Sunday, November 9, 2014

Cuma Masalah Kecil, Coretan Tak Berguna



Behind the scene
Haduh, mana kacamata hitam gue? Manaaaaa? Masa ngetik gak pake kacamata? Tambah sipitlah gue!!
5 menit kemudian…
Nyerah. Mari lanjut aja curhatnya. Yang ada makin gondok saking gak nemu kacamata, lucid dream, mockingjay, kotak pensil, gantungan kunci Gaara yang berpanel surya, sama kunci pagar rumah gue. Huft!
*yang paling nyesel itu lucid dream sama gantungan kunci Gaara. Hiks! Itu gue sayang bangeeet… *

***
Menurut kalian, ada gak sih yang namanya masalah kecil? Sering dengar ungkapan “masalah kecil” kan? Misalnya, uang lu hilang sepuluh ribu, lalu teman lu hanya bilang, “Ah elah, masalah kecil gak usah dibesar-besarin!”
Bagi dia mungkin kecil. Secara dia pulang naik motor. Coba bayangkan, gue yang harus ngangkot minimal tiga ribu, andaikan uang terakhir gue sepuluh ribu malah raib, apa bukan masalah besar, tuh?
Gue pernah coba jalan kaki karena pernah kehabisan ongkos. Beruntung, Mama datang di saat yang tepat. Gue hanya perlu jalan setengah jalan.
Malamnya, entah berapa banyak colekan balsem yang harus direlakan untuk mencium kaki gue…
Itu cuma contoh kecil, guys.
Sebenarnya, ini sama saja dengan pertanyaan, “apakah dosa itu ada yang dosa kecil dan dosa besar? Bagaimana cara menilainya?” dan teman gue yang emang kurang ajar gak ngasih tahu jawabannya (tepatnya sih gak tahu). Jadi sampai saat ini, gue biarkan Tuhan yang mencatat dosa gue, tak peduli itu besar atau kecil, gak bakal gue permasalahin. Itu urusan Tuhan, dengan akibat yang akan gue tanggung nanti. Oke sip.
Tapi, pernah dengar hukum relatifitas, kan? Itu kata Abah Einstein. Walaupun aslinya gue goblok banget di fisika, kata-kata itu terdengar keren di telinga gue. Setangkapnya gue, itu tergantung sudut pandang.
Mungkin seperti ini gue jelasinnya (kalau contoh di atas masih kurang cukup). Si A adalah pecinta kebersihan. Gak suka yang jorok-jorok. Lalu si B adalah orang yang easy going. Ketika di satu ruang waktu mereka bersamaan menyentuh upil di bawah meja yang tertempel secara “sengaja”, saat mereka sedang menunggu pesanan makanan mereka, reaksi apa yang akan terjadi? Sip. Jawab sendiri, ya.
Tapi kali ini gue lagi gondok bukan main. Gue akan mengambil sisi di mana ketika gue menganggap sebuah masalah itu hanyalah masalah kecil. (lain waktu gue akan mengambil sisi lainnya, kalau sempat)
Suatu ketika, gue merasa lelah dengan melihat keluhan dari seseorang. Gue tahu orangnya seperti apa, makanya gue berusaha maklumin tindakannya. Dia marah-marah hanya karena masalah remeh yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dicemplungin dalam larutan es hula-hula (kurang enak apa coba?).
Teman gue itu marah-marah tanpa alasan yang jelas, alasan yang remeh, dan marahnya ke gue. Gue orangnya cukup peka ketika ada yang melirik sinis ke gue, nyindir di socmed tanpa nyebutin nama, tapi paling gak peka soal urusan cinta #uhuk. Itulah alasan kenapa gue tahu dia marah sama gue.
Untuk yang melihat gue dengan sebelah mata, itu kelihatan dari cara bicaranya ke gue, cara menatapnya. Bodo amat, gue masih punya segudang urusan yang harus gue tangani, gak hanya permasalahin kalian yang dengan mudahnya mengejek gue atas gen yang gue terima dari orangtua gue. Masalah sifat gue, gak usahlah kalian yang ngurus, kecuali kalian emang mau jadi bagian dari hidup gue, baik itu sahabat ataupun suami. *gak nerima anak jadi-jadian, apalagi yang seumuran*
Lalu yang soal nyindir menyinyir, kalian sadar gak, kapanpun kalian nyindir, saat itu hanya jedah beberapa detik dari kejadian yang membuat kalian kesal? Beruntung emang, socmed selalu di sisi, jadi mau update tinggal ngetik. Sinyal jaringan pun sudah oke. Alhasil, hasil nyinyiran terlihat, dan itu tak jauh waktunya dari perkara yang terjadi sebelumnya. Untuk orang-orang yang sering buka twitter seperti gue, kalian mesti berhati-hati.
Tapi teteeeep, kalian mau update 5 jam kemudian pun, hasil nyinyiran kalian kebaca sama gue! Gue bahkan dikatakan dukun sama teman gue karena gue bisa tahu apa yang akan dia omongin. Sebab gue ini pembaca pola. *gak ngerti ya udah*
Balik lagi ke masalah teman gue. Gue sebenarnya sedang nyinyirin dia sekarang dengan tulisan ini, tapi gue buat sesamar mungkin. Gak terlihat kan, apa yang gue nyinyirin? Siapa yang gue sindir? Siapa yang gue ceritain?
Dia marah-marah hanya karena sebuah masalah kecil. Anggaplah seperti itu. Kan gue udah bilang, masalah kecil itu gak usah terlalu dipikirin. Menguras tenaga, dan menambah ion negatif dalam pikiran lu sendiri. Toh, hal itu hanya menambah ke-elektron-an diri lu. Jika lu udah sadar, plis, cepatlah pikirkan dengan menambahkan ion positif ke dalam pikiran lu. Sebenarnya, masalah lu itu sedemikian tak berharganya. Untuk apa mempermasalahkan hal tersebut ketika otak lu sendiri sedang mumet?
Pliiis, friend. Sadarlah. Percaya sama gue. Itu bukan masalah besar. Gue udah pernah mengalami hal serupa. Dan setelah gue pikirin, itu bukanlah masalah. Yang jadi masalah adalah: lu harus ikhlas. Tenangkan hati dan pikiran lu, coba pikirkan: adakah gunanya lu mempermasalahkan hal itu sampai membuat tensi lu naik? Adakah gunanya bagi pihak yang lu bela (yang justru sumber masalahnya), ketika lu berusaha memperkeruh suasana?
Jernihkan pikiran lu, dengarkan suaranya. Dengarkan juga suara hati lu. Pertemukan keduanya, dan lu akan menemukan jalan keluarnya.
***
Gue cuma mau curhat, kok… :’) jadi buat yang gak ngerti pasti bukan lu orang yang gue maksud. :P
Tapi seperti yang gue bilang, gue itu selalu nyindir secara gak jelas. Selain untuk mengeluarkan uneg-uneg sendiri, tak ada hati yang tersakiti karena tak menyadari sindiran gue. Horeeee! XD
Coba ngacung, berapa orang yang sering merasa tersindir sama gue?
Lalu coba ngacung, berapa orang yang sakit hati karena omongan gue yang terlalu blak-blakan? :D
Itu alasan kenapa gue lebih memilih diam dan hanya akan blak-blakan sama orang yang gue anggap sahabat dan gak akan kesal dengan kata-kata gue. Gak jarang, banyak orang yang baru mengenal gue menganggap gue pendiam, padahal sebenarnya...
Coba kumpulkan 100 responden yang di sekitar gue selama minimal 2 tahun, dan hasilnya akan keluar mencakan-mencakan mereka buat gue. XD
Karena hal itu, gue masih gak tahu gue itu introvert atau ekstrovert. Kepribadian yang mana. Gue ngecek tiga kali tentang kepribadian, hasil pertama adalah ISTJ, hasil kedua INTJ, hasil ketiga ENTJ. Pffft… bagi yang tahu kepribadian gue yang mana, tolong kasih tahu gue. XD
*jangan-jangan hasil keempat nanti ESTJ???*
Depok, 10 November 2014

No comments:

Post a Comment