Tuesday, June 3, 2014

Cerpen



Mantra Pengiriman
“Kunci! Segel dia, jangan sampai lepas!” teriakku memberikan instruksi untuk menyegel siluman serigala itu. siluman serigala itu terus meronta dan berusaha membebaskan diri dari jeratan mantra dan gulungan kitab doa yang berusaha menyegelnya, membuat pasukan timku kelelahan.
“Tapi sulit untuk membuatnya jinak, Liorra!”
“Jangan menyerah! Jangan sampai ia lepas kembali ke Desa Lotharix dan membuat onar, serta memangsa penduduk desa!”
Peluh bercucuran, tanganku juga mulai gemetar tak tertahankan selama menahan serangan dan gertakan siluman tersebut. Mantra-mantra berbentuk seperti rantai yang telah menempel di tubuh siluman itu mulai bergetar, dan lama kelamaan rantai mantra itu satu-persatu melepaskan diri dari ikatannya. Siluman itu terlalu kuat.
Craaashh!
Bagian kaki depan siluman itu terlepas dari segel mantra dan berhasil melukai seluruh tubuh bagian kiriku dalam satu kali tebasan. Darah mengucur deras dari tempat sabetan itu dan membuatku mual, terlebih karena aku yang tak tahan dengan bau darah.
“Liorra!” Sands mulai berlari ke arahku, berusaha menangkapku sebelum tubuhku limbung memeluk tanah.
Kepalaku mulai terasa berat, seluruh pemandangan yang tertangkap oleh mataku mulai gamang. Penglihatanku tak bisa kufokuskan, dan terus bergerak menari-nari dalam kepalaku.
“Teruskan… penyegelannya,” ujarku, masih berusaha mengontrol diriku untuk bisa fokus dan turut serta dalam penyegelan ini.
“Tak ada cara lain selain mantra mematikan itu, Liorra!”
Sands benar. Tak ada cara lain.
Kukumpulkan tenaga yang tersisa, lalu memunculkan gulungan mantra lain yang berada dalam ranselku dan menggumamkan mantra selagi gulungan itu menari-nari di udara. Gulungan itu memang sedikit goyah saat berada di udara, namun masih bisa untuk menyegel siluman itu.
“Liorra, bukan maksudku menyuruhmu melakukan mantra ‘pengiriman’ itu! aku bisa melakukannya!” Sands berusaha mencegahku.
Tanpa mengucapkan balasan perkataannya, aku menggeleng lemah sambil terus mengucapkan mantra.
Tubuhku melayang di udara beserta dengan siluman itu. Portal menuju dimensi lain sudah terbuka, dan satu kata terakhir siap mengirimkan kami ke dimensi lain.
Θέση!

Dimensi Lain
Gelap. Tak ada satu cahaya pun yang menerangi tempat ini. Aku tahu, jika aku melakukan mantra pengiriman itu, aku juga akan ikut tersegel di dalamnya, menemani makhluk yang disegel. Oooh, malangnya aku.
Tidak, tidak… jika dilihat dari segi penilaian penduduk desa, tentu saja aku dianggap pahlawan yang mati di medan perang. Bagaimana tidak? Aku sudah menyegel sumber keonaran Desa Lotharix, lalu mati saat bertugas.
Tidak akan ada yang bersimpati padaku saat aku masih mengemban titel “φρουρά” yang berarti penjaga, yang bertugas menjaga kedamaian desa. Aku adalah penjaga yang ditugaskan untuk menjaga keamanan Desa Lotharix, desa dengan seribu satu masalah yang menghinggapinya.
Jika kuteliti lagi, tak heran bila Desa Lotharix dinamakan seperti itu. aku bahkan sering sekali harus mengorbankan waktu tidurku dan semua kegiatan bersantaiku hanya untuk mengatasi masalah yang ada di Desa Lotharix. Sands, teman masa kecilku yang mengajakku bertugas ke sini, sempat menyesal karena banyak masalah yang harus diatasi. Mau bagaimana lagi, kami penjaga level tinggi hanya diberi pilihan “desa seribu satu masalah” atau “desa seribu dua masalah” (Logarid), yang aku yakin tugasnya akan lebih berat dari Desa Lotharix ini.
Jika ditanya apa yang sedang kulakukan saat ini, mungkin… merenung dan menghabiskan waktuku hingga aku sendiri akan lemah dan mati dengan sendirinya. Dimensi ini menyerap kekuatan siluman, namun tidak untuk penyegel. Aku juga tidak bisa mengeluarkan diriku sendiri dari dimensi ini.
Tiba-tiba saja, ada setitik harapan… ah, bukan! Setitik cahaya dalam kegelapan mutlak!
Aku segera berlari menghampiri cahaya itu, mencari tahu apa yang ada di dalam cahaya tersebut. Semakin mendekat, semakin terdengar suara Sands yang memanggil-manggil diriku, walau awalnya hanya suara samar.
wuuuussh!
Aku melewati cahaya itu, menyaksikan Sands yang segera menutup dimensi lain yang dibukanya. Begitu melihatku, ia segera memelukku.
Aku lega bisa menyelamatkan orang yang kusayangi, begitu bisik Sands di telingaku.

No comments:

Post a Comment