Sunday, November 23, 2014

Maukah Kamu Menjadi Milikku?



Jika kamu bisa menjawabku, tolong, berikan aku jawaban. Aku butuh kepastian.
“Hei, maukah kamu menjadi milikku?”
Kamu hanya menatapku dengan pandangan hampa, seakan tak mengerti ucapanku.
Sudah tiga hari ini, duniaku berpaling padamu. Pusat dunia seakan ada pada dirimu.
Kamu berjalan menjauh, lalu duduk di kursi lain. Dirimu kembali pada kesibukan dan mengabaikan pertanyaanku. huh, jual mahal sekali! tapi aku tak akan menyerah!
“Hei…”
Dirimu masih berkutat pada kegiatan yang seakan tak ingin kau tinggalkan. Menoleh padaku saja tidak. Tersenyum pun… ah, kurasa, senyummu sangat mahal dan tak ada yang pernah melihat senyummu. Senyum yang kuyakin bisa menggetarkan hatiku.
“Plis, jangan nyuekin aku. Aku janji deh, kalau kamu mau hidup bersamaku, aku akan membahagiakanmu!”
Bahkan, untuk menjawabku pun rasanya hanya buang-buang waktu saja. Itulah dirimu.
***
Kita bertemu kembali di taman yang sama. Aku tahu, kamu ada ke taman ini. Tak terlalu sulit untuk menemukanmu, karena tempat kesukaanmu adalah di bawah pohon rindang, tempat yang cocok untukmu bergelung dan beristirahat.
“Hai, sudah dipikirkan belum? Apa kamu mau jadi milikku?”


*cerita mini ini diikutkan dalam tantangan #FFOrangKedua @KampusFiksi 
Depok, 23 November 2014

Tuesday, November 18, 2014

Sebuah Perjalanan Alay

Ketika dihadapkan pada kenyataan, bahwa orang yang kita suka tidak menyukai kita, apa yang terpikirkan olehmu?
Pasti bilangnya gini deh, “Gak adil! Gue udah berdarah-darah menyukai dia, berusaha meraih cintanya, menarik perhatiannya, menjadi seperti apa yang dia mau, tapi tetap saja dia gak mau nengok ke gue. Melirik sedikit pun nggak! Dunia ini gak adil!”
Lalu, pernah gak sih, kalian berada dalam posisi sedang disukai oleh orang lain, tapi kalian tidak mau dengannya?
Apa yang akan kalian katakan?
“Ih, stalker! Jijik!”
Fine, itu amat sangat adil, bukan?
***
Gue lagi mau cerita tentang perjalanan cinta yang udah gue alami sejak masih TK.
Hebat ya, TK aja udah cinta-cintaan?
Kata mama gue, cowok itu adalah seorang yang mendapat ciuman pertama gue (pliiis, ini cuma di pipi!). Cowok ini baik banget, setia jadi sahabat gue. Namanya Andrew.
Dan kalian tahu? Cowok ini sudah tiada ketika SMP.
Gue yang beda SMP dengannya (dia SMP di Pontianak, sedangkan gue sudah pindah ke Depok) gak pernah dapat kabar bahwa dia sudah meninggalkan gue secepat ini. Gue dapat kabar itu ketika ngekost di kosan Victor. Awalnya dia kaget ketika gue bernostalgia menyebut nama teman-teman cowok, tiba-tiba gue menyebut namanya. Dia langsung bilang, “alaaaaaah, gue kaget lo ngomong begitu. Dia sudah gak ada, tahu!”
“Ah, becanda kan, lo?” itu refleks pertama yang keluar dari mulut gue.
Vic lalu menceritakan alasan kenapa dia meninggal. Hanya singkat saja, lalu Vic kabur dan bilang ingin mandi. Usai itu, gue juga ikut mandi (pliiiis, di kamar mandi yang berbeda!), dan menangis sejadi-jadinya.
Hiks~
Setelah beranjak dari TK, hati gue tertambat ke Vic. Itu jaman SD kelas 5-6. Satu-satunya cowok yang sukses membuat gue mengatakan cinta, walaupun dia menolak karena dia sendiri memiliki wanita yang dia sukai. Gue tahu hal itu, hanya saja ingin menyampaikannya sebelum gue terbang ke Depok…
Lalu ada si A. cowok ini sekarang udah nikah.
Lalu si M, yang saat ini tidak ada kabarnya. Si A dan si M ini tahu kalau gue suka dengannya ketika salah satu teman gue yang sepertinya memiliki kemampuan untuk membaca perasaan orang, menyampaikannya secara jelas. (si A di kelas, dan si M di lapangan sekolah. Keren, kan?)
Lalu ada si D, yang sifat awalnya maniiiiis banget. Cowok ini lebih muda dari gue (sepertinya dari awal gue suka, semua yang sudah disebutkan di atas adalah orang-orang yang lebih muda dari gue). Sempat suka selama beberapa tahun (gak hanya si D, tapi si A dan M membutuhkan waktu beberapa tahun juga untuk move on. :D), tapi akhirnya gue berhasil melepaskan rasa suka itu karena ilfeel sama dia!
Alasannya?
Dia lebih membela ceweknya yang ganjen, kecentilan, dan sok kaya, dibandingkan gue yang cuma seorang sahabatnya…
Mantan gak usah disebutlah ya. :P
Usai lepas dari mantan, rasa cinta gue berhenti setidaknya dua tahun. Gak ada cowok yang gue sukai, tapi akhirnya kecantol juga sama cowok yang lagi-lagi lebih muda. Namanya Lico. Cowok asal Palembang ini gantengnyaaaa… ampun-ampunan deh! Penyuka pecel lele (gue pernah dengar desas-desus, katanya setiap malam menu makannya selalu itu), yang saat itu membuat gue geli karena gue belum pernah memakan lele.
Rasa suka ke Lico gak bertahan lama, karena setelah itu kami berpisah jarak. Dia di binus, dan gue tetap kuliah di kampus saat ini. Kita bertemu di sebuah tempat les.
Naaaah… setelah Lico, rasa suka gue kembali gak ada. Sempat merasa hampa, karena taka da rasa yang berbunga-bunga. Padahal, juju raja, selama ini rasa yang selalu gue terima adalah kebalikannya. Kebayang kan, dari nama-nama yang disebut di atas, gak ada yang menjadi pacar gue? Ya sudahlah.
Usai dari itu, di kehidupan kampus, taka da juga yang gue suka. Sampai suatu saat, di semester tiga, gue mendapat kesempatan menjadi panitia dalam sebuah seminar internasional.
Di sanalah, gue bertemu kak Doni (sejak saat inilah, gue mulai suka dengan cowok yang lebih tua. Gak ada lagi yang namanya berondong). Awalnya cuma bilang ke diri sendiri, “mumpung cuma dua hari, puas-puasin aja lihat dia. Setelah itu, lu gak bakal ketemu lagi. Jadi puaskan hasrat lu ke cowok ganteng itu.”
Dan gue kena tulahnya. Cuma karena mengizinkan diri memuaskan hasrat yang sudah lama tak muncul, hati gue ngelunjak. Sejak saat itu, selama tiga bulan lamanya, gue harus patah hati karena tak bisa bertemu dengannya (padahal satu kampus, tapi beda jurusan dan beda kelas. Dia kelas karyawan, gue kelas regular).
Eh, salah ding. Masih ada si F saat semester satu. Tapi itu gak lama. Gak terlalu melekat di dalam hati gue.
Naaaah… ada alasan kenapa gue bisa move on dari Kak Doni secepat itu. itu karena gue suka sama kak Syukri. Aiiih, setelah ini, panggil saja dia dengan Kak S. masih belum sanggup terlalu jujur…
Sama Kak S itu sempat suka, tapi karena teman gue juga suka, gue menahan diri. Awalnya bisa suka karena gue ini seorang cewek stalker yang mengerikan. Gue bisa mencari info tentang si dia tanpa harus pintar komputer. Tinggal mengaduk-aduk socmed aja gue udah bisa menebak seperti apa orangnya. Dari situ berawal, dari situ pula pupus. Kak S itu sombong! Dia gak merespon permintaan pertemanan gue di fb. Hih! Dari situ, gue benci banget sama dia.
Tak lama berselang, gue suka lagi sama dia. Alasannya?
Gue sedang berada di ruang komputer. Tanpa mengira itu dia, gue tetap melanjutkan bermain di komputer kampus itu. merasa ada yang melihat, gue pun menoleh.
Dia tersenyum manis banget, dan matanya langsung menghujam tepat, nancap di hati gue. Aiiiih… sejak saat itu, gue suka kembali Kak S. selama 7 bulan lamanya (bayi premature kaliiii).
Alasan gue move on? Gue menemukan cowok yang lebih sreg di hati gue.
Oke, stop. Halaman ini gak boleh untuk dia, bahkan menyebutkan satu huruf pun dosa di halaman ini. (halah!)
Tapi, satu hal yang pasti, gue harus move on kembali, lalu mencari cinta yang lain lagi. Begitu berat menitipkan hati ke seseorang nun jauh di mata kayaknya kak Doni yang sulitnya minta ampun untuk bertemu. Setidaknya, pliiiis banget, ada seorang yang bisa membuat gue suka untuk saat ini biar cepat move on. Kalau gak ada alasan jelek dari orang itu, bakalan susah move onnya! Pun, kalau ingin mencoba mencabik hati gue dengan cara kasar sekalipun (misalkan menampilkan kemesraan di depan gue, atau nyuekin gue), otak gue biasanya selalu menorerir hal itu. (emang dasar otak sialan!)
Sebenarnya galau itu capek ya, capek banget. Ketika jatuh cinta, gue menjadi orang yang berbeda, seolah gue menjelma menjadi gadis lemah lembut (sayangnya bukan tingkahnya, tapi hatinya yang lemah) sapa seperti menstruasi hari pertama. Aduhaaai, sedap nian ya rasa ini?
Selera gue tinggi. Tingginya itu bahkan di atas level gue. Untuk menurunkannya itu susah, makanya sampai saat ini gue sulit untuk move on. Pernah gue mencoba untuk menurunkan standar dengan menyukai si dedek L (sebagai cara untuk move on dari kak S), dengan jlebnya ada yang bilang, “jauh banget. Lu banting harga banget, gak percaya gue kalau lu suka sama cowok itu.”
(sabar ya dek, malah kamu yang dihina…)
Pas gue tanya alasannya, mereka cuma bilang gini, “ya aneh aja. Lu lihat aja Kak S, gantengnya minta ampun. Ini?”
Perkataannya jahat banget yah. XD
Tapi sekaligus jleb buat gue. Gue kira bakalan bilang, “dia gak selevel sama lu”, eh tahunya cuma ngomong begitu. Ah, sudahlah….
Okelah, sip. Sudah menunaikan janji untuk menuliskan nama Kak S, padahal dia belum lulus. Ya, dia sudah tahu kalau gue suka dengannya. Kejadiannya selalu sama: orang-orang di sekitar gue yang memberitahukan hal itu padanya.
Nasiiiib, nasiiiib.
*lanjut cari cowok buat move on*
Depok, 18 November 2014

Monday, November 17, 2014

ingus yang mengalir tiada henti



Hari ini gue gelisah. Banget. Gak tahu alasannya apa, tapi benar-benar gelisah resah dan semua "ah ah" dicampur aduk menjadi satu. Mungkin campur aduk karena menonton film berjudul Source Code yang menegangkan (gak kebayang kan, sebuah bom meledak di wajah kita, dan itu gak cuma sekali, tapi berulang kali, karena si tokoh utamanya harus menyelamatkan orang-orang itu dari bom). Mungkin juga karena jurnal praktek analisis farmasi yang benar-benar masih kosong melompong padahal sudah jam 10 malam. Mungkin… ah, banyak kemungkinan. Dan gue menyalahkan semuanya hari ini. (termasuk cafein. Sabar yaaaa. XD)
Sebenarnya, hari ini, orang yang gue suka ulang tahun. Yap, 18 November. Gue udah siapin ucapan ultah dari jam 23.16 (ampe hapal kan, tuh!), tapi sengaja ngirimnya 10 menit setelah 00.00 supaya gak keliatan napsu banget mau ngucapin. Plis, jangan bilang apa-apa lagi, move on itu susah lho. Apalagi buat pisces seperti gue, yang galau dan move on nya gak tentu. XD
Kepikiran mau ngirim voice note, tapi yang ada bukannya romantis, nanti kakaknya malah ketawa. Jelas banget suara gue itu amat sangat imut, bahkan beberapa orang selalu menertawakan suara gue (apalagi di telepon. ada juga yang bilang suara gue makin mirip sinchan). Makanya gue gak pede buat ngucapin. Apalagi, lewat suara, ada rasa yang bisa tersalurkan. Pfffft….
Sempat kepikiran juga mau ngirimin suara seruling yang melantunkan lagu happy birthday. Tapi tetap saja, ada yang pernah melukai hati gue dengan bilang kalau gue anak desa karena memainkan seruling. (anggap aja dia sirik *cara menghibur hati yang gak mempan*)
Maka dari itu, hanya ucapan saja. Dengan banyak ekor lele boongan. Fix.
***
Awalnya, gue kira ini termasuk salah satu kegelisahan gue. Tapi setelah ngucapin, tetap ada yang mengganjal. Gue masih mencari penyebabnya, tapi gak tahu. Pernah gak sih, kalian mengalami perasaan ini?
Puncaknya gue cuma bisa menahan tangis… (sampai saat gue menuliskan ini, masih gue tahan dan itu rasanya nyesek banget. Alasan gue menahan sesuatu yang terus mendobrak pertahanan kantung mata gue adalah: mama belum tidur. Ish, biasanya juga jam segini udah tidur!)
Kebayang gak sih, cowok yang lu suka malah pos begini? *lalu mengalir deras*
“Gue bikin perjanjian dengan semesta (saat ini ayam berkokok, btw), kalau gue gak ada fungsinya lagi, matiin aja di umur 25. Tolong aminkan.”
*lap ingus sebelum laptop rusak*
Gue emang tahu, ada sebuah akhir ketika memulai sebuah awal. Gue juga sering melatih hati gue untuk gak terlalu menyembah seseorang, terlalu ngefans, terlalu suka, dengan memberitahu bahwa ada saatnya mereka pergi. Gue bahkan pernah ngebayangin idola gue meninggal, dan jadilah termehek-mehek di situ.
Tapi tapi tapi… ini belum move on toh, mas…
Dengan adanya kalimat di atas, langsung “jleb!” dan pertahanan gue runtuh. Gelisah gue langsung menjelma menjadi buliran ingus. (biar tambah jijik deh lu!)
Oke, tulisan ini gue tutup dengan kalimat pamungkas.
“Jatuh cinta itu bikin capek ya.”

Depok, 18 November 2014

Wednesday, November 12, 2014

Lanjut, atau Berhenti Sampai di sini?



Hari ini, hatiku kembali dipilukan seseorang. Bukan oleh seseorang yang memiliki tempat di hatiku, bukaaaaan. Bukan cinta-cintaan pokoknya.
Dia anak kampus fiksi 10. Seharusnya begitu.
Aku selalu senang berinteraksi di dunia maya. Bagi kalian yang mengenalku sejenak saja, pasti akan bilang kalau aku ini cerewet banget di socmed, aslinya pendiam. Iya, itu pencitraan.
Lalu, karena memang doyan banget terjun ke dumay, alhasil sering berusaha menghidupkan grup yang sudah kolaps. Melihat grup yang sunyi tuh rasanya… eeer, susah dijelaskan.
Nah, grup fb kampus fiksi 10 termasuk grup tersunyi yang pernah kumiliki. Pasalnya, jarang ada yang sekadar lewat dan say something untuk memancing keharmonisan grup itu. Mungkin memang belum saling kenal kali, ya… Maka dari itu, berhubung sudah menjelang hari H pestanya angkatan 10, aku ikut meramaikan. (padahal gak ikut, tapi pengen sekali ikuuuuut! Hiks!)
Berhubung kemarin ada yang gak bisa ikut dan konfirmasinya ke mimin kampus fiksi, jadilah kepo. Hih! Siapa mimin emangnya? Dia kan gak di Jogja! Kalau konfirmnya ke mimin, miminnya mesti nyampein ke mbak ve gituuu? Kerja kok dua kali.
Nah, ini yang kutulis di grup:
Hai hai, siapa aja nih yang udah konfirmasi ikut kampus fiksi angkatan 10? :D
Beberapa sudah ngacung. (aku hitung ada 3 orang doang. Responnya benar-benar sedikit ya…) satu yang menjawab “nope”.
Kukira salah baca atau aku yang memang tak mengerti maksudnya, lalu kukonfirmasi lagi dengan bilang, “Mas ikut, kan?”
Dan dia menjawab, “Aku gak ikut. I have personal reason to stopped my dream to be a writer.”
Nyeseknya tuuuh… beneran di sini. *nunjuk hati*
Aku benar-benar sedih ketika mendengar ada yang menjawab seperti itu. Pasalnya, sudah ada beberapa temanku yang menghentikan langkahnya. Mereka sama denganku, yang memulai dunia ini dengan menulis cerpen. Mereka bersama denganku, mengecap dunia yang begitu penuh dengan persaingan. Persaingan di SBMPTN mah kalah brrrrooooh!
Saat ia menjawab itu, aku hanya bisa menjawab dengan emot ini. :’(
***
Tak lama setelah itu, aku merenungi diriku sendiri. Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang pemalas yang bercita-cita ingin menjadi penulis. Jalanku berliku, sangat berpaku! Di saat temanku yang lain bisa dengan lancar menulis cerita romansa remaja yang ceria dan menyentuh, aku? Aku selalu kalah dari mereka. Dunia yang kusukai hanya fantasi, dan di sini, di Indonesia, fantasi kurang laku, kurang banyak peminatnya. Benar, kan?
Setiap ikut lomba, selalu kalah di tahap kedua atau tahap final. Di saat teman-teman seperjuanganku, seangkatanku, bahkan istilahnya penulis baru berhasil menyaingiku, ada rasa sesak di dada. Tapi, entah kenapa, aku sendiri tak pernah berpikir untuk berhenti menulis. Entahlah, mungkin bebal, padahal tulisanku tak bagus. Biasa. Standar. Siapapun bisa menulis sepertiku, asal makan buku eyd. Mungkin aku seperti robot penghasil tulisan yang tak pernah berhasil meniupkan roh untuk tulisanku. Itulah yang kupikirkan mengenai diriku selama ini.
Akan tetapi, herannya, aku tak pernah bisa untuk melepas dunia ini. Aku sering banget lho, kalah dalam berbagai perlombaan. Tulisanku yang berhasil mana coba? Hanya dua buah cerpen di majalah story yang kini sudah tak ada, satu buah di tabloid gaul, dua di antologi yang diterbitkan penerbit mayor (satu masuk toko buku, satu dijual online, itupun cuma satu cerpen di masing-masing antologi). Iya, seingatku memang hanya itu.
Padahal, banyak alasan yang bisa membuatku berhenti. Misalnya, satu temanku yang pernah satu edisi denganku di majalah story, kini sudah menerbitkan 3 novel. (kurang ngedown apa coba?) lalu penulis baru yang sering diagung-agungkan dibandingkan diriku (ini terjadi di sebuah grup) dan aku menerimanya dengan lapang dada, dengan beranggapan bahwa tulisanku memang bukan untuk di romance. (nah, masih bisa ngeles kan? Kurang bandel apa coba?)
Semangatku sebenarnya turun naik. Turun ketika kalah lomba, dan setiap ingin berhenti, selalu ada yang menaikkan. Bukan dari omongan orang, bahkan mamaku sendiri biasa aja toh. Tapi dari beberapa grup kepenulisan.
Pernah sekali ingin berhenti, eh tiba-tiba cerpenku masuk gaul. (padahal asli, ini biasa banget cerpennya). Lalu ingin berhenti lagi, tiba-tiba dinyatakan lolos masuk kampus fiksi reguler (ini benar-benar bersyukur banget, karena banyak orang di luar sana yang ingin ikut tapi masih belum bisa masuk ke dalam bagian dari kampus fiksi). Saat ngedown lagi juli lalu, tiba-tiba saja dinyatakan masuk nominasi 20 penulis penakes terbaik dan mendapat workshop penulisan opini selama dua hari (beuh, fasilitasnya hotel broooh! Makan sampe perut penuh dan semenjak itu berat badanku gak bisa turun-turun! Padahal ngerjain itu mepet deadline nunggu selesai ujian.) Kurang baik apa coba, motivasi yang asalnya dari Tuhan itu?
Ini mau curhat apa nyombongin diri? :”(
Yah, intinya, semangatku lagi naik saat ini, apalagi setelah mengikuti kampus fiksi. Jujur aja, jarang lho, aku ngeblog nulis seperti ini. Mungkin ada efek lanjutan dari kampus fiksi. *ciyeeeee* dan aku sendiri mengatakan pada diriku sendiri, “LO HARUS PUNYA NOVEL SETELAH MENGIKUTI KAMPUS FIKSI INI. JANGAN MALU-MALUIN!!!” Padahal, pada dasarnya, aku tetap minder sama teman-teman kampus fiksiku yang sepertinya lebih hebat dalam menulis. Tapi… emang dasarnya gak mau kalah kecuali ada sebuah pukulan telak yang berhasil membuatku gak bangun-bangun lagi. (dan kalian gak akan tahu pukulan telak seperti apa yang sukses membuatku jatuh, karena aku sendiri tak tahu. Kalau kalian jawab ‘novel teman seangkatan’, itu justru akan memacu semangatku)
Kalau lihat dari pesaing, jangan heran. Sama aja toh, profesi waiter juga banyak persaingannya. Penulis saat ini membludak. Tapi yang mempunyai “nama” hanya segelintir, toh?
Makanya, masih tak habis pikir kenapa ada yang bilang “aku punya alasan untuk berhenti menulis”. Lalu aku apaaaaa? Apa aku juga harus berhenti? Tahun 2014, karyaku yang dianggap hanya yang penakes itu saja, bahkan gak menang juara satu. Hanya masuk 4 besar dan gak dapat 3 juta. Huwaaaah! *tangisan yang membanjiri seluruh negeri* selain itu, belum ada.
Aku menyukai fantasi. Tapi lagi-lagi, fantasi bukan sesuatu yang bisa “menjual” di Indonesia. Bahkan, mbak Rina aja menyampaikan, bahwa novel bimbingan tidak menerima fantasi. Diva tidak menerima naskah fantasi dulu. *lap ingus*
Aku yang hanya bisa menulis fantasi, apakah harus menghentikan langkahku karena alasan tersebut di atas?
 Ah, masih ada satu lagi. *bikin heboh sedikit* Aku sedang menyukai seorang penulis yang udah punya anak enam, lho! (maksudnya buku). Sampai hari masih belum bisa move on. oke, dasar bodoh emang. Haruskah aku berhenti menulis dan berhenti menyukainya? Dia bilang suka cewek yang jago nulis, lho. Aku apa? novel pun belum punya. Entah ini bisa jadi semangat atau tidak. Tapi kalau dijadikan semangat, sepertinya gak logis bener...
Eeeer, kepala ogut mulai pusing menulis ini. Selalu dan selalu melebar dan bikin kepala ogut goyang-goyang. Sebaiknya diakhiri sampai di sini. 
Dan masih ada saja pertanyaan di kepalaku, “kenapa ada alasan untuk menghentikan langkahmu dalam menulis?”


Depok, 13 November 2014