Thursday, October 30, 2014

Curhat yang Gak Urgent



Satu Nama untuk Hari Ini
Oke. Gue paling gak bisa kalau harus dikungkung, merasa terjerat oleh sesuatu yang kurang gue suka. Saat ini gue butuh menyalurkan endorphin otak gue yang membludak, membuat gue suka tiba-tiba tertawa keras, baik itu sedang diam sendiri, maupun saat membaca buku diktat kuliah. Serius, itu malu-maluin.
Walau terjerat oleh ujian dan harus sistem kebut semalam, mari berbahagia ria sejenak. Ini penting buat gue. Orang masturbasi aja harus disalurkan biar gak penyakitan, gak kanker prostat. Berarti kebahagiaan juga harus disalurkan, walau hanya dalam bentuk tulisan.
Jadi begini. Hari ini, otak gue sedang memprogram seseorang. Dia bukan orang yang gue suka sih, tapi yang namanya masa depan, siapa yang tahu? Intinya, saat ini belum ada rasa suka. Gue juga tahu orangnya seperti apa, jelek-buluknya seperti apa. (peaceee… kalau lu baca ini, jangan marah! Haha…) makanya itu, belum ada rasa suka. Dan… otak gue secara polosnya dan ngeyelnya gak mau menghapus memori orang ini.
Namanyaaa… ah, nanti saja. Bagi yang tahu, dari awal cerita pasti udah tahu!
Dia pakai sweater biru donker buluk hari ini. Ketemu di bacang langsung bikin gue ngiler sama indomi yang dia makan, yang beberapa menit kemudian berhasil mematahkan keinginan gue untuk gak makan mie instan. Alhasil, gue menjuluki hari ini sebagai hari mie se-ISTN, karena kawan-kawan gue (yang akrab) semuanya makan mie.
Usai makan, dia ngerokok, satu hal yang gue benci pake banget. Salah satu kejelekannya adalah: melakukan tindakan yang merupakan keterbalikan dari yang disuruh/disarankan orang lain. Gue dan Bajegh udah nyaranin dia gak merokok, tapi tetep aja kepulan asap itu keluar dari mulutnya. Saking kesalnya, gue berusaha merebut rokok itu dari tangannya.
Sayangnya, rokok itu berhasil gue rebut saat tembakau yang tersisa hanya 0,5cm. Jadi, saat merebutnya secara paksa, tangan gue merasakan panasnya ujung rokok itu. Huh, untung tangan gue masih sehat! Begitu berhasil ambil, gue langsung menyiram rokok itu dengan air. Horeeee!
Dari situlah dia “menggila”. Saat di himpunan, dia joget-joget gak keruan, menggoyangkan pantatnya di depan muka Bajegh, yang justru membuat gue ketawa ngakak dengan variasi goyangannya. Berasa melihat sinchan secara live, tapi tanpa goyangan setengah pantat.
Itu baru satu, tapi ketawa begitu udah bikin gue cukup capek…
***
Menjelang siang, Bajegh mengajak anak-anak untuk menemaninya mencari bahan kimia yang harus dia ganti karena kesalahannya sewaktu praktek. Gue yang hasratnya tiba-tiba muncul, ingin ikut jalan-jalan. Berhubung gue gak bakat dalam mengendarai motor (dan gak niat belajar), gue harus bersusah payah mencari siapa yang bisa gue tebengin.
Jujur ya… gue lagi suka banget sama motor satria. Keren, ramping, dan enak banget pas dibonceng. Karena alasan itulah, gue berusaha mencari tebengan sama orang yang memiliki motor satria. Huwahahaha…
Sebenarnya ada dua pilihan, sih… ada Gusti dan “dia”. Berhubung gue kemarin diboncengin sama Gusti dan merasa kurang nyaman dengan joknya yang menurun dan licin, gue berusaha membujuk “dia”.
“Ayolah ceeel, ikutan jalan, yuk!” gue tetap memasang muka melas, walau dia memasang muka gak mau.
“Ah, buat apa sih? Mau ke mana?”
“Bantuin Bajegh nyari bahan kimia.”
“Ah, gak ada bensin gue!”
“Gue bayarin deeeh!” ini benar-benar senjata terakhir yang gue punya. Hiks, kalau sampai gak mempan juga, gue bertekad untuk pulang aja dan gak mau di kampus lebih lama lagi.
“Ah, nggak ah!”
“Ayolah ceel, serius, gue yang bayarin bensin lu. Ceban cukup, kan?” ketahuan banget bujukannya gak ikhlas. Masa cuma isi bensin ceban? Hahaha…
“Gak, gak usah. Gue ada uang bensin, kok. Tadi cuma bohong doang.” Walau begitu, pas gue menarik-narik tangannya, dia masih enggan untuk jalan. Tapi, gak berapa lama kemudian…
Dia mengambil tasnya. Horeee! :D
***
Rencana jalan ini sebenarnya cuma menghilangkan penat, jalan-jalan refreshing karena ujian, dan gue lagi pengen banget bolos kuliah. Prinsip gue, yang namanya ujian ya ujian, gak usah kuliah. Kayak gak ada hari lain aja, sih!
Di tengah jalan menuju parkiran, Bu dosen sedang berjalan menuju gedung farmasi. Haduh, berabe ini mah! Ketangkap basah lagi mau membolos…
Si micel langsung memberi kode “stttt! Stttt!” kepada kami yang masih ramai membicarakan hal-hal remeh. Gue langsung diam, berusaha nunduk dan nyembunyiin muka sebisa gue.
Saat bertatapan sama bu dosen, semua diam. Lalu, secara tak disangka-sangka, Micel, Uloh, dan David mengangkat tangannya, melalukan gerakan hormat. Gue langsung ngakak pas melihat ibunya senyum-senyum, sambil berkata, “Ibu juga harus balas hormat gitu?” sambil memperagakan hormat juga.
Setelah bu dosen lewat, micel langsung tos sama kedua cowok itu.
“Kita berhasil…” ujar micel sambil tersenyum. Ah, senyumnya itu…
Kami bergerak menuju parkiran. Motor Micel memisah sendiri dari kawanan, beda barisan. Gue yang memang mau nebeng sama Micel langsung mengekorinya. Micel berhenti di sebuah motor yang gak gue kenali, tapi yang pasti gue bisa memastikan kalau itu bukan satria.
Tak jauh dari dia berdiri (udah masuk dan berdiri di samping motor), gue melihat satria yang familiar. Awalnya merasa keren (warnanya hitam, dengan aksen orange yang berupa tulisan dan tidak mendominasi) karena kecintaan gue dengan satria, tapi begitu gue berbalik badan, gue menemukan hal lucu lainnya.
Micel menatap gue sambil senyum-senyum –menuju tertawa–, ternyata menertawakan dirinya sendiri yang salah mengenali letak motornya, dan berhenti bukan di tempat motornya sedang bertengger saat ini. Awalnya, gue kira Micel sedang melihat teman-teman lain yang sibuk mencari pinjaman helm, eh ternyata salah tempat!
(pas gue pulang dari kampus, gue cekikikan mengingat tampangnya yang polos. Walaupun dia gak ngomong, tapi gue tahu dia malu karena salah berdiri. Ternyata gue duluan yang mengenali motornya. XD padahal, kalau dia stay cool aja tanpa ketawa, gue juga gak bakalan tahu kalau dia lagi salah mengenali motor, dari motor satria menjadi motor bebek).
Iya, itu memang lucu buat gue, tapi setelah tiga kejadian itu, gue dikerjain habis-habisan sama Micel.
***
Setelah keluar dari parkiran, beberapa orang temen gue menarik uang di atm. Micel ikut menarik sejumlah uang (ketahuan banget kan, ini anak tadi cuma jaim doang di depan temannya, gak mau dibayarin bensin sama gue. Gue hargai kejantanan lu Cel, yang gak mau nerima uang dari cewek. Cieeee…XD)
Padahal gue serius mau bayarin bensin. Serius lho. Iya, tapi hasrat mau bayarin bensin hanya hari ini. Besok pasti udah lenyap tak berbekas…
Micel pernah ngeboncengin gue waktu gue ke Kober bareng Ena dan Pipeh. Dia masih ingat larangan gue yang bilang “jangan di atas 40 km/jam. Bahkan, kalau bisa, dibawah 30. Dan dia ngeyeeeeeeel banget! Nyetirnya dikedut-kedutin, memainkan rem dan gas seenaknya, ngelak sana-sini, nyalip, dan uwoooooooh! Pokoknya jantung gue berjumpalitan saat dia bawa motornya. Huhuhu…
Kenapa gak kapok gue tabok, sih? Udah tahu kan, kalau tiap kali lu bawa gue seperti itu, gue pasti nabok? Kan gue yang jadinya merasa bersalah… (pasang emot sedih yang paling dasyat)
Enaknya diboncengan Micel tuh begini: saat diajak ngobrol, dia nyahut. Gak diem aja di atas motor, walau gue juga bukan orang yang senang bicara di atas motor. Terlebih lagi, malah dia yang cerita di atas motor, bukan gue. Itulah yang enak, karena gue kadang suka capek sendiri ketika berbicara di atas motor. Tapi pliiis, kalau lagi di atas motor, bicaranya dikencangkan sedikit. Angin membawa habis suaramu, Nak…
Selain itu, gue yang memang doyan diboncengin sama si “satria”, lebih nyaman ketika berada di atas motor Micel. Gue gak tahu deh, apakah jok motor itu juga bisa berbeda atau gimana, tapi gue merasa nyaman walau duduknya hampir terkena besi yang paling belakang bagian motor itu. Mungkin posisi duduk Micel yang enak, karena dia duduknya agak belakang, menyisakan ruang yang sedikit untuk gue, tapi dengan ada sebuah penghalang berupa tas yang dia pakai di punggungnya, membatasi tubuh kami berdua. Tas ini berguna banget, apalagi ketika terjadi benturan. (uhuk!) Si tas juga bisa menjadi sasaran gue saat refleks takut gue mencuat keluar, yang biasanya doyan memegang pinggang orang ketika takut.
Usai dikerjai habis-habisan sama Micel, gue balik ke kampus. Sempat nyesel juga karena gak bawa helm, padahal kalau gue pakai helm, gue bisa lebih lama diboncengin di atas satria. Huhuhu…
***
Tadinya gue udah capek, terutama pikiran gue yang terkuras hanya gara-gara human error dan adu mulut dengan pak satpam. Gue bukan tipe orang yang doyan adu mulut, apalagi melihat orang yang uratnya keluar dan matanya melotot marah saat bicara. Hal itu malah memunculkan reaksi benci. Gue udah mau pulang, tapi gue bertahan dengan merefreshkan otak dengan memainkan game LGR. Satu-satunya orang yang hp-nya boleh dipinjamin ke gue adalah Uloh. Dia satu-satunya orang yang ngizinin gue memainkan LGR miliknya, walau kalah sekalipun.
Saat himpunan lagi mengadakan rapat, gue diam aja di luar. Malas ikut rapat. Si Micel yang muncul dari dalam ruangan, melepaskan sweater biru donker buluk miliknya, yang menampilkan kesan formal keren karena kemeja di balik sweater terlihat. Nurul langsung berteriak, “Cel, lu jadi gantengan setelah lepas sweater!”
Setelah puas main LGR, gue jajan sebentar, menyeruput minuman kesukaan gue, es teh manis. Micel naik ke bacang.
“Cel, kok dipake lagi sweaternya? Kan gantengan gak pake,” gue bicara seperti itu. tapi berhubung sifat Micel memang konsisten, yang selalu melawan arus, dia malah cuek dan tetap memakai sweaternya.
“Eh, lu maunya ama siapa? Micel apa Gusti??” Pipeh nyerocos gak keruan.
“Oh, lu mau sama gue?” si Micel langsung menatap gue, berusaha memastikan (gue tahu apa yang ada di kepalanya) bahwa dia itu banyak yang suka. Gue gak menjawab, karena di hati gue memang masih ada satu nama yang belum bisa gue singkirkan dari kepala gue. (Oemjiiiiii! Hari ini dia yang gue suka mengganti AVA-nya lho! Seger banget jadinyaaaa! Gue sampai ngetweet “ada yang lebih seger dari es teh manis” itu karena fotonya yang biasanya cuma gambar abstrak, kini memakai fotonya sendiri. Suegeeeeer! XD)
Micel lalu duduk di samping gue, nyempil di antara gue dan Pipeh.
“Eh, lu sengaja banget sih, deket-deketin nci! Apa yang Gusti mau, lu juga ikutan mau!”
Euhm, gue klarifikasi sebentar. Si Pipeh ini emang doyan banget nyerocos. Dan yang sejak tadi dia omongin itu hoax semua. Gusti gak suka sama gue. Dia cuma senang membully gue. Hiks! Tapi ucapan dia di atas, kalau mau ditelisik dari sudut pandang Micel, rasanya… gue yang nyesek. Mereka, Gusti dan Micel, (setahu gue) sempat bertengkar karena seleranya terlalu mirip, sampai apapun yang mereka punya itu seakan kembar.
Setelah mengucapkan itu, Micel kabur. Pergi. Hilang.
***
Udah, sekian aja cerita gue. Tadinya sih, niatnya cuma 2 halaman karena gue mesti belajar buat ujian besok. Kenapa malah jadi curhat panjang lebar seperti ini??

Depok, 30 Oktober 2014

No comments:

Post a Comment