Behind the scene
Haduh,
mana kacamata hitam gue? Manaaaaa? Masa ngetik gak pake kacamata? Tambah sipitlah
gue!!
5
menit kemudian…
Nyerah.
Mari lanjut aja curhatnya. Yang ada makin gondok saking gak nemu kacamata, lucid
dream, mockingjay, kotak pensil, gantungan kunci Gaara yang berpanel surya, sama
kunci pagar rumah gue. Huft!
*yang
paling nyesel itu lucid dream sama gantungan kunci Gaara. Hiks! Itu gue sayang
bangeeet… *
***
Menurut
kalian, ada gak sih yang namanya masalah kecil? Sering dengar ungkapan “masalah
kecil” kan? Misalnya, uang lu hilang sepuluh ribu, lalu teman lu hanya bilang, “Ah
elah, masalah kecil gak usah dibesar-besarin!”
Bagi
dia mungkin kecil. Secara dia pulang naik motor. Coba bayangkan, gue yang harus
ngangkot minimal tiga ribu, andaikan uang terakhir gue sepuluh ribu malah raib,
apa bukan masalah besar, tuh?
Gue pernah
coba jalan kaki karena pernah kehabisan ongkos. Beruntung, Mama datang di saat
yang tepat. Gue hanya perlu jalan setengah jalan.
Malamnya,
entah berapa banyak colekan balsem yang harus direlakan untuk mencium kaki gue…
Itu cuma
contoh kecil, guys.
Sebenarnya,
ini sama saja dengan pertanyaan, “apakah dosa itu ada yang dosa kecil dan dosa
besar? Bagaimana cara menilainya?” dan teman gue yang emang kurang ajar gak
ngasih tahu jawabannya (tepatnya sih gak tahu). Jadi sampai saat ini, gue
biarkan Tuhan yang mencatat dosa gue, tak peduli itu besar atau kecil, gak
bakal gue permasalahin. Itu urusan Tuhan, dengan akibat yang akan gue tanggung
nanti. Oke sip.
Tapi,
pernah dengar hukum relatifitas, kan? Itu kata Abah Einstein. Walaupun aslinya
gue goblok banget di fisika, kata-kata itu terdengar keren di telinga gue. Setangkapnya
gue, itu tergantung sudut pandang.
Mungkin
seperti ini gue jelasinnya (kalau contoh di atas masih kurang cukup). Si A
adalah pecinta kebersihan. Gak suka yang jorok-jorok. Lalu si B adalah orang
yang easy going. Ketika di satu ruang
waktu mereka bersamaan menyentuh upil di bawah meja yang tertempel secara “sengaja”,
saat mereka sedang menunggu pesanan makanan mereka, reaksi apa yang akan
terjadi? Sip. Jawab sendiri, ya.
Tapi
kali ini gue lagi gondok bukan main. Gue akan mengambil sisi di mana ketika gue
menganggap sebuah masalah itu hanyalah masalah kecil. (lain waktu gue akan
mengambil sisi lainnya, kalau sempat)
Suatu
ketika, gue merasa lelah dengan melihat keluhan dari seseorang. Gue tahu
orangnya seperti apa, makanya gue berusaha maklumin tindakannya. Dia marah-marah
hanya karena masalah remeh yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala
dicemplungin dalam larutan es hula-hula (kurang enak apa coba?).
Teman
gue itu marah-marah tanpa alasan yang jelas, alasan yang remeh, dan marahnya ke
gue. Gue orangnya cukup peka ketika ada yang melirik sinis ke gue, nyindir di
socmed tanpa nyebutin nama, tapi paling gak peka soal urusan cinta #uhuk. Itulah
alasan kenapa gue tahu dia marah sama gue.
Untuk
yang melihat gue dengan sebelah mata, itu kelihatan dari cara bicaranya ke gue,
cara menatapnya. Bodo amat, gue masih punya segudang urusan yang harus gue
tangani, gak hanya permasalahin kalian yang dengan mudahnya mengejek gue atas
gen yang gue terima dari orangtua gue. Masalah sifat gue, gak usahlah kalian
yang ngurus, kecuali kalian emang mau jadi bagian dari hidup gue, baik itu
sahabat ataupun suami. *gak nerima anak jadi-jadian, apalagi yang seumuran*
Lalu
yang soal nyindir menyinyir, kalian sadar gak, kapanpun kalian nyindir, saat
itu hanya jedah beberapa detik dari kejadian yang membuat kalian kesal? Beruntung
emang, socmed selalu di sisi, jadi mau update tinggal ngetik. Sinyal jaringan
pun sudah oke. Alhasil, hasil nyinyiran terlihat, dan itu tak jauh waktunya
dari perkara yang terjadi sebelumnya. Untuk orang-orang yang sering buka
twitter seperti gue, kalian mesti berhati-hati.
Tapi
teteeeep, kalian mau update 5 jam kemudian pun, hasil nyinyiran kalian kebaca
sama gue! Gue bahkan dikatakan dukun sama teman gue karena gue bisa tahu apa
yang akan dia omongin. Sebab gue ini pembaca pola. *gak ngerti ya udah*
Balik
lagi ke masalah teman gue. Gue sebenarnya sedang nyinyirin dia sekarang dengan
tulisan ini, tapi gue buat sesamar mungkin. Gak terlihat kan, apa yang gue
nyinyirin? Siapa yang gue sindir? Siapa yang gue ceritain?
Dia marah-marah
hanya karena sebuah masalah kecil. Anggaplah seperti itu. Kan gue udah bilang,
masalah kecil itu gak usah terlalu dipikirin. Menguras tenaga, dan menambah ion
negatif dalam pikiran lu sendiri. Toh, hal itu hanya menambah ke-elektron-an
diri lu. Jika lu udah sadar, plis, cepatlah pikirkan dengan menambahkan ion
positif ke dalam pikiran lu. Sebenarnya, masalah lu itu sedemikian tak
berharganya. Untuk apa mempermasalahkan hal tersebut ketika otak lu sendiri
sedang mumet?
Pliiis,
friend. Sadarlah. Percaya sama gue. Itu bukan masalah besar. Gue udah pernah
mengalami hal serupa. Dan setelah gue pikirin, itu bukanlah masalah. Yang jadi
masalah adalah: lu harus ikhlas. Tenangkan hati dan pikiran lu, coba pikirkan:
adakah gunanya lu mempermasalahkan hal itu sampai membuat tensi lu naik? Adakah
gunanya bagi pihak yang lu bela (yang justru sumber masalahnya), ketika lu
berusaha memperkeruh suasana?
Jernihkan
pikiran lu, dengarkan suaranya. Dengarkan juga suara hati lu. Pertemukan keduanya,
dan lu akan menemukan jalan keluarnya.
***
Gue cuma
mau curhat, kok… :’) jadi buat yang gak ngerti pasti bukan lu orang yang gue
maksud. :P
Tapi
seperti yang gue bilang, gue itu selalu nyindir secara gak jelas. Selain untuk
mengeluarkan uneg-uneg sendiri, tak ada hati yang tersakiti karena tak
menyadari sindiran gue. Horeeee! XD
Coba
ngacung, berapa orang yang sering merasa tersindir sama gue?
Lalu
coba ngacung, berapa orang yang sakit hati karena omongan gue yang terlalu
blak-blakan? :D
Itu alasan
kenapa gue lebih memilih diam dan hanya akan blak-blakan sama orang yang gue
anggap sahabat dan gak akan kesal dengan kata-kata gue. Gak jarang, banyak orang
yang baru mengenal gue menganggap gue pendiam, padahal sebenarnya...
Coba
kumpulkan 100 responden yang di sekitar gue selama minimal 2 tahun, dan
hasilnya akan keluar mencakan-mencakan mereka buat gue. XD
Karena
hal itu, gue masih gak tahu gue itu introvert atau ekstrovert. Kepribadian yang
mana. Gue ngecek tiga kali tentang kepribadian, hasil pertama adalah ISTJ,
hasil kedua INTJ, hasil ketiga ENTJ. Pffft… bagi yang tahu kepribadian gue yang
mana, tolong kasih tahu gue. XD
*jangan-jangan
hasil keempat nanti ESTJ???*
Depok,
10 November 2014
No comments:
Post a Comment