Di tengah
jalan, saat diboncengi naik motor, entah kenapa otakku tiba-tiba saja memutar
sebuah adegan di mana Bajegh sedang menceritakan sebuah cerita. Perlahan,
cerita itu mencuat ke permukaan, menimbulkan pertanyaan tersendiri. Aku yang
memang hobi berpikir saat perjalanan, mungkin akan terlihat seperti orang yang
melamun karena berdiam membisu, padahal otakku sedang mencerna apapun yang
kupikirkan.
Ah,
kebanyakan curhatnya! Cerita ini mungkin seperti dongeng yang dibacakan
turun-temurun, tak tahu dari mana sumbernya, yang pasti aku mendengarnya dari
si Bajegh. Berhubung dia juga tidak tahu siapa penulisnya, maka aku akan
menuliskannya dengan bahasaku sendiri, dan INI BUKAN KARYAKU. Ini cerpen yang
pernah kudengar.
Langsung
aja, kira-kira seperti ini ceritanya.
***
Ada seorang
pengusaha sukses dan ramah yang memiliki banyak teman dan relasi. Suatu ketika,
ia sakit berat, ajal hendak menjemputnya. Seorang malaikat datang dan
menyampaikan sesuatu pada istrinya di pagi hari.
“Kesembuhan
suamimu bergantung pada 30 doa yang dipanjatkan untuknya. Doa tersebut tidak
dihitung jika yang mendoakan adalah saudaranya. Jika sampai matahari terbenam
tidak mencapai 30, maka aku akan kembali menjemputnya.”
“Bagaimana
aku bisa tahu jumlahnya?” tanya sang istri.
“Kamu
akan tahu. Aku akan memberimu sebuah pertanda ketika ada yang memanjatkan doa
untuk suamimu.”
Usai
berkata itu, malaikat pergi. Istrinya terus berharap agar ada yang mendoakan
suaminya. Istrinya yakin, sebab teman suaminya cukup banyak. Setidaknya, 30
bukanlah angka yang banyak.
Sampai
menjelang matahari terbenam, tak ada satu pertanda pun yang didapat oleh sang
istri. Ia sedih bukan main, dan itu artinya ia akan kehilangan suaminya.
Matahari
lalu terbenam, diiringi dengan kedatangan malaikat itu ke hadapan sang istri. Sang
istri menangis, tak menyangka bahwa tak ada satupun doa yang dipanjatkan untuk
suaminya.
“Suamimu
terbebas dari maut,” ujar malaikat itu, “ada lebih dari tiga puluh anak yatim
piatu yang mendoakannya. Untuk itu, tak lama lagi, kesembuhan akan menjadi
milik suamimu.”
Tak lama
setelah itu, suaminya sembuh.
***
Tadinya
cerita itu mau kudramatisir sedikit, tapi berhubung bukan cerpenku, jadilah
kusederhanakan agar saat diceritakan kembali, cerita ini tidak menjadi lebay.
Di akhir
cerita, suami itu dapat sembuh berkat doa tiga puluh anak yatim yang
mendoakannya. Aku tidak menceritakan bagian kenapa bisa ada anak yatim di dalam
cerita tadi, karena ingin kubahas di sini.
Si suami
itu seorang pengusaha sukses. Banyak uang, ramah. Banyak teman pula. Ketika ia
memiliki uang lebih, ia memberikan sebagian uangnya ke panti asuhan. Suatu
ketika, ibu panti asuhan mendapat kabar bahwa si bapak ini sedang sakit, lalu
memberitahukan pada anak-anak panti. Anak-anak itu dengan ikhlas mendoakan si
bapak ini dengan melakukan pengajian. Dengan cara itulah, terkumpul 30 doa yang
bukan berasal dari sanak saudara si suami tadi.
Lalu,
saat mencerna cerita itu kembali, sempat terpikir olehku, berapa orang yang
mendoakanku? Ada berapa orang yang ingat padaku, dan menyempatkan untuk
menyelipkan namaku dalam doanya? Jangan-jangan… namaku hanya terselip ketika
orang-orang sedang mengutukku, mengataiku dengan sinis, dan tak ada yang pernah
mengingatku ketika sedang berdoa?
Aku sendiri
pernah mengalami beberapa kejadian, di mana aku yang seorang pendiam ini sempat
merasakan kesendirian yang benar-benar hampa di semester 1-3. Koloni muncul di
dunia kampus, baik itu koloni kapang, jamur, atau bakteri (halah!). ada yang
bergerombol 5, bahkan lebih. Ke manapun kulangkahkan kaki, selalu ada
rombongan.
Jadi
jangan heran, di semester 1-3, teman bicaraku berganti-ganti. Aku seolah
mencari mangsa empuk ketika ada yang “bercerai” dengan koloninya. Aku tak punya
niat sedikit pun untuk memecahkan koloni itu, sekalipun tak pernah terpikirkan
untukku. Aku hanya berbicara ketika melihat ada yang sendiri, berusaha
mengajaknya mengobrol ketika ada yang memisahkan diri dalam kesendirian. Aku mengajaknya
bicara, karena aku tahu bagaimana rasanya berdiri sendiri ketika berada dalam
keramaian yang kau kenal.
Koloni
ini sebenarnya cukup memuakkan. Jujur saja, aku sendiri tak mau menyebut diriku
berkoloni atau apapun sebutannya. Kadang, aku menemukan sebuah koloni vampir dengan
ratu manusia di dalamnya. Ada juga koloni semut pekerja semua, bekerja membuat
contekan ketika ujian. Yah, you know what laaah~ XD
Lalu…
kenapa jadi melebar ceritanya? :(
Kembali
lagi ke diriku yang sendiri. Suatu ketika, aku dekat dengan seseorang yang sedang
“bercerai”. (Sebenarnya sering, sih. Toh teman-temanku yang saat ini terbentuk
menyerupai koloni juga hasil cerai juga dari koloninya. Bener kan, peh? XD)
setiap hari, ke mana-mana bersama. Ujian duduk berdekatan. Ia termasuk pintar,
jadi tanpa memberikan contekan padanya pun, ia bisa.
Ketika
selesai ujian dan kami sempat berpisah, kami bertemu kembali di warteg. Ia mengatakan
sesuatu padaku.
“Eh,
lu tahu gak, tadi ada yang nanya sama gue begini.” Dia berhenti sejenak, lalu
melanjutkan, “Lu kan deket sama step. Lu dikasih contekan gak sama dia? Dia kan
pinter.” #uhuk #tertohok
Dari
situlah, aku tahu pandangan orang terhadapku. Aku tahu alasan aku tidak diajak
berkoloni (karena aku tak mau memberikan contekan).
Otakku
kembali berpikir. Jika memang orang berpikiran negatif begitu tentangku, apa
ada satu saja dari mereka yang berdoa untuk perubahanku? Kurasa tidak. Aku bukannya
orang yang mengharapkan doa, ini hanya muncul seketika ketika mengingat cerita
ini. Aku berusaha positif, dan jika tidak ada satupun yang mendoakanku, aku
masih memiliki diriku sendiri untuk mendoakanku. Setidaknya, ada satu. XD
Lalu
bercabang lagi pikiranku. “Kalau kamu sempat berpikir apakah kamu didoakan
orang lain atau tidak, pernahkah kamu menyempatkan diri untuk mendoakan orang
lain?”
Karena
aku percaya bahwa karma itu ada, makanya selalu berusaha berpikir dua arah. Kapan
aku mendoakan orang lain? Apakah mendoakan orang lain ketika dalam kondisi
biasa tidak bisa? Haruskah mendoakan seseorang di saat kondisi sekarat?
(sekarat dalam artian benar-benar harus didoakan, bukan dalam kondisi sakit sekarat
saja)
Entahlah,
kicauan ini hanya iseng saja sebenarnya, apalagi aku bukan orang yang beriman
banget, alim banget, terlebih doa tanpa bolong. Yah, begitulah. Keisengan otakku
ketika dalam perjalanan di atas motor, di angkot, atau di manapun, selalu
membuatku riweuh sendiri.
Depok, 12 November 2014
No comments:
Post a Comment