Thursday, October 2, 2014

#KampusFiksi9



Part One: Awal dari Segala Permulaan

Perjuangan banget buat bisa ikut kampus fiksi. Gimana nggak? Teman gue yang istilahnya udah terjun lama di dunia kepenulisan aja masih gak lolos waktu seleksi tahap pertama. Lha, gue?
Intinya, teman gue yang satu itu pernah ditolak. Lalu dibuka lagi seleksi kedua, dan gue nekat mengirimkan karya gue yang… benar-benar jauh dari genre yang gue bisa.
Dari genre yang gue suka, fantasi, diwajibkan untuk mengirimkan romance (gak boleh fantasi). Uuuh, keluar dari zona nyaman.
***
November 2013
Gue akhirnya mengajak teman gue untuk mengirimkan cerpen, dan dengan sok bijak gue bilang padanya bahwa kali ini ada kemungkinan lolos, mungkin waktu itu kurang beruntung. Dia jawab oke, dan dari motivasi itulah, gue harus loloooos! Gue gak mau ditinggal sama teman gue, dan kita harus bersama-sama!
Lalu, dengan semangat pantang menyerah, gue ajak lagi satu teman gue. Dia jawab oke. Fix, gue punya dua teman yang bisa gue ajak untuk ikut kampus fiksi.
***
“Kak Aaaaaaay, aku udah kirim cerpenku, lho! Sesuai dengan saran Kakak, aku pakai cerpenku yang judulnya Anemogami. Kakak udah kirim, belum?” tanyaku dengan semangat ‘45. Ya iyalah, secara gue akhirnya bisa juga menyelesaikan tulisan berbau romance, terlepas itu bagus atau nggak!
“Aku gak ikut, Hani…”
Jleb!
“Kenapa, Kak?” asliiii, gue sedih banget pas dia jawab begitu. Karena dialah, gue berani untuk maju dan mengirimkan cerpen untuk seleksi kampus fiksi itu.
“Kita udah terlalu banyak mengikuti pelatihan, Hani… lebih baik langsung menulis. Aku juga udah terlalu jenuh mengikuti pelatihan menulis.”
Kalau rumput bisa bergoyang, mungkin inilah saat yang tepat. Gamang meliputi gue. Gue udah kirim, sedangkan dia malah bilang gak jadi ikut di saat sudah terkirim. Kakaaaaaak… :’(
Gue lanjut mengonfirmasi teman gue yang satu lagi, memastikan gue gak sendirian.
“Mbak udah kirim cerpen belum? Bentar lagi deadline, lho…”
“Aku kayaknya gak bisa ikut, Hani… kondisi nenekku gak memungkinkan untuk kutinggal…”
Dan aku langsung patah semangat mendengar kedua jawaban temanku itu.
***
Oke, gue gak perlu menjelaskan bagaimana detilnya rasa senang gue ketika melihat nama gue ada di barisan nomor 72 (masih ingat, lho!), di bawah nama Lidya Reny Chrisnawati, tercantum sebagai peserta kampus fiksi angkatan 10. Waktu itu hampir nangis di kampus, tapi untungnya berhasil gue redam menjadi berkaca-kaca doang. Gak sia-sia, gue berhasil juga mendapatkan salah satu bangku kampus fiksi itu…
Dengan berbagai alasan (kemungkinan bulan November ada sosfar, acara ospek jurusan farmasi, bentrok dengan kampus fiksi angkatan 10), gue meminta untuk maju angkatan, menjadi angkatan 9. Begitu dikonfirmasi bahwa gue bisa ikut angkatan 9, gue langsung menyiapkan tiket menuju Jogja.
***
September 2014
Kereta Fajar Utama Yogya sudah mulai mendekati stasiun akhir. Gue was-was, merasa gak enak dengan Mas Kiky, driver yang akan menjemput gue di stasiun. Pasalnya, gue udah mengaretkan jam pertemuan, dari yang tadinya 15.12 (waktu inilah yang tercantum di tiket sebagai waktu tiba kereta) menjadi 15.30. Tapi tetap saja, 15.46 baru sampai di stasiun Yogyakarta!
Lebih parahnya lagi, perut gue gak mau diajak kompromi. Perut yang hanya gue isi dengan sarapan pada pukul 9 pagi itu kini meronta-ronta, meminta diisi ulang. Huft, dari awal, gue sengaja gak mau pesan menu makanan di kereta untuk makan siang… Selain harganya mahal, rasanya jauh dari gambar yang ditampilkan. Maka dari itu, gue bermaksud mencari warteg sekitar stasiun jika ada sisa waktu janjian. Nyatanya? Waktu janjian aja sudah ngaret 16 menit!
Sesampainya di stasiun, hasrat untuk memenuhi permintaan si lambung lebih besar, membuat gue mengulur waktu lagi untuk ketemu Mas Kiky. Huwaaah, maafin gue, Mas Kiky!
Gak ada warteg. Penjual makanan berat pun gak ada, yang ada cuma semacam gorengan (kalau gak salah lihat) sama roti rasa kopi, me too-nya si boy. Gue pilih si boy tiruan itu sebagai pengganjal perut, dan menghabiskannya di dekat pintu keluar dari stasiun sambil menghadap peta Yogyakarta.
Setelah habis, gue baru sms Mas Kiky, sebagai konfirmasi bahwa gue udah sampai di stasiun. Gak lama setelah itu, Mas Kiky langsung menelepon gue.
“Kamu di mana? Aku ada di pusat informasi nih, memakai baju merah tulisan “blablabla yang lalu” (gak kedengaran sama gue, teleponnya kresek-kresek dan ada suara berisik dari latar tempat gue berdiri, jadi cuma kedengaran ‘yang lalu’nya aja. XD Tapi gue tahu maksudnya, karena ada sebuah buku terbitan divapress dengan judul itu, sayangnya gue gak ingat judul lengkapnya).”
“Oh… iya, Mas. Oke.”
Dengan modal nekat dan sok tahu, gue cari yang namanya Mas Kiky. Pusat informasi? Ya ampun… dari tadi gue makan roti sambil berdiri di samping pusat informasi, brooo! Malu pisan ini, kalau sampai ketahuan laper banget. XD
Saat melihat ada lelaki berbaju merah sedang celingukan, gue langsung lihat bajunya. “Gadis 360 hari yang lalu”. Aaaaah, lelaki inilah yang gue cari. Betapa dipermudahkannya gue bertemu dengan Mas Kiky… :D
Begitu kenalan, gue langsung diajak ke mobil. Sesampainya di mobil, udah ada gadis berambut pendek yang duduk di bangku depan, yang begitu supel. Namanya Zulfa, dari Pangkalan. Gue duduk di bangku tengah yang cukup luas (karena belum ada orang).
“Kita nunggu satu orang lagi, ya,” kata Mas Kiky. “Nungguin Reza. Kenal, kan?”
Gue angguk aja, padahal gak kenal. XD Pernah dengar namanya, Reza Nufa, panjangnya Reza Nurul Fajri. Tapi… gak follow akun twitternya, takut dibilang SKSD. XD
“Lho, tadi aku kayaknya liat Mas Reza lewat,” jawab Zulfa dengan tampang yang sedikit bingung. Ekspresinya waktu itu kocak deh, soalnya dia rada gak yakin dengan yang dia lihat. Ngomongnya slow motion pula! Padahal Mas Kiky kan harus segera menemukannya. XD
Mas Kiky langsung turun dari mobil, sementara itu gue mulai deg-degan. Gimana kalau dia itu... alumni Kampus fiksi yang terkenal itu? *uhuk*
Maksud gue, kan Kak Reza Nufa yang itu dapat predikat alumni terfavorit saat kampus fiksi emas beberapa waktu lalu...
Nah, balik lagi ke persoalan. Terus gue mesti ngomong apa? udah begitu, otomatis Kak Reza ini bakal duduk di kursi samping gue, gak mungkin duduk di pangkuan Zulfa, kan? Aaargh, kepala rasanya langsung berantem dengan pikirannya sendiri!
Gak lama setelah itu, ada cowok yang gak terlalu kurus, tapi juga gak gemuk, berjalan melintasi depan mobil sambil melihat ke dalam. Gaya jalannya santai tapi pasti (menuju ke dalam mobil). Waaaah, gue langsung panik dan menggeser tubuh gue mentok ke pintu, malah terganjal tas Zulfa.
“Itu tasku…” kata Zulfa.
Gue yang masih mematung, bukannya ambil tasnya, malah nampilin senyum bego. Sementara itu, Kak Reza udah buka pintu mobil!
Eh, tunggu dulu. Ini bukan deg-deg-ser karena cinta, ya. Ini cuma karena gue grogi ketemu orang yang istilahnya memang bagian dari kampus fiksi sejak awal. Serius.
“Tasnya dipindahin ke bagasi aja…” Mas Kiky mengusulkan. Baru deh, setelah itu tangan gue mau bergerak. Aduhaaai, kenapa bisa se-oon ini ya, cuma karena melihat gayanya si Kakak?
Begitu gue udah mementokkan diri ke pintu, Kak Reza masuk, diiringi seorang cowok yang kalah tinggi dibandingkan Kak Reza. Walaaah, cowok yang satunya lagi gak gue lihat lho, tadi!
“Reza…” si Kakak menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangan. Gue balas menyambut tangannya dan menyebutkan nama gue, lalu kenalan dengan cowok yang satunya lagi, yang bernama Nico.
“Kamu naik kereta juga?” Kak Reza nanya lagi.
“Iya.”
“Dari mana?”
“Jakarta.”
“Jangan-jangan…” Kak Reza menunjuk ke stasiun, dengan maksud menunjukkan kereta yang baru saja sampai. “Fajar Utama?”
“Iya.”
Dari gelagatnya, gue bisa menebak bahwa kami satu kereta, lalu gue ketawa. Kami naik kereta yang sama tanpa tahu satu sama lain. Gue di gerbong tiga, sedangkan Kak Reza dan Nico mungkin di gerbong lain.
Percakapan setelah itu dipenuhi oleh Mas Kiky, Kak Reza, dan Zulfa. Gue dan Nico diam saja sambil menyimak percakapan mereka yang seru, sesekali cekikikan mendengar celotehan mereka. Ada satu celotehan mereka yang membuat gue senyum-senyum.
Kak Reza: “Wah, hari menyembelih besar-besaran sebentar lagi, ya?”
Mas Kiky: “Iya. Bentar lagi, nih.”
Kak Reza: “Semoga para kambing itu bisa masuk surga…” (dalam hati gue aminin. Gak lucu kalau misalnya ini cuma lawakan, dan gue malah mengaminkan dengan serius, padahal gue gak ngomong apa-apa lagi selain perkenalan tadi!)
Mas Kiky: “Iya, semoga masuk surga. Eh, bukankah mereka bisa masuk surga? Kan udah jadi hewan kurban?”
Kak Reza: “Hmmm, belum tentu. Kambing masih banyak dosanya, lho. Pup di depan rumah orang dan buat orang kesal, dan sebagainya. Nah, beda lagi kalau lele.”
Sambil mendengarkan celotehan mereka, mata gue terpaku ke satu tempat. Tangannya Kak Reza.
Aduhai, tangannya itu cantik banget! Kurus tapi terkesan kuat. Jari-jarinya juga panjang, yang membuat gue cemburu berat karena jari tangan gue yang bantat. Tangan penulis, begitu julukan yang gue berikan.
Ah, intermezzo tadi dilupakan saja. Lanjutkan dengan percakapan mereka.
Mas Kiky: “Kenapa sama lele?”
Kak Reza: “Kalau lele sih dijamin masuk surga. Coba, apa dosanya? Gak ada. Makan aja dari tahi, lho! Hidup juga bisa di lumpur, gak ngerepotin orang.”
Dan gue berhasil cekikikan mendengar percakapan itu, tentang perdebatan lele dan kambing yang masuk surga. Sambil ngobrol, Mas Kiky memberitahukan bahwa ada satu orang lagi yang harus dijemput.
Namanya Panji. Clue yang diberikan Mas Panji agak rancu, menyebabkan mobil kami berputar-putar mencari letak yang diberitahukan Mas Panji. Saking pusingnya, Mas Kiky pun berkata, “Mana sih, si Panji manusia millennium ini?”
Dan gue cuma bisa tertawa melihat betapa pusingnya Mas Kiky yang harus menjemput para peserta. Setelah berputar-putar selama setengah jam, akhirnya ketemu dengan Mas Panji. Horeeeee! Asrama, cepatlah tiba! Perut gue udah keroncongan lagi! Yeaaay… XD
***

Cerita selanjutnya bakal gue tulis ketika senggang, tentang sesampainya di asrama. :D
Depok, 02 Oktober 2014

No comments:

Post a Comment