Tuesday, November 11, 2014

Pertanyaan yang Mencuat



Di tengah jalan, saat diboncengi naik motor, entah kenapa otakku tiba-tiba saja memutar sebuah adegan di mana Bajegh sedang menceritakan sebuah cerita. Perlahan, cerita itu mencuat ke permukaan, menimbulkan pertanyaan tersendiri. Aku yang memang hobi berpikir saat perjalanan, mungkin akan terlihat seperti orang yang melamun karena berdiam membisu, padahal otakku sedang mencerna apapun yang kupikirkan.
Ah, kebanyakan curhatnya! Cerita ini mungkin seperti dongeng yang dibacakan turun-temurun, tak tahu dari mana sumbernya, yang pasti aku mendengarnya dari si Bajegh. Berhubung dia juga tidak tahu siapa penulisnya, maka aku akan menuliskannya dengan bahasaku sendiri, dan INI BUKAN KARYAKU. Ini cerpen yang pernah kudengar.
Langsung aja, kira-kira seperti ini ceritanya.
***
Ada seorang pengusaha sukses dan ramah yang memiliki banyak teman dan relasi. Suatu ketika, ia sakit berat, ajal hendak menjemputnya. Seorang malaikat datang dan menyampaikan sesuatu pada istrinya di pagi hari.
“Kesembuhan suamimu bergantung pada 30 doa yang dipanjatkan untuknya. Doa tersebut tidak dihitung jika yang mendoakan adalah saudaranya. Jika sampai matahari terbenam tidak mencapai 30, maka aku akan kembali menjemputnya.”
“Bagaimana aku bisa tahu jumlahnya?” tanya sang istri.
“Kamu akan tahu. Aku akan memberimu sebuah pertanda ketika ada yang memanjatkan doa untuk suamimu.”
Usai berkata itu, malaikat pergi. Istrinya terus berharap agar ada yang mendoakan suaminya. Istrinya yakin, sebab teman suaminya cukup banyak. Setidaknya, 30 bukanlah angka yang banyak.
Sampai menjelang matahari terbenam, tak ada satu pertanda pun yang didapat oleh sang istri. Ia sedih bukan main, dan itu artinya ia akan kehilangan suaminya.
Matahari lalu terbenam, diiringi dengan kedatangan malaikat itu ke hadapan sang istri. Sang istri menangis, tak menyangka bahwa tak ada satupun doa yang dipanjatkan untuk suaminya.
“Suamimu terbebas dari maut,” ujar malaikat itu, “ada lebih dari tiga puluh anak yatim piatu yang mendoakannya. Untuk itu, tak lama lagi, kesembuhan akan menjadi milik suamimu.”
Tak lama setelah itu, suaminya sembuh.
***
Tadinya cerita itu mau kudramatisir sedikit, tapi berhubung bukan cerpenku, jadilah kusederhanakan agar saat diceritakan kembali, cerita ini tidak menjadi lebay.
Di akhir cerita, suami itu dapat sembuh berkat doa tiga puluh anak yatim yang mendoakannya. Aku tidak menceritakan bagian kenapa bisa ada anak yatim di dalam cerita tadi, karena ingin kubahas di sini.
Si suami itu seorang pengusaha sukses. Banyak uang, ramah. Banyak teman pula. Ketika ia memiliki uang lebih, ia memberikan sebagian uangnya ke panti asuhan. Suatu ketika, ibu panti asuhan mendapat kabar bahwa si bapak ini sedang sakit, lalu memberitahukan pada anak-anak panti. Anak-anak itu dengan ikhlas mendoakan si bapak ini dengan melakukan pengajian. Dengan cara itulah, terkumpul 30 doa yang bukan berasal dari sanak saudara si suami tadi.
Lalu, saat mencerna cerita itu kembali, sempat terpikir olehku, berapa orang yang mendoakanku? Ada berapa orang yang ingat padaku, dan menyempatkan untuk menyelipkan namaku dalam doanya? Jangan-jangan… namaku hanya terselip ketika orang-orang sedang mengutukku, mengataiku dengan sinis, dan tak ada yang pernah mengingatku ketika sedang berdoa?
Aku sendiri pernah mengalami beberapa kejadian, di mana aku yang seorang pendiam ini sempat merasakan kesendirian yang benar-benar hampa di semester 1-3. Koloni muncul di dunia kampus, baik itu koloni kapang, jamur, atau bakteri (halah!). ada yang bergerombol 5, bahkan lebih. Ke manapun kulangkahkan kaki, selalu ada rombongan.
Jadi jangan heran, di semester 1-3, teman bicaraku berganti-ganti. Aku seolah mencari mangsa empuk ketika ada yang “bercerai” dengan koloninya. Aku tak punya niat sedikit pun untuk memecahkan koloni itu, sekalipun tak pernah terpikirkan untukku. Aku hanya berbicara ketika melihat ada yang sendiri, berusaha mengajaknya mengobrol ketika ada yang memisahkan diri dalam kesendirian. Aku mengajaknya bicara, karena aku tahu bagaimana rasanya berdiri sendiri ketika berada dalam keramaian yang kau kenal.
Koloni ini sebenarnya cukup memuakkan. Jujur saja, aku sendiri tak mau menyebut diriku berkoloni atau apapun sebutannya. Kadang, aku menemukan sebuah koloni vampir dengan ratu manusia di dalamnya. Ada juga koloni semut pekerja semua, bekerja membuat contekan ketika ujian. Yah, you know what laaah~ XD
Lalu… kenapa jadi melebar ceritanya? :(
Kembali lagi ke diriku yang sendiri. Suatu ketika, aku dekat dengan seseorang yang sedang “bercerai”. (Sebenarnya sering, sih. Toh teman-temanku yang saat ini terbentuk menyerupai koloni juga hasil cerai juga dari koloninya. Bener kan, peh? XD) setiap hari, ke mana-mana bersama. Ujian duduk berdekatan. Ia termasuk pintar, jadi tanpa memberikan contekan padanya pun, ia bisa.
Ketika selesai ujian dan kami sempat berpisah, kami bertemu kembali di warteg. Ia mengatakan sesuatu padaku.
“Eh, lu tahu gak, tadi ada yang nanya sama gue begini.” Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Lu kan deket sama step. Lu dikasih contekan gak sama dia? Dia kan pinter.” #uhuk #tertohok
Dari situlah, aku tahu pandangan orang terhadapku. Aku tahu alasan aku tidak diajak berkoloni (karena aku tak mau memberikan contekan).
Otakku kembali berpikir. Jika memang orang berpikiran negatif begitu tentangku, apa ada satu saja dari mereka yang berdoa untuk perubahanku? Kurasa tidak. Aku bukannya orang yang mengharapkan doa, ini hanya muncul seketika ketika mengingat cerita ini. Aku berusaha positif, dan jika tidak ada satupun yang mendoakanku, aku masih memiliki diriku sendiri untuk mendoakanku. Setidaknya, ada satu. XD
Lalu bercabang lagi pikiranku. “Kalau kamu sempat berpikir apakah kamu didoakan orang lain atau tidak, pernahkah kamu menyempatkan diri untuk mendoakan orang lain?”
Karena aku percaya bahwa karma itu ada, makanya selalu berusaha berpikir dua arah. Kapan aku mendoakan orang lain? Apakah mendoakan orang lain ketika dalam kondisi biasa tidak bisa? Haruskah mendoakan seseorang di saat kondisi sekarat? (sekarat dalam artian benar-benar harus didoakan, bukan dalam kondisi sakit sekarat saja)
Entahlah, kicauan ini hanya iseng saja sebenarnya, apalagi aku bukan orang yang beriman banget, alim banget, terlebih doa tanpa bolong. Yah, begitulah. Keisengan otakku ketika dalam perjalanan di atas motor, di angkot, atau di manapun, selalu membuatku riweuh sendiri.

Depok, 12 November 2014

No comments:

Post a Comment