Part
One: Awal dari Segala Permulaan
Perjuangan
banget buat bisa ikut kampus fiksi. Gimana nggak? Teman gue yang istilahnya
udah terjun lama di dunia kepenulisan aja masih gak lolos waktu seleksi tahap
pertama. Lha, gue?
Intinya,
teman gue yang satu itu pernah ditolak. Lalu dibuka lagi seleksi kedua, dan gue
nekat mengirimkan karya gue yang… benar-benar jauh dari genre yang gue bisa.
Dari
genre yang gue suka, fantasi, diwajibkan untuk mengirimkan romance (gak boleh fantasi). Uuuh, keluar dari zona nyaman.
***
November
2013
Gue akhirnya
mengajak teman gue untuk mengirimkan cerpen, dan dengan sok bijak gue bilang
padanya bahwa kali ini ada kemungkinan lolos, mungkin waktu itu kurang
beruntung. Dia jawab oke, dan dari motivasi itulah, gue harus loloooos! Gue gak
mau ditinggal sama teman gue, dan kita harus bersama-sama!
Lalu,
dengan semangat pantang menyerah, gue ajak lagi satu teman gue. Dia jawab oke. Fix, gue punya dua teman yang bisa gue
ajak untuk ikut kampus fiksi.
***
“Kak
Aaaaaaay, aku udah kirim cerpenku, lho! Sesuai dengan saran Kakak, aku pakai
cerpenku yang judulnya Anemogami. Kakak udah kirim, belum?” tanyaku dengan
semangat ‘45. Ya iyalah, secara gue akhirnya bisa juga menyelesaikan tulisan
berbau romance, terlepas itu bagus
atau nggak!
“Aku
gak ikut, Hani…”
Jleb!
“Kenapa,
Kak?” asliiii, gue sedih banget pas dia jawab begitu. Karena dialah, gue berani
untuk maju dan mengirimkan cerpen untuk seleksi kampus fiksi itu.
“Kita
udah terlalu banyak mengikuti pelatihan, Hani… lebih baik langsung menulis. Aku
juga udah terlalu jenuh mengikuti pelatihan menulis.”
Kalau
rumput bisa bergoyang, mungkin inilah saat yang tepat. Gamang meliputi gue. Gue
udah kirim, sedangkan dia malah bilang gak jadi ikut di saat sudah terkirim.
Kakaaaaaak… :’(
Gue lanjut
mengonfirmasi teman gue yang satu lagi, memastikan gue gak sendirian.
“Mbak
udah kirim cerpen belum? Bentar lagi deadline,
lho…”
“Aku
kayaknya gak bisa ikut, Hani… kondisi nenekku gak memungkinkan untuk kutinggal…”
Dan aku
langsung patah semangat mendengar kedua jawaban temanku itu.
***
Oke,
gue gak perlu menjelaskan bagaimana detilnya rasa senang gue ketika melihat
nama gue ada di barisan nomor 72 (masih ingat, lho!), di bawah nama Lidya Reny
Chrisnawati, tercantum sebagai peserta kampus fiksi angkatan 10. Waktu itu
hampir nangis di kampus, tapi untungnya berhasil gue redam menjadi berkaca-kaca
doang. Gak sia-sia, gue berhasil juga mendapatkan salah satu bangku kampus fiksi
itu…
Dengan
berbagai alasan (kemungkinan bulan November ada sosfar, acara ospek jurusan
farmasi, bentrok dengan kampus fiksi angkatan 10), gue meminta untuk maju
angkatan, menjadi angkatan 9. Begitu dikonfirmasi bahwa gue bisa ikut angkatan
9, gue langsung menyiapkan tiket menuju Jogja.
***
September
2014
Kereta
Fajar Utama Yogya sudah mulai mendekati stasiun akhir. Gue was-was, merasa gak
enak dengan Mas Kiky, driver yang
akan menjemput gue di stasiun. Pasalnya, gue udah mengaretkan jam pertemuan,
dari yang tadinya 15.12 (waktu inilah yang tercantum di tiket sebagai waktu
tiba kereta) menjadi 15.30. Tapi tetap saja, 15.46 baru sampai di stasiun
Yogyakarta!
Lebih
parahnya lagi, perut gue gak mau diajak kompromi. Perut yang hanya gue isi
dengan sarapan pada pukul 9 pagi itu kini meronta-ronta, meminta diisi ulang. Huft,
dari awal, gue sengaja gak mau pesan menu makanan di kereta untuk makan siang… Selain
harganya mahal, rasanya jauh dari gambar yang ditampilkan. Maka dari itu, gue
bermaksud mencari warteg sekitar stasiun jika ada sisa waktu janjian. Nyatanya?
Waktu janjian aja sudah ngaret 16 menit!
Sesampainya
di stasiun, hasrat untuk memenuhi permintaan si lambung lebih besar, membuat
gue mengulur waktu lagi untuk ketemu Mas Kiky. Huwaaah, maafin gue, Mas Kiky!
Gak ada
warteg. Penjual makanan berat pun gak ada, yang ada cuma semacam gorengan
(kalau gak salah lihat) sama roti rasa kopi, me too-nya si boy. Gue pilih
si boy tiruan itu sebagai pengganjal
perut, dan menghabiskannya di dekat pintu keluar dari stasiun sambil menghadap
peta Yogyakarta.
Setelah
habis, gue baru sms Mas Kiky, sebagai konfirmasi bahwa gue udah sampai di
stasiun. Gak lama setelah itu, Mas Kiky langsung menelepon gue.
“Kamu
di mana? Aku ada di pusat informasi nih, memakai baju merah tulisan “blablabla
yang lalu” (gak kedengaran sama gue, teleponnya kresek-kresek dan ada suara
berisik dari latar tempat gue berdiri, jadi cuma kedengaran ‘yang lalu’nya aja.
XD Tapi gue tahu maksudnya, karena ada sebuah buku terbitan divapress dengan
judul itu, sayangnya gue gak ingat judul lengkapnya).”
“Oh…
iya, Mas. Oke.”
Dengan
modal nekat dan sok tahu, gue cari yang namanya Mas Kiky. Pusat informasi? Ya ampun…
dari tadi gue makan roti sambil berdiri di samping pusat informasi, brooo! Malu
pisan ini, kalau sampai ketahuan laper banget. XD
Saat
melihat ada lelaki berbaju merah sedang celingukan, gue langsung lihat bajunya.
“Gadis 360 hari yang lalu”. Aaaaah, lelaki inilah yang gue cari. Betapa dipermudahkannya
gue bertemu dengan Mas Kiky… :D
Begitu
kenalan, gue langsung diajak ke mobil. Sesampainya di mobil, udah ada gadis
berambut pendek yang duduk di bangku depan, yang begitu supel. Namanya Zulfa,
dari Pangkalan. Gue duduk di bangku tengah yang cukup luas (karena belum ada
orang).
“Kita
nunggu satu orang lagi, ya,” kata Mas Kiky. “Nungguin Reza. Kenal, kan?”
Gue angguk
aja, padahal gak kenal. XD Pernah dengar namanya, Reza Nufa, panjangnya Reza
Nurul Fajri. Tapi… gak follow akun
twitternya, takut dibilang SKSD. XD
“Lho,
tadi aku kayaknya liat Mas Reza lewat,” jawab Zulfa dengan tampang yang sedikit
bingung. Ekspresinya waktu itu kocak deh, soalnya dia rada gak yakin dengan
yang dia lihat. Ngomongnya slow motion
pula! Padahal Mas Kiky kan harus segera menemukannya. XD
Mas
Kiky langsung turun dari mobil, sementara itu gue mulai deg-degan. Gimana kalau
dia itu... alumni Kampus fiksi yang terkenal itu? *uhuk*
Maksud gue, kan Kak Reza Nufa yang itu dapat predikat alumni terfavorit saat kampus fiksi emas beberapa waktu lalu...
Nah, balik lagi ke persoalan. Terus gue mesti ngomong apa? udah begitu, otomatis Kak Reza ini bakal duduk di kursi samping gue, gak mungkin duduk di pangkuan Zulfa, kan? Aaargh, kepala rasanya langsung berantem dengan pikirannya sendiri!
Maksud gue, kan Kak Reza Nufa yang itu dapat predikat alumni terfavorit saat kampus fiksi emas beberapa waktu lalu...
Nah, balik lagi ke persoalan. Terus gue mesti ngomong apa? udah begitu, otomatis Kak Reza ini bakal duduk di kursi samping gue, gak mungkin duduk di pangkuan Zulfa, kan? Aaargh, kepala rasanya langsung berantem dengan pikirannya sendiri!
Gak lama
setelah itu, ada cowok yang gak terlalu kurus, tapi juga gak gemuk, berjalan
melintasi depan mobil sambil melihat ke dalam. Gaya jalannya santai tapi pasti
(menuju ke dalam mobil). Waaaah, gue langsung panik dan menggeser tubuh gue
mentok ke pintu, malah terganjal tas Zulfa.
“Itu
tasku…” kata Zulfa.
Gue yang
masih mematung, bukannya ambil tasnya, malah nampilin senyum bego. Sementara itu,
Kak Reza udah buka pintu mobil!
Eh,
tunggu dulu. Ini bukan deg-deg-ser karena cinta, ya. Ini cuma karena gue grogi
ketemu orang yang istilahnya memang bagian dari kampus fiksi sejak awal. Serius.
“Tasnya
dipindahin ke bagasi aja…” Mas Kiky mengusulkan. Baru deh, setelah itu tangan
gue mau bergerak. Aduhaaai, kenapa bisa se-oon ini ya, cuma karena melihat
gayanya si Kakak?
Begitu
gue udah mementokkan diri ke pintu, Kak Reza masuk, diiringi seorang cowok yang
kalah tinggi dibandingkan Kak Reza. Walaaah, cowok yang satunya lagi gak gue lihat
lho, tadi!
“Reza…”
si Kakak menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangan. Gue balas menyambut
tangannya dan menyebutkan nama gue, lalu kenalan dengan cowok yang satunya
lagi, yang bernama Nico.
“Kamu
naik kereta juga?” Kak Reza nanya lagi.
“Iya.”
“Dari
mana?”
“Jakarta.”
“Jangan-jangan…”
Kak Reza menunjuk ke stasiun, dengan maksud menunjukkan kereta yang baru saja
sampai. “Fajar Utama?”
“Iya.”
Dari
gelagatnya, gue bisa menebak bahwa kami satu kereta, lalu gue ketawa. Kami naik
kereta yang sama tanpa tahu satu sama lain. Gue di gerbong tiga, sedangkan
Kak Reza dan Nico mungkin di gerbong lain.
Percakapan
setelah itu dipenuhi oleh Mas Kiky, Kak Reza, dan Zulfa. Gue dan Nico diam saja
sambil menyimak percakapan mereka yang seru, sesekali cekikikan mendengar
celotehan mereka. Ada satu celotehan mereka yang membuat gue senyum-senyum.
Kak
Reza: “Wah, hari menyembelih besar-besaran sebentar lagi, ya?”
Mas
Kiky: “Iya. Bentar lagi, nih.”
Kak Reza:
“Semoga para kambing itu bisa masuk surga…” (dalam hati gue aminin. Gak lucu
kalau misalnya ini cuma lawakan, dan gue malah mengaminkan dengan serius,
padahal gue gak ngomong apa-apa lagi selain perkenalan tadi!)
Mas
Kiky: “Iya, semoga masuk surga. Eh, bukankah mereka bisa masuk surga? Kan udah
jadi hewan kurban?”
Kak
Reza: “Hmmm, belum tentu. Kambing masih banyak dosanya, lho. Pup di depan rumah
orang dan buat orang kesal, dan sebagainya. Nah, beda lagi kalau lele.”
Sambil
mendengarkan celotehan mereka, mata gue terpaku ke satu tempat. Tangannya Kak
Reza.
Aduhai,
tangannya itu cantik banget! Kurus tapi terkesan kuat. Jari-jarinya juga
panjang, yang membuat gue cemburu berat karena jari tangan gue yang bantat. Tangan
penulis, begitu julukan yang gue berikan.
Ah, intermezzo tadi dilupakan saja. Lanjutkan
dengan percakapan mereka.
Mas
Kiky: “Kenapa sama lele?”
Kak
Reza: “Kalau lele sih dijamin masuk surga. Coba, apa dosanya? Gak ada. Makan aja
dari tahi, lho! Hidup juga bisa di lumpur, gak ngerepotin orang.”
Dan gue
berhasil cekikikan mendengar percakapan itu, tentang perdebatan lele dan
kambing yang masuk surga. Sambil ngobrol, Mas Kiky memberitahukan bahwa ada
satu orang lagi yang harus dijemput.
Namanya
Panji. Clue yang diberikan Mas Panji agak
rancu, menyebabkan mobil kami berputar-putar mencari letak yang diberitahukan
Mas Panji. Saking pusingnya, Mas Kiky pun berkata, “Mana sih, si Panji manusia millennium
ini?”
Dan gue
cuma bisa tertawa melihat betapa pusingnya Mas Kiky yang harus menjemput para
peserta. Setelah berputar-putar selama setengah jam, akhirnya ketemu dengan Mas
Panji. Horeeeee! Asrama, cepatlah tiba! Perut gue udah keroncongan lagi! Yeaaay…
XD
***
Cerita selanjutnya bakal gue tulis ketika senggang,
tentang sesampainya di asrama. :D
Depok, 02 Oktober 2014
No comments:
Post a Comment