Mantra
Pengiriman
“Kunci!
Segel dia, jangan sampai lepas!” teriakku memberikan instruksi untuk menyegel
siluman serigala itu. siluman serigala itu terus meronta dan berusaha
membebaskan diri dari jeratan mantra dan gulungan kitab doa yang berusaha
menyegelnya, membuat pasukan timku kelelahan.
“Tapi
sulit untuk membuatnya jinak, Liorra!”
“Jangan
menyerah! Jangan sampai ia lepas kembali ke Desa Lotharix dan membuat onar,
serta memangsa penduduk desa!”
Peluh
bercucuran, tanganku juga mulai gemetar tak tertahankan selama menahan serangan
dan gertakan siluman tersebut. Mantra-mantra berbentuk seperti rantai yang
telah menempel di tubuh siluman itu mulai bergetar, dan lama kelamaan rantai
mantra itu satu-persatu melepaskan diri dari ikatannya. Siluman itu terlalu
kuat.
Craaashh!
Bagian
kaki depan siluman itu terlepas dari segel mantra dan berhasil melukai seluruh
tubuh bagian kiriku dalam satu kali tebasan. Darah mengucur deras dari tempat
sabetan itu dan membuatku mual, terlebih karena aku yang tak tahan dengan bau
darah.
“Liorra!”
Sands mulai berlari ke arahku, berusaha menangkapku sebelum tubuhku limbung memeluk
tanah.
Kepalaku
mulai terasa berat, seluruh pemandangan yang tertangkap oleh mataku mulai
gamang. Penglihatanku tak bisa kufokuskan, dan terus bergerak menari-nari dalam
kepalaku.
“Teruskan…
penyegelannya,” ujarku, masih berusaha mengontrol diriku untuk bisa fokus dan
turut serta dalam penyegelan ini.
“Tak
ada cara lain selain mantra mematikan itu, Liorra!”
Sands
benar. Tak ada cara lain.
Kukumpulkan
tenaga yang tersisa, lalu memunculkan gulungan mantra lain yang berada dalam
ranselku dan menggumamkan mantra selagi gulungan itu menari-nari di udara. Gulungan
itu memang sedikit goyah saat berada di udara, namun masih bisa untuk menyegel
siluman itu.
“Liorra,
bukan maksudku menyuruhmu melakukan mantra ‘pengiriman’ itu! aku bisa
melakukannya!” Sands berusaha mencegahku.
Tanpa
mengucapkan balasan perkataannya, aku menggeleng lemah sambil terus mengucapkan
mantra.
Tubuhku
melayang di udara beserta dengan siluman itu. Portal menuju dimensi lain sudah
terbuka, dan satu kata terakhir siap mengirimkan kami ke dimensi lain.
Θέση!
Dimensi Lain
Gelap.
Tak ada satu cahaya pun yang menerangi tempat ini. Aku tahu, jika aku melakukan
mantra pengiriman itu, aku juga akan ikut tersegel di dalamnya, menemani
makhluk yang disegel. Oooh, malangnya aku.
Tidak,
tidak… jika dilihat dari segi penilaian penduduk desa, tentu saja aku dianggap
pahlawan yang mati di medan perang. Bagaimana tidak? Aku sudah menyegel sumber
keonaran Desa Lotharix, lalu mati saat bertugas.
Tidak
akan ada yang bersimpati padaku saat aku masih mengemban titel “φρουρά” yang berarti penjaga, yang bertugas
menjaga kedamaian desa. Aku adalah penjaga yang ditugaskan untuk menjaga
keamanan Desa Lotharix, desa dengan seribu satu masalah yang menghinggapinya.
Jika
kuteliti lagi, tak heran bila Desa Lotharix dinamakan seperti itu. aku bahkan
sering sekali harus mengorbankan waktu tidurku dan semua kegiatan bersantaiku
hanya untuk mengatasi masalah yang ada di Desa Lotharix. Sands, teman masa
kecilku yang mengajakku bertugas ke sini, sempat menyesal karena banyak masalah
yang harus diatasi. Mau bagaimana lagi, kami penjaga level tinggi hanya diberi
pilihan “desa seribu satu masalah” atau “desa seribu dua masalah” (Logarid),
yang aku yakin tugasnya akan lebih berat dari Desa Lotharix ini.
Jika
ditanya apa yang sedang kulakukan saat ini, mungkin… merenung dan menghabiskan
waktuku hingga aku sendiri akan lemah dan mati dengan sendirinya. Dimensi ini
menyerap kekuatan siluman, namun tidak untuk penyegel. Aku juga tidak bisa
mengeluarkan diriku sendiri dari dimensi ini.
Tiba-tiba
saja, ada setitik harapan… ah, bukan! Setitik cahaya dalam kegelapan mutlak!
Aku segera
berlari menghampiri cahaya itu, mencari tahu apa yang ada di dalam cahaya
tersebut. Semakin mendekat, semakin terdengar suara Sands yang
memanggil-manggil diriku, walau awalnya hanya suara samar.
wuuuussh!
Aku melewati
cahaya itu, menyaksikan Sands yang segera menutup dimensi lain yang dibukanya. Begitu
melihatku, ia segera memelukku.
Aku lega bisa menyelamatkan orang yang
kusayangi, begitu bisik Sands di telingaku.
No comments:
Post a Comment