Wednesday, November 12, 2014

Lanjut, atau Berhenti Sampai di sini?



Hari ini, hatiku kembali dipilukan seseorang. Bukan oleh seseorang yang memiliki tempat di hatiku, bukaaaaan. Bukan cinta-cintaan pokoknya.
Dia anak kampus fiksi 10. Seharusnya begitu.
Aku selalu senang berinteraksi di dunia maya. Bagi kalian yang mengenalku sejenak saja, pasti akan bilang kalau aku ini cerewet banget di socmed, aslinya pendiam. Iya, itu pencitraan.
Lalu, karena memang doyan banget terjun ke dumay, alhasil sering berusaha menghidupkan grup yang sudah kolaps. Melihat grup yang sunyi tuh rasanya… eeer, susah dijelaskan.
Nah, grup fb kampus fiksi 10 termasuk grup tersunyi yang pernah kumiliki. Pasalnya, jarang ada yang sekadar lewat dan say something untuk memancing keharmonisan grup itu. Mungkin memang belum saling kenal kali, ya… Maka dari itu, berhubung sudah menjelang hari H pestanya angkatan 10, aku ikut meramaikan. (padahal gak ikut, tapi pengen sekali ikuuuuut! Hiks!)
Berhubung kemarin ada yang gak bisa ikut dan konfirmasinya ke mimin kampus fiksi, jadilah kepo. Hih! Siapa mimin emangnya? Dia kan gak di Jogja! Kalau konfirmnya ke mimin, miminnya mesti nyampein ke mbak ve gituuu? Kerja kok dua kali.
Nah, ini yang kutulis di grup:
Hai hai, siapa aja nih yang udah konfirmasi ikut kampus fiksi angkatan 10? :D
Beberapa sudah ngacung. (aku hitung ada 3 orang doang. Responnya benar-benar sedikit ya…) satu yang menjawab “nope”.
Kukira salah baca atau aku yang memang tak mengerti maksudnya, lalu kukonfirmasi lagi dengan bilang, “Mas ikut, kan?”
Dan dia menjawab, “Aku gak ikut. I have personal reason to stopped my dream to be a writer.
Nyeseknya tuuuh… beneran di sini. *nunjuk hati*
Aku benar-benar sedih ketika mendengar ada yang menjawab seperti itu. Pasalnya, sudah ada beberapa temanku yang menghentikan langkahnya. Mereka sama denganku, yang memulai dunia ini dengan menulis cerpen. Mereka bersama denganku, mengecap dunia yang begitu penuh dengan persaingan. Persaingan di SBMPTN mah kalah brrrrooooh!
Saat ia menjawab itu, aku hanya bisa menjawab dengan emot ini. :’(
***
Tak lama setelah itu, aku merenungi diriku sendiri. Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang pemalas yang bercita-cita ingin menjadi penulis. Jalanku berliku, sangat berpaku! Di saat temanku yang lain bisa dengan lancar menulis cerita romansa remaja yang ceria dan menyentuh, aku? Aku selalu kalah dari mereka. Dunia yang kusukai hanya fantasi, dan di sini, di Indonesia, fantasi kurang laku, kurang banyak peminatnya. Benar, kan?
Setiap ikut lomba, selalu kalah di tahap kedua atau tahap final. Di saat teman-teman seperjuanganku, seangkatanku, bahkan istilahnya penulis baru berhasil menyaingiku, ada rasa sesak di dada. Tapi, entah kenapa, aku sendiri tak pernah berpikir untuk berhenti menulis. Entahlah, mungkin bebal, padahal tulisanku tak bagus. Biasa. Standar. Siapapun bisa menulis sepertiku, asal makan buku eyd. Mungkin aku seperti robot penghasil tulisan yang tak pernah berhasil meniupkan roh untuk tulisanku. Itulah yang kupikirkan mengenai diriku selama ini.
Akan tetapi, herannya, aku tak pernah bisa untuk melepas dunia ini. Aku sering banget lho, kalah dalam berbagai perlombaan. Tulisanku yang berhasil mana coba? Hanya dua buah cerpen di majalah story yang kini sudah tak ada, satu buah di tabloid gaul, dua di antologi yang diterbitkan penerbit mayor (satu masuk toko buku, satu dijual online, itupun cuma satu cerpen di masing-masing antologi). Iya, seingatku memang hanya itu.
Padahal, banyak alasan yang bisa membuatku berhenti. Misalnya, satu temanku yang pernah satu edisi denganku di majalah story, kini sudah menerbitkan 3 novel. (kurang ngedown apa coba?) lalu penulis baru yang sering diagung-agungkan dibandingkan diriku (ini terjadi di sebuah grup) dan aku menerimanya dengan lapang dada, dengan beranggapan bahwa tulisanku memang bukan untuk di romance. (nah, masih bisa ngeles kan? Kurang bandel apa coba?)
Semangatku sebenarnya turun naik. Turun ketika kalah lomba, dan setiap ingin berhenti, selalu ada yang menaikkan. Bukan dari omongan orang, bahkan mamaku sendiri biasa aja toh. Tapi dari beberapa grup kepenulisan.
Pernah sekali ingin berhenti, eh tiba-tiba cerpenku masuk gaul. (padahal asli, ini biasa banget cerpennya). Lalu ingin berhenti lagi, tiba-tiba dinyatakan lolos masuk kampus fiksi reguler (ini benar-benar bersyukur banget, karena banyak orang di luar sana yang ingin ikut tapi masih belum bisa masuk ke dalam bagian dari kampus fiksi). Saat ngedown lagi juli lalu, tiba-tiba saja dinyatakan masuk nominasi 20 penulis penakes terbaik dan mendapat workshop penulisan opini selama dua hari (beuh, fasilitasnya hotel broooh! Makan sampe perut penuh dan semenjak itu berat badanku gak bisa turun-turun! Padahal ngerjain itu mepet deadline nunggu selesai ujian.) Kurang baik apa coba, motivasi yang asalnya dari Tuhan itu?
Ini mau curhat apa nyombongin diri? :”(
Yah, intinya, semangatku lagi naik saat ini, apalagi setelah mengikuti kampus fiksi. Jujur aja, jarang lho, aku ngeblog nulis seperti ini. Mungkin ada efek lanjutan dari kampus fiksi. *ciyeeeee* dan aku sendiri mengatakan pada diriku sendiri, “LO HARUS PUNYA NOVEL SETELAH MENGIKUTI KAMPUS FIKSI INI. JANGAN MALU-MALUIN!!!” Padahal, pada dasarnya, aku tetap minder sama teman-teman kampus fiksiku yang sepertinya lebih hebat dalam menulis. Tapi… emang dasarnya gak mau kalah kecuali ada sebuah pukulan telak yang berhasil membuatku gak bangun-bangun lagi. (dan kalian gak akan tahu pukulan telak seperti apa yang sukses membuatku jatuh, karena aku sendiri tak tahu. Kalau kalian jawab ‘novel teman seangkatan’, itu justru akan memacu semangatku)
Kalau lihat dari pesaing, jangan heran. Sama aja toh, profesi waiter juga banyak persaingannya. Penulis saat ini membludak. Tapi yang mempunyai “nama” hanya segelintir, toh?
Makanya, masih tak habis pikir kenapa ada yang bilang “aku punya alasan untuk berhenti menulis”. Lalu aku apaaaaa? Apa aku juga harus berhenti? Tahun 2014, karyaku yang dianggap hanya yang penakes itu saja, bahkan gak menang juara satu. Hanya masuk 4 besar dan gak dapat 3 juta. Huwaaaah! *tangisan yang membanjiri seluruh negeri* selain itu, belum ada.
Aku menyukai fantasi. Tapi lagi-lagi, fantasi bukan sesuatu yang bisa “menjual” di Indonesia. Bahkan, mbak Rina aja menyampaikan, bahwa novel bimbingan tidak menerima fantasi. Diva tidak menerima naskah fantasi dulu. *lap ingus*
Aku yang hanya bisa menulis fantasi, apakah harus menghentikan langkahku karena alasan tersebut di atas?
 Ah, masih ada satu lagi. *bikin heboh sedikit* Aku sedang menyukai seorang penulis yang udah punya anak enam, lho! (maksudnya buku). Sampai hari masih belum bisa move on. oke, dasar bodoh emang. Haruskah aku berhenti menulis dan berhenti menyukainya? Dia bilang suka cewek yang jago nulis, lho. Aku apa? novel pun belum punya. Entah ini bisa jadi semangat atau tidak. Tapi kalau dijadikan semangat, sepertinya gak logis bener...
Eeeer, kepala ogut mulai pusing menulis ini. Selalu dan selalu melebar dan bikin kepala ogut goyang-goyang. Sebaiknya diakhiri sampai di sini. 
Dan masih ada saja pertanyaan di kepalaku, “kenapa ada alasan untuk menghentikan langkahmu dalam menulis?”


Depok, 13 November 2014

Tuesday, November 11, 2014

Pertanyaan yang Mencuat



Di tengah jalan, saat diboncengi naik motor, entah kenapa otakku tiba-tiba saja memutar sebuah adegan di mana Bajegh sedang menceritakan sebuah cerita. Perlahan, cerita itu mencuat ke permukaan, menimbulkan pertanyaan tersendiri. Aku yang memang hobi berpikir saat perjalanan, mungkin akan terlihat seperti orang yang melamun karena berdiam membisu, padahal otakku sedang mencerna apapun yang kupikirkan.
Ah, kebanyakan curhatnya! Cerita ini mungkin seperti dongeng yang dibacakan turun-temurun, tak tahu dari mana sumbernya, yang pasti aku mendengarnya dari si Bajegh. Berhubung dia juga tidak tahu siapa penulisnya, maka aku akan menuliskannya dengan bahasaku sendiri, dan INI BUKAN KARYAKU. Ini cerpen yang pernah kudengar.
Langsung aja, kira-kira seperti ini ceritanya.
***
Ada seorang pengusaha sukses dan ramah yang memiliki banyak teman dan relasi. Suatu ketika, ia sakit berat, ajal hendak menjemputnya. Seorang malaikat datang dan menyampaikan sesuatu pada istrinya di pagi hari.
“Kesembuhan suamimu bergantung pada 30 doa yang dipanjatkan untuknya. Doa tersebut tidak dihitung jika yang mendoakan adalah saudaranya. Jika sampai matahari terbenam tidak mencapai 30, maka aku akan kembali menjemputnya.”
“Bagaimana aku bisa tahu jumlahnya?” tanya sang istri.
“Kamu akan tahu. Aku akan memberimu sebuah pertanda ketika ada yang memanjatkan doa untuk suamimu.”
Usai berkata itu, malaikat pergi. Istrinya terus berharap agar ada yang mendoakan suaminya. Istrinya yakin, sebab teman suaminya cukup banyak. Setidaknya, 30 bukanlah angka yang banyak.
Sampai menjelang matahari terbenam, tak ada satu pertanda pun yang didapat oleh sang istri. Ia sedih bukan main, dan itu artinya ia akan kehilangan suaminya.
Matahari lalu terbenam, diiringi dengan kedatangan malaikat itu ke hadapan sang istri. Sang istri menangis, tak menyangka bahwa tak ada satupun doa yang dipanjatkan untuk suaminya.
“Suamimu terbebas dari maut,” ujar malaikat itu, “ada lebih dari tiga puluh anak yatim piatu yang mendoakannya. Untuk itu, tak lama lagi, kesembuhan akan menjadi milik suamimu.”
Tak lama setelah itu, suaminya sembuh.
***
Tadinya cerita itu mau kudramatisir sedikit, tapi berhubung bukan cerpenku, jadilah kusederhanakan agar saat diceritakan kembali, cerita ini tidak menjadi lebay.
Di akhir cerita, suami itu dapat sembuh berkat doa tiga puluh anak yatim yang mendoakannya. Aku tidak menceritakan bagian kenapa bisa ada anak yatim di dalam cerita tadi, karena ingin kubahas di sini.
Si suami itu seorang pengusaha sukses. Banyak uang, ramah. Banyak teman pula. Ketika ia memiliki uang lebih, ia memberikan sebagian uangnya ke panti asuhan. Suatu ketika, ibu panti asuhan mendapat kabar bahwa si bapak ini sedang sakit, lalu memberitahukan pada anak-anak panti. Anak-anak itu dengan ikhlas mendoakan si bapak ini dengan melakukan pengajian. Dengan cara itulah, terkumpul 30 doa yang bukan berasal dari sanak saudara si suami tadi.
Lalu, saat mencerna cerita itu kembali, sempat terpikir olehku, berapa orang yang mendoakanku? Ada berapa orang yang ingat padaku, dan menyempatkan untuk menyelipkan namaku dalam doanya? Jangan-jangan… namaku hanya terselip ketika orang-orang sedang mengutukku, mengataiku dengan sinis, dan tak ada yang pernah mengingatku ketika sedang berdoa?
Aku sendiri pernah mengalami beberapa kejadian, di mana aku yang seorang pendiam ini sempat merasakan kesendirian yang benar-benar hampa di semester 1-3. Koloni muncul di dunia kampus, baik itu koloni kapang, jamur, atau bakteri (halah!). ada yang bergerombol 5, bahkan lebih. Ke manapun kulangkahkan kaki, selalu ada rombongan.
Jadi jangan heran, di semester 1-3, teman bicaraku berganti-ganti. Aku seolah mencari mangsa empuk ketika ada yang “bercerai” dengan koloninya. Aku tak punya niat sedikit pun untuk memecahkan koloni itu, sekalipun tak pernah terpikirkan untukku. Aku hanya berbicara ketika melihat ada yang sendiri, berusaha mengajaknya mengobrol ketika ada yang memisahkan diri dalam kesendirian. Aku mengajaknya bicara, karena aku tahu bagaimana rasanya berdiri sendiri ketika berada dalam keramaian yang kau kenal.
Koloni ini sebenarnya cukup memuakkan. Jujur saja, aku sendiri tak mau menyebut diriku berkoloni atau apapun sebutannya. Kadang, aku menemukan sebuah koloni vampir dengan ratu manusia di dalamnya. Ada juga koloni semut pekerja semua, bekerja membuat contekan ketika ujian. Yah, you know what laaah~ XD
Lalu… kenapa jadi melebar ceritanya? :(
Kembali lagi ke diriku yang sendiri. Suatu ketika, aku dekat dengan seseorang yang sedang “bercerai”. (Sebenarnya sering, sih. Toh teman-temanku yang saat ini terbentuk menyerupai koloni juga hasil cerai juga dari koloninya. Bener kan, peh? XD) setiap hari, ke mana-mana bersama. Ujian duduk berdekatan. Ia termasuk pintar, jadi tanpa memberikan contekan padanya pun, ia bisa.
Ketika selesai ujian dan kami sempat berpisah, kami bertemu kembali di warteg. Ia mengatakan sesuatu padaku.
“Eh, lu tahu gak, tadi ada yang nanya sama gue begini.” Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Lu kan deket sama step. Lu dikasih contekan gak sama dia? Dia kan pinter.” #uhuk #tertohok
Dari situlah, aku tahu pandangan orang terhadapku. Aku tahu alasan aku tidak diajak berkoloni (karena aku tak mau memberikan contekan).
Otakku kembali berpikir. Jika memang orang berpikiran negatif begitu tentangku, apa ada satu saja dari mereka yang berdoa untuk perubahanku? Kurasa tidak. Aku bukannya orang yang mengharapkan doa, ini hanya muncul seketika ketika mengingat cerita ini. Aku berusaha positif, dan jika tidak ada satupun yang mendoakanku, aku masih memiliki diriku sendiri untuk mendoakanku. Setidaknya, ada satu. XD
Lalu bercabang lagi pikiranku. “Kalau kamu sempat berpikir apakah kamu didoakan orang lain atau tidak, pernahkah kamu menyempatkan diri untuk mendoakan orang lain?”
Karena aku percaya bahwa karma itu ada, makanya selalu berusaha berpikir dua arah. Kapan aku mendoakan orang lain? Apakah mendoakan orang lain ketika dalam kondisi biasa tidak bisa? Haruskah mendoakan seseorang di saat kondisi sekarat? (sekarat dalam artian benar-benar harus didoakan, bukan dalam kondisi sakit sekarat saja)
Entahlah, kicauan ini hanya iseng saja sebenarnya, apalagi aku bukan orang yang beriman banget, alim banget, terlebih doa tanpa bolong. Yah, begitulah. Keisengan otakku ketika dalam perjalanan di atas motor, di angkot, atau di manapun, selalu membuatku riweuh sendiri.

Depok, 12 November 2014

Monday, November 10, 2014

(Bukan) Puisi, (bukan) Curhat

Rengkuhlah jiwaku, Sayang,
Pelukanmu dapat menghangatkanku
Menentramkanku dalam balutan ragamu

Hanya sesaat saja, kumohon...
Lupakan dia yang memenuhi relung pikiranmu
Pikirkan aku walau hanya sejenak.

Dekap aku dalam dadamu,
Rasakan getaran cinta yang kuhantarkan
Semua rasa kusampaikan di dalamnya
Apa kau merasakannya?

Jika jawabanmu adalah tidak,
Dan masih tetap dirinya yang kau pikirkan,
Selamat tinggal, Sayang.
Kita berjarak, walau dalam satu ruang gerak.
Kau dan aku tak ditakdirkan bersama.



*ditulis di tengah malam dalam kesunyian, dengan tetesan hangat yang menghujani bumi.
Depok, 10 November 2014

Sunday, November 9, 2014

Cuma Masalah Kecil, Coretan Tak Berguna



Behind the scene
Haduh, mana kacamata hitam gue? Manaaaaa? Masa ngetik gak pake kacamata? Tambah sipitlah gue!!
5 menit kemudian…
Nyerah. Mari lanjut aja curhatnya. Yang ada makin gondok saking gak nemu kacamata, lucid dream, mockingjay, kotak pensil, gantungan kunci Gaara yang berpanel surya, sama kunci pagar rumah gue. Huft!
*yang paling nyesel itu lucid dream sama gantungan kunci Gaara. Hiks! Itu gue sayang bangeeet… *

***
Menurut kalian, ada gak sih yang namanya masalah kecil? Sering dengar ungkapan “masalah kecil” kan? Misalnya, uang lu hilang sepuluh ribu, lalu teman lu hanya bilang, “Ah elah, masalah kecil gak usah dibesar-besarin!”
Bagi dia mungkin kecil. Secara dia pulang naik motor. Coba bayangkan, gue yang harus ngangkot minimal tiga ribu, andaikan uang terakhir gue sepuluh ribu malah raib, apa bukan masalah besar, tuh?
Gue pernah coba jalan kaki karena pernah kehabisan ongkos. Beruntung, Mama datang di saat yang tepat. Gue hanya perlu jalan setengah jalan.
Malamnya, entah berapa banyak colekan balsem yang harus direlakan untuk mencium kaki gue…
Itu cuma contoh kecil, guys.
Sebenarnya, ini sama saja dengan pertanyaan, “apakah dosa itu ada yang dosa kecil dan dosa besar? Bagaimana cara menilainya?” dan teman gue yang emang kurang ajar gak ngasih tahu jawabannya (tepatnya sih gak tahu). Jadi sampai saat ini, gue biarkan Tuhan yang mencatat dosa gue, tak peduli itu besar atau kecil, gak bakal gue permasalahin. Itu urusan Tuhan, dengan akibat yang akan gue tanggung nanti. Oke sip.
Tapi, pernah dengar hukum relatifitas, kan? Itu kata Abah Einstein. Walaupun aslinya gue goblok banget di fisika, kata-kata itu terdengar keren di telinga gue. Setangkapnya gue, itu tergantung sudut pandang.
Mungkin seperti ini gue jelasinnya (kalau contoh di atas masih kurang cukup). Si A adalah pecinta kebersihan. Gak suka yang jorok-jorok. Lalu si B adalah orang yang easy going. Ketika di satu ruang waktu mereka bersamaan menyentuh upil di bawah meja yang tertempel secara “sengaja”, saat mereka sedang menunggu pesanan makanan mereka, reaksi apa yang akan terjadi? Sip. Jawab sendiri, ya.
Tapi kali ini gue lagi gondok bukan main. Gue akan mengambil sisi di mana ketika gue menganggap sebuah masalah itu hanyalah masalah kecil. (lain waktu gue akan mengambil sisi lainnya, kalau sempat)
Suatu ketika, gue merasa lelah dengan melihat keluhan dari seseorang. Gue tahu orangnya seperti apa, makanya gue berusaha maklumin tindakannya. Dia marah-marah hanya karena masalah remeh yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dicemplungin dalam larutan es hula-hula (kurang enak apa coba?).
Teman gue itu marah-marah tanpa alasan yang jelas, alasan yang remeh, dan marahnya ke gue. Gue orangnya cukup peka ketika ada yang melirik sinis ke gue, nyindir di socmed tanpa nyebutin nama, tapi paling gak peka soal urusan cinta #uhuk. Itulah alasan kenapa gue tahu dia marah sama gue.
Untuk yang melihat gue dengan sebelah mata, itu kelihatan dari cara bicaranya ke gue, cara menatapnya. Bodo amat, gue masih punya segudang urusan yang harus gue tangani, gak hanya permasalahin kalian yang dengan mudahnya mengejek gue atas gen yang gue terima dari orangtua gue. Masalah sifat gue, gak usahlah kalian yang ngurus, kecuali kalian emang mau jadi bagian dari hidup gue, baik itu sahabat ataupun suami. *gak nerima anak jadi-jadian, apalagi yang seumuran*
Lalu yang soal nyindir menyinyir, kalian sadar gak, kapanpun kalian nyindir, saat itu hanya jedah beberapa detik dari kejadian yang membuat kalian kesal? Beruntung emang, socmed selalu di sisi, jadi mau update tinggal ngetik. Sinyal jaringan pun sudah oke. Alhasil, hasil nyinyiran terlihat, dan itu tak jauh waktunya dari perkara yang terjadi sebelumnya. Untuk orang-orang yang sering buka twitter seperti gue, kalian mesti berhati-hati.
Tapi teteeeep, kalian mau update 5 jam kemudian pun, hasil nyinyiran kalian kebaca sama gue! Gue bahkan dikatakan dukun sama teman gue karena gue bisa tahu apa yang akan dia omongin. Sebab gue ini pembaca pola. *gak ngerti ya udah*
Balik lagi ke masalah teman gue. Gue sebenarnya sedang nyinyirin dia sekarang dengan tulisan ini, tapi gue buat sesamar mungkin. Gak terlihat kan, apa yang gue nyinyirin? Siapa yang gue sindir? Siapa yang gue ceritain?
Dia marah-marah hanya karena sebuah masalah kecil. Anggaplah seperti itu. Kan gue udah bilang, masalah kecil itu gak usah terlalu dipikirin. Menguras tenaga, dan menambah ion negatif dalam pikiran lu sendiri. Toh, hal itu hanya menambah ke-elektron-an diri lu. Jika lu udah sadar, plis, cepatlah pikirkan dengan menambahkan ion positif ke dalam pikiran lu. Sebenarnya, masalah lu itu sedemikian tak berharganya. Untuk apa mempermasalahkan hal tersebut ketika otak lu sendiri sedang mumet?
Pliiis, friend. Sadarlah. Percaya sama gue. Itu bukan masalah besar. Gue udah pernah mengalami hal serupa. Dan setelah gue pikirin, itu bukanlah masalah. Yang jadi masalah adalah: lu harus ikhlas. Tenangkan hati dan pikiran lu, coba pikirkan: adakah gunanya lu mempermasalahkan hal itu sampai membuat tensi lu naik? Adakah gunanya bagi pihak yang lu bela (yang justru sumber masalahnya), ketika lu berusaha memperkeruh suasana?
Jernihkan pikiran lu, dengarkan suaranya. Dengarkan juga suara hati lu. Pertemukan keduanya, dan lu akan menemukan jalan keluarnya.
***
Gue cuma mau curhat, kok… :’) jadi buat yang gak ngerti pasti bukan lu orang yang gue maksud. :P
Tapi seperti yang gue bilang, gue itu selalu nyindir secara gak jelas. Selain untuk mengeluarkan uneg-uneg sendiri, tak ada hati yang tersakiti karena tak menyadari sindiran gue. Horeeee! XD
Coba ngacung, berapa orang yang sering merasa tersindir sama gue?
Lalu coba ngacung, berapa orang yang sakit hati karena omongan gue yang terlalu blak-blakan? :D
Itu alasan kenapa gue lebih memilih diam dan hanya akan blak-blakan sama orang yang gue anggap sahabat dan gak akan kesal dengan kata-kata gue. Gak jarang, banyak orang yang baru mengenal gue menganggap gue pendiam, padahal sebenarnya...
Coba kumpulkan 100 responden yang di sekitar gue selama minimal 2 tahun, dan hasilnya akan keluar mencakan-mencakan mereka buat gue. XD
Karena hal itu, gue masih gak tahu gue itu introvert atau ekstrovert. Kepribadian yang mana. Gue ngecek tiga kali tentang kepribadian, hasil pertama adalah ISTJ, hasil kedua INTJ, hasil ketiga ENTJ. Pffft… bagi yang tahu kepribadian gue yang mana, tolong kasih tahu gue. XD
*jangan-jangan hasil keempat nanti ESTJ???*
Depok, 10 November 2014

Siapa Pemilikku?


Apakah sifat dasar manusia memang seperti itu?
Ataukah hanya individu tertentu saja, dengan kata "mayoritas" yang melabelinya?

Seperti jargon "yang kuat yang menang" pada hukum rimba,
Apakah sifat seperti itu juga menjadi jargon kaum itu?
***
Entahlah. Aku tak bisa menyimpulkannya. Selalu, selalu ada yang menasihatiku untuk tidak menyamaratakan sebuah kedudukan hanya karena sebuah kesamaan. Diriku sendiri bahkan selalu mengingatkan untuk tak menyamakan orang lain, sebab aku juga tak sama. Aku individu yang berbeda, unik, dan aku dilahirkan atas pertemuan seekor kecebong bernama sperma dan sebuah permata bernama ovum. *Eh, terlalu diskriminasi perbandingannya, ya? Biarin siiiih. kan terserah gue!*

Aku berbeda. Aku kuat, maka aku bertahan. Kau tahu, bahwa seharusnya ada seseorang yang menggantikan posisiku ketika dilahirkan di dunia ini? Ya, aku adalah anak yang dipertahankan, diperjuangkan oleh orangtuaku, karena beberapa bulan sebelum aku terbentuk, ada seseorang yang harusnya dilahirkan. Dan itu bukan aku. Akulah yang merebut posisinya.
Harusnya kuingat semua itu. Aku seorang individu yang bertahan dalam rahim Ibuku, seorang yang kuat! Tapi kenapa aku harus selemah ini ketika berusaha mencari ‘pemilikku’?

Tak adakah yang merasa kehilanganku? Haruskah aku mencari dan berkata, “Hei, kamu kehilangan aku! Tidakkah kamu berusaha mencariku? Sebelum kamu dilahirkan, sebatang tulang rusukmu telah diambil. Tidakkah kau merasakannya?”

Selama masa pencarian ‘pemilikku’, aku selalu menjadi pihak yang merasa tersakiti, baik disadari maupun tidak. Apa aku harus diuji sedemikian rupa untuk menemukannya? Apakah, nun jauh di sana, ‘pemilikku’ juga merasakan hal yang sama?

Harukah, rasa sakit ini harus kunikmati, kukecap? Apa dengan itu, aku pantas mendapatkan sesuatu seharga yang kukorbankan? Benarkah kau seberharga itu, ‘pemilikku’? Apakah kau adalah individu yang sangat kuat, hingga aku juga diuji sedemikian rupa, agar kelak aku tidak mempermalukan dirimu ketika bersanding denganmu?

Jujur, berulang kali, aku mendapati hal yang sama. Perlakuan yang sama. Hatiku bimbang, apa ini pertanda bahwa aku belum lulus dengan ujian ini, hingga berulang kali mendapati soal ujian yang sama? Ataukah, aku diberi tahu, bahwa kelak ketika aku bertemu denganmu, kau akan menyambutku dengan sikap yang berbeda, hingga aku bisa tahu bahwa kau adalah ‘pemilikku’?

Apakah kau membaca ini, ‘Pemilikku’?

Depok, 9 November 2014
Ditemani lantunan lagu Kitto Mata Itsuka dari Depapepe