Sunday, December 8, 2013

The Soul's Thief



Erz, si malaikat pencabut nyawa telah bersiap dengan bilah melengkung di tangannya. Ia tengah membuntuti seorang wanita cantik bernama Raina. Menunggu. Itulah tugasnya.
Erz akan menunggu saat di mana Raina akan mengalami jalan ajal –itu yang sering diistilahkan oleh para malaikat pencabut nyawa ketika makhluk fana yang sebentar lagi akan mati– lalu mengambil jiwanya dengan bilah melengkungnya itu. Tragis. Mungkin itu yang bisa kudeskripsikan mengenai Erz, musuh bebuyutanku.
Aku adalah makhluk dari ketiadaan. Aku tidaklah fana, tapi juga tidak memiliki jiwa. Aku hanya seperti robot yang menjalankan misi untuk organisasi yang menaungi. Namaku Zac. Aku adalah pencuri jiwa manusia. Keren, kan?
Aku selalu beraksi ketika para malaikat maut itu berhasil menarik jiwa manusia fana, namun belum sempat mengirimkannya ke pengadilan keabadian. Sebelum mereka mengirimnya, aku harus mencuri jiwa itu. Jiwa itu adalah makanan untukku, sebuah bahan bakar agar aku bisa tetap melaksanakan tugasku yang semestinya.
Ckiiiiit!
Sebuah mobil yang tidak sempat mengerem tepat waktu berhasil mementalkan tubuh Raina hingga ia terbang sejauh tiga meter, dan jatuh dengan kepala duluan. Benturan itu menyebabkan tubuh Raina kejang-kejang, dan Erz langsung melaksanakan tugasnya. Ia mengayunkan bilah melengkungnya ke leher Raina yang tak sadarkan diri. Tak ada darah yang terciprat maupun kulit yang robek dari ayunan bilah itu, namun jiwa Raina telah berhasil dicabut dari tubuh fananya.
Aku segera mengepakkan sepasang sayapku yang berwarna hitam melintasi langit temaram, dengan secepat kilat menyambar jiwa itu sebelum ujung tongkat dari Erz berhasil menyentuh kepala Raina. Aku menyeret jiwa Raina menjauh dari Erz, membuat Erz mematung dan tercengang dengan tindakanku itu. Sebagai sentuhan terakhir, kusentuhkan jariku ke telinga Erz, membuatnya jatuh berdebum ke tanah seakan tubuhnya memiliki bobot. Mematung. Itulah yang kulakukan kepada Erz.
“Ah, kau membawaku ke mana? Apakah kau menyelamatkanku?” tanya Raina dengan suaranya yang merdu. Tatapannya membuatku lemas, rasanya aku yang tersedot oleh tatapannya. Tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini!
Haram hukumnya jika aku tidak segera memakan jiwanya. Sesuatu yang buruk akan terjadi padaku jika aku justru jatuh cinta pada santapanku. Aku tidak boleh terhanyut seperti ini.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku dari pria berjubah tadi. Walaupun ia ganteng sekali, tapi ia menyeramkan untukku. Ia seperti… malaikat pencabut nyawa.” Raina mulai berceloteh. Semakin mendengar suaranya, semakin layu pula kekuatanku dan hasratku untuk memakannya. Astaga, suaranya seperti candu untukku. Candu yang begitu memabukkan.
“Kau siapa?” tanya Raina lagi. “Apakah kau akan menolongku? Aku rasa seperti sudah mati, tapi aku belum masuk ke surga ataupun neraka, kan? Bisakah kau mengembalikanku ke tubuhku yang semula?”
Tidak. Justru itu hukum yang paling tak bisa kulanggar walau aku ini seorang pemberontak. Musnah. Harga itu yang harus kubayar jika kukembalikan tubuh Raina.
Kutatap Raina kembali, dan Raina menatapku dengan pandangan memohon. Aku sudah benar-benar gila rupanya, seluruh tubuhku seakan tertarik oleh perkataannya, dan kini tubuhku telah bergerak ke tempat kami kabur tadi. Entah apa yang terjadi, tapi aku benar-benat tak bisa menolaknya.
Kami sampai di tempat tubuh Raina tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah. Dengan mudahnya aku mengembalikan jiwa Raina, dan sekejab saja tubuh Raina mulai menggelepar kembali seperti sebelum diambil oleh Erz tadi. Erz telah berdiri di sampingku, tersenyum bangga dengan hasil yang seakan-akan telah menjadi rencananya.
“Bagaimana rasanya? Kau sudah siap menjalani kemusnahanmu?” suara Erz penuh kemenangan.
“Apa?”
“Jangan dikira kami bisa memaafkan pembelot sepertimu, Zac… alasanmu menjadi pembelotlah yang juga menjadi alasanmu untuk musnah. Bagaimana, kau sudah mengetahui kehebatanku? Selamanya, baik kau menjadi makhluk ketiadaan, maupun masa lalumu ketika menjadi malaikat maut, tidak akan pernah bisa menyaingi kehebatanku.”
“Jadi… ini semua adalah ulahmu?” tanyaku tak percaya. Erz tertawa sambil mengangguk.
Siaaal!
Tubuhku mulai menguap, sama seperti ketika pertama kali aku menyelamatkan seorang gadis yang telah kucabut nyawanya dan kukembalikan nyawanya ke tubuhnya. Perbedaan yang mencolok di sini adalah: saat itu, aku berubah menjadi sekarang ini. Saat ini, aku tidak akan bisa mewujud lagi menjadi apapun. Aku akan musnah!
Tawa kemenangan terus dikumandangkan Erz menjelang kemusnahkanku. Aku hanya bisa menerima konsekuensi yang telah kuperbuat. Kebodohan yang sama membuatku dua kali terjebak dalam masalah besar, dan ketidaktaatanku pada peraturan membuatku harus keluar dari pekerjaanku sebagai malaikat maut dan sekarang aku harus musnah. Apakah nasibku memang harus sesial ini?
Oooh, andai saja aku bisa memutar ulang waktuku.
Andai saja aku bisa kembali ke waktu di mana aku mengembalikan jiwa gadis yang telah kucabut. Aku tidak akan menjadi pencuri jiwa seperti ini untuk tetap bertahan dalam wujud seperti ini. Tidak mencuri berarti tidak makan. Tidak makan juga berarti musnah. Aku benci siklusku ini!
Plop!
Kesadaranku hilang seluruhnya. Tubuhku, sayapku, dan juga pikiranku telah lenyap seluruhnya.

Depok, 8 Desember 2013, 19.56

No comments:

Post a Comment