetap
mengobati korban itu. Namun
Tabib Park
tetap tidak mau mengobatinya.
“Tuan
Tabib, tolonglah kami. Kudengar kau adalah Tabib Park,
Tabib paling hebat di seluruh jagad raya ini dan mempunyai charisma yang begitu
menawan. Tapi kenapa kau bahkan tidak mau menolong orang itu?” tanya Kyu jong.
“Tentu
saja aku tidak mau! Selain pingsan dan kedinginan, orang ini juga menderita Flu
babi karena kedinginan! Aku tidak ingin tertular olehnya!” tabib itu lalu pergi
meninggalkan Kyu jong sendiri. Dengan terpaksa, ia mencari tabib lain. Akhirnya
ia menemukan seorang tabib bernama Heo young saeng.
Setelah
sampai, Tabib Heo segera mengobati korban itu. Untuk menyembuhkan korban itu,
Kyu jong dan Bong ja disuruh untuk menjauh dari korban itu agar tidak ikut
terjangkit oleh virus Flu babi. Setelah beberapa hari dirawat oleh Tabib Heo,
korban itu akhirnya sembuh.
“Perkenalkan,
namaku Kim hyun joong. Terima kasih karena kalian telah mencarikanku tabib yang
sangat sabar dalam merawatku dan mau mengerti diriku…” kata Hyun joong.
“Sama-sama.
Bukankah kau seharusnya berterima kasih pada Tabib Heo? Sebab dia mau merawatmu
hingga sembuh…” kata Bong ja.
“Terima
kasih Tabib Heo… kau telah bersedia merawatku tanpa takut akan tertular
olehku…” kata Hyun joong.
“Sebenarnya…
hehehe…” Tabib Heo tersenyum malu-malu. Lesung pipinya langsung terbentuk di
kedua belah pipinya saat ia tersenyum. Sebenarnya ia mau merawat Hyun joong
karena ia bisa bertemu Bong ja setiap hari dan makan masakan dari Bong ja,
yaitu kare yang sangat lezat! Ya, Tabib Heo sangat suka kare buatan Bong ja.
Akhirnya
Bong ja dan Kyu jong dapat mendengarkan kisah kejadian kenapa Hyun joong sampai
terjatuh dan mengapung di sungai.
“Begini
ceritanya… suatu hari saat aku sedang mencari bahan untuk membuat xiao long bao, tiba tiba saja saat aku
akan mengambil jamur yang akan kujadikan isi dari xiao long bao itu, tanganku memegang sesuatu yang sangat ku benci!
Seekor kecoa! Tanpa kusadari aku hampir terjatuh ke sungai,
Dan tiba tiba saja seekor lebah
menyengatku! Aku takut terhadap lebah, dan aku disengat. Itu sebabnya aku tak
sadarkan diri dan jatuh ke sungai…” cerita Hyun joong.
“Dan
tiba-tiba aku sadar. Aku berada di punggung ikan Hiu! Dan setelah itu aku
pingsan lagi.” Kata Hyun joong.
Kyu
jong bergidik, karena ia juga takut terhadap ikan hiu. Tetapi Bong ja dan Tabib
Heo tertawa terpingkal-pingkal. Mereka berpikir, bagaimana Hyun joong dapat
berada di punggung ikan hiu? Mana ada ikan hiu yang dengan baik hati ingin
menolong manusia? Yang pasti, hiu itu akan memakan Hyun joong.dan selain itu,
bagaimana bisa seekor ikan hiu dapat berada di sungai? Bong ja dan Tabib Heo
menarik kesimpulan bahwa Hyun joong berhalusinasi. Ia tersangkut di jembatan
dan ia mengira jembatan itu adalah ikan hiu.
Setelah
sehat, Hyun joong, Kyu jong, Tabib Heo, dan Bong ja makan bersama di rumah Bong
ja. Ia membuatkan sup dan perkedel.
Waktu
tak berselang lama, tetapi baru saja Tabib Heo memakan perkedel, ia langsung
kejang-kejang. Kyu jong panik, lalu ia memanggil tabib Park
lagi.
Tabib Park
memperlihatkan charismanya di depan Bong ja sebagai seorang tabib. Ia bekerja
cekatan dan menyembuhkan Tabib Heo.
“Tabib Park,
apa yang terjadi pada Tabib Heo?” tanya Bong ja.
“Sepertinya
ia alergi makanan. Apa yang ia makan?” tanya Tabib Park
dengan memperlihatkan wibawanya.
“Tadi
kami makan malam dengan sup wortel dan perkedel kentang…” jawab Bong ja.
“Oh…
ia alergi kentang.” Kata
Tabib Park
dengan yakin.
“Kenapa
anda bisa seyakin itu?” tanya Kyu jong.
Dengan
nada sinis dan cara bicaranya yang berbeda ketika ia sedang berbicara dengan
Bong ja, ia menjawab dengan seenaknya, “Tentu saja! Wortel itu adalah makanan
kesukaanku! Makanan terenak di dunia!”
Kyu
jong tertawa keras. Ia baru mengerti, ia menemukan tabib yang amatiran dan
seenaknya terhadap pasiennya. Yang anehnya, kenapa ia bisa dibilang tabib
terhebat di seluruh jagad raya ini?
Akhirnya
Tabib Heo sadarkan diri. Ia bercerita bahwa ia alergi dengan Kentang. Ia benci
kentang.
“Tuh
kan, apa
kataku. Ternyata ia benar-benar alergi kentang!” kata Tabib Park
dengan wajah penuh kemenangan yang sengaja diperlihatkan kepada Kyu jong. Kyu
jong hanya bergumam, “itu hanya kebetulan…”
Hari
sudah malam. Maka penuhlah rumah Kyu jong karena makin bertambah saja penghuni
rumahnya. Ia bukannya tidak mau memberikan tumpangan, hanya saja orang yang ia
beri tumpangan adalah saingan cintanya. Ia juga mencintai Bong ja, hanya saja
ia sadar akan parasnya yang tidak serupawan Hyun joong.
Esok
paginya, saingan Kyu jong bertambah satu lagi. Ternyata itu adalah Hyung joon,
yang waktu itu pernah melamar Bong ja. Hyung joon berkata bahwa ia tidak menemukan wanita yang
membuat hatinya bergetar selain Bong ja.
“Bong
ja… aku mencintaimu… kumohon, jadilah istriku…” kata Hyung joon.
Tabib Park
tak mau kalah. Ia berkata, “Bong ja, kau menikah saja denganku… aku pasti akan
membahagiakanmu! Sebagai persembahan, aku membawakanmu sekeranjang wortel!”
Tabib
Heo berkata, “Aku memang tak seperti mereka yang dapat memberikanmu apa saja
yang kau mau, tapi aku hanya bisa memberimu obat dan menyembuhkanmu saat kau
sakit…”
“Tak
kusangka aku juga bisa jatuh cinta padamu…” kata Hyun joong dengan muka merah
padam. Ia memang orang yang dingin. Ia susah untuk mengatakan hal-hal yang
romantis.
Kyu
jong tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengaku kalah. Empat pria yang rupawan bersaing mendapatkan
cinta Bong ja. Siapa yang akan mendapatkannya? Yang pasti bukan diriku yang
jelek di hadapan dia ini… pikir Kyu jong.
Bong
ja akhirnya tak tahan lagi. Ia pergi ke sebuah padang rumput dan menunjukkan
Binatang-binatang kesayangannya itu.
“Jika
kalian dapat memberitahuku binatang apa itu dengan benar, maka ialah yang akan
menjadi suamiku!” kata Bong ja sambil menunjuk binatang kesayangannya itu.
“Sudah
kubilang, penglihatanku tak mungkin salah… itu kan kura-kura…” kata Hyung joon.
Semua
tertawa.
“Bagaimana
mungkin kau bisa bilang penglihatanmu bagus, padahal kuda sebesar itu kau
bilang kura-kura? Hahaha!” kata tabib Park.
Tabib
Heo semakin tertawa. “Sudahlah…kalian harus memeriksakan mata padaku.
Berang-berang saja bisa kalian sebut kuda dan kura-kura? Ckckck…”
Hyun
joong tak dapat lagi menahan tawanya. Ia sampai terguling-guling saking
lucunya.
“Kurasa
matamu juga harus diperiksa matanya, Tabib Heo… Anjing saja kau bilang
berang-berang? Hahahahahaha!!”
Bong
ja kecewa dengan jawaban semua itu. Sedangkan Kyu jong heran dengan semua
jawaban keempat pria itu.
“Bong
ja, apa yang kau lakukan terhadap gorilamu itu sehingga mereka melihat gorila
itu sebagai sesuatu yang lain?” tanya Kyu jong.
Bong
ja tertawa terpingkal-pingkal.
“Kau
bilang itu apa?” tanya Bong ja untuk memastikan.
“I-i-itu…
gorilla kan?”
tanya Kyu jong tidak yakin.
Akhirnya
peri yang menjaga Bong ja datang dan memberikan selamat terhadap Bong ja, sebab
ia sudah menemukan jodohnya. Ia kemudian memusnahkan sihir yang terdapat di
binatang kesayangan Bong ja, dan semua yang melihat binatang itu terpanah.
Bagaimana mungkin kuda, kura-kura, berang-berang dan anjing dapat berubah
menjadi gorila dalam sekejap?
Ternyata
Kyu jong adalah jodoh Bong ja. Bong ja menjelaskan kepada keempat pria yang
lain bahwa ia memilih Kyu jong sebagai suaminya.
“Aku
tidak terima! Pria jelek seperti dia menjadi suami Bong ja yang cantik itu?”
teriak Hyun joong, Hyung joon, Tabib Heo, dan Tabib Park
bersamaan.
Bong
ja sedih dengan perkataan mereka. Peri pun tak bisa tinggal diam. Ia menyihir
Kyu jong menjadi dirinya yang sebenarnya. Sebenarnya Kyu jong adalah seorang
pangeran yang sedang menyamar untuk mencari pendamping hidupnya. Dan sebenarnya
Kyu jong adalah seorang pangeran yang tampan. Bong ja dan keempat pria lain tak
bisa berkata apa-apa.
Keempat
pria lain pulang ketempat masing-masing. Akhirnya Bong ja dan Kyu jong menikah.
Mereka hidup bahagia selamanya…
Tidak,
hidup mereka belum bisa dibilang bahagia. Sebab Kyu jong membawa Bong ja hidup
di istana. Dan apa yang ada di istana?
Ternyata
kim Hyung joon adalah adik dari kim Kyu jong. Dan Kim hyun Joong adalah kakak
dari Kim Kyu jong. Selain itu, Tabib Heo dan Tabib Park
adalah tabib istana. Awalnya mereka semua tidak mengenal Kyu jong saat berada
di rumah Bong ja karena Kyu jong menyamar. Tapi tentu saja Kyu jong mengenal
mereka semua.
Itu
artinya, hidup Kyu jong masih akan melewati banyak cobaan karena banyaknya
saingan dalam satu istana itu. Dan tentu saja keempat pria lain tetap berusaha
mendapatkan cintanya Bong ja walaupun diantaranya adalah saudara Kyu jong. Wah,
bersabarlah Kyu jong…
~selesai~