Sunday, December 8, 2013

Kang Bong Ja



          Alkisah di sebuah gubuk, tinggallah seorang wanita yang cantik jelita bernama Kang Bong Ja. Ia sebatang kara.
          Setiap hari Bong ja pergi ke sebuah padang rumput untuk menggembalakan binatang-binatang kesayangannya. Jumlahnya cukup banyak, hampir mencapai sepuluh ekor.
          Karena Bong ja sangat cantik, seorang peri baik hati sangat sayang kepadanya. Ia tidak ingin Bong ja salah mendapatkan jodoh, sehingga ia menggunakan sihirnya untuk menyihir binatang-binatang Bong ja. Barang siapa yang dapat melihat wujud asli dari binatang peliharaan Bong ja, maka orang itulah yang akan menjadi suami Bong Ja.
          Suatu hari saat Bong ja menggembalakan binatang-binatang itu, tiba- tiba lewatlah sebuah kereta kerajaan yang amat mewah. Lalu turunlah seorang pria yang parasnya rupawan. Pria itu sangat tertarik pada kecantikan Bong ja.
          “Ada keperluan apa tuan?” tanya Bong ja kepada pria itu.
          “Izinkanlah aku untuk memperkenalkan diri. Namaku Kim Hyung Joon. Aku ingin mencari seorang permaisuri untuk menemaniku seumur hidupku. Sebab umurku sudah 28 tahun, aku harus segera mencari seorang permaisuri… Maukah kau menjadi permaisuriku?” tanya Hyung Joon.
          “Maaf tuan… tapi bahkan saya saja baru bertemu anda satu menit yang lalu. Bagaimana saya bisa tahu bahwa anda adalah jodoh yang tepat untukku?” tanya Bong ja.
          “Kita Bisa menikah terlebih dahulu. Setelah itu tumbuhlah rasa cinta untuk kita berdua… tetapi perlu kukatakan, bahwa aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu…”
          Bong ja berpikir keras. Akhirnya ia ingat dengan apa yang telah dilakukan perinya.
          “Wahai tuan, apakah anda melihat binatang-binatang di sana itu? Bisakah kau sebutkan apa nama binatang  itu?” tanya Bong ja.
          “Tentu saja! Apa kau meragukan penglihatanku? Penglihatanku masih sangat bagus! Tapi apakah kura-kura itu adalah binatang peliharaanmu?” tanya Hyung joon.
          Bong ja tersenyum. “Tuan, kita tidak bisa menikah…” kata Bong ja.
          Hyung joon terus membujuknya. Sampai akhirnya ia menyerah dan pergi melanjutkan pencarian terhadap permaisurinya.
          Tak disangka, kejadian itu dilihat oleh Kyu jong, seorang lelaki yang sangat culun dengan rambut berbelah tengah dan berkacamata botol susu. Kyu jong adalah tetangga Bong ja yang baru saja pindah beberapa hari yang lalu.
          “Bong ja!” teriak Kyu jong.
          “Ada apa?” tanya Bong ja.
          “Kenapa kau menolak lamaran dari orang serupawan Hyung joon?” padahal ini adalah kesempatanmu untuk hidup bahagia…”
          “Aku tidak akan bisa hidup bahagia apabila bukan dengan orang yang ditakdirkan hidup bersamaku…” jawab Bong ja. Kyu jong bingung dengan jawaban Bong ja. Bagaimana Bong ja bisa berkata dengan yakin bahwa Hyung joon bukanlah seorang yang ditakdirkan untuknya?
          Esoknya, Bong ja pergi ke sebuah sungai untuk mengambil air. Ia teriak dengan sangat kencang, sehingga Kyu jong berlari hingga jatuh terguling-guling. Walaupun kakinya berdarah, ia terus berusaha menghampiri Bong ja.
          “Ada apa? Kenapa kau berteriak?” tanya Kyu jong kepada Bong ja.
          “Kyyyyyyaaaaaaaaaa!!!!!!!” teriak Bong ja lagi.
          “Aduh, jangan teriak terus… aku tidak mengerti apa yang kau teriakkan…”
          “ta-ta-tadi… a-aku… meli-hat ada yang mengapung di sungai… se-seorang pria!” kata Bong ja terbata-bata.
          “Mana? Ayo cepat kita tolong!” kata Kyu jong.
          “Tidak, kau yang harus ditolong terlebih dahulu. Kakimu berdarah!”
          “Kau ini… orang itu bisa mati kedinginan! Ini menjelang musim dingin dan orang itu mengapung di sungai! Dan bagaimana kalau ia tidak bernapas dan akhirnya meninggal?” kata Kyu jong tegas.
          “Tidak apa-apa. Ia mengapung dengan muka menghadap ke langit. Lagi pula kulihat ia menggunakan jaket yang tebal. Dan lagi di ujung sana kita masih dapat menolongnya karena ia bisa tersangkut di jembatan itu.” Kata Bong ja.
          Mereka masih terus memperdebatkan siapa yang akan ditolong duluan. Kyu jong yang tak mau mengalah  dan ingin menolong pria yang mengapung di sungai itu, sedangkan Bong ja yang egois ingin menolong Kyu jong terlebih dahulu. Mereka terus memperdebatkan perdebatan mereka tanpa memikirkan korban yang sudah tersangkut di jembatan (sesuai dugaan Bong ja) dan kedinginan (sesuai dugaan Kyu jong. Tentu saja korban itu tidak akan hangat dengan jaket yang ia pakai sebab jaket itu juga telah basah dan membuatnya akan bertambah dingin. Dengan kata lain, pendapat Bong ja sudah salah).
          Pada akhirnya perdebatan Dimenangkan Bong ja. Ia membalut luka dari Kyu jong. Setelah itu, ia bersama Kyu jong menolong korban yang mengapung di sungai itu.
          “Wah, ia tidak bernapas! Bagaimana ini?” tanya Bong ja.
          “Beri saja ia napas buatan…” kata Kyu jong.
          “Ya sudah, aku akan melakukannya.” Bong ja bersiap dan menarik napas, tetapi…
          Kyu jong menyambar sebuah bambu disampingnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut korban itu. Ia meniupkan udara ke korban itu melewati bambu itu.
          Tak berapa lama kemudian, Korban itu terbatuk-batuk. Akhirnya ia bernapas!
          Ia kemudian di bawa ke rumah Kyu jong, sebab Kyu jong tidak ingin ada seorang lelaki tinggal di rumah Bong ja. Setelah itu mereka mencari seorang tabib untuk menyembuhkan Korban tadi.
          Tabib telah didatangkan. Tabib itu bernama Park Jung min. tabib itu segera memeriksa korban itu. Tabib itu juga terpesona kepada Bong ja, sehingga ia mengerahkan seluruh kehebatannya untuk menolong korban itu. Tetapi sesaat kemudian ia berteriak dan langsung pergi dengan berkata seperti ini, “Aku tidak mau mengobatinya! Jauh-jauh dariku!”
          Kyu jong segera berlari menyusul tabib itu. Ia membujuk tabib itu untuk tetap mengobati korban itu. Namun Tabib Park tetap tidak mau mengobatinya.
          “Tuan Tabib, tolonglah kami. Kudengar kau adalah Tabib Park, Tabib paling hebat di seluruh jagad raya ini dan mempunyai charisma yang begitu menawan. Tapi kenapa kau bahkan tidak mau menolong orang itu?” tanya Kyu jong.
          “Tentu saja aku tidak mau! Selain pingsan dan kedinginan, orang ini juga menderita Flu babi karena kedinginan! Aku tidak ingin tertular olehnya!” tabib itu lalu pergi meninggalkan Kyu jong sendiri. Dengan terpaksa, ia mencari tabib lain. Akhirnya ia menemukan seorang tabib bernama Heo young saeng.
          Setelah sampai, Tabib Heo segera mengobati korban itu. Untuk menyembuhkan korban itu, Kyu jong dan Bong ja disuruh untuk menjauh dari korban itu agar tidak ikut terjangkit oleh virus Flu babi. Setelah beberapa hari dirawat oleh Tabib Heo, korban itu akhirnya sembuh.
          “Perkenalkan, namaku Kim hyun joong. Terima kasih karena kalian telah mencarikanku tabib yang sangat sabar dalam merawatku dan mau mengerti diriku…” kata Hyun joong.
          “Sama-sama. Bukankah kau seharusnya berterima kasih pada Tabib Heo? Sebab dia mau merawatmu hingga sembuh…” kata Bong ja.
          “Terima kasih Tabib Heo… kau telah bersedia merawatku tanpa takut akan tertular olehku…” kata Hyun joong.
          “Sebenarnya… hehehe…” Tabib Heo tersenyum malu-malu. Lesung pipinya langsung terbentuk di kedua belah pipinya saat ia tersenyum. Sebenarnya ia mau merawat Hyun joong karena ia bisa bertemu Bong ja setiap hari dan makan masakan dari Bong ja, yaitu kare yang sangat lezat! Ya, Tabib Heo sangat suka kare buatan Bong ja.
          Akhirnya Bong ja dan Kyu jong dapat mendengarkan kisah kejadian kenapa Hyun joong sampai terjatuh dan mengapung di sungai.
          “Begini ceritanya… suatu hari saat aku sedang mencari bahan untuk membuat xiao long bao, tiba tiba saja saat aku akan mengambil jamur yang akan kujadikan isi dari xiao long bao itu, tanganku memegang sesuatu yang sangat ku benci! Seekor kecoa! Tanpa kusadari aku hampir terjatuh ke sungai,
Dan tiba tiba saja seekor lebah menyengatku! Aku takut terhadap lebah, dan aku disengat. Itu sebabnya aku tak sadarkan diri dan jatuh ke sungai…” cerita Hyun joong.
          “Dan tiba-tiba aku sadar. Aku berada di punggung ikan Hiu! Dan setelah itu aku pingsan lagi.” Kata Hyun joong.
          Kyu jong bergidik, karena ia juga takut terhadap ikan hiu. Tetapi Bong ja dan Tabib Heo tertawa terpingkal-pingkal. Mereka berpikir, bagaimana Hyun joong dapat berada di punggung ikan hiu? Mana ada ikan hiu yang dengan baik hati ingin menolong manusia? Yang pasti, hiu itu akan memakan Hyun joong.dan selain itu, bagaimana bisa seekor ikan hiu dapat berada di sungai? Bong ja dan Tabib Heo menarik kesimpulan bahwa Hyun joong berhalusinasi. Ia tersangkut di jembatan dan ia mengira jembatan itu adalah ikan hiu.
          Setelah sehat, Hyun joong, Kyu jong, Tabib Heo, dan Bong ja makan bersama di rumah Bong ja. Ia membuatkan sup dan perkedel.
          Waktu tak berselang lama, tetapi baru saja Tabib Heo memakan perkedel, ia langsung kejang-kejang. Kyu jong panik, lalu ia memanggil tabib Park lagi.
          Tabib Park memperlihatkan charismanya di depan Bong ja sebagai seorang tabib. Ia bekerja cekatan dan menyembuhkan Tabib Heo.
          “Tabib Park, apa yang terjadi pada Tabib Heo?” tanya Bong ja.
          “Sepertinya ia alergi makanan. Apa yang ia makan?” tanya Tabib Park dengan memperlihatkan wibawanya.
          “Tadi kami makan malam dengan sup wortel dan perkedel kentang…” jawab Bong ja.
          “Oh… ia alergi kentang.” Kata Tabib Park dengan yakin.
          “Kenapa anda bisa seyakin itu?” tanya Kyu jong.
          Dengan nada sinis dan cara bicaranya yang berbeda ketika ia sedang berbicara dengan Bong ja, ia menjawab dengan seenaknya, “Tentu saja! Wortel itu adalah makanan kesukaanku! Makanan terenak di dunia!”
          Kyu jong tertawa keras. Ia baru mengerti, ia menemukan tabib yang amatiran dan seenaknya terhadap pasiennya. Yang anehnya, kenapa ia bisa dibilang tabib terhebat di seluruh jagad raya ini?
          Akhirnya Tabib Heo sadarkan diri. Ia bercerita bahwa ia alergi dengan Kentang. Ia benci kentang.
          “Tuh kan, apa kataku. Ternyata ia benar-benar alergi kentang!” kata Tabib Park dengan wajah penuh kemenangan yang sengaja diperlihatkan kepada Kyu jong. Kyu jong hanya bergumam, “itu hanya kebetulan…”
          Hari sudah malam. Maka penuhlah rumah Kyu jong karena makin bertambah saja penghuni rumahnya. Ia bukannya tidak mau memberikan tumpangan, hanya saja orang yang ia beri tumpangan adalah saingan cintanya. Ia juga mencintai Bong ja, hanya saja ia sadar akan parasnya yang tidak serupawan Hyun joong.
          Esok paginya, saingan Kyu jong bertambah satu lagi. Ternyata itu adalah Hyung joon, yang waktu itu pernah melamar Bong ja. Hyung joon  berkata bahwa ia tidak menemukan wanita yang membuat hatinya bergetar selain Bong ja.
          “Bong ja… aku mencintaimu… kumohon, jadilah istriku…” kata Hyung joon.
          Tabib Park tak mau kalah. Ia berkata, “Bong ja, kau menikah saja denganku… aku pasti akan membahagiakanmu! Sebagai persembahan, aku membawakanmu sekeranjang wortel!”
          Tabib Heo berkata, “Aku memang tak seperti mereka yang dapat memberikanmu apa saja yang kau mau, tapi aku hanya bisa memberimu obat dan menyembuhkanmu saat kau sakit…”
          “Tak kusangka aku juga bisa jatuh cinta padamu…” kata Hyun joong dengan muka merah padam. Ia memang orang yang dingin. Ia susah untuk mengatakan hal-hal yang romantis.
          Kyu jong tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengaku kalah. Empat pria yang rupawan bersaing mendapatkan cinta Bong ja. Siapa yang akan mendapatkannya? Yang pasti bukan diriku yang jelek di hadapan dia ini… pikir Kyu jong.
          Bong ja akhirnya tak tahan lagi. Ia pergi ke sebuah padang rumput dan menunjukkan Binatang-binatang kesayangannya itu.
          “Jika kalian dapat memberitahuku binatang apa itu dengan benar, maka ialah yang akan menjadi suamiku!” kata Bong ja sambil menunjuk binatang kesayangannya itu.
          “Sudah kubilang, penglihatanku tak mungkin salah… itu kan kura-kura…” kata Hyung joon.
          Semua tertawa.
          “Bagaimana mungkin kau bisa bilang penglihatanmu bagus, padahal kuda sebesar itu kau bilang kura-kura? Hahaha!” kata tabib Park.
          Tabib Heo semakin tertawa. “Sudahlah…kalian harus memeriksakan mata padaku. Berang-berang saja bisa kalian sebut kuda dan kura-kura? Ckckck…”
          Hyun joong tak dapat lagi menahan tawanya. Ia sampai terguling-guling saking lucunya.
          “Kurasa matamu juga harus diperiksa matanya, Tabib Heo… Anjing saja kau bilang berang-berang? Hahahahahaha!!”
          Bong ja kecewa dengan jawaban semua itu. Sedangkan Kyu jong heran dengan semua jawaban keempat pria itu.
          “Bong ja, apa yang kau lakukan terhadap gorilamu itu sehingga mereka melihat gorila itu sebagai sesuatu yang lain?” tanya Kyu jong.
          Bong ja tertawa terpingkal-pingkal.
          “Kau bilang itu apa?” tanya Bong ja untuk memastikan.
          “I-i-itu… gorilla kan?” tanya Kyu jong tidak yakin.
          Akhirnya peri yang menjaga Bong ja datang dan memberikan selamat terhadap Bong ja, sebab ia sudah menemukan jodohnya. Ia kemudian memusnahkan sihir yang terdapat di binatang kesayangan Bong ja, dan semua yang melihat binatang itu terpanah. Bagaimana mungkin kuda, kura-kura, berang-berang dan anjing dapat berubah menjadi gorila dalam sekejap?
          Ternyata Kyu jong adalah jodoh Bong ja. Bong ja menjelaskan kepada keempat pria yang lain bahwa ia memilih Kyu jong sebagai suaminya.
          “Aku tidak terima! Pria jelek seperti dia menjadi suami Bong ja yang cantik itu?” teriak Hyun joong, Hyung joon, Tabib Heo, dan Tabib Park bersamaan.
          Bong ja sedih dengan perkataan mereka. Peri pun tak bisa tinggal diam. Ia menyihir Kyu jong menjadi dirinya yang sebenarnya. Sebenarnya Kyu jong adalah seorang pangeran yang sedang menyamar untuk mencari pendamping hidupnya. Dan sebenarnya Kyu jong adalah seorang pangeran yang tampan. Bong ja dan keempat pria lain tak bisa berkata apa-apa.
          Keempat pria lain pulang ketempat masing-masing. Akhirnya Bong ja dan Kyu jong menikah. Mereka hidup bahagia selamanya…


          Tidak, hidup mereka belum bisa dibilang bahagia. Sebab Kyu jong membawa Bong ja hidup di istana. Dan apa yang ada di istana?
          Ternyata kim Hyung joon adalah adik dari kim Kyu jong. Dan Kim hyun Joong adalah kakak dari Kim Kyu jong. Selain itu, Tabib Heo dan Tabib Park adalah tabib istana. Awalnya mereka semua tidak mengenal Kyu jong saat berada di rumah Bong ja karena Kyu jong menyamar. Tapi tentu saja Kyu jong mengenal mereka semua.
          Itu artinya, hidup Kyu jong masih akan melewati banyak cobaan karena banyaknya saingan dalam satu istana itu. Dan tentu saja keempat pria lain tetap berusaha mendapatkan cintanya Bong ja walaupun diantaranya adalah saudara Kyu jong. Wah, bersabarlah Kyu jong…


~selesai~

No comments:

Post a Comment