Wednesday, November 12, 2014

Lanjut, atau Berhenti Sampai di sini?



Hari ini, hatiku kembali dipilukan seseorang. Bukan oleh seseorang yang memiliki tempat di hatiku, bukaaaaan. Bukan cinta-cintaan pokoknya.
Dia anak kampus fiksi 10. Seharusnya begitu.
Aku selalu senang berinteraksi di dunia maya. Bagi kalian yang mengenalku sejenak saja, pasti akan bilang kalau aku ini cerewet banget di socmed, aslinya pendiam. Iya, itu pencitraan.
Lalu, karena memang doyan banget terjun ke dumay, alhasil sering berusaha menghidupkan grup yang sudah kolaps. Melihat grup yang sunyi tuh rasanya… eeer, susah dijelaskan.
Nah, grup fb kampus fiksi 10 termasuk grup tersunyi yang pernah kumiliki. Pasalnya, jarang ada yang sekadar lewat dan say something untuk memancing keharmonisan grup itu. Mungkin memang belum saling kenal kali, ya… Maka dari itu, berhubung sudah menjelang hari H pestanya angkatan 10, aku ikut meramaikan. (padahal gak ikut, tapi pengen sekali ikuuuuut! Hiks!)
Berhubung kemarin ada yang gak bisa ikut dan konfirmasinya ke mimin kampus fiksi, jadilah kepo. Hih! Siapa mimin emangnya? Dia kan gak di Jogja! Kalau konfirmnya ke mimin, miminnya mesti nyampein ke mbak ve gituuu? Kerja kok dua kali.
Nah, ini yang kutulis di grup:
Hai hai, siapa aja nih yang udah konfirmasi ikut kampus fiksi angkatan 10? :D
Beberapa sudah ngacung. (aku hitung ada 3 orang doang. Responnya benar-benar sedikit ya…) satu yang menjawab “nope”.
Kukira salah baca atau aku yang memang tak mengerti maksudnya, lalu kukonfirmasi lagi dengan bilang, “Mas ikut, kan?”
Dan dia menjawab, “Aku gak ikut. I have personal reason to stopped my dream to be a writer.”
Nyeseknya tuuuh… beneran di sini. *nunjuk hati*
Aku benar-benar sedih ketika mendengar ada yang menjawab seperti itu. Pasalnya, sudah ada beberapa temanku yang menghentikan langkahnya. Mereka sama denganku, yang memulai dunia ini dengan menulis cerpen. Mereka bersama denganku, mengecap dunia yang begitu penuh dengan persaingan. Persaingan di SBMPTN mah kalah brrrrooooh!
Saat ia menjawab itu, aku hanya bisa menjawab dengan emot ini. :’(
***
Tak lama setelah itu, aku merenungi diriku sendiri. Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang pemalas yang bercita-cita ingin menjadi penulis. Jalanku berliku, sangat berpaku! Di saat temanku yang lain bisa dengan lancar menulis cerita romansa remaja yang ceria dan menyentuh, aku? Aku selalu kalah dari mereka. Dunia yang kusukai hanya fantasi, dan di sini, di Indonesia, fantasi kurang laku, kurang banyak peminatnya. Benar, kan?
Setiap ikut lomba, selalu kalah di tahap kedua atau tahap final. Di saat teman-teman seperjuanganku, seangkatanku, bahkan istilahnya penulis baru berhasil menyaingiku, ada rasa sesak di dada. Tapi, entah kenapa, aku sendiri tak pernah berpikir untuk berhenti menulis. Entahlah, mungkin bebal, padahal tulisanku tak bagus. Biasa. Standar. Siapapun bisa menulis sepertiku, asal makan buku eyd. Mungkin aku seperti robot penghasil tulisan yang tak pernah berhasil meniupkan roh untuk tulisanku. Itulah yang kupikirkan mengenai diriku selama ini.
Akan tetapi, herannya, aku tak pernah bisa untuk melepas dunia ini. Aku sering banget lho, kalah dalam berbagai perlombaan. Tulisanku yang berhasil mana coba? Hanya dua buah cerpen di majalah story yang kini sudah tak ada, satu buah di tabloid gaul, dua di antologi yang diterbitkan penerbit mayor (satu masuk toko buku, satu dijual online, itupun cuma satu cerpen di masing-masing antologi). Iya, seingatku memang hanya itu.
Padahal, banyak alasan yang bisa membuatku berhenti. Misalnya, satu temanku yang pernah satu edisi denganku di majalah story, kini sudah menerbitkan 3 novel. (kurang ngedown apa coba?) lalu penulis baru yang sering diagung-agungkan dibandingkan diriku (ini terjadi di sebuah grup) dan aku menerimanya dengan lapang dada, dengan beranggapan bahwa tulisanku memang bukan untuk di romance. (nah, masih bisa ngeles kan? Kurang bandel apa coba?)
Semangatku sebenarnya turun naik. Turun ketika kalah lomba, dan setiap ingin berhenti, selalu ada yang menaikkan. Bukan dari omongan orang, bahkan mamaku sendiri biasa aja toh. Tapi dari beberapa grup kepenulisan.
Pernah sekali ingin berhenti, eh tiba-tiba cerpenku masuk gaul. (padahal asli, ini biasa banget cerpennya). Lalu ingin berhenti lagi, tiba-tiba dinyatakan lolos masuk kampus fiksi reguler (ini benar-benar bersyukur banget, karena banyak orang di luar sana yang ingin ikut tapi masih belum bisa masuk ke dalam bagian dari kampus fiksi). Saat ngedown lagi juli lalu, tiba-tiba saja dinyatakan masuk nominasi 20 penulis penakes terbaik dan mendapat workshop penulisan opini selama dua hari (beuh, fasilitasnya hotel broooh! Makan sampe perut penuh dan semenjak itu berat badanku gak bisa turun-turun! Padahal ngerjain itu mepet deadline nunggu selesai ujian.) Kurang baik apa coba, motivasi yang asalnya dari Tuhan itu?
Ini mau curhat apa nyombongin diri? :”(
Yah, intinya, semangatku lagi naik saat ini, apalagi setelah mengikuti kampus fiksi. Jujur aja, jarang lho, aku ngeblog nulis seperti ini. Mungkin ada efek lanjutan dari kampus fiksi. *ciyeeeee* dan aku sendiri mengatakan pada diriku sendiri, “LO HARUS PUNYA NOVEL SETELAH MENGIKUTI KAMPUS FIKSI INI. JANGAN MALU-MALUIN!!!” Padahal, pada dasarnya, aku tetap minder sama teman-teman kampus fiksiku yang sepertinya lebih hebat dalam menulis. Tapi… emang dasarnya gak mau kalah kecuali ada sebuah pukulan telak yang berhasil membuatku gak bangun-bangun lagi. (dan kalian gak akan tahu pukulan telak seperti apa yang sukses membuatku jatuh, karena aku sendiri tak tahu. Kalau kalian jawab ‘novel teman seangkatan’, itu justru akan memacu semangatku)
Kalau lihat dari pesaing, jangan heran. Sama aja toh, profesi waiter juga banyak persaingannya. Penulis saat ini membludak. Tapi yang mempunyai “nama” hanya segelintir, toh?
Makanya, masih tak habis pikir kenapa ada yang bilang “aku punya alasan untuk berhenti menulis”. Lalu aku apaaaaa? Apa aku juga harus berhenti? Tahun 2014, karyaku yang dianggap hanya yang penakes itu saja, bahkan gak menang juara satu. Hanya masuk 4 besar dan gak dapat 3 juta. Huwaaaah! *tangisan yang membanjiri seluruh negeri* selain itu, belum ada.
Aku menyukai fantasi. Tapi lagi-lagi, fantasi bukan sesuatu yang bisa “menjual” di Indonesia. Bahkan, mbak Rina aja menyampaikan, bahwa novel bimbingan tidak menerima fantasi. Diva tidak menerima naskah fantasi dulu. *lap ingus*
Aku yang hanya bisa menulis fantasi, apakah harus menghentikan langkahku karena alasan tersebut di atas?
 Ah, masih ada satu lagi. *bikin heboh sedikit* Aku sedang menyukai seorang penulis yang udah punya anak enam, lho! (maksudnya buku). Sampai hari masih belum bisa move on. oke, dasar bodoh emang. Haruskah aku berhenti menulis dan berhenti menyukainya? Dia bilang suka cewek yang jago nulis, lho. Aku apa? novel pun belum punya. Entah ini bisa jadi semangat atau tidak. Tapi kalau dijadikan semangat, sepertinya gak logis bener...
Eeeer, kepala ogut mulai pusing menulis ini. Selalu dan selalu melebar dan bikin kepala ogut goyang-goyang. Sebaiknya diakhiri sampai di sini. 
Dan masih ada saja pertanyaan di kepalaku, “kenapa ada alasan untuk menghentikan langkahmu dalam menulis?”


Depok, 13 November 2014

No comments:

Post a Comment