Erz,
si malaikat pencabut nyawa telah bersiap dengan bilah melengkung di tangannya. Ia
tengah membuntuti seorang wanita cantik bernama Raina. Menunggu. Itulah tugasnya.
Erz
akan menunggu saat di mana Raina akan mengalami jalan ajal –itu yang sering diistilahkan
oleh para malaikat pencabut nyawa ketika makhluk fana yang sebentar lagi akan
mati– lalu mengambil jiwanya dengan bilah melengkungnya itu. Tragis. Mungkin itu
yang bisa kudeskripsikan mengenai Erz, musuh bebuyutanku.
Aku adalah
makhluk dari ketiadaan. Aku tidaklah fana, tapi juga tidak memiliki jiwa. Aku hanya
seperti robot yang menjalankan misi untuk organisasi yang menaungi. Namaku Zac.
Aku adalah pencuri jiwa manusia. Keren, kan?
Aku selalu
beraksi ketika para malaikat maut itu berhasil menarik jiwa manusia fana, namun
belum sempat mengirimkannya ke pengadilan keabadian. Sebelum mereka
mengirimnya, aku harus mencuri jiwa itu. Jiwa itu adalah makanan untukku,
sebuah bahan bakar agar aku bisa tetap melaksanakan tugasku yang semestinya.
Ckiiiiit!
Sebuah
mobil yang tidak sempat mengerem tepat waktu berhasil mementalkan tubuh Raina
hingga ia terbang sejauh tiga meter, dan jatuh dengan kepala duluan. Benturan itu
menyebabkan tubuh Raina kejang-kejang, dan Erz langsung melaksanakan tugasnya. Ia
mengayunkan bilah melengkungnya ke leher Raina yang tak sadarkan diri. Tak ada
darah yang terciprat maupun kulit yang robek dari ayunan bilah itu, namun jiwa
Raina telah berhasil dicabut dari tubuh fananya.
Aku segera
mengepakkan sepasang sayapku yang berwarna hitam melintasi langit temaram,
dengan secepat kilat menyambar jiwa itu sebelum ujung tongkat dari Erz berhasil
menyentuh kepala Raina. Aku menyeret jiwa Raina menjauh dari Erz, membuat Erz
mematung dan tercengang dengan tindakanku itu. Sebagai sentuhan terakhir,
kusentuhkan jariku ke telinga Erz, membuatnya jatuh berdebum ke tanah seakan
tubuhnya memiliki bobot. Mematung. Itulah yang kulakukan kepada Erz.
“Ah,
kau membawaku ke mana? Apakah kau menyelamatkanku?” tanya Raina dengan suaranya
yang merdu. Tatapannya membuatku lemas, rasanya aku yang tersedot oleh
tatapannya. Tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini!
Haram
hukumnya jika aku tidak segera memakan jiwanya. Sesuatu yang buruk akan terjadi
padaku jika aku justru jatuh cinta pada santapanku. Aku tidak boleh terhanyut
seperti ini.
“Terima
kasih sudah menyelamatkanku dari pria berjubah tadi. Walaupun ia ganteng
sekali, tapi ia menyeramkan untukku. Ia seperti… malaikat pencabut nyawa.”
Raina mulai berceloteh. Semakin mendengar suaranya, semakin layu pula
kekuatanku dan hasratku untuk memakannya. Astaga, suaranya seperti candu
untukku. Candu yang begitu memabukkan.
“Kau
siapa?” tanya Raina lagi. “Apakah kau akan menolongku? Aku rasa seperti sudah
mati, tapi aku belum masuk ke surga ataupun neraka, kan? Bisakah kau
mengembalikanku ke tubuhku yang semula?”
Tidak.
Justru itu hukum yang paling tak bisa kulanggar walau aku ini seorang
pemberontak. Musnah. Harga itu yang harus kubayar jika kukembalikan tubuh
Raina.
Kutatap
Raina kembali, dan Raina menatapku dengan pandangan memohon. Aku sudah
benar-benar gila rupanya, seluruh tubuhku seakan tertarik oleh perkataannya,
dan kini tubuhku telah bergerak ke tempat kami kabur tadi. Entah apa yang
terjadi, tapi aku benar-benat tak bisa menolaknya.
Kami
sampai di tempat tubuh Raina tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah. Dengan
mudahnya aku mengembalikan jiwa Raina, dan sekejab saja tubuh Raina mulai
menggelepar kembali seperti sebelum diambil oleh Erz tadi. Erz telah berdiri di
sampingku, tersenyum bangga dengan hasil yang seakan-akan telah menjadi
rencananya.
“Bagaimana
rasanya? Kau sudah siap menjalani kemusnahanmu?” suara Erz penuh kemenangan.
“Apa?”
“Jangan
dikira kami bisa memaafkan pembelot sepertimu, Zac… alasanmu menjadi
pembelotlah yang juga menjadi alasanmu untuk musnah. Bagaimana, kau sudah
mengetahui kehebatanku? Selamanya, baik kau menjadi makhluk ketiadaan, maupun
masa lalumu ketika menjadi malaikat maut, tidak akan pernah bisa menyaingi
kehebatanku.”
“Jadi…
ini semua adalah ulahmu?” tanyaku tak percaya. Erz tertawa sambil mengangguk.
Siaaal!
Tubuhku
mulai menguap, sama seperti ketika pertama kali aku menyelamatkan seorang gadis
yang telah kucabut nyawanya dan kukembalikan nyawanya ke tubuhnya. Perbedaan yang
mencolok di sini adalah: saat itu, aku berubah menjadi sekarang ini. Saat ini,
aku tidak akan bisa mewujud lagi menjadi apapun. Aku akan musnah!
Tawa
kemenangan terus dikumandangkan Erz menjelang kemusnahkanku. Aku hanya bisa
menerima konsekuensi yang telah kuperbuat. Kebodohan yang sama membuatku dua
kali terjebak dalam masalah besar, dan ketidaktaatanku pada peraturan membuatku
harus keluar dari pekerjaanku sebagai malaikat maut dan sekarang aku harus
musnah. Apakah nasibku memang harus sesial ini?
Oooh,
andai saja aku bisa memutar ulang waktuku.
Andai
saja aku bisa kembali ke waktu di mana aku mengembalikan jiwa gadis yang telah
kucabut. Aku tidak akan menjadi pencuri jiwa seperti ini untuk tetap bertahan
dalam wujud seperti ini. Tidak mencuri berarti tidak makan. Tidak makan juga
berarti musnah. Aku benci siklusku ini!
Plop!
Kesadaranku
hilang seluruhnya. Tubuhku, sayapku, dan juga pikiranku telah lenyap
seluruhnya.
Depok, 8 Desember 2013, 19.56
No comments:
Post a Comment