Sunday, October 19, 2014

#KampusFiksi9


Part 2, Curhatan yang Tak Ada Habisnya
 
Oke, gue bakal lanjutin cerita tentang kampus fiksi ini.


Di hari pertama, gue lumayan banyak ketemu dengan orang-orang yang cukup pendiam alias kalem. Biasanya, kalau gue ketemu sekelompok orang, gue yang bakal diam aja, membaca gerak-gerik sekitar gue dan menilai kapan gue boleh ngomong, kapan gue jaim. Nah, teman-teman di kampus fiksi ini pada kalem semua, dan muncul keheningan yang dasyat ketika gue nggak membuka obrolan. Jujur aja, gue jarang ketemu dengan situasi seperti ini, yang membuat gue terheran-heran. Jadi di kalangan penulis itu… sehening ini?
Maka dari itu, gue berusaha untuk mengajak ngobrol, walau memang susah untuk membuka duluan. Haha…
Saat gue sampai di asrama, di situ sudah ada beberapa orang. Seingat gue, ada Iit (ini mbak woles yang super woles tapi doyan sama cerita pembunuhan. Entahlah, mungkin di otaknya sedang ada kemelut setting pembunuhan yang super ribet untuk ceritanya, makanya lebih sering diam dan woles). Ada lagi Zulfa, yang langsung heboh ketika ketemu soulmate-nya (entah soulmate ketemu di mana), namanya Ovit. Duo ini punya dunianya sendiri karena memang sudah saling kenal sebelum ketemu di kampus fiksi ini.
Selain itu, ada Mbak Nifa yang lembut, mojang Bandung. Ada lagi anak yang super jaim, namanya Mei. Dia… gue lupa asalnya, pokoknya masih sekitar Jogja. Dia anak kelas tiga SMA yang punya niat untuk melanjutkan kuliahnya di universitas negeri, dan punya niat belajar. Sayangnya, fasilitas kurang mendukungnya. Gue miris pas denger dia bilang bahwa butuh perjuangan untuk mencapai toko buku terdekat, karena jaraknya jauh. Dia sampai minta gue kirimin buku kalau gue ada (sayangnya, gue anak IPA, dan dia anak IPS. Otomatis gue gak punya bukunya). Kalaupun gue mau beliin, gue gak bisa kirim ke rumahnya. Alamatnya aja gak ada!
Lanjut…
Eh, coba ngacung, ada yang belum gue sebut? Seingat gue, yang sudah ada di asrama pukul empat cuma segini. Bener, gak?
Ada lagi deng. Para cowok, seperti mas Panji dan Nico, tapi berhubung gue ngobrolnya di kamar cewek, jadi gak banyak tahu tentang dua cowok ini karena gue gak ngobrol di luar bareng. Masih jaim!
Awalnya, gue kira yang ikut kampus fiksi ini cuma sedikit, ya segitu aja. Sampai jam 7 malam, baru ada 13 orang yang datang. Dalam hati gue berteriak, “Heeeeeei, serius nih, cuma segini? Aduuuh, gue gak rela kalau tujuh kursi harus hangus gitu aja! Alasan pertama: satu angkatan kampus fiksi sedikit itu rasanya sedih. Artinya temen angkatan gue cuma dikit, dong? Alasan kedua: betapa susahnya mendapatkan satu bangku kampus fiksi reguler. Banyak di luar sana, orang-orang yang hanya bisa menadahi ilernya ketika melihat kampus fiksi reguler sedang dilangsungkan. Dan loooo, malah menyia-nyiakan bangku itu? tujuh lagi!”
Eh, ternyata esok paginya sudah 19 orang. Dua orang meng-cancel acara ini karena ada alasan tersendiri. Duh, malunya. Ternyata memang lengkap. Haha… setelah gue pikir-pikir, gue memang tidur cepat, sekitar setengah sepuluh sudah teler. Padahal gue ini manusia nocturnal yang biasanya tidur jam 2, tapi di saat begini malah tidur terlalu cepat. Di saat gue sudah tidur itulah, peserta lain yang rumahnya memang dekat sudah berdatangan. Maka dari itu, keesokan paginya, kursi sudah lengkap.
***
Gue bakal ngelewati cerita gue yang galau ketika makan malam, memilih antara burung puyuh atau lele sebagai lauk (yang dua-duanya memang gak pernah gue temukan sebagai lauk di piring gue), walau akhirnya gue memilih lele (dan gue gak nyesel, karena lauk hari selanjutnya juga ada lele. Dengan begitu, gue gak menambah daftar nama hewan yang sudah gue pernah gue makan).
Gue lanjut ke acaranya aja langsung.
Pagi-pagi, hal yang sudah gue duga terjadi. Antrian kamar mandi. Berhubung semua ceweknya muslim, maka dengan senang hati gue menambah jam tidur gue, yang tadinya mau bangun jam 5, gue geser ke jam 6. Kenapa? Karena gue yakin, mereka bakalan salat subuh sekaligus mandi. Benar saja, saat jam 6, setidaknya antrian kamar mandi mulai melonggar bila dibandingkan jam 5.
Setelah makan pagi, semua berkumpul di ruang pelatihan. Setiap bangku sudah diisi dengan nama peserta, dan gue kebagian bangku 3 terdepan di sebelah kiri.
MC, alias Mas Wahyu yang mukanya lucu, yang katanya mirip Gading Marten (menurut gue sih nggak, karena Mas Wahyu itu sipit banget), membuka acara. Lalu ada penyematan peserta, dan setelah itu Mbak Rina Lubis masuk untuk memberikan tantangan menulis serta persyaratannya. Dengan tema “Jodoh Pasti Bertemu”, kami diharuskan membuat sebuah cerpen di jam yang telah ditentukan selama 3 jam.
Di saat Mbak Rina meminta perkenalan para peserta kampus fiksi dengan menyebutkan nama, tujuan mengikuti kampus fiksi, serta ide cerita yang ingin digarap, saat itulah dia masuk.
Oke, gue gak bakal sungkan lagi untuk jujur di sini. Toh, kemungkinan besar dia gak bakal baca ini, kan? :p
Dia masuk dengan menenteng kamera. Saat itu, dia memakai kaos merah di bagian dalam (kaos ‘gadis 360 hari yang lalu’), dipadu dengan baju hitam lengan panjang, seragam para panitia kampus fiksi. Dengan santainya, dia gak mengancingkan baju hitam itu, memperlihatkan baju merah di dalamnya.
Tiga kesalahan yang dia lakukan saat itu: menggabungkan dua warna yang menurut gue keren saat berpakaian (merah dengan hitam), menggulung lengan baju hitamnya hingga ke siku, menampilkan keindahan tangannya (sudah gue bilang, kan? Cowok yang tangannya cantik, entah sadar atau tidak, pasti menggulung lengan bajunya hingga ke siku). Ketiga: dia bawa kamera, alat yang menambah kekerenan seseorang.
Dan saat itulah, mata gue selalu mencari sosoknya, setiap mendengar suara pintu yang terbuka, berharap dia ada di ruangan yang sama dengan gue.
Nah, tahu dong, siapa yang gue maksud? Ya, dia satu-satunya cowok yang gue panggil “kakak” di kampus fiksi kemarin. Dia alumnus kampus fiksi satu, dan setiap ada angkatan kampus fiksi yang baru, pasti ada dia. Ini fotonya. XD






Ups, cukup curhatnya. Lanjuuuut…
Sumpah, gue tegang banget pas perkenalan! Harusnya sih gue termasuk abjad barisan terakhir, tapi karena dibalik, jadilah gue sebagai orang ketiga dalam perkenalan! Zulfa (Zulfa Ulinnuha Tritita) sebagai orang pertama, Zahra (Zahratul Wahdati) sebagai orang kedua. Mereka memaparkan ide mereka dengan sangat lancar! Apalagi Zahra yang idenya “gila banget”, seolah sudah mateng banget di otaknya. Sedangkan gue?
“Eeeuhm, ide ceritaku tentang santa gitu, deh… genre ceritanya fantasi. Karena aku suka fantasi, makanya aku ingin menuliskan cerita tentang santa. Soal alurnya… ya intinya tentang santa, deh!”
Jawaban macam apa itu? (-___-“)
Gue sudah punya feeling, bakal ditanyain ide cerita yang kira-kira nantinya ingin di-bimbingan online-kan. Saat di kereta, gue sudah berusaha untuk memunculkan ide, tapi memang dasarnya lagi buntu, dan si ide gak mau keluar ketika perjalanan di kereta yang menghabiskan waktu 9 jam (ini benar-benar wasting time banget. Nyari ide gak bisa, tidur juga gak bisa!). alhasil gue malu sendiri dengan jawaban gue.
Setelah gue, ada Mbak Siti Rinzhani Ghusty Pertiwi, a.k.a Mbak Ririn. Dia juga cukup lancar memaparkan idenya. Lalu ada Bang Joe, yang nama lengkapnya Saur Tumpu Johanes Gurning, disusul Bang Panji Pratama dan Ovit (novita). Eh, ini berita yang dibawakan komentator sepak bola ya, dioper begitu dan diceritakan begitu singkat? Ah, sudahlah. Mempercepat durasi…
 Ini dia barisan Kiri... minus ovit sih...

Begitu selesai barisan kiri, kini barisan tengah. Ada Nikodemus Niko, Nifa Hanifa, Naafi Nur Rohma, serta Meilia Mulyaningrum yang berbagi cerita tentang idenya. Berlanjut lagi ke barisan kanan, dimulai oleh Mbak Lina (Marlina Permata Sari), dan… stop.  Gue bakal cerita tentang orang selanjutnya.
Alasan gue pengen cerita tentang orang ini adalah… dia punya kesamaan dengan gue, walaupun berbeda. Namanya Mahfud. Dia satu-satunya orang selain gue yang meletakkan peminatan pada sesosok “cinta” bernama fantasi. Keren, ya?


Tuh, liat aja fotonya Mas Mahfud. Bacaannya aja beraaaaat. XD

Dia memang sama dengan gue, sama-sama suka fantasi, sama-sama pernah ikut fikfan Diva. Tapi yang berbeda adalah… dia sudah punya buku, hasil dari kemenangannya di fikfan Diva yang berjudul Bara Aksa Dewa. Sedangkan gue? Gue masuk 30 besar aja nggak! Itulah yang membedakan.
Sudah, sudah… jangan membully gue. Dia emang bikin gue jealous.
Saat itu gue mengira kalau cuma ada dia yang ikut fikfan diva di kampus fiksi Sembilan ini, di ruangan ini. Eeeeeeeh, ternyata… ada lagi satu pemenang fikfan Diva dalam ruangan ini! Dan orang itu adalah orang yang gue suka. Ah, makin ciutlah gue. *eh, bener kan? Soalnya dia pakai nama pena.*
Jujur aja, ya… walau gue jealous, tapi gue emang belum tahu ceritanya seperti apa. Gue sering melihat akun twitter @Divapress01 yang sering menampilkan sinopsis cerita, terutama buku baru. Sayangnya, entah karena gue gak baca atau gimana, atau mungkin gue lupa. Satu-satunya pemenang fikfan Diva yang ceritanya membuat gue ngiler alias pengen baca walaupun takut adalah yang judulnya Bloody River (ini novel karangan Kakak). Dari judulnya sudah memikat, sinopsisnya juga sudah menggugah gue untuk membacanya. Tapi… ya itu tadi, berhubung itu thriller, gue belum menyelesaikan buku itu hingga sekarang.
Maaf ya, Mas Mahfud… nanti akan gue cari dan baca novelmu itu. Bara Aksa Dewa, kan? ;D kalau Bloody River sih, udah punya. Cuma masih takut untuk membacanya. XD
Nah, lanjut lagi. Setelah Mas Mahfud berbagi tentang idenya yang juga berkutat dalam fantasi, kini saatnya Laras (Laras Wahyuningrum) yang memperkenalkan diri. Gue baru tahu, ternyata dia juga dari kampus fiksi sepuluh yang maju ke kampus fiksi Sembilan, sama kayak gue. :D
Selanjutnya ada Kiki (Kiki Permata Sari), yang entah ada hubungan apa, nama belakangnya sama dengan Mbak Lina. Usai memperkenalkan diri, mic dioper ke Caca (Inna Riescananda). Cewek yang satu ini hobi berkata “Kenapaaaa”, dengan nada yang sama persis dengan iklan biskuat yang diucapkan oleh anak kecil kepo itu.
Naaaah, setelah Caca, gantian Iit yang memaparkan ide dan cerita yang dia suka. Dari sinilah, semua orang tahu kalau mbak woles ini begitu doyan dengan cerita pembunuhan seperti karya Agatha Christie. Kalau kata Nico, “Iiiih, serem bangeeeeet!”
Setelah Iit, dua perkenalan terakhir dilanjutkan oleh Ain (Ainun Nisa Nadhifah) dan Mbak Agustin (Agustin Wahyuningsih).
Usai perkenalan diri, (hosh, hosh… *lap keringat*) dilanjutkan dengan materi teknik kepenulisan oleh Pak Edi.
Naaaaaah, sampai sini masih belum masuk materi, lho? Hahaha… kebanyakan curhat membuat gue pusing menyusunnya. Inti cerita di sini masih membahas tentang sobat-sobat gue yang kalem tapi membekas di hati, belum sampai ke materi.
Audience: Teruuuus, materinya kapaaaan?
Me: Kapan-kapan aja, ya.
Audience: Kenapaaaa? *bertanya ala caca*
Me: Mau ngerjain tugas dulu. Hehehe… :D
Audience: Terus, si dia itu siapaaaa? Yang kamu suka itu?
Me: iiih, kepo! Ya udah deh, gue kasih tahu. Inisialnya Kak Reza. :P


Depok, 19 Oktober 2014

Thursday, October 2, 2014

#KampusFiksi9



Part One: Awal dari Segala Permulaan

Perjuangan banget buat bisa ikut kampus fiksi. Gimana nggak? Teman gue yang istilahnya udah terjun lama di dunia kepenulisan aja masih gak lolos waktu seleksi tahap pertama. Lha, gue?
Intinya, teman gue yang satu itu pernah ditolak. Lalu dibuka lagi seleksi kedua, dan gue nekat mengirimkan karya gue yang… benar-benar jauh dari genre yang gue bisa.
Dari genre yang gue suka, fantasi, diwajibkan untuk mengirimkan romance (gak boleh fantasi). Uuuh, keluar dari zona nyaman.
***
November 2013
Gue akhirnya mengajak teman gue untuk mengirimkan cerpen, dan dengan sok bijak gue bilang padanya bahwa kali ini ada kemungkinan lolos, mungkin waktu itu kurang beruntung. Dia jawab oke, dan dari motivasi itulah, gue harus loloooos! Gue gak mau ditinggal sama teman gue, dan kita harus bersama-sama!
Lalu, dengan semangat pantang menyerah, gue ajak lagi satu teman gue. Dia jawab oke. Fix, gue punya dua teman yang bisa gue ajak untuk ikut kampus fiksi.
***
“Kak Aaaaaaay, aku udah kirim cerpenku, lho! Sesuai dengan saran Kakak, aku pakai cerpenku yang judulnya Anemogami. Kakak udah kirim, belum?” tanyaku dengan semangat ‘45. Ya iyalah, secara gue akhirnya bisa juga menyelesaikan tulisan berbau romance, terlepas itu bagus atau nggak!
“Aku gak ikut, Hani…”
Jleb!
“Kenapa, Kak?” asliiii, gue sedih banget pas dia jawab begitu. Karena dialah, gue berani untuk maju dan mengirimkan cerpen untuk seleksi kampus fiksi itu.
“Kita udah terlalu banyak mengikuti pelatihan, Hani… lebih baik langsung menulis. Aku juga udah terlalu jenuh mengikuti pelatihan menulis.”
Kalau rumput bisa bergoyang, mungkin inilah saat yang tepat. Gamang meliputi gue. Gue udah kirim, sedangkan dia malah bilang gak jadi ikut di saat sudah terkirim. Kakaaaaaak… :’(
Gue lanjut mengonfirmasi teman gue yang satu lagi, memastikan gue gak sendirian.
“Mbak udah kirim cerpen belum? Bentar lagi deadline, lho…”
“Aku kayaknya gak bisa ikut, Hani… kondisi nenekku gak memungkinkan untuk kutinggal…”
Dan aku langsung patah semangat mendengar kedua jawaban temanku itu.
***
Oke, gue gak perlu menjelaskan bagaimana detilnya rasa senang gue ketika melihat nama gue ada di barisan nomor 72 (masih ingat, lho!), di bawah nama Lidya Reny Chrisnawati, tercantum sebagai peserta kampus fiksi angkatan 10. Waktu itu hampir nangis di kampus, tapi untungnya berhasil gue redam menjadi berkaca-kaca doang. Gak sia-sia, gue berhasil juga mendapatkan salah satu bangku kampus fiksi itu…
Dengan berbagai alasan (kemungkinan bulan November ada sosfar, acara ospek jurusan farmasi, bentrok dengan kampus fiksi angkatan 10), gue meminta untuk maju angkatan, menjadi angkatan 9. Begitu dikonfirmasi bahwa gue bisa ikut angkatan 9, gue langsung menyiapkan tiket menuju Jogja.
***
September 2014
Kereta Fajar Utama Yogya sudah mulai mendekati stasiun akhir. Gue was-was, merasa gak enak dengan Mas Kiky, driver yang akan menjemput gue di stasiun. Pasalnya, gue udah mengaretkan jam pertemuan, dari yang tadinya 15.12 (waktu inilah yang tercantum di tiket sebagai waktu tiba kereta) menjadi 15.30. Tapi tetap saja, 15.46 baru sampai di stasiun Yogyakarta!
Lebih parahnya lagi, perut gue gak mau diajak kompromi. Perut yang hanya gue isi dengan sarapan pada pukul 9 pagi itu kini meronta-ronta, meminta diisi ulang. Huft, dari awal, gue sengaja gak mau pesan menu makanan di kereta untuk makan siang… Selain harganya mahal, rasanya jauh dari gambar yang ditampilkan. Maka dari itu, gue bermaksud mencari warteg sekitar stasiun jika ada sisa waktu janjian. Nyatanya? Waktu janjian aja sudah ngaret 16 menit!
Sesampainya di stasiun, hasrat untuk memenuhi permintaan si lambung lebih besar, membuat gue mengulur waktu lagi untuk ketemu Mas Kiky. Huwaaah, maafin gue, Mas Kiky!
Gak ada warteg. Penjual makanan berat pun gak ada, yang ada cuma semacam gorengan (kalau gak salah lihat) sama roti rasa kopi, me too-nya si boy. Gue pilih si boy tiruan itu sebagai pengganjal perut, dan menghabiskannya di dekat pintu keluar dari stasiun sambil menghadap peta Yogyakarta.
Setelah habis, gue baru sms Mas Kiky, sebagai konfirmasi bahwa gue udah sampai di stasiun. Gak lama setelah itu, Mas Kiky langsung menelepon gue.
“Kamu di mana? Aku ada di pusat informasi nih, memakai baju merah tulisan “blablabla yang lalu” (gak kedengaran sama gue, teleponnya kresek-kresek dan ada suara berisik dari latar tempat gue berdiri, jadi cuma kedengaran ‘yang lalu’nya aja. XD Tapi gue tahu maksudnya, karena ada sebuah buku terbitan divapress dengan judul itu, sayangnya gue gak ingat judul lengkapnya).”
“Oh… iya, Mas. Oke.”
Dengan modal nekat dan sok tahu, gue cari yang namanya Mas Kiky. Pusat informasi? Ya ampun… dari tadi gue makan roti sambil berdiri di samping pusat informasi, brooo! Malu pisan ini, kalau sampai ketahuan laper banget. XD
Saat melihat ada lelaki berbaju merah sedang celingukan, gue langsung lihat bajunya. “Gadis 360 hari yang lalu”. Aaaaah, lelaki inilah yang gue cari. Betapa dipermudahkannya gue bertemu dengan Mas Kiky… :D
Begitu kenalan, gue langsung diajak ke mobil. Sesampainya di mobil, udah ada gadis berambut pendek yang duduk di bangku depan, yang begitu supel. Namanya Zulfa, dari Pangkalan. Gue duduk di bangku tengah yang cukup luas (karena belum ada orang).
“Kita nunggu satu orang lagi, ya,” kata Mas Kiky. “Nungguin Reza. Kenal, kan?”
Gue angguk aja, padahal gak kenal. XD Pernah dengar namanya, Reza Nufa, panjangnya Reza Nurul Fajri. Tapi… gak follow akun twitternya, takut dibilang SKSD. XD
“Lho, tadi aku kayaknya liat Mas Reza lewat,” jawab Zulfa dengan tampang yang sedikit bingung. Ekspresinya waktu itu kocak deh, soalnya dia rada gak yakin dengan yang dia lihat. Ngomongnya slow motion pula! Padahal Mas Kiky kan harus segera menemukannya. XD
Mas Kiky langsung turun dari mobil, sementara itu gue mulai deg-degan. Gimana kalau dia itu... alumni Kampus fiksi yang terkenal itu? *uhuk*
Maksud gue, kan Kak Reza Nufa yang itu dapat predikat alumni terfavorit saat kampus fiksi emas beberapa waktu lalu...
Nah, balik lagi ke persoalan. Terus gue mesti ngomong apa? udah begitu, otomatis Kak Reza ini bakal duduk di kursi samping gue, gak mungkin duduk di pangkuan Zulfa, kan? Aaargh, kepala rasanya langsung berantem dengan pikirannya sendiri!
Gak lama setelah itu, ada cowok yang gak terlalu kurus, tapi juga gak gemuk, berjalan melintasi depan mobil sambil melihat ke dalam. Gaya jalannya santai tapi pasti (menuju ke dalam mobil). Waaaah, gue langsung panik dan menggeser tubuh gue mentok ke pintu, malah terganjal tas Zulfa.
“Itu tasku…” kata Zulfa.
Gue yang masih mematung, bukannya ambil tasnya, malah nampilin senyum bego. Sementara itu, Kak Reza udah buka pintu mobil!
Eh, tunggu dulu. Ini bukan deg-deg-ser karena cinta, ya. Ini cuma karena gue grogi ketemu orang yang istilahnya memang bagian dari kampus fiksi sejak awal. Serius.
“Tasnya dipindahin ke bagasi aja…” Mas Kiky mengusulkan. Baru deh, setelah itu tangan gue mau bergerak. Aduhaaai, kenapa bisa se-oon ini ya, cuma karena melihat gayanya si Kakak?
Begitu gue udah mementokkan diri ke pintu, Kak Reza masuk, diiringi seorang cowok yang kalah tinggi dibandingkan Kak Reza. Walaaah, cowok yang satunya lagi gak gue lihat lho, tadi!
“Reza…” si Kakak menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangan. Gue balas menyambut tangannya dan menyebutkan nama gue, lalu kenalan dengan cowok yang satunya lagi, yang bernama Nico.
“Kamu naik kereta juga?” Kak Reza nanya lagi.
“Iya.”
“Dari mana?”
“Jakarta.”
“Jangan-jangan…” Kak Reza menunjuk ke stasiun, dengan maksud menunjukkan kereta yang baru saja sampai. “Fajar Utama?”
“Iya.”
Dari gelagatnya, gue bisa menebak bahwa kami satu kereta, lalu gue ketawa. Kami naik kereta yang sama tanpa tahu satu sama lain. Gue di gerbong tiga, sedangkan Kak Reza dan Nico mungkin di gerbong lain.
Percakapan setelah itu dipenuhi oleh Mas Kiky, Kak Reza, dan Zulfa. Gue dan Nico diam saja sambil menyimak percakapan mereka yang seru, sesekali cekikikan mendengar celotehan mereka. Ada satu celotehan mereka yang membuat gue senyum-senyum.
Kak Reza: “Wah, hari menyembelih besar-besaran sebentar lagi, ya?”
Mas Kiky: “Iya. Bentar lagi, nih.”
Kak Reza: “Semoga para kambing itu bisa masuk surga…” (dalam hati gue aminin. Gak lucu kalau misalnya ini cuma lawakan, dan gue malah mengaminkan dengan serius, padahal gue gak ngomong apa-apa lagi selain perkenalan tadi!)
Mas Kiky: “Iya, semoga masuk surga. Eh, bukankah mereka bisa masuk surga? Kan udah jadi hewan kurban?”
Kak Reza: “Hmmm, belum tentu. Kambing masih banyak dosanya, lho. Pup di depan rumah orang dan buat orang kesal, dan sebagainya. Nah, beda lagi kalau lele.”
Sambil mendengarkan celotehan mereka, mata gue terpaku ke satu tempat. Tangannya Kak Reza.
Aduhai, tangannya itu cantik banget! Kurus tapi terkesan kuat. Jari-jarinya juga panjang, yang membuat gue cemburu berat karena jari tangan gue yang bantat. Tangan penulis, begitu julukan yang gue berikan.
Ah, intermezzo tadi dilupakan saja. Lanjutkan dengan percakapan mereka.
Mas Kiky: “Kenapa sama lele?”
Kak Reza: “Kalau lele sih dijamin masuk surga. Coba, apa dosanya? Gak ada. Makan aja dari tahi, lho! Hidup juga bisa di lumpur, gak ngerepotin orang.”
Dan gue berhasil cekikikan mendengar percakapan itu, tentang perdebatan lele dan kambing yang masuk surga. Sambil ngobrol, Mas Kiky memberitahukan bahwa ada satu orang lagi yang harus dijemput.
Namanya Panji. Clue yang diberikan Mas Panji agak rancu, menyebabkan mobil kami berputar-putar mencari letak yang diberitahukan Mas Panji. Saking pusingnya, Mas Kiky pun berkata, “Mana sih, si Panji manusia millennium ini?”
Dan gue cuma bisa tertawa melihat betapa pusingnya Mas Kiky yang harus menjemput para peserta. Setelah berputar-putar selama setengah jam, akhirnya ketemu dengan Mas Panji. Horeeeee! Asrama, cepatlah tiba! Perut gue udah keroncongan lagi! Yeaaay… XD
***

Cerita selanjutnya bakal gue tulis ketika senggang, tentang sesampainya di asrama. :D
Depok, 02 Oktober 2014

Wednesday, October 1, 2014

#FiksiLaguku



Rasa yang Tercipta Untukmu

Tak ada kata yang lebih indah ‘tuk menggambarkan lembaran-lembaran kenangan yang kita lalui bersama, yang telah kusimpan rapi dalam relung terdalam.

Andai saja aku bisa menceritakannya… tentang perjalanan yang kita lalui bersama, tentang lika-liku yang mempertemukan kita, tentang rasa yang merekah tercipta, namun tak sempat terucapkan. Ingin sekali kuteriakkan pada dunia!

Rasa sesak yang membuncah membuatku tersiksa… Andai saja bibirku mengejanya ketika itu. Andai saja aku jujur, sesal ini tak akan ada, tak akan menyiksa.

Kusadari, waktu ‘kan selalu memberi jedah. Jedah untuk merasakan keindahan rasa, serta jedah ‘tuk menghargai momen itu, walau harus diingatkan dengan sebuah momen bernama “perpisahan”.

I Love You”… Hanya satu kata itu yang tertahan tanpa bisa kugulirkan dari bibirku. Hanya satu kata itu, kenapa begitu berat?

Jarak ini membuatku merenung kembali. Apakah kita ditakdirkan untuk bersama? Apakah memang, kita bisa bersatu jika jarak kita begitu dekat? Adakah alasan yang membuat kita bisa bersama?

Andai saja aku dan kau memiliki kesamaan yang sejak dulu kudambakan, tidak akan terasa sesesak ini ketika menitipkan rasa ini untukmu. Aku tak akan ragu untuk menyampaikan isi hatiku padamu. Namun, kenyataan selalu berkata lain untukku, dan untukmu kali ini.

Dalam kilometer yang terbentang di antara kita, apakah kau merasakannya? Apakah kau memikirkanku sama seperti aku memikirkanmu? Apakah kau terus menjaga getaran di hatimu hanya untukku, walau kau tahu kita tak akan bisa bersama?

Aku terus berdiri di sini, kokoh, dengan hati yang hancur. Berharap adanya perubahan darimu yang tak kunjung datang, dan tak ada perjuangan yang kau lepas ‘tuk meraih cinta.

Aku ‘kan terus berada di sini, menunggu… walau kau tak menjemputku, aku akan terus menyimpan rasa ini seumur hidup. Akan kuingat, hari ini, hari di mana aku telah melepas semua rinduku dan pasrah dengan seluruh rasa sakit ini.

Satu pesan yang bisa kutulis untukmu,
“Aku akan terus di sini, setia menyimpan rasa untukmu. Walau kau tak datang menjemput, ‘kan kujaga hati ini untukmu. Aku mencintaimu… Walau dengan hati yang teriris perih.”

#FiksiLaguku
Terinspirasi dari lagu “STILL – TVXQ”

*walau sebenarnya cuma iseng aja ikut tantangan dari kampus fiksi untuk #FiksiLaguku, tapi sempat nangis juga waktu searching arti dari lagu “Still” itu. Emang sih, tiap dengar lagu itu, selalu aja nyeeeeeesh banget pas bagian terakhir yang seperti ini, “I want you, to stay in my heart… I need your love that brings tears to my eyes…
Tapi ternyata lebih nyeeeeesh lagi pas tahu artinya. -_-“
Fiksi ini emang gak terlalu bagus (apalagi bahasanya yang terlalu simple), tapi sebagian tercurah isi hatiku. XD