Sunday, October 19, 2014

#KampusFiksi9


Part 2, Curhatan yang Tak Ada Habisnya
 
Oke, gue bakal lanjutin cerita tentang kampus fiksi ini.


Di hari pertama, gue lumayan banyak ketemu dengan orang-orang yang cukup pendiam alias kalem. Biasanya, kalau gue ketemu sekelompok orang, gue yang bakal diam aja, membaca gerak-gerik sekitar gue dan menilai kapan gue boleh ngomong, kapan gue jaim. Nah, teman-teman di kampus fiksi ini pada kalem semua, dan muncul keheningan yang dasyat ketika gue nggak membuka obrolan. Jujur aja, gue jarang ketemu dengan situasi seperti ini, yang membuat gue terheran-heran. Jadi di kalangan penulis itu… sehening ini?
Maka dari itu, gue berusaha untuk mengajak ngobrol, walau memang susah untuk membuka duluan. Haha…
Saat gue sampai di asrama, di situ sudah ada beberapa orang. Seingat gue, ada Iit (ini mbak woles yang super woles tapi doyan sama cerita pembunuhan. Entahlah, mungkin di otaknya sedang ada kemelut setting pembunuhan yang super ribet untuk ceritanya, makanya lebih sering diam dan woles). Ada lagi Zulfa, yang langsung heboh ketika ketemu soulmate-nya (entah soulmate ketemu di mana), namanya Ovit. Duo ini punya dunianya sendiri karena memang sudah saling kenal sebelum ketemu di kampus fiksi ini.
Selain itu, ada Mbak Nifa yang lembut, mojang Bandung. Ada lagi anak yang super jaim, namanya Mei. Dia… gue lupa asalnya, pokoknya masih sekitar Jogja. Dia anak kelas tiga SMA yang punya niat untuk melanjutkan kuliahnya di universitas negeri, dan punya niat belajar. Sayangnya, fasilitas kurang mendukungnya. Gue miris pas denger dia bilang bahwa butuh perjuangan untuk mencapai toko buku terdekat, karena jaraknya jauh. Dia sampai minta gue kirimin buku kalau gue ada (sayangnya, gue anak IPA, dan dia anak IPS. Otomatis gue gak punya bukunya). Kalaupun gue mau beliin, gue gak bisa kirim ke rumahnya. Alamatnya aja gak ada!
Lanjut…
Eh, coba ngacung, ada yang belum gue sebut? Seingat gue, yang sudah ada di asrama pukul empat cuma segini. Bener, gak?
Ada lagi deng. Para cowok, seperti mas Panji dan Nico, tapi berhubung gue ngobrolnya di kamar cewek, jadi gak banyak tahu tentang dua cowok ini karena gue gak ngobrol di luar bareng. Masih jaim!
Awalnya, gue kira yang ikut kampus fiksi ini cuma sedikit, ya segitu aja. Sampai jam 7 malam, baru ada 13 orang yang datang. Dalam hati gue berteriak, “Heeeeeei, serius nih, cuma segini? Aduuuh, gue gak rela kalau tujuh kursi harus hangus gitu aja! Alasan pertama: satu angkatan kampus fiksi sedikit itu rasanya sedih. Artinya temen angkatan gue cuma dikit, dong? Alasan kedua: betapa susahnya mendapatkan satu bangku kampus fiksi reguler. Banyak di luar sana, orang-orang yang hanya bisa menadahi ilernya ketika melihat kampus fiksi reguler sedang dilangsungkan. Dan loooo, malah menyia-nyiakan bangku itu? tujuh lagi!”
Eh, ternyata esok paginya sudah 19 orang. Dua orang meng-cancel acara ini karena ada alasan tersendiri. Duh, malunya. Ternyata memang lengkap. Haha… setelah gue pikir-pikir, gue memang tidur cepat, sekitar setengah sepuluh sudah teler. Padahal gue ini manusia nocturnal yang biasanya tidur jam 2, tapi di saat begini malah tidur terlalu cepat. Di saat gue sudah tidur itulah, peserta lain yang rumahnya memang dekat sudah berdatangan. Maka dari itu, keesokan paginya, kursi sudah lengkap.
***
Gue bakal ngelewati cerita gue yang galau ketika makan malam, memilih antara burung puyuh atau lele sebagai lauk (yang dua-duanya memang gak pernah gue temukan sebagai lauk di piring gue), walau akhirnya gue memilih lele (dan gue gak nyesel, karena lauk hari selanjutnya juga ada lele. Dengan begitu, gue gak menambah daftar nama hewan yang sudah gue pernah gue makan).
Gue lanjut ke acaranya aja langsung.
Pagi-pagi, hal yang sudah gue duga terjadi. Antrian kamar mandi. Berhubung semua ceweknya muslim, maka dengan senang hati gue menambah jam tidur gue, yang tadinya mau bangun jam 5, gue geser ke jam 6. Kenapa? Karena gue yakin, mereka bakalan salat subuh sekaligus mandi. Benar saja, saat jam 6, setidaknya antrian kamar mandi mulai melonggar bila dibandingkan jam 5.
Setelah makan pagi, semua berkumpul di ruang pelatihan. Setiap bangku sudah diisi dengan nama peserta, dan gue kebagian bangku 3 terdepan di sebelah kiri.
MC, alias Mas Wahyu yang mukanya lucu, yang katanya mirip Gading Marten (menurut gue sih nggak, karena Mas Wahyu itu sipit banget), membuka acara. Lalu ada penyematan peserta, dan setelah itu Mbak Rina Lubis masuk untuk memberikan tantangan menulis serta persyaratannya. Dengan tema “Jodoh Pasti Bertemu”, kami diharuskan membuat sebuah cerpen di jam yang telah ditentukan selama 3 jam.
Di saat Mbak Rina meminta perkenalan para peserta kampus fiksi dengan menyebutkan nama, tujuan mengikuti kampus fiksi, serta ide cerita yang ingin digarap, saat itulah dia masuk.
Oke, gue gak bakal sungkan lagi untuk jujur di sini. Toh, kemungkinan besar dia gak bakal baca ini, kan? :p
Dia masuk dengan menenteng kamera. Saat itu, dia memakai kaos merah di bagian dalam (kaos ‘gadis 360 hari yang lalu’), dipadu dengan baju hitam lengan panjang, seragam para panitia kampus fiksi. Dengan santainya, dia gak mengancingkan baju hitam itu, memperlihatkan baju merah di dalamnya.
Tiga kesalahan yang dia lakukan saat itu: menggabungkan dua warna yang menurut gue keren saat berpakaian (merah dengan hitam), menggulung lengan baju hitamnya hingga ke siku, menampilkan keindahan tangannya (sudah gue bilang, kan? Cowok yang tangannya cantik, entah sadar atau tidak, pasti menggulung lengan bajunya hingga ke siku). Ketiga: dia bawa kamera, alat yang menambah kekerenan seseorang.
Dan saat itulah, mata gue selalu mencari sosoknya, setiap mendengar suara pintu yang terbuka, berharap dia ada di ruangan yang sama dengan gue.
Nah, tahu dong, siapa yang gue maksud? Ya, dia satu-satunya cowok yang gue panggil “kakak” di kampus fiksi kemarin. Dia alumnus kampus fiksi satu, dan setiap ada angkatan kampus fiksi yang baru, pasti ada dia. Ini fotonya. XD






Ups, cukup curhatnya. Lanjuuuut…
Sumpah, gue tegang banget pas perkenalan! Harusnya sih gue termasuk abjad barisan terakhir, tapi karena dibalik, jadilah gue sebagai orang ketiga dalam perkenalan! Zulfa (Zulfa Ulinnuha Tritita) sebagai orang pertama, Zahra (Zahratul Wahdati) sebagai orang kedua. Mereka memaparkan ide mereka dengan sangat lancar! Apalagi Zahra yang idenya “gila banget”, seolah sudah mateng banget di otaknya. Sedangkan gue?
“Eeeuhm, ide ceritaku tentang santa gitu, deh… genre ceritanya fantasi. Karena aku suka fantasi, makanya aku ingin menuliskan cerita tentang santa. Soal alurnya… ya intinya tentang santa, deh!”
Jawaban macam apa itu? (-___-“)
Gue sudah punya feeling, bakal ditanyain ide cerita yang kira-kira nantinya ingin di-bimbingan online-kan. Saat di kereta, gue sudah berusaha untuk memunculkan ide, tapi memang dasarnya lagi buntu, dan si ide gak mau keluar ketika perjalanan di kereta yang menghabiskan waktu 9 jam (ini benar-benar wasting time banget. Nyari ide gak bisa, tidur juga gak bisa!). alhasil gue malu sendiri dengan jawaban gue.
Setelah gue, ada Mbak Siti Rinzhani Ghusty Pertiwi, a.k.a Mbak Ririn. Dia juga cukup lancar memaparkan idenya. Lalu ada Bang Joe, yang nama lengkapnya Saur Tumpu Johanes Gurning, disusul Bang Panji Pratama dan Ovit (novita). Eh, ini berita yang dibawakan komentator sepak bola ya, dioper begitu dan diceritakan begitu singkat? Ah, sudahlah. Mempercepat durasi…
 Ini dia barisan Kiri... minus ovit sih...

Begitu selesai barisan kiri, kini barisan tengah. Ada Nikodemus Niko, Nifa Hanifa, Naafi Nur Rohma, serta Meilia Mulyaningrum yang berbagi cerita tentang idenya. Berlanjut lagi ke barisan kanan, dimulai oleh Mbak Lina (Marlina Permata Sari), dan… stop.  Gue bakal cerita tentang orang selanjutnya.
Alasan gue pengen cerita tentang orang ini adalah… dia punya kesamaan dengan gue, walaupun berbeda. Namanya Mahfud. Dia satu-satunya orang selain gue yang meletakkan peminatan pada sesosok “cinta” bernama fantasi. Keren, ya?


Tuh, liat aja fotonya Mas Mahfud. Bacaannya aja beraaaaat. XD

Dia memang sama dengan gue, sama-sama suka fantasi, sama-sama pernah ikut fikfan Diva. Tapi yang berbeda adalah… dia sudah punya buku, hasil dari kemenangannya di fikfan Diva yang berjudul Bara Aksa Dewa. Sedangkan gue? Gue masuk 30 besar aja nggak! Itulah yang membedakan.
Sudah, sudah… jangan membully gue. Dia emang bikin gue jealous.
Saat itu gue mengira kalau cuma ada dia yang ikut fikfan diva di kampus fiksi Sembilan ini, di ruangan ini. Eeeeeeeh, ternyata… ada lagi satu pemenang fikfan Diva dalam ruangan ini! Dan orang itu adalah orang yang gue suka. Ah, makin ciutlah gue. *eh, bener kan? Soalnya dia pakai nama pena.*
Jujur aja, ya… walau gue jealous, tapi gue emang belum tahu ceritanya seperti apa. Gue sering melihat akun twitter @Divapress01 yang sering menampilkan sinopsis cerita, terutama buku baru. Sayangnya, entah karena gue gak baca atau gimana, atau mungkin gue lupa. Satu-satunya pemenang fikfan Diva yang ceritanya membuat gue ngiler alias pengen baca walaupun takut adalah yang judulnya Bloody River (ini novel karangan Kakak). Dari judulnya sudah memikat, sinopsisnya juga sudah menggugah gue untuk membacanya. Tapi… ya itu tadi, berhubung itu thriller, gue belum menyelesaikan buku itu hingga sekarang.
Maaf ya, Mas Mahfud… nanti akan gue cari dan baca novelmu itu. Bara Aksa Dewa, kan? ;D kalau Bloody River sih, udah punya. Cuma masih takut untuk membacanya. XD
Nah, lanjut lagi. Setelah Mas Mahfud berbagi tentang idenya yang juga berkutat dalam fantasi, kini saatnya Laras (Laras Wahyuningrum) yang memperkenalkan diri. Gue baru tahu, ternyata dia juga dari kampus fiksi sepuluh yang maju ke kampus fiksi Sembilan, sama kayak gue. :D
Selanjutnya ada Kiki (Kiki Permata Sari), yang entah ada hubungan apa, nama belakangnya sama dengan Mbak Lina. Usai memperkenalkan diri, mic dioper ke Caca (Inna Riescananda). Cewek yang satu ini hobi berkata “Kenapaaaa”, dengan nada yang sama persis dengan iklan biskuat yang diucapkan oleh anak kecil kepo itu.
Naaaah, setelah Caca, gantian Iit yang memaparkan ide dan cerita yang dia suka. Dari sinilah, semua orang tahu kalau mbak woles ini begitu doyan dengan cerita pembunuhan seperti karya Agatha Christie. Kalau kata Nico, “Iiiih, serem bangeeeeet!”
Setelah Iit, dua perkenalan terakhir dilanjutkan oleh Ain (Ainun Nisa Nadhifah) dan Mbak Agustin (Agustin Wahyuningsih).
Usai perkenalan diri, (hosh, hosh… *lap keringat*) dilanjutkan dengan materi teknik kepenulisan oleh Pak Edi.
Naaaaaah, sampai sini masih belum masuk materi, lho? Hahaha… kebanyakan curhat membuat gue pusing menyusunnya. Inti cerita di sini masih membahas tentang sobat-sobat gue yang kalem tapi membekas di hati, belum sampai ke materi.
Audience: Teruuuus, materinya kapaaaan?
Me: Kapan-kapan aja, ya.
Audience: Kenapaaaa? *bertanya ala caca*
Me: Mau ngerjain tugas dulu. Hehehe… :D
Audience: Terus, si dia itu siapaaaa? Yang kamu suka itu?
Me: iiih, kepo! Ya udah deh, gue kasih tahu. Inisialnya Kak Reza. :P


Depok, 19 Oktober 2014

No comments:

Post a Comment