Hari
ini, hatiku kembali dipilukan seseorang. Bukan oleh seseorang yang memiliki
tempat di hatiku, bukaaaaan. Bukan cinta-cintaan pokoknya.
Dia anak
kampus fiksi 10. Seharusnya begitu.
Aku selalu
senang berinteraksi di dunia maya. Bagi kalian yang mengenalku sejenak saja,
pasti akan bilang kalau aku ini cerewet banget di socmed, aslinya pendiam. Iya,
itu pencitraan.
Lalu,
karena memang doyan banget terjun ke dumay, alhasil sering berusaha
menghidupkan grup yang sudah kolaps. Melihat grup yang sunyi tuh rasanya… eeer,
susah dijelaskan.
Nah,
grup fb kampus fiksi 10 termasuk grup tersunyi yang pernah kumiliki. Pasalnya,
jarang ada yang sekadar lewat dan say
something untuk memancing keharmonisan grup itu. Mungkin memang belum
saling kenal kali, ya… Maka dari itu, berhubung sudah menjelang hari H pestanya
angkatan 10, aku ikut meramaikan. (padahal gak ikut, tapi pengen sekali
ikuuuuut! Hiks!)
Berhubung
kemarin ada yang gak bisa ikut dan konfirmasinya ke mimin kampus fiksi, jadilah
kepo. Hih! Siapa mimin emangnya? Dia kan gak di Jogja! Kalau konfirmnya ke
mimin, miminnya mesti nyampein ke mbak ve gituuu? Kerja kok dua kali.
Nah,
ini yang kutulis di grup:
Hai hai, siapa aja nih yang udah
konfirmasi ikut kampus fiksi angkatan 10? :D
Beberapa
sudah ngacung. (aku hitung ada 3 orang doang. Responnya benar-benar sedikit ya…)
satu yang menjawab “nope”.
Kukira
salah baca atau aku yang memang tak mengerti maksudnya, lalu kukonfirmasi lagi
dengan bilang, “Mas ikut, kan?”
Dan dia
menjawab, “Aku gak ikut. I have personal
reason to stopped my dream to be a writer.”
Nyeseknya
tuuuh… beneran di sini. *nunjuk hati*
Aku benar-benar
sedih ketika mendengar ada yang menjawab seperti itu. Pasalnya, sudah ada
beberapa temanku yang menghentikan langkahnya. Mereka sama denganku, yang
memulai dunia ini dengan menulis cerpen. Mereka bersama denganku, mengecap
dunia yang begitu penuh dengan persaingan. Persaingan di SBMPTN mah kalah
brrrrooooh!
Saat
ia menjawab itu, aku hanya bisa menjawab dengan emot ini. :’(
***
Tak lama
setelah itu, aku merenungi diriku sendiri. Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang
pemalas yang bercita-cita ingin menjadi penulis. Jalanku berliku, sangat
berpaku! Di saat temanku yang lain bisa dengan lancar menulis cerita romansa
remaja yang ceria dan menyentuh, aku? Aku selalu kalah dari mereka. Dunia yang
kusukai hanya fantasi, dan di sini, di Indonesia, fantasi kurang laku, kurang
banyak peminatnya. Benar, kan?
Setiap
ikut lomba, selalu kalah di tahap kedua atau tahap final. Di saat teman-teman
seperjuanganku, seangkatanku, bahkan istilahnya penulis baru berhasil
menyaingiku, ada rasa sesak di dada. Tapi, entah kenapa, aku sendiri tak pernah
berpikir untuk berhenti menulis. Entahlah, mungkin bebal, padahal tulisanku tak
bagus. Biasa. Standar. Siapapun bisa menulis sepertiku, asal makan buku eyd. Mungkin
aku seperti robot penghasil tulisan yang tak pernah berhasil meniupkan roh
untuk tulisanku. Itulah yang kupikirkan mengenai diriku selama ini.
Akan
tetapi, herannya, aku tak pernah bisa untuk melepas dunia ini. Aku sering
banget lho, kalah dalam berbagai perlombaan. Tulisanku yang berhasil mana coba?
Hanya dua buah cerpen di majalah story yang kini sudah tak ada, satu buah di tabloid
gaul, dua di antologi yang diterbitkan penerbit mayor (satu masuk toko buku,
satu dijual online, itupun cuma satu cerpen di masing-masing antologi). Iya,
seingatku memang hanya itu.
Padahal,
banyak alasan yang bisa membuatku berhenti. Misalnya, satu temanku yang pernah
satu edisi denganku di majalah story, kini sudah menerbitkan 3 novel. (kurang
ngedown apa coba?) lalu penulis baru yang sering diagung-agungkan dibandingkan
diriku (ini terjadi di sebuah grup) dan aku menerimanya dengan lapang dada,
dengan beranggapan bahwa tulisanku memang bukan untuk di romance. (nah, masih bisa ngeles kan? Kurang bandel apa coba?)
Semangatku
sebenarnya turun naik. Turun ketika kalah lomba, dan setiap ingin berhenti,
selalu ada yang menaikkan. Bukan dari omongan orang, bahkan mamaku sendiri
biasa aja toh. Tapi dari beberapa grup kepenulisan.
Pernah
sekali ingin berhenti, eh tiba-tiba cerpenku masuk gaul. (padahal asli, ini
biasa banget cerpennya). Lalu ingin berhenti lagi, tiba-tiba dinyatakan lolos
masuk kampus fiksi reguler (ini benar-benar bersyukur banget, karena banyak
orang di luar sana yang ingin ikut tapi masih belum bisa masuk ke dalam bagian dari
kampus fiksi). Saat ngedown lagi juli
lalu, tiba-tiba saja dinyatakan masuk nominasi 20 penulis penakes terbaik dan
mendapat workshop penulisan opini selama dua hari (beuh, fasilitasnya hotel
broooh! Makan sampe perut penuh dan semenjak itu berat badanku gak bisa
turun-turun! Padahal ngerjain itu mepet deadline nunggu selesai ujian.) Kurang
baik apa coba, motivasi yang asalnya dari Tuhan itu?
Ini mau
curhat apa nyombongin diri? :”(
Yah,
intinya, semangatku lagi naik saat ini, apalagi setelah mengikuti kampus fiksi.
Jujur aja, jarang lho, aku ngeblog nulis seperti ini. Mungkin ada efek lanjutan
dari kampus fiksi. *ciyeeeee* dan aku sendiri mengatakan pada diriku sendiri, “LO
HARUS PUNYA NOVEL SETELAH MENGIKUTI KAMPUS FIKSI INI. JANGAN MALU-MALUIN!!!”
Padahal, pada dasarnya, aku tetap minder sama teman-teman kampus fiksiku yang
sepertinya lebih hebat dalam menulis. Tapi… emang dasarnya gak mau kalah
kecuali ada sebuah pukulan telak yang berhasil membuatku gak bangun-bangun
lagi. (dan kalian gak akan tahu pukulan telak seperti apa yang sukses membuatku
jatuh, karena aku sendiri tak tahu. Kalau kalian jawab ‘novel teman seangkatan’,
itu justru akan memacu semangatku)
Kalau
lihat dari pesaing, jangan heran. Sama aja toh, profesi waiter juga banyak
persaingannya. Penulis saat ini membludak. Tapi yang mempunyai “nama” hanya
segelintir, toh?
Makanya,
masih tak habis pikir kenapa ada yang bilang “aku punya alasan untuk berhenti
menulis”. Lalu aku apaaaaa? Apa aku juga harus berhenti? Tahun 2014, karyaku
yang dianggap hanya yang penakes itu saja, bahkan gak menang juara satu. Hanya masuk
4 besar dan gak dapat 3 juta. Huwaaaah! *tangisan yang membanjiri seluruh
negeri* selain itu, belum ada.
Aku menyukai
fantasi. Tapi lagi-lagi, fantasi bukan sesuatu yang bisa “menjual” di
Indonesia. Bahkan, mbak Rina aja menyampaikan, bahwa novel bimbingan tidak
menerima fantasi. Diva tidak menerima naskah fantasi dulu. *lap ingus*
Aku yang
hanya bisa menulis fantasi, apakah harus menghentikan langkahku karena alasan
tersebut di atas?
Ah, masih ada satu lagi. *bikin heboh sedikit* Aku sedang menyukai seorang penulis yang udah punya anak enam, lho! (maksudnya buku). Sampai hari masih belum bisa move on. oke, dasar bodoh emang. Haruskah aku berhenti menulis dan berhenti menyukainya? Dia bilang suka cewek yang jago nulis, lho. Aku apa? novel pun belum punya. Entah ini bisa jadi semangat atau tidak. Tapi kalau dijadikan semangat, sepertinya gak logis bener...
Eeeer,
kepala ogut mulai pusing menulis ini. Selalu dan selalu melebar dan bikin
kepala ogut goyang-goyang. Sebaiknya diakhiri sampai di sini.
Dan masih
ada saja pertanyaan di kepalaku, “kenapa ada alasan untuk menghentikan
langkahmu dalam menulis?”
Depok, 13 November 2014